Air susu dibalas air madu

“Tapi mas…” aku mencoba protes atas rencana suamiku yang bermaksud memberi tempat pada dua temannya untuk tinggal bersama kami. Walau bagaimana, rasanya risih bila Teddy dan Haryono, kedua teman suamiku itu, harus tinggal bersama kami. Memang, mereka patut dikasihani, karena selain mereka belum mendapatkan pekerjaan tetap sehingga sulit untuk menyewa tempat tinggal, mereka juga baru di kota ini. Dan suamiku, sebagai teman baiknya, tentu merasa tidak enak kalau harus mengacuhkan mereka. Apalagi, saat suamiku bujangan dahulu, suamiku juga pernah tinggal di rumah orang tua mereka saat bersekolah. Suamiku, Hendra, pernah tinggal di rumah orang tua Haryono saat masih di bangku SMA. Sedang ketika kuliah dulu, gantian suamiku tinggal di rumah orang tua Teddy. Dan kini, seakan suamiku ingin membalas jasa kepada mereka berdua. Apalagi, kedua orang tua mereka juga secara tidak langsung meminta bantuan suamiku untuk menolong mereka. Hanya saja, kenapa mesti keduanya sekaligus ?

 

Mungkin ini hanya kebetulan. Tapi walau bagaimana, aku merasa agak canggung juga dengan keadaan ini. Ingin mengungkapkan keberatanku, aku tak sampai hati dan rasanya memang tidak enak untuk tidak memberi pertolongan kepada keduanya.

 

Secara ekonomi, memang sih tidak masalah kalau kami harus menambah anggaran untuk makan sehari-harinya, bahkan mungkin sangat mampu. Rumahpun cukup besar dan tidak akan penuh sesak bila harus ditambah dengan dua orang lagi yang menghuni rumah ini.

 

Memang keadaan ekonomi rumah tangga kami dalam dua tahun belakangan ini cukup berkembang pesat, itu semua karena kegigihan suamiku dalam bekerja. Hanya saja, ada resiko yang harus kami bayar. Aku dan suamiku jadi berkurang waktunya untuk bersama. Tak jarang, aku ditinggal keluar kota selama beberapa hari, bahkan minggu. Dan justru karena keadaan inilah yang sesungguhnya membuatku agak keberatan. Sulit kubayangkan, kalau aku harus berada sendirian tanpa suami, sementara di rumah ini ada lelaki lain, walau juga ada dua pembantuku yang bekerja di rumah ini. Hanya saja, selesai bekerja, mereka akan kembali ke rumah masing-masing selepas selesai bekerja di rumah kami. Sengaja aku mengambil pembantu yang berdomisi di dekat rumah, agar lebih merasa aman dan terjamin.

Rumah kami memang berada di lingkungan perumahan elit, sedang rumah kedua pembantuku berada di belakang perumahan ini. Jaraknya sekitar 1 kiloan.

 

“Nggak enak Tan. Mereka berdua kan…”

 

“Ya, aku mengerti mas. Hanya saja….” Aku memutus pembicaraan suamiku. Sesaat kami terdiam, duduk berdampingan di sofa panjang dengan tatapan mengarah ke depan, ke layar televisi yang tak lagi kami perdulikan. Pikiran kami seakan sibuk, tenggelam dalam dunianya masing-masing. Entah apa yang ada dalam alam fikiran suamiku, tapi yang jelas, aku sendiri tengah tenggelam dalam lamunan dan bayanganku, bagaimana rasanya dan apa yang akan terjadi bila saja rencana suamiku ini jadi dilaksanakan.

 

Dan bayanganku sampai pada keadaan dimana aku tengah ditinggal suamiku. Aku sendirian di rumah, demikian juga dengan kedua teman lelaki suamiku itu. Aku harus bersikap seperti apa ?  Rasanya tak akan bebas lagi dan tak seleluasa seperti sebelumnya. Walau disisi lain, aku merasa cukup senang ada teman di rumah, apalagi bila sendirian di rumah, sementara di luar hujan lebat dan halilintar bersahutan. Aku sungguh sangat takut sekali, setiap kali mengalami keadaan seperti itu.

 

Memang ada segi positif dan negatifnya. Positifnya, ya tentu aku akan merasa lebih tenang dan tak harus lagi merasa ketakutan bila harus ditinggal suamiku. Hanya saja, negatifnya ya itu tadi. Privasiku merasa terkurangi. Dan entah mengapa, terlintas dalam ingatanku, bayang-bayang saat aku bermesraan dengan suamiku. Di rumah ini, yang tinggal hanya kami berdua, tentu aku dan suamiku merasa bebas ingin bermesraan dan bercinta dimana saja. Rasanya tak ada lagi sudut dan sisi ruangan di dalam rumah ini yang belum kami gunakan untuk bercinta. Bahkan saat-saat bulan madu dahulu, aku pernah seharian dengan suamiku itu tanpa busana. Rasanya luar biasa, walau saat itu aku juga merasakan kecanggungan karena memang kami masih pengantin baru.

 

Sampai dengan lima tahun pernikahan kami, atas kesepakatan kami, kami memang tidak ingin dulu mempunyai anak. Itulah sebabnya hingga kini kami belum mempunyai momongan. Kalau sebelumnya, kami tak ingin dulu memiliki anak karena keadaan ekonomi, kini masalahnya lain. Aku tak ingin mengandung dahulu sampai suamiku tak lagi sibuk seperti sekarang ini. Aku tak dapat membayangkan, betapa aku harus sendirian mengurus anak, sementara suamiku sibuk dengan pekerjaannya.

 

Terlintas bayangan akan kemesraan itu, hasratku terpancing. Kulirik suamiku yang masih menatap lurus ke depan, namun aku tahu, tatapannya menerawang.

 

“Mas, bagaimana kalau kita tunda dulu pembicaraan ini. Kita bicarakan lagi nanti” ucapku sambil membelai bahunya. Suamiku menoleh kearahku sesaat lalu dia mengangguk setuju. Aku merasa senang. Kusandarkan kepalaku ke bahunya dan kugenggam tangannya. Dia tak membalas genggaman tanganku. Kilirih dia, masih menerawang.

 

“Mas, kita ngomongin yang lain aja dulu yuk ?” ajakku coba menggiring.

 

“Ngomongin apa Tan ?” balas suamiku tanpa mengalihkan pandangannya. Aku merasa kecewa tak mendapatkan respon yang kuinginkan.

 

“Ingat nggak, saat kita berbulan madu disini dulu” aku coba bersabar.

 

“Hmm” hanya itu ucapan yang keluar dari bibir suamiku, tanpa reaksi lain. Suamiku seakan tak perduli, dan ini membuatku semakin kecewa dan mulai agak tersinggung.

 

“Mas, lihat dong ke sini. Kamu lagi mikirin apa sich ?” ujarku kesal juga tak mendapatkan respon yang semestinya. Kali ini suamiku menoleh dan agak terkejut dengan nada bicaraku, tapi terlambat.

 

“Kamu mau ngomong apa Tan ?” tanya suamiku dengan lembut dan kali ini nampak dia sungguh memperdulikan. Tapi ya itu, terlambat. Aku sudah lebih dahulu kesal dan kecewa merasa diacuhkan.

 

“Udah deh, nggak jadi. Aku udah ngantuk nih, mau tidur aja” ujarku kesal sambil bangkit dan meninggalkannya. Dengan perasaan kesal kulangkahkan kakiku ke kamar tidur, dan ternyata suamiku tak menyusul. Itu lebih baik. Aku kalau sudah kesal dan marah, akan sulit untuk redanya, dan rasanya percuma kalau sekarang suamiku membujukku untuk tak jadi marah. Diapun nampaknya sudah hafal dengan sifatku yang kalau sudah kesal akan sulit untuk mereda.

 

Kuhempaskan tubuhku diatas pembaringan, masih dengan hati mendongkol karena di acuhkan suamiku tadi. Padahal tadi, aku sempat merasa bergairah, namun kini justru sangat kesal.

 

Sungguh mengesalkan sekali sikap suamiku tadi. Masak sih dia tak menangkap apa yang kuinginkan ?  Dari caraku bersikap, mestinya dia bisa mengerti. Bukankah kebersamaanku dengannya bukan baru satu dua bulan ?  Bukankah sudah tahunan ?  Mengapa dia tak juga mengerti apa yang kuinginkan ?  Apa aku harus terang-terangan mengungkapkannya ?

 

Dengan segudang kekesalan, aku jadi tak perduli lagi dengan apa yang tadi diinginkan suamiku. Terserahlah, dia mau tampung temannya dua orang, lima orang atau berapapun. Toh sudah tak ada lagi yang harus ditutupi di rumah ini. Kemesraan yang dulu kurasakan, tak lagi kudapatkan. Bahkan tadipun…tidak. Lantas apa lagi yang harus kuberatkan ?

 

Dan entah suamiku tak mengerti dengan sikapku yang sudah tak lagi perduli dengan seperti sebelumnya, suamikupun akhirnya menerima kehadiran kedua teman lelakinya itu. Akhirnya resmilah rumah ini diisi dengan dua penghuni baru, Teddy dan Haryono. Keduanya menempati kamar tidur depan, walau sesungguhnya keduanya lebih menginginkan tinggal di bangunan belakang yang saat ini digunakan sebagai gudang tambahan.

 

“Ya sudah, sementara tinggal di kamar depan dulu, nanti bangunan belakang dipersiapkan dulu” ujar suamiku membuat kesepakatan.

 

Dan sesuai dengan rencana, bangunan belakang yang sebelumnya berfungsi sebagai gudang tambahanpun, mulai dibenahi. Bahkan di beberapa bagiannya ditambah dan diperbaiki, hingga mirip pavilliun dan layak ditinggali.

 

Ternyata, diluar dugaanku, baik Teddy maupun Haryono, keduanya cukup sopan dan cukup menyenangkan. Ramah dan juga pandai bergaul. Aku yang semula agak kaku menerimanya, perlahan mulai akrab dan menyenangi keduanya. Aku benar-benar merasa mendapat teman di rumah. Bahkan dalam beberapa hal, keduanya sangat ringan tangan, baik kepadaku ataupun bahkan kepada kedua pembantuku. Keduanya tak segan-segan turun tangan untuk membantu mengerjakan pekerjaan rumah, walau kedua pembantuku sangat keberatan dan merasa tak enak hati. Aku sangat senang, ternyata kedua pemuda itu sesungguhnya sangat rajin dan trampil, hanya memang keadaanlah yang tak berpihak kepada mereka sehingga sampai sekarang keduanya belum mendapatkan pekerjaan yang memadai dan layak.

 

Dengan kehadiran mereka, rumah ini terasa lebih hidup dan jauh menyenangkan, baik suasana maupun fisiknya. Beberapa bagian yang dahulunya agak rusak atau kusam, kini kembali rapih dan terlihat baru. Dan luar biasanya, walau upah yang mereka dapatkan belum seberapa, mereka bersedia mengeluarkan biaya untuk merawat rumah ini tanpa kami minta. Dan saat suamiku ingin menggantinya, sekaligus membayar keringat atas pekerjaan mereka sebagai ucapan terima kasih, mereka menolaknya. Mereka katakan, ini sudah dianggap rumah mereka sendiri, atau setidaknya, hitunglah sebagai biaya kontrak. Saumiku dan akupun akhirnya menyerah. Dan balasannya, mereka dianggap keluarga, hingga bebas kalau memang perlu menggunakan seluruh fasilitas di rumah ini, termasuk kendaraan yang ada.

 

Hasil kerja mereka, cat rumah yang sebelumnya sudah mulai kusam dan buram, kini kembali bersinar. Beberapa perabot rumah tangga di taman, pun nampak kembali bersinar dan seperti baru. Praktis tak ada lagi bagian rumah yang terlihat tak terurus. Suamiku semakin senang dan merasa terbantu, demikian juga denganku.

 

Tak terasa Teddy dan Haryono sudah tinggal di rumah lebih dari tiga bulan. Mereka bukan orang-orang pemalas. Setiap hari mereka keluar untuk mencari peluang kerja yang lebih baik. Sesungguhnya suamiku pernah menawarkan pekerjaan kepada keduanya, namun mereka dengan halus menolak. Mereka ingin berjuang dulu sendiri, mumpung masih muda, katanya. Kembali aku dan suamiku menyerah dan memberi kebebasan kepada keduanya.

 

Tak jarang, keduanya pulang hingga larut malam dengan keadaan lusuh. Sebenarnya baik aku maupun Hendra sudah berkali-kali menawarkan untuk memakai kendaraan yang ada, namun kembali mereka menolak.

 

“Takut mogok nggak bisa bayar bengkelnya mas Hen” ujar Haryono dengan kelakar.

 

“Mending, kalau aku…takut gak kebeli bensinnya” balas Teddy membuat suamiku tertawa dengan kelakaran mereka.

 

“Gampang, pake aja kartu kreditku ini” jawab suamiku. Keduanya cengar-cengir saja.

 

“Nggak bisa…cara makenya mas Hen” kembali candaan salah satunya.

 

“Ya mas. Udah nggak apa-apa. Kalau aku atau Har menerima fasilitas yang mas Hen kasih, kurang terasa nikmat rasanya perjuangan kita nantinya. Udah tinggal di rumah yang begini aja, udah mengurangi rasa nikmat dalam perjuangan kitanya mas. Tapi maaf, akibat sangat nikmatnya sih” kelakar Teddy.

 

Aku pikir-pikir, mereka sebenarnya sangat pintar berdiplomasi, walau dengan bahasa kelakar namun sangat mengena. Terbukti, baik aku maupun suamiku, selalu sulit untuk mematahkan ucapan mereka.

 

Dan seperti biasanya, suamiku pergi meninggalkanku untuk beberapa waktu lamanya, untuk mengurus pekerjaannya. Walau tak setakut dahulu, karena kini di pavilliun belakang ada Teddy atau Haryono yang tinggal di dekat rumah induk ini, namun tetap saja aku sesekali merasa masih agak takut, apalagi bila sedang hujan lebat dan diselingi halilintar yang bersahut-sahutan. Ingin rasanya mereka kupanggil dan tidur saja di kamar depan untuk menemaniku, namun tentu saja aku tak berani mengutarakannya.

 

Dan sesungguhnya, hal yang lebih kutakutkan adalah…kesendirianku. Kesendirianku dan kesepianku, akibat suamiku jarang lagi melakukan kebersamaan denganku. Kesendirian yang semakin mencekam, membutuhkan kehadiran sosok teman yang mengerti keadaanku. Kesepian yang menekan, membutuhkan kehadiran sosok lelaki jantan yang mengisi kedahagaanku, yang semakin jarang kudapatkan dari suamiku. Dan entah mengapa, setelah kehadiran Teddy dan Haryono, justru suamiku semakin lebih menyibukkan dalam pekerjaannya. Suamiku semakin sering bepergian ke luar kota.

 

Pernah kuutarakan keberatanku ini, namun suamiku justru menjawabnya dengan enteng sekali. Dia katakan kalau aku tak perlu lagi merasa sendirian bila ditinggal pergi, toh ada Teddy dan Haryono yang menemani.

 

“Tapi mas, kehadiran mas sebagai suami, juga perlu dan sangat aku butuhkan. Dan itu…tak tergantikan walau dengan….Teddy dan Haryono sekalipun” ucapku kesal dan entah mengapa saat mengucapkan hal itu, batinku tergetar. Menggantikan peran suami ?  Apa akan kujadikan salah satu dari keduanya untuk menggantikan peran Hendra sebagai suami ? Apa itu perlu ? Dan apa itu yang diinginkan suamiku ?  Itu gila !

 

“Sudahlah Tantri, kita sama-sama dewasa dan tahu apa yang harus kita lakukan masing-masing” jawabnya.

 

“Maksud mas ?” aku tak mengerti.

 

“Kita jalani saja dulu keadaan ini. Aku, dan juga kamu tentunya, tak ingin apa yang sudah kita raih selama ini dengan susah payah, harus kembali terlepas. Aku masih membutuhkan waktu untuk memantapkan semua yang kita miliki saat ini. Jadi, sekali lagi, aku minta pengertianmu Tan” suamiku coba menjelaskan. Namun rasanya, dia tak menjelaskan apa yang dia ucapkan sebelumnya, dan dia tak menjawab pertanyaanku. Penjelasannya tak relevan dengan pertanyaanku akibat ucapannya tadi, namun aku tak bisa mendesaknya. Kucoba untuk memahaminya sendiri.

Sore itu, seperti biasa, kedua pembantuku akan pamit pulang setelah menyelesaikan pekerjaan mereka. Sebenarnya aku ingin menahan keduanya, atau salah satunya, karena selain kulihat cuaca yang tak bersahabat, dilangit mendung sangat tebal dan pasti akan turun hujan lebat dan disertai halilintar, Haryono dan Teddypun belum pulang, sementara suamiku sudah tiga hari berada di luar kota. Aku sendirian di rumah. Aku ingin ditemani, setidaknya sampai salah satu dari kedua pemuda itu pulang. Namun aku juga memaklumi, kedua pembantuku ini sudah punya keluarga, dan keluarga mereka juga sangat membutuhkan kehadiran mereka, apalagi dalam keadaan cuaca seperti ini.

 

Dengan berat hati kuijinkan mereka pulang. Dan seperti biasanya, aku langsung menghambur ke dalam, bersembunyi dan teror suasana. Aku berharap, baik Teddy ataupun Haryono segera datang, namun sampai dengan jatuhnya curahan hujan, keduanya tak juga muncul. Aku benar-benar dicekam rasa takut yang luar biasa.

 

Untungnya, dalam keadaan yang demikian kalut, kulihat sesosok tubuh masuk melalui pintu gerbang rumahku. Kuamati, ternyata…Teddy. Oh syukurlah karena aku tak harus lebih lama dicekam ketakutanku. Kubuka pintu depan dan kusongsong dia. Sekujur tubunya basah kuyup tersiram air hujan.

 

“Eh mbak, belum tidur ?” ucapnya berbasa-basi. Tentu saja belum tidur, karena hari memang masih cukup sore.

 

“Syukurlah kamu cepat datang Ted. Mbak takut banget nih” ujarku tak mampu menyembunyikan ketakutanku.

 

“Lho, memangnya Haryono belum pulang mbak ?” tanya Teddy. Aku menggeleng.

 

“Ya udah deh, cepet kamu masuk dan ganti pakaian sana, ntar masuk angin lagi” ujarku mengingatkan.

 

“Ya oke, aku ganti baju dulu ya mbak ?” ujarnya sambil pamit. Seperti biasa dia masuk ke belakang lewat pintu samping di garasi, sehingga tak merepotkan kalau harus pulang malam untuk minta dibukakan pintu.

 

“Eh Ted, kamu udah makan belom ? Kalau belum…”

 

“Udah mbak, tadi di jalan” jawabnya.

 

“Bener ?” aku menegaskan.

 

“Iya, bener” jawabnya lagi. Akupun tak mendesaknya sampai dia berlalu.

 

Ketegangan yang berkurang, dan mungkin didorong oleh rasa terima kasih atas kehadirannya aku berniat membuatkan gorengan sekedar cemilan untuk mengisi kehangatan setelah dia kehujanan tadi. Segera aku menuju dapur dan membuatkan cemilan untuknya. Pisang goreng rasanya cukup untuk mengisi suasana.

 

Selesai menggoreng beberapa buah, lalu kubuatkan kopi, akupun segera melangkah ke belakang, menuju ke pavilliun. Aku terus melangkah dan hendak menyerahkan pisang goreng dan kopi yang baru saja kubuat. Aku memang tak memanggil-manggil dulu namanya, karena selain sudah biasa, juga derasnya siraman air hujan yang demikian derasnya, rasanya panggilanku tak akan terdengar oleh Teddy, tertelan oleh gemuruh air hujan. Kubungkukan tubuhku untuk meletakkan hidangan diatas meja di depan pavilliun dan saat kuangkat wajahku bermaksud memanggilnya, aku…tercekat di tempatku berdiri.

 

Dari balik gordyn kulihat pemuda itu. Aku tercekat karena pemandangan di depanku. Bukan karena sosok pemuda itu yang asing, tapi…Tedy yang tengah berdiri di balik pintu kamar mandinya yang tak tertutup. Aku yang tak menduga kalau Tedy masih dalam keadaan telanjang bulat itu, tentu saja hanya mampu berdiri dengan tercekat. Seakan seluruh persendianku kaku, kedua kakiku tak mampu kugerakkan, bahkan rasanya untuk menggerakkan leherku saja untuk memalingkan wajah, rasanya tak mampu, atau tak terpikirkan.

 

Sebagai wanita dewasa dan normal, tentu saja sosok tubuh bugil lelaki itu memiliki daya tarik tersendiri, apalagi dalam keadaanku akhir-akhir ini. Dan secara naluri, pandangan mataku menyapu sosok tubuh jantannya. Tingginya sedang dan perawakannyapun biasa-biasa saja. Pandanganku terus menyapu sekujur tubuh polosnya. Dan di bagian bawah, kulihat juntaian batang kemaluannya. Ukurannya tak jauh berbeda dengan batang kemaluan suamiku, hanya terlihat lebih gemuk.

 

Dari melihat bentuknya, aku yakin kalau pemuda itu dalam keadaan biasa saja, dalam arti tak sedang bergairah. Hanya saja, mungkin karena ukurannya memang agak sedikit lebih gemuk atau besar dan milik suamiku, membuatku serasa panas dingin. Aku tak mampu berbuat apa-apa sampai beberapa saat lamanya, seakan hilang kesadaranku.

 

Dan saat kesadaranku pulih, rasanya terlambat, karena Tedd sudah terlanjur…memergokiku.

 

“Eh mbak Tantri. Maaf mbak, aku…” pemuda itu langsung keluar dan menyambar handuk untuk menutupi tubuhnya. Aku berusaha mengendalikan diriku secepatnya.

 

“Ng…nggak pa-pa Ted. Ng…justru…mbak yang….minta maaf karena…mbak nggak ngasih tahu dulu” tetap saja aku tak berhasil sepenuhnya menyembunyikan perasaanku.

 

“Ada apa mbak ?  Ada yang perlu saya bantu ?” ucapnya. Bantu ? Ooohhh… aku semakin tak kuasa mengendalikan perasaanku. Teringat perbincanganku beberapa hari yang lalu dengan suamiku, bahwa aku membutuhkan sosok dirinya sebagai lelaki yang memberi kedamaian dan ketenangan batinku yang membutuhkan sentuhan dan belaiannya. Sosok suami yang sepatutnya kudapatkan dari dirinya itu dan tak mungkin kudapatkan dari siapapun, termasuk pemuda di dekatku saat ini. Namun apa jawaban suamiku saat itu ?  Sampai kini tak mampu kecerna dan kupahami apa maksud ucapannya itu.

 

“Eh ini, mbak gorengin pisang. Juga mbak buatkan kopi, buat hangat-hangat habis kehujanan” jawabku dengan cepat sambil menunjuk ke arah meja dimana sudah tersaji hidangan yang tadi kubuatkan.

 

“Wiih, khok repot-repot sih mbak ?  Tapi, ya terima kasih banget deh. Aku senang menerima nya” jawabnya.

 

“Ya udah, dimakan yah” jawabku sambil berniat berlalu.

 

“Mbak tunggu” ucapnya. Aku tercekat. Apa yang dia inginkan ?

 

“Temani saya makan gorengannya yah ?  Mbak nggak keberatan kan ?” aku sebenarnya ingin menolak, tapi tak sampai hati.

 

“Ya…udah, mbak temani deh. Sana, pake bajunya dulu, emang nggak dingin apa ?” ujarku coba kembali mengendalikan perasaanku. Dan malam itu, perlahan Teddy mampu mengendalikan suasana, hingga kembali aku melupakan apa yang baru saja kualami. Kami makan gorengan sambil ngobrol dan sesekali diselingi canda hingga tak terasa hari makin larut sampai aku pamit ingin tidur. Haryono sendiri, entah pulang jam berapa, aku tak mengetahuinya. Malam itu tak terjadi apa-apa antara aku dan Teddy, syukurlah.

 

Beberapa minggu kemudian, suamiku kembali mengutarakan rencananya akan keluar kota. Suamiku seperti gila kerja. Baru seminggu di rumah, dia sudah berangkat lagi ke luar kota. Aku sangat kesal dibuatnya sampai-sampai hampir terjadi pertengkaran antara kami akibat aku kelepasan mengatakan kepadanya, apa dia sudah bosan denganku dan tak mencintaiku lagi ?

 

Untungnya suamiku justru menjawabnya dengan lemah lembut dan memberi pengertian padaku hingga tak terjadi pertengkaran.

 

“Tantri, coba lihat mataku, apa kamu temukan kebohongan dalam diriku ini ? Pertama, aku masih sangat mencintaimu dan tak ada sedikitpun rasa bosan denganmu. Justru aku ingin segera bisa menyelesaikan apa yang aku kerjakan ini agar kita bisa lebih cepat bersama lagi seperti dulu. Kedua, aku minta pengertian dan kesabaranmu sampai aku menyelesaikan segala sesuatunya. Aku mengerti keadaan kamu sayang. Tapi, keadaan yang memaksa aku harus berbuat ini. Percayalah, apapun yang terjadi, aku akan tetap mencintaimu dan tak akan pernah tak mencintaimu. Untuk sementara, lakukan apa yang kamu anggap perlu kamu lakukan. Aku akan selalu mendukungmu. Kita sudah sama-sama dewasa, dan kita masing-masing tahu, apa yang harus kita lakukan” jelasnya.

 

Penjelasan yang membuatku luluh dan kembali tenang namun sekaligus pasrah dengan keadaan. Keadaan yang sangat kontradiktif. Disatu sisi, aku senang dengan kemajuan rumah tangga kami secara ekonomi, namun disisi lain aku harus merelakan sesuatu yang hilang dari kehidupan rumah tanggaku, seakan harga yang harus aku bayar.

 

Dan akhirnya, seminggu sudah suamiku berada di Palangkaraya untuk mengurus proyek-proyeknya. Dan masih membutuhkan waktu beberapa lama lagi. Kembali aku hanya bisa pasrah, tanpa mampu melakukan protes lagi kepadanya. Kata-katanya seminggu yang lalu saat terjadi pertengkaran, kembali seperti terngiang di telingaku. Aku dibuatnya tak berkutik. Hanya saja kalau tak salah ingat, ada kata-kata di kalimat akhirnya yang tak kumengerti. Kata-katanya seperti mengulang yang pernah dia sampaikan kepadaku. Namun apa maksudnya ? Sama-sama dewasa dan sama-sama tahu apa yang harus dilakukan masing-masing ?  Apa maksudnya ?

 

Sore itu, cuaca sangat cerah. Tak ada yang harus kutakutkan bila nanti kedua pembantuku pamit pulang. Hanya hujan lebat yang turun tadi pagi sampai hari menjelang siang. Sisanya hanya redup tanpa teriknya sinar matahari. Cuaca cenderung lebih dingin dari biasanya, namun selepas sore, cuaca nampak cerah. Kulihat di langit, bintang-bintang terlihat jelas seakan mengukir keindahan cakrawala hari yang menjelang malam. Bintang-bintang menemani sang rembulan yang bersinar cerah.

 

Cerahnya cuaca, rupanya tak secerah keadaan batinku. Dinginnya hari, seakan memancing hasrat dalam diriku. Aku kembali didera oleh kedahagaan batin dalam diriku, dan semakin malam kedahagaanku semakin tak tertahankan.

 

Sepulang kedua pembantuku, aku hanya bisa terdiam duduk di sofa panjangku. Kunyalakan televisi, namun perhatianku tak sepenuhnya tertuju. Sementara Teddy dan Haryono masih belum juga menampakkan kehadirannya. Biasanya mereka baru pulang setelah hari menjelang larut malam.

 

Sambil setengah berbaring dengan bersandar ke sofa, tanpa sadar tanganku bergerak sendiri disekujur tubuhku yang terbalut gaun malam. Terus bergerak tanpa sadar dan kurasakan sekujur tubuhku seperti merasakan aliran rasa nikmat oleh gerakan tanganku sendiri. Kedua mataku terpejam rapat, sementara jari-jari tanganku terus menari-nari. Mulanya hanya dari balik luar gaun malamku, namun akhirnya bergerak masuk. Perlahan aku semakin tenggelam dan tanpa sadar, gaun malamku sudah terlepas. Aku kini hanya mengenakan pakaian dalamku.

 

Aliran rasa nikmat terus menuntun jari tanganku. Tenggelam dalam buaian kenikmatanku sendiri, membuatku seperti hilang kesadaran sampai akhirnya aku dalam keadaan polos. Tubuhku terbaring di sofa, tangan kiriku terus bekerja di kedua payudaraku, sementara tangan kananku sudah asik dan dengan liarnya bermain-main sendiri di selangkanganku yang kurasakan sudah sangat-sangat basah dan berdenyut-denyut. Berkali-kali, jari-jari tangan kananku membelesak masuk ke dalam liang kewanitaanku, sementara tubuhku meliuk-liuk tanpa kendali. Napasku sudah memburu dan dari celah bibirku mengalir erangan dan rintihanku. Aku sudah sangat memuncak saat sudut mataku menangkap sosok lelaki di balik jendela ruang tamu. Teddy ! batinku tercekat. Aku sangat bingung. Apa yang harus kulakukan sekarang ? Aku…tengah berada di puncak dan tak mungkin berhenti. Tapi disana, dibalik jendela ?

 

“Ooohhh…ooohhh…” hanya itu yang keluar dari celah bibirku. Kedua tanganku seakan tak mau berhenti dan memang tak mampu untuk kuhentikan. Aku tak ingin berhenti sekarang. Tidak sekarang. Aku…aku sudah…

 

“Hooouuukkhhh…!” aku memekik panjang disusul tubuh polosku melenting naik. Aku…meledak hebat !

 

Untuk beberapa saat lamanya aku hanya bisa terdiam. Tak mampu berbuat apa-apa. Sekujur tubuh polosku terasa seperti tak lagi bertenaga. Napasku memburu hebat. Kedua mataku memejam rapat. Sementara di selangkanganku terasa berdenyut-denyut sangat nikmat.

 

Perlahan kesadaranku mulai pulih dan perlahan aku teringat akan Teddy. Kupalingkan wajahku ke jendela depan, namun dia sudah tidak berada di tempatnya semula. Aku segera memunguti pakaianku dan menghambur ke dalam kamar dengan sejuta perasaan.

 

Akh, kenapa aku sampai seceroboh ini ? Kulirik jam dinding di dalam kamar tidurku, kulihat jam delapan malam kurang dua puluh menitan. Belum terlalu larut malam ternyata, namun Teddy tanpa kuduga sudah pulang dan tadi memergokiku. Duh, kenapa sampai aku seceroboh ini ? batinku penuh penyesalan.

 

Tapi, kalau dipikir-pikir, kedudukan satu-satu. Bukankan aku juga sempat memergokinya beberapa minggu yang lalu ? Hanya saja, kali ini dia memergokiku, bukan sekedar dalam keadaan polos tapi aku tengah asik dengan diriku sendiri. Uuukh…hal ini membuatku malu. Aku hanya bisa berdiam diri di kamarku sampai aku terlelap dalam tidurku. Ketegangan dalam diriku sedikit berkurang dan ini membuatku jadi bisa lebih bahagia dalam menyongsong peraduan, sampai pagi menjelang.

 

Pagi hari, ternyata Teddy sudah tidak di rumah. Haryonopun tidak terlihat. Kutanyakan pembantuku, mereka jawab hanya melihat Teddy waktu mereka datang pagi tadi, sementara Haryono tidak terlihat. Apa Haryono tidak pulang semalam ? Lantas kemana dia ?

 

Aku tak terlalu pusing memikirkannya, toh mereka sudah dewasa. Akupun segera sibuk dengan kegiatan harianku, merawat tanaman di taman rumahku dibantu oleh Dede pembantu lelakiku yang masih anak-anak sebenarnya, namun tubuhnya cukup bongsor sehingga terlihat sudah seperti remaja putra.

 

Sampai tiga hari kemudian aku tak sempat menemui kedua pemuda itu. Aku sudah terlelap tidur saat mereka pulang. Penasaran di malam keempat aku sengaja tidur lebih larut untuk menunggu kedatangan mereka. Namun sampai pukul sebelas lewat, keduanya atau salah satunya belum muncul juga hingga membuatku hampir putus asa dan berniat tidur, namun kemudian kulihat sesosok tubuh di balik gordyn jendela depanku. Kusongsong dan kubukakan pintu.

 

“Eh mbak, belum tidur ?” sapa Teddy kaget.

 

“Belum. Khok pulangnya malam banget sih Ted ?” tanyaku.

 

“Iya mbak, cari-cari tambahan nih buat uang saku” ujarnya terlihat tenang, tanpa sikap canggung setelah dua kejadian beberapa waktu yang lalu.

 

“Eh ya Ted, Haryono mana ? Khok aku nggak lihat dia beberapa hari ini ?” tanyaku menyambung.

 

“Oh ya mbak, aku lupa menyampaikan. Haryono pesan minta disampaikan ijin akan ke Surabaya dulu katanya, ada urusan keluarga. Maaf, aku lupa nyampein ke mbak” jawabnya. Aku hanya mengangguk, tanpa menyalahkannya.

 

“Ya udah mbak, saya masuk dulu yah” pemuda itu pamit.

 

“Oh ya. Eh, kamu udah makan belum Ted ?” tanyaku lagi.

 

“Ya udahlah mbak. Masak sih aku belum makan selarut ini ?” jawabnya sambil senyum.

 

“Buka begitu. Takutnya kamu terlalu sibuk kerja, jadi lupa makan” jawabku lagi.

 

“Nggak mbak. Makasih. Aku permisi dulu yah mbak ? Maaf membuat mbak harus menunggu” jawabnya.

 

“Ya sudah, istirahat deh sana” jawabku, diapun segera berlalu. Tak ada perubahan sikapnya setelah kejadian beberapa hari yang lalu, tetap sopan dan ramah.

 

Tanpa diduga atau tanpa kuperhatikan sebelumnya, menjelang larut malam tiba-tiba hujan turun dengan hebatnya. Seperti biasanya diselingi halilintar yang bersahutan, membuat nyaliku menciut. Semakin lama semakin membuatku tercekam. Aku berusaha terus menenangkan diri, namun tetap saja tak mampu mengatasi keadaan.

 

Peristiwa ini justru membangkitkan ingatanku saat memergoki Teddy beberapa waktu yang lalu. Ingatan akan sosok jantan tubuhnya, dan hembusan angin dingin serta rasa kesendirian sungguh diluar kemampuan kendaliku, membangkitkan hasrat dan gairahku. Hasrat dan gairah yang meluap dengan cepat, sementara disisi lain ketercekaman dan rasa takut akan keadaan membuatku gelisah. Gelisah ingin menenangkan diri. Gelisah ingin ditemani. Rasa gelisah yang semakin menguat seperti rasa-rasa lainnya hingga akhirnya tak mampu lagi kutahankan. Aku bangkit dan segera melangkah ke belakang. Aku ingin menemui Teddy dan memintanya menemaniku. Ya, menemaniku. Terserah menemani yang bagaimana. Aku butuh teman.

 

Sampai di depan pintu kamar pavilliunnya, kupanggil-panggil namanya. Dia tak menjawab. Apa dia sudah terlelap tidur ? Atau panggilanku tak didengarnya, kalah dengan kuatnya suara siraman air hujan.

 

Aku bimbang, apakah aku akan meneruskan niatku untuk memintanya menemaniku atau akau harus kembali mengurungkan niatku dan kembali dalam ketercekamanku ?

 

Takut akan keadaan, kembali kupanggil-panggil namanya sambil mengetuk pintu kamarnya, namun dia tak juga menjawab. Secara reflek kutekan handle pintu kamarnya untuk memeriksa apakah terkunci dan ternyata….tidak.

 

Kubuka pintu kamarnya lalu…

 

“Akh !” aku tercekat. Teddypun tersentak kaget. Dia sedang….

 

Ya, sebagai wanita dewasa aku tahu apa yang tengah dia lakukan. Sambil mendengarkan suara film dewasa melalui headphonenya, Teddy tengah berbaring dalam keadaan polos sambil mengurut-urut alat kelaminnya sendiri. Dia sedang…masturbasi, sama sepertiku beberapa hari yang lalu.

 

Kebingungan dia coba menutupi kepolosan tubuhnya. Dan anehnya, aku tiba-tiba saja seperti ada kekuatan dalam diriku untuk bertindak lebih jauh lagi. Seakan seperti orang kehilangan kesadaran, atau mungkin secara naluri, jiwaku tertarik oleh daya magis atas kejantanan pemuda itu ditengah tekanan dan desakan kesepianku yang demikian mengigitku, aku justru melangkah masuk ke dalam, sementara pemuda itu hanya mampu berdiri di tepi tempat tidurnya sambil menutupi selangkangannya.

 

“A…ada apa mbak ?” dia tergagap. Aku mencoba senyum.

 

“Aku takut Ted, sendirian di rumah. Kamu kan tahu, aku paling takut kalau hujan deras seperti ini, apalagi…petirnya itu” jawabku polos sambil duduk di sisi pembaringannya. Kami saling bertatapan sejenak. Kulihat sorot mata bingung pemuda itu, apakah akan menolakku atau…menerimaku.

 

“Kamu lagi nonton apa sih Ted ?” tanyaku tanpa berusaha mencari tahu tayangan gambar pada pesawat televisinya yang kini terhalang oleh tubuhnya. Aku justru lebih mengamati bagian bawah tubuh polos pemuda itu. Kedua telapak tangannya masih berupaya menutupi kemaluannya, namun masih kulihat beberapa bagiannya, terutama bagian ujung batang kemaluannya yang menyembul dari balik tangannya, di dekat pusarnya. Kulihat kepala batang Teddy yang mengkilat dan ukurannya hampir sebesar kepalan tanganku. Aku semakin tak kuasa mengendalikan diriku.

 

“Eee anu, nonton…” ucapannya tak berlanjut.

 

“Ya udah, kamu lanjutin aja nontonnya, mbak cuma mau minta ditemani khok. Kamu…….. nggak keberatan kan ?” ucapku benar-benar hilang kesadaranku. Seakan aku sudah tak perduli lagi dengan keadaan. Tak perduli lagi apakah aku pantas meminta hal itu dari si pemuda ? Apakah aku pantas terus tetap berada di sini, sementara Teddy sedang membutuhkan waktu yang sangat privasi ? Dan apakah aku pantas berada di dalam kamar lelaki lain sementara suamiku tidak ada ?  Apalagi, lelaki itu dalam keadaan seperti sekarang ini ?

 

Aku benar-benar tak perduli lagi dengan segala etika kepatutan dan kepantasan yang terpatri dalam bingkai norma dan aturan. Aku tak perduli lagi dengan segala keadaan yang ada kini. Bahkan aku juga tak perduli lagi akan kepantasan dan kepatutan bersama dengan lelaki lain yang dalam keadaan polos tanpa busana itu. Toh aku juga sudah pernah memergokinya beberapa waktu yang lalu dalam keadaan yang sama, dan diapun sudah pula pernah memergokiku beberapa hari yang lalu dalam keadaan yang sama dengan dirinya sekarang ini. Lantas, apa lagi yang harus disembunyikan ?

 

“Tapi mbak ?” pemuda itu nampak bingung.

 

“Kenapa, kamu nggak senang aku datang Ted ?” tanyaku yang seperti wanita hilang ingatan akan status diriku saat ini sebagai wanita yang bersuami dan kini tengah dengan lelaki lain. Aku memang sudah tidak sadar lagi. Semua itu bersumber atas segala kesepian, kedahagaan dan hasrat yang memuncak dalam diriku, yang sangat sulit sekali kudapatkan dari suamiku akhir-akhir ini. Memang aku salah, tapi….aku tak kuat lagi kalau harus berada dalam keadaan seperti ini dalam waktu yang tidak menentu. Seakan tanpa harapan pasti.

 

“Ayo duduk sini, kita nonton bareng-bareng aja” aku sudah tak kuasa lagi, ingin segera ditemani. Kugerakkan tubuhku lebih ke tengah tempat tidur, mendekatinya. Lalu, perlahan kujulurkan tanganku, meminta sambutan tangannya. Dia masih diam. Perlahan kusentuh pergelangan tangannya dan coba kutarik perlahan. Perlahan Teddy membiarkan tangannya kutarik, perlahan pula pandanganku kini mendapatkan sesuatu yang membuat batinku semakin terbakar. Aku benar-benar gelisah. Kulihat kejantanan pemuda itu seakan menggedor seluruh sendi-sendi dalam diriku, meruntuhkan pertahanan kesetiaanku. Aku sangat menginginkan sesuatu yang kini berada di hadapanku itu. Aku inginkan kebahagiaan.

 

Dengan jelas kulihat sebagian batang kemaluannya, dari bagian tengah batangnya hingga ke bagian kepala batangnya. Nampak masih menegang penuh, dengan ukuran yang jauh lebih besar dan panjang dari yang kulihat saat memergokinya beberapa hari yang lalu membuat batinku semakin tak kuat lagi. Nampak bagian kepala batangnya hampir seukuran kepalan tanganku. Disekeliling batang itu, terlihat tonjolan urat-urat besar yang melingkar tak beraturan, seakan sedang pamer akan keperkasaannya. Tak terasa, bagian bawahku berdenyut hingga beberapa kali.

 

Pemuda itu masih nampak ragu. Kali ini kuambil lagi tangan yang masih menutupi selangkangannya. Hanya berjarak kurang dari setengah meter di depanku, batang kemaluan itupun terbebas dan langsung terlihat berdiri mantap agak condong ke bawah, seperti tak kuat menahan bebannya. Aku benar-benar tercekat menyaksikan itu, sementara pemuda itu seperti masih bertahan di posisinya.

 

Keadaan benar-benar membuatku lupa segalanya. Rasa dahaga yang hebat membuatku langsung bertindak. Karena melihat pemuda itu masih dalam keadaan ragu, akupun langsung mengambil tindakan. Aku bergerak maju, lebih mendekat. Kini selangkangannya persis berada di depan wajahku, hanya berjarak beberapa centimeter saja. Kudengakkan wajahku dan kutatap wajahnya yang nampak bingung harus berbuat apa.

 

“Ayolah Ted, temani mbak” aku seperti merengek.

 

“Tapi mbak, aku…” Teddy nampak masih bingung. Mungkin pemuda itu berada dalam kebimbangan. Sebagai lelaki normal, tentu dia tak akan keberatan bersama dan menemaniku, namun sebagai seorang yang telah dan tengah berada dalam limpahan kebaikan aku dan suamiku, tentu saja rasanya tak pantas bila dia harus mengkhianati dan menikam kebaikan yang selama ini telah diterimanya. Aku sesungguhnya sangat maklum dengan sikapnya itu, namun akupun sungguh sangat membutuhkan sambutannya.

 

“Kenapa, kamu ragu ? Kamu takut salah ? Tidak Teddy. Kamu tidak salah. Ini keinginan mbak juga khok” ujarku sambil terus memandanginya dan diapun terus memandangiku. Sorot matanya nampak masih ragu.

 

“Baiklah, kalau kamu masih ragu. Sini, mbak akan kasih bukti” ujarku. Lalu dengan perlahan kugerakkan tanganku. Perlahan karena sesungguhnya akupun masih takut-takut melakukannya, namun untuk membatalkannya…jauh lebih takut lagi.

 

“Uuugghh mbaaak…” geramnya saat jari-jari lentik tanganku berhasil menyentuh batangnya. Terasa hangat sekali. Dengan perasaan tak menentu, antara hasrat yang menggebu bercampur dengan ketegangan, kugerakkan satu jari tanganku menyusuri sepanjang batangnya, dari mulai pangkal batangnya sampai ke bagian kepala batangnya. Bergerak mengitari kepala batangnya, lalu kembali turun, menyusuri setiap inci batangnya, termasuk pada bagian-bagian urat-urat batangnya yang menonjol besar-besar. Pemuda itu hanya bisa diam, namun lain dengan bagian bawah tubuh polosnya itu. Sesekali kulihat jelas, batang kemaluannya menyentak-nyentak dengan kuatnya, merasakan kenikmatan sentuhan jari tanganku.

 

Kuangkat wajahku, kutatap wajahnya sambil kusunggingkan senyum. Teddy menatapku dengan pandangan tak menentu, namun kini tak lagi kulihat sorot mata kebingungannya. Kini justru kudapatkan sorot mata gairah, seakan dia tengah menahan diri untuk tak menyergap dan melumatku sehabis-habisnya, sebelum memastikan dahulu akan segala sesuatunya.

 

Sambil tetap menatapnya, kugerakkan jari-jari tanganku lebih jauh lagi. Perlahan jari-jari tangankupun mulai meraih batangnya. Kupegang sejenak dengan perlahan dan akhirnya akupun menggenggamnya secara pasti. Kugerakkan jari tanganku untuk “meremas” batangnya, terasa sangat keras sekali. Uuukkhh….tanpa sadar batinku merintih. Betapa perkasanya dia, batinku. Bukan saja ukuran batangnya yang lebih besar dari batang suamiku, namun kekerasannyapun, keras sekali. Kubayangkan betapa kuatnya bila nanti menghujami liang kewanitaanku yang terus berdenyut tanpa sadar.

 

Dan akhirnya, akupun tak ingin lagi mundur. Tak ingin lagi mengelak dan tak ingin lagi surut ke belakang. Kuputuskan untuk menyelesaikan segala sesuatunya.

 

Kuturunkan wajahku. Kutatap sejenak batang kemaluan Teddy yang telah berada dalam genggaman tanganku. Kupijat-pijat dan kuurut-urut sejenak lalu…. dengan secepatnya aku bergerak dan tahu-tahu mulutku sudah melahap batang kemaluannya. Teddy menggeram tanpa sadar, sementara aku semakin terbakar. Berkali-kali kuhisap kuat batangnya, lalu kugerakkan kepalaku maju hingga kurasakan batangnya memasuki rongga mulutku lebih dalam. Terus dan terus sampai menyentuh ujung tenggorokanku.

 

“Mbak…mbak…” dia coba mengingatkanku, atau mungkin coba meyakinkan dirinya. Aku tak memperdulikannya, aku sudah tak kuat lagi dengan segala keinginanku ini. Terus kugelomoh batang kemaluannya membuat pemuda itu kembali menggeram tanpa kuasa. Berulang-ulang kugerakkan kepalaku maju mundur, sehingga batangnya bergerak keluar masuk dalam rongga mulutku. Sesekali kuhisap-hisap kuat, lalu kugelitik ujung kepala batangnya dengan ujung lidahku hingga membuatnya menggeram-geram penuh kenikmatan. Berkali-kali pula kurasakan batang kemaluannya seperti hendak berontak, menendang-nendang dalam rongga mulutku.

 

Perlahan, tak ada lagi sikap penolakannya dan bahkan perlahan kurasakan dia mulai menyambutku. Mulanya dia menyentuh bahuku, lalu turun ke punggungku. Kurasakan sentuhan jari tangan jantannya semakin membangkitkan hasratku yang sudah sangat menggila itu. Kutengadahkan wajahku sejenak, tanpa melepaskan kulumanku. Dia kini menatapku dengan sorot mata penuh gairah. Pandangannya berkali-kali mengarah ke belahan dadaku, seakan meminta ijin untuk menyentuhnya. Kugerakkan tangankum kuturunkan tali penyangga gaun malamku. Aku yang biasa tidur tanpa mengenakan BH, tentu saja, dengan tindakanku ini membuat kedua gundukan payudaraku langsung terpampang bebas.

 

Akhirnya aku bergerak mundur. Kulepaskan kulumanku. Kutarik tangannya agar mendekat, diapun menyambut. Kurebahkan tubuhku, Teddy mendekat. Kupejamkan mataku, menunggu sambutannya dengan hati berdebar dan hasrat menggejolak.

 

“Mmmmhhhh….” Kini aku yang merintih. Tubuhku menggelinjang saat kurasakan sentuhan pertama jari tangannya di tepian gundukan payudaraku. Serasa ada lecutan aliran kenikmatan menjalari tubuhku. Aku yang sudah sangat dahaga akan sentuhan perkasa lelaki, membuat setiap ujung syaraf di tubuhku sangat sensitif. Sentuhan yang perlahan saja sudah membuatku tergelinjang.

 

Kurasakan gerakan jari tangannya cepat sekali meningkat. Walau dengan gerakan perlahan, namun secara pasti dan cepat mengarah ke puncak.

 

“Sssshhhh…oookkkhhh…Tteeddd…” erangku disertai sentakan tubuhku saat kurasakan dia mulai menyentuh putting payudaraku. Dia gelitik sejenak lalu dia pilin-pilin putting payudaraku yang sudah sangat mengeras itu.

 

Kini kedua tangannya beraksi di kedua gundukan payudaraku. Aku semakin tenggelam dalam kenikmatanku. Rasanya sangat nikmat sekali sentuhannya. Sampailah akhirnya, dia mulai meremas lembut kedua payudaraku. Beberapa kali remasan dan akhirnya….

 

Kubuka mataku saat kurasakan sapuan hangat di bukit payudaraku. Ternyata Teddy mulai menggunakan lidahnya untuk menikmati payudaraku. Aku kembali terpejam, menikmati segala kenikmatannya. Kurasakan betapa nikmatnya sapuan hangat lidah lelaki itu di gundukan payudaraku. Sementara tangannya mulai bergerak kesana kemari disekujur tubuhku.

 

“Sssshhh….mmmhhhh.mmmmhhh….mmmmhhhh….” hanya itu yang keluar dari mulutku saat Teddy mulai menjilati putting payudaraku lalu menghisapinya. Aku bahkan sampai terpekik kenikmatan saat putting payudaraku mulai digigit-gigitnya dengan tekanan yang sempurna, mengalirkan lecutan kenikmatan dalam diriku. Sementara tangannya terus bergerilya. Dan tatkala kurasakan dia hendak menyingkirkan gaunku, akupun memberi jalan.

 

Perlahan dia mulai meloloskan gaun malamku hingga terlepas. Aku semakin berdebar dan bergetar menanti saat-saat pertama melakukannya dengan lelaki lain selain suamiku.

 

Teddy menghentikan sejenak tindakannya. Dia tegakkan tubuhnya. Akupun membuka mataku dan menatapnya, mencari tahu apa yang akan dilakukannya. Dia menatap ke bagian bawah tubuhku. Dia lihat celana dalam hitam mini yang masih tersisa di tubuhku. Aku tahu apa yang diinginkannya. Dia ingin aku mengijinkannya melepaskan sisa pakaian yang melekat di tubuhku itu. Aku tersenyum, memberi isyarat kalau aku mengijinkannya.

 

Dan benar saja, tanpa menunggu lama, diapun menarik turun celana dalam miniku itu. Kuangkat pinggulku memberinya jalan. Dan akhirnya, tuntaslah sudah. Kini aku berada dalam keadaan polos seperti dirinya. Kulihat dia menatapi dengan penuh gairah bagian selangkanganku itu yang dihiasi bulu-bulu halus. Bulu kemaluanku memang tidak lebat. Sedang-sedang saja dan lurus seperti disisir rapih.

 

Walau untuk pertama kalinya, namun karena didorong oleh gairah yang menggebu, aku tak ragu lagi ingin memperlihatkan bagian terpenting di tubuhku itu. Kubuka kedua pahaku hingga dengan demikian Teddy dapat melihat jelas vaginaku. Pemuda itu nampak sangat terbakar. Tanpa meminta ijin, dia usap permukaan vaginaku. Aku tergelinjang. Pinggulku terangkat naik, sementara bentangan kedua pahaku membuka habis.

 

Satu dua usapan dan akhirnya, kurasakan jari-jari tangannya menyibak bibir luar kemaluanku. Lalu kurasakan gerakan jari tangannya itu di bagian dalam permukaan vaginaku. Bergerak menyusuri setiap bagiannya, mengarah ke tepian liang kewanitaanku dan akhirnya….

 

“Ssshhh….ooouuuukkkkhhh….” erangku diiringi liukan pinggulku saat Teddy memasukkan jari tangannya ke dalam lubang kemaluanku. Kurasakan jari tangannya terus membenam masuk sedalam-dalamnya dan kurasakan pula gerakan jari tangannya mengorek-ngorek liang senggamaku seakan hendak memeriksa seluruh bagiannya, membuatku semakin tak kuasa menahan kenikmatannya.

 

“Ooouuukkkhhh….!” Pekikku panjang saat dengan tiba-tiba dia melahap vaginaku. Lidahnya langsung bergerak liar di seluruh permukaan kemaluanku, menendang ke bagian sensitifnya. Aku hanya bisa diam dengan tubuh agak menegang saat Teddy menyantap kemaluanku itu. Berkali-kali kurasakan lidahnya menendang clitorisku, membuatku seperti dilecut rasa nikmat sampai akhirnya kurasakan lidahnya bergerak mencoba masuk ke dalam lubang kemaluanku yang masih menerima masukan jari tangannya.

 

“Sssshhh…uuuukkkhhh….uuukkkhhhh….uuukkkhhh….” hanya itu yang bisa kulakukan merasakan betapa nikmatnya layanan jari tangan dan mulut Teddy di kemaluanku. Sementara tangan satunya terus meremas-remas payudaraku.

 

“Cukup Ted…cuk…kup. Sek…..karang, mas….sukkan punyamu” pintaku tak lama kemudian. Aku sudah tak kuat lagi menahan diri. Aku ingin menyelesaikan semua ini. Aku ingin dia memasukiku. Aku ingin merasakan seberapa nikmatnya hujaman batang kemaluannya di lubang kemaluanku.

 

Teddypun setuju. Dia lepaskan segala sesuatunya, akupun menurunkan pinggulku. Kuamati setiap gerakannya. Dia mulai mengarahkan batang kemaluannya ke selangkanganku. Kubuka kedua pahaku selebar-lebarnya.

 

“Mmmmhhh….” Erangku saat dia sapukan kepala batangnya di permukaan kemaluanku. Satu dua sapuan lalu…..

 

“Ssssshhhh…uuuuukkkkhhhh…..” aku mengerang panjang saat kurasakan desakan batang kemaluannya di lubang kemaluanku. Terasa kuat sekali desakan dan gesekannya.

 

“Yyyyaaa…terrruuussshhh Ttteeeddd….mass..sukkaan ter….rrruuussshhh, mas…sukkan… terrr…rruussshhh…. uuuukkkkhhhh” pintaku.

 

Perlahan namun pasti, kurasakan batang kemaluannya memasuki lubang kemaluanku semakin dalam, semakin dalam dan terus semakin dalam, mengalirkan rasa nikmat yang sulit kulukiskan sampai akhirnya….

 

“Aakh !” pekikku disusul tubuh bugilku yang mengejang sesaat ketika dia telah berhasil membenamkan seluruh batang kemaluannya ke dalam lubang kemaluanku. Kurasakan tusukan dan tekanan kuat di dasar lubang kemaluanku, mengalirkan tekanan rasa nikmat yang amat kuat. Kugunakan kedua tanganku untuk menekan kuat-kuat pantatnya, memberi isyarat agar dia tusukan lebih kuat lagi batang kemaluannya. Teddypun menjatuhkan tubuhnya hingga akhirnya dia kini menindihku. Kusambut dengan memeluknya kuat dengan kedua tanganku. Sementara kedua betisku melingkar di pinggangnya dan memitingnya kuat-kuat. Dengan lembut dicumbunya wajahku, lalu kamipun berpagutan dengan gairah meletup-letup.

 

Perlahan, sambil terus berpagutan kurasakan Teddy meminta ijin untuk bergerak. Kurenggangkan jepitan kedua betisku dan kubebaskan pinggulnya. Diapun mulai bergerak perlahan. Kurasakan gesekan dan tekanan batang kemaluannya di lubang kemaluanku. Terasa amat nikmatnya. Teddy terus bergerak, akupun membalas dengan memutar-mutar pinggulku.

 

Entah karena memang ukurannya yang berbeda, ataukah ini dikarenakan keadaanku yang demikian dahaganya, kurasakan gesekan dan tekanan batang kemaluan Teddy terasa benar nikmatnya, menekan ke segala arah di setiap bagian lubang kemaluanku. Aku sungguh-sungguh menikmati persenggamaan pertamaku ini dengan lelaki lain selain suamiku.

 

“Yyyaaa….terusssshhh…terr..rruuusshhh….uuukkkhhhh…nikmatnyaaaa….nik…matnya” erangku tak kuasa lagi membendung perasaanku. Teddy terus bergerak dengan irama yang semakin lama semakin cepat.  Aliran kenikmatan terus melanda diriku. Tanpa sadar, berkali-kali kuhentakkan pinggulku naik, menyongsong laju turunnya pinggul Teddy. Hujaman batang kemaluannya di dalam lubang kemaluanku semakin lancar, semakin cepat dan semakin kuat. Kenikmatan yang kurasakanpun semakin meningkat.

 

Sambil terus menggenjotku, Teddy terus mencumbui tubuh polosku, baik dengan bibir dan lidahnya, maupun dengan jari-jari tangannya. Kedua gundukan payudaraku, lebih sering mendapatkan serangannya, selain tentunya di bagian bawah tubuh polosku ini yang tanpa hentinya terus dihujami batang kemaluan pemuda itu. Akhirnya kudapatkan apa yang kuinginkan selama ini, dan aku tak ingin melepaskannya lagi. Aku ingin menikmati semua ini dengan sepenuhnya dan sepanjang waktu yang kumiliki.

 

“Hoooukkhhh….hhhooouukkkhh….hhhooouuukkhhh….yyyaaa….terruuusssh Ted….terrr…. ruuussshhh. Leb….bih cep….pat dan…kkkkuuu…aaattt….sssshhhh….aaakkhhh !!” aku semakin menggila merasakan semua ini. Aku tak menyangka, ternyata melakukan persenggamaan dengan lelaki lain itu jauh lebih nikmat. Sementara di luar, hujan deras dan halilintar yang bersahutan, tak lagi kuperdulikan. Seluruh konsentrasi dan perhatianku tercurah pada kenikmatan birahi yang baru pertama kalinya kudapatkan dari lelaki lain selain suamiku ini.

 

Setiap kali Teddy menghujamkan batang kemaluannya dengan kuat, kurasakan sentakan-sentakan rasa nikmat yang memberi tekanan dalam diriku. Semakin lama tekanan itu semakin meningkat kuat. Akupun sangat mengerti, apa arti tekanan itu. Dan karenanya, kuminta Teddy untuk meningkatkan kecepatan dan kekuatan gerakannya sampai akhirnya….

 

“Oooouukkkhhh Teeedddyyyy…!!” pekikku panjang disusul tubuh bugilku mengejang hebat. Aku meledak hebat ! Kupiting tubuh bugilnya dengan kedua tangan dan kakiku. Napasku sampai terputus-putus tak kuasa menahan segalanya. Ledakan puncak kenikmatan persenggamaanku terasa sangat hebat. Belum pernah kurasakan kenikmatan sehebat ini.

 

Untuk beberapa saat, Teddy hanya diam karena memang aku membelitnya sangat kuat sehingga dia tak mampu bergerak. Baru setelah beberapa saat, seiring dengan meredanya puncak kenikmatan persenggamaan ini, aku mengendurkan belitanku. Perlahan Teddypun mulai kembali bergerak, dan akupun kembali merasakan aliran kenikmatan birahiku.

 

“Mau ganti posisi ?” tanyaku menawarkan. Dia langsung setuju. Dicabutnya batang kemaluan nya dari dalam lubang kemaluanku. Nampak batang kemaluannya yang hampir sepanjang 17 centimeteran dengan diameter sekitar 5 centi itu, mengkilap dibasahi cairan vaginaku. Sesaat kusempatkan membelai batang kemaluannya, sebagai isyarat kalau aku sangat menyukai miliknya itu.

 

Akupun merubah posisi. Aku membelakanginya dengan posisi merangkak. Teddypun langsung bersiap dan akhirnya….

 

“Uuuuukkkhhh….” erangku kembali saat batang kemaluannya kembali membenam ke dalam lubang kemaluanku hingga tandas. Selanjutnya, sambil meremas-remas kedua bongkahan pantatku, diapun kembali menusuk-nusukkan batang kemaluannya ke dalam lubang vaginaku. Aku hanya bisa mengerang dan merintih merasakan segala kenikmatannya.

 

Perlahan namun pasti, Teddy semakin meningkatkan kecepatan dan kekuatan gerakannya, kembali menghadirkan sentakan-sentakan kenikmatan oleh hujaman batang kemaluannya di rongga vaginaku. Setahap demi setahap akupun mulai kembali merasakan tekanan dalam diriku. Aku semakin tenggelam dalam gulungan kenikmatan persenggamaanku ini. Sesekali kedua payudaraku yang menggantung bebas, diremas-remasnya sehingga semakin menambah kenikmatan yang kurasakan. Aku benar-benar memposisikan diriku sebagai pasangan birahinya, saling memberi dan menerima kenikmatan tanpa halangan apapun lagi.

 

Segala kelebihan yang dimiliki Teddy dan yang kunikmati saat ini, benar-benar kuresapi dan kuhayati sepenuhnya. Aku sudah tak perduli lagi, kalau lelaki yang tengah menyenggamaiku saat ini bukanlah suamiku. Aku benar-benar menginginkan segala kenikmatan yang diberikannya padaku.

 

Kembali pinggulku bergerak meliuk-liuk tanpa sadar, mengimbangi setiap gerakan Teddy. Rasa nikmat benar-benar menyegarkan sekujur tubuh bugilku saat ini. Udara dingin di luar tak kurasakan, justru aku merasakan mulai berkeringat saat ini. Napaskupun mulai meningkat, seiring dengan kenikmatan yang semakin menguat.

 

“Leb…bih ku…at dan cep…pat Ted, ak…ku..ak..ku mau dap…pat lag…gi” pintaku tanpa ragu. Pemuda itupun langsung meningkatkan kecepatan dan kekuatan gerakkannya. Tekanan dalam diriku langsung meningkat cepat. Semakin lama semakin kuat dan akhirnya….

 

“Aaaakhh !!” untuk kedua kalinya aku memekik keras, disusul tubuh bugilku mengejang hebat. Namun kali ini aku tak dapat mencegah Teddy untuk menghentikan gerakannya. Aku sampai megap-megap menahan semua kenikmatan yang kurasakan. Ditengah amukan badai puncak kenikmatan birahiku yang baru saja meledak, Teddy terus menghujam-hujamkan batang kemaluannya itu di dalam lubang kemaluanku, memberikan gedoran-gedoran rasa nikmat yang semakin menambah beban tenaga bagiku untuk menahan semuanya.

 

“Ukh Ted..Ted…Ted !” hanya itu yang mampu keluar dari celah bibirku. Aku tak sanggup berkata-kata dengan kalimat panjang, bahkan untuk bernapaspun rasanya sulit. Kenikmatan yang tengah kurasakan tengah mengamuk dalam diriku hingga menguras sebagian tenagaku.

 

Namun akhirnya, semuanya berangsur-angsur reda dan aku bisa menikmati kembali kenikmatan persenggamaan ini sepenuhnya.

 

“Diatas mbak” pinta Teddy kemudian sambil menghentikan gerakannya. Lalu kurasakan batang kemaluan lolos dari lubang kemaluanku. Aku segera merubah posisi. Teddy langsung rebah telentang dan akupun segera mengangkanginya, persis diatas selangkangannya. Kuraih secepatnya batang kemaluannya lalu kuarahkan ke selangkanganku sendiri setelah itu….

 

“Sssshhhh…..uuuukkkkhhhh…” erangku saat kuturunkan tubuhku. Perlahan batang kemaluan Teddypun kembali membenam masuk ke dalam lubang kemaluanku. Aku terus bergerak turun sambil meresapi segala kenikmatannya. Sementara Teddy tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada di hadapannya. Kedua gundukan payudaraku segera ditangkapnya, lalu jari-jari tangannyapun dengan penuh gairah meremasi kedua payudaraku itu.

 

Untuk sesaat aku diam, meresapi sepenuhnya batang kemaluan Teddy yang telah membenam habis di lubang vaginaku ini. Kurasakan ujung batang kemaluannya menusuk kuat dasar lubang kemaluanku. Lalu dengan perlahan kugerakkan pinggulku maju mundur. Kurasakan korekan ujung batang kemaluannya di dasar lubang kemaluanku, terasa nikmat sekali. Terus kugerak-gerakkan pinggulku. Kali ini kuputar-putar pinggulku sehingga korekan ujung batang kemaluan Teddy semakin terasa nikmatnya.

 

Selanjutnya, perlahan akupun mulai bergerak. Kuangkat pinggulku naik, batang kemaluan Teddypun bergesek dengan dinding lubang kemaluanku. Terus bergerak naik, terasa nikmat sekali pergesekannya. Hingga sebatas kepala batangnya saja yang masih tersisa, akupun kembali menurunkan tubuhku, terus turun hingga menduduki selangkangannya dan kurasakan kembali batang kemaluannya membenam sedalam-dalamnya di liang senggamaku. Kugerakkan lagi pinggulku merasakan korekan ujung batang kemaluannya di dasar lubang kemaluanku lalu kembali kunaikkan tubuh bugilku dan kuturunkan lagi. Berulang-ulang kulakukan hal itu dengan gerakan yang semakin lama semakin cepat dan kuat.

 

Napasku mulai memburu, sementara peluh mulai membasahi tubuh bugilku, namun gairahku justru seakan semakin terbakar hingga membuat pergerakanku semakin menggila. Tak perduli lagi kalau lelaki yang dibawahku ini adalah bukan suamiku. Aku sangat kenikmatan.

 

Kembali tekanan kurasakan dalam diriku. Kutingkatkan kecepatan dan gerakan tubuhku. Gerakan tubuhku sudah demikian cepatnya sampai-sampai kedua payudaraku berguncang-guncang dengan kerasnya. Nampaknya, dimata Teddy, hal ini menjadi sebuah pemandangan yang sangat merangsang baginya, apalagi ditambah dengan basah kuyupnya tubuh bugilku. Melihat pemuda itu demikian menyukai sex-appeal tubuhku, akupun semakin bergairah. Tanpa perduli dengan peluh yang semakin membasahi tubuhku, aku terus memacu gerakanku. Napaskupun semakin memburu seiring dengan peningkatan kenikmatan dan tekanan dalam diriku.

 

Cepan sekali kurasakan tekanan dalam diriku meningkat. Aku terus bergerak naik turun sambil memutar-mtarkan pinggulku. Perpaduan antara gesekan, tusukan dan korekan batang kemaluan Teddy di dalam lubang kemaluanku, mendatangkan rasa nikmat yang luar biasa. Aku sungguh-sungguh kesetanan dibuatnya.

 

“Hoouuukkkhh….hooouukkkhhh…hhooouuukkkhh…hoouukkhh…aaakh !” berkali-kali aku merintih, mengerang dan memekik sambil terus bergerak. Sesekali Teddy menyambar kedua payudaraku lalu meremasnya, kali ini dengan kekuatan yang lebih. Aku sudah demikian memuncaknya dan kurasa sesaat lagi akan kudapatkan kembali klimaksku. Hal itu mendorongku untuk tetap mempertahankan kekuatan dan kecepatan gerakanku hingga akhirnya…..

 

“Hooouuukkhh…!!” pekikku panjang disusul ambruknya tubuh bugilku dan langsung menindih tubuh bugil Teddy. Sekujur tubuh bugilku mengejang hebat, napasku tersengal-sengal, namun kenikmatan yang kudapatkan, jauh lebih hebat. Aku sangat puas.

 

Teddy yang tak sabar menunggu, segera membalikkan tubuhku dan langsung kembali berada dalam tindihannya.  Tanpa memberi waktu lebih lama, akupun kembali merasakan hujaman-hujaman batang kemaluannya di dalam lubang kemaluanku hingga membuatku megap-megap merasakan semuanya.

 

Seakan tak kenal lelah, aku terus menyambut gerakannya. Walau sekujur tubuhku sudah dibasahi peluh dan napas yang semakin memburu, aku masih sanggup mengimbangi dan melayaninya. Kenikmatan yang kurasakan seakan memberi motivasi dan memberi tenaga tambahan pada diriku. Erangan, rintihan dan pekikan kenikmatanku seakan tak pernah berhenti mengiringi rasa nikmat yang sudah tiada berakhir.

 

Gerakan tubuh Teddy sudah demikian cepatnya, membuatku tak kuasa untuk menahan diri terhadap kenikmatan yang terus memburuku. Dalam tempo singkat saja, aku kembali merasakan tanda-tanda kalau aku akan kembali mendapatkan puncak kenikmatanku. Benar-benar gila, baru kali ini aku mendapatkan orgasme yang demikian banyaknya. Selama ini, aku hanya mendapatkan orgasme terbanyak hanya dua kali saja. Namun kali ini.

 

Teddy terus menggempurku habis-habisan, seakan tidak ada waktu dan kesempatan lagi. Di klimaks keempatku, Teddy tak menghentikan serangannya. Dengan tenaga yang makin terkuras banyak, akupun terpaksa berusaha bertahan hingga akhirnya…

 

“Mbak…ak…ku mau da…pat. Di…kel…luarkan di…mana mbak ?” ucap Teddy dengan terbata-bata.

 

“Di…da..lam saja Ted. Hooouukkhhh….ayo, kita kel…laur bareng…bareng. Ak…kupun… mau da…pat lag..gii… yaaa…ter…russshhh Teddd..ddyy…teerrr…ruuuussshh….ooookhhh..” aku benar-benar merasa terpuaskan.

 

Dan akhirnya, kurang dari satu menit kemudian, aku dan Teddypun sama-sama meledak. Kurasakan semburan hangat air maninya di lubang kemaluanku. Ada sekitar lima kali Teddy menyemburkan air maninya hingga kurasakan seluruh rongga lubang vaginaku banjir dan tumpah keluar. Kami saling piting dengan kuat. Napas kami saling memburu. Sekujur tubuh bugil kami basah kuyup namun kepuasan yang kami dapatkan sungguh luar biasa.

 

Kamipun sama-sama beristirahat sambil berpelukan mesra. Aku sangat puas sekali, demikian juga nampaknya dengan Teddy. Tak ada kata dan ucapan untuk beberapa saat lamanya. Hanya pandangan dan sentuhan saja yang menjadi komunikasi antara kami berdua. Sementara di luar, hujan masih turun dengan lebatnya, hanya saja halilintarnya tak terdengar seperti sebelumnya, seakan mengekspresikan jiwa dan perasaan kami saat ini yang masih bergemuruh dalam gairah birahi, namun untuk sementara sepi dan tenang terhadap dentuman-dentuman aktivitas birahi kami.

 

“Mbak, apa kita tidak salah mengambil tindakan ini ? Aku tak ingin hubunganku dengan mas Hendra berakhir gara-gara…”

 

“Tenangkah Ted, semua ini, mbak lah yang memulai. Jadi, kalau harus ada yang dipersalahkan, tentunya mbak” jawabku memberi ketenangan, padahal sesungguhnya dalam hatikupun merasakan hal yang sama, bahkan mungkin aku yang lebih merasa takut atas apa yang telah kami perbuat. Namun, sejujurnya, aku sangat menikmati semua ini dan…aku tak merasa menyesal kalaupun kejadian ini akan menghancurkan rumah tanggaku dengan mas Hendra. Satu hal yang mas Hendra ketahui, bahwa apa yang kulakukan dengan Teddy ini semata-mata hanya bersifat fisik, tidak lebih. Dan apa yang kulakukan dengan Teddy ini, hanya sebuah keterpaksaan saja karena memang aku sudah tak kuat lagi menahan kedahagaan dalam diriku. Andai saja mas Hendra mampu memberikannya, setidaknya meminimalisir kedahagaanku, tentu kejadian ini tak akan terjadi. Aku tak ingin mencari pembenaran atas apa yang kulakukan bersama Teddy, tapi setidaknya aku bermaksud ingin mengemukakan kenyataan dan realitanya. Hanya itu, tidak lebih.

 

Tiba-tiba saja aku teringat akan ucapan suamiku yang mengatakan, kita sudah sama-sama dewasa, tahu apa yang harus kita lakukan. Juga perkataannya, aku akan selalu mendukungmu, apapun yang kamu lakukan.

 

Apakah yang dimaksud dengan perkataannya itu termasuk apa yang telah kulakukan bersama Teddy saat ini ? Apakah setelah dia tahu apa yang telah kulakukan, dia akan mengerti dan memaklumi ? Apakah setelah kejadian ini dia akan selalu mendukungku ? Dan apakah setelah kejadian ini dia masih akan tetap menerima dan mencintaiku ?

 

Hal-hal itulah yang berkecamuk dalam diriku, dan jujur saja aku sangat takut bila apa yang kudapatkan nantinya tidak sesuai dengan harapanku.

 

Namun rupanya, ketakutan yang kurasakan hanya sebuah ketakutan tak bermakna, karena nyatanya, aku dan Teddy kembali mengulangi perbuatan ini. Aku dan Teddy kembali memburu kenikmatan birahi ini. Bahkan, aku dan Teddy melakukannya hingga berulang kali dan baru berhenti setelah tak tersisa lagi tenaga di tubuh kami. Di tengah gemuruh hujan deras, ditengah kepekatan malam, aku terus memacu birahi dengan pemuda itu seakan tiada puasnya. Sampai menjelang pagi kami lakukan berulang-ulang untuk kemudian sama-sama terlelap dalam kepuasan. Aku tidur di kamarnya malam itu dan baru berpindah ke kamarku menjelang jam kedatangan pembantu-pembantuku.

 

Malam-malam berikutnya, kami ulangi lagi, lagi dan lagi. Di rumah besar tanpa kehadiran orang lain, aku dan Teddy seperti sepasang pengantin baru, saling mereguk kenikmatan birahi tanpa takut dan rasa bersalah, sampai akhirnya suamiku pulang dari luar kota. Aku dan Teddy tentu saja bersikap biasa, walau dalam hati tetap saja ada perasaan tak enak hati pada orang yang telah kami khianati itu. Namun aku tak berdaya lagi, bila harus menderita kesepian.

 

Biarlah untuk sementara, apa yang kami lakukan ini menjadi rahasia kami berdua.

Namun ternyata, keadaan semakin bertambah runyam oleh kejadian yang sungguh sebuah keteledoran aku dan Teddy. Seakan terlupa, kalau ada satu orang lagi yang menghuni rumah ini, yakni Haryono. Dan celakanya, kemunculan Haryono yang tiba-tiba itu disaat yang kurang tepat. Haryono datang dan memergoki kami yang sedang bergumul dengan ganasnya. Aku dan Teddy sungguh tak menyadari kehadirannya sampai kami selesai melakukan pergumulan itu. Aku sungguh-sungguh takut dan bingung, namun pemuda itu menenangkanku dan mengatakan mengerti serta memahami keadaanku. Diapun menjamin, bahwa rahasia ini akan disimpannya rapat-rapat demi menjaga hubungan kekeluargaan serta demi utuhnya ikatan rumah tanggaku.

Bersambung

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Perjalanan Hidup

 

Perjalanan hidup memang sulit diterka, demikian yang kualami. Aku Ratna, 29 tahun.. Lima tahun menikah namun juga belum dikaruniai keturunan. Usiaku kini mendekati kepala tiga dan itu membuatku semakin panik. Sementara Baskoro suamiku nampak sekali ingin segera memiliki keturunan. Hal itu dapat tergambar dari sikapnya walau sekuat apapun dia menyembunyikannya.

Sampailah pada satu titik dimana Baskoro ingin menikahi wanita lain guna mendapat kan keturunan. Aku tak bersedia dimadu, dan lebih memilih pisah. Maka jalan perpisahan itulah yang ditempuh walau berat.

Tak terasa hampir satu tahun aku hidup seorang diri. Sering kali adikku Lastri mengunjungiku, baik seorang diri ataupun dengan Adi suaminya atau kadang juga dengan Tomo dan Dita kedua anaknya. Dalam keadaan ini aku sedikit terhibur dan dapat melupakan segala penderitaanku.

Penderitaan yang utama adalah, kesendirian. Sebagai seorang wanita yang pernah berumah tangga, tentu ada kalanya aku merasakan kesepian dan ingin sentuhan serta belaian seorang lelaki, tapi apa daya.

Karena tak tega, Lastri akhirnya menyarankan agar aku pindah saja dan tinggal dekat dengan mereka, kebetulan rumah di sebelah akan dijual. Kehadiranku itu juga sekalian bisa menjaga Tomo dan Dita bila mereka sedang ditinggal. Selama ini mereka hanya bersama pembantu bila Lastri dan Adi keluar rumah.

Dengan segala pertimbangan akhirnya aku menyetujui usul mereka. Rumah yang kutinggali rencananya akan aku jual, namun Lastri dan Adi tak setuju. Biarlah rumahku dikontrakkan saja, rumah yang akan dijual itu dibeli oleh mereka sekalian untuk investasi.

Dengan sedikit renovasi akhirnya rumah siap kutinggali. Untuk menyatukan dua rumah, Adi sengaja membangun satu ruangan lagi yang menghubungkan rumah baru dengan rumah yang lama, sehingga aku seperti tinggal di satu rumah walau berbeda atap.

Semenjak pindah ke rumah mereka, aku sedikit terhibur terutama dengan kehadiran dua keponakanku itu, Tomo dan Dita. Tomo yang baru kelas 3 SD sementara adiknya Dita baru kelas 1 SD, namun keduanya sangat ceria dan penuh semangat walau sesekali mereka bertengkar, maklum anak-anak.

Tak terasa lebih dari tiga bulan aku tinggal bersama mereka. Perlahan kesepianku mulai kembali mengusikku terutama di malam hari. Kalau sudah begini biasanya aku pindah tidur di kamar tidur Dita sekalian menemaninya. Kesepianku dapat sedikit terobati dengan memandangi wajah lucu kepinakanku itu, namun itu semua tidak bertahan lama. Sementara Lastri sudah kembali mengandung anak ketiganya. Aku sebenarnya iri dengan kehidupan adikku itu yang menurutku sangat beruntung. Ada keluarga yang utuh dan penuh kasih sayang. Secara materipun mereka dapat dikatakan lebih dari cukup, sementara aku…..

Tak terasa kandungan Lastri semakin besar dan kini adikku itu terlihat semakin gemuk. Hingga mendekati kandungannya yang ke enam bulan, Lastri sengaja datang ke rumah sebelah dimana aku tinggal.

“Ada apa Las, tumben kamu nongkrong disini ?” ujarku sambil meneruskan kegiatan isengku, menyulam.

“Aku ada yang pengen dibicarakan sama Mbak” ujarnya pelan. Kuhentikan kegiatan ku sejenak dan kupandangi Lastri yang nampak serius. Akhirnya kuletakkan kain yang sedang kusulam.

“Pengen ngomong apa ?” ujarku ikut serius. Lastri terdiam sejenak, dia nampak ragu.

“Tapi Mbak janji nggak akan marah ya ?” ujarnya. Aku terdiam. Apa dia akan menyuruhku keluar dari rumahnya ? Tapi kenapa ? Bukankah dulu dia yang menyurhku tinggal disini ? Atau….

“Baik, aku janji” ujarku tak lagi mau menerka-nerka, biar dia mengatakannya saja.

“Begini mbak. Sejak aku mengandung Dita dulu, aku disarankan oleh dokter kandungan agar tak melakukan hubungan seks dengan Mas Adi. Mbak kan tahu aku pernah keguguran. Kandunganku kata dokter lemah. Maka sejak itulah aku dianjurkan untuk tak melakukan kegiatan seksual selama mengandung.” Lastri menghentikan pembicaraannya sejenak. Aku sendiri memang tahu dan sempat menjenguk saat adikku itu keguguran.

“Lantas, apa yang akan kamu bicarakan denganku ?” ujarku. Apa hubungannya denganku ? batinku bertanya-tanya.

“Waktu mengandung Dita dulu mas Adi memang cukup mampu bertahan. Tapi saat ini mas Adi sering uring-uringan dan pulangnya juga sering larut malam.” Lastri kembali menghentikan pembicaraannya. Aku memang membenarkan ucapan adikku itu, Adi memang akhir-akhir ini kalau pulang cukup larut malam, padahal biasanya dia pulang paling lambat jam tujuhan.

“Kalau soal uring-uringannya aku masih bisa memahami mbak, tapi pulang larutnya itu yang aku khawatirkan. Setiap ditanya, mas Adi malah marah. Aku takut, mas Adi main perempuan di luar mbak” ujar Lastri. Aku coba memahami dan menerka kemana arah pembicaraannya itu.

“Lantas, apa yang akan kamu lakukan ?” ujarku coba mengejar.

“Entahlah mbak. Aku cuma tak ingin mas Adi sampai jatuh ke pelukan perempuan lain, apalagi yang nggak bersih” Lastri kembali menghentikan pembicarannya, aku hanya menunggu.

“Sebenarnya aku berat mengutarakan ini. Aku takut mbak salah terima” lanjutnya kembali, menggantung.

“Kenapa aku salah terima ?” kejarku.

“Sebab….” Lastri memandangku sesaat, akupun balas memandang.

“Sebab, aku ingin…mbak….menggantikanku selama aku hamil” ucapannya sungguh membuatku terperanjat. Aku terdiam masih tak percaya dengan apa yang kudengar.

“Menggantikanmu ? Mak…maksudmu ?” aku sungguh-sungguh bingung dan sulit percaya.

“Ya mbak. Maaf, aku nggak bermaksud…. Aku cuma nggak ingin mas Adi terjerumus. Aku harap, mbak mengerti” Lastri berucap pelan, sementara aku hanya bisa terdiam, tak tahu apa yang harus kukatakan.

“Mbak nggak perlu ngejawab sekarang. Mbak pikirin dulu aja. Cuma aku minta, pertimbangkan permintaanku ini mbak. Aku, tinggal dulu mbak” tanpa menunggu ucapanku, Lastri beranjak pergi meninggalkanku seorang diri yang hanya terduduk diam tak tahu harus berbuat apa.

Sungguh apa yang dikatakan adikku Lastri, membuatku sangat terkejut. Batinku bergejolak, pikiranku berkecamuk. Aku coba tenang dan memikirkan dengan jernih apa yang diminta Lastri.

Sesungguhnya kekhawatiran Lastri memang beralasan. Siapa sih yang ingin suaminya jatuh ke pelukan wanita lain, apalagi wanita itu sampai mendatangkan bencana nantinya. Dan biasanya lelaki yang sudah jatuh ke pelukan wanita lain, akan berkurang rasa tanggung jawabnya ke keluarga dan yang pasti secara ekonomi pula akan terjadi kekacauan. Kalau sampai Adi jatuh hati ke wanita lain dan kebetulan wanita itu materialistis, maka dapat diterka akan kehancuran rumah tangganya. Itulah mengapa dia sampai mengambil keputusan itu, memintaku menggantikan posisinya. Tentunya posisi sebagai istri, sebagai pasangan dalam menyalurkan hasrat seksual suaminya.

Aku sungguh bingung dan sulit memutuskan. Kenapa Lastri sampai sefrustasi itu. Aku sebenarnya kasihan terhadap kemelut dirinya, tapi untuk menerima begitu saja permintaannya juga sangat sulit. Walau bagaimana ini bukan main-main. Menggantikan perannya di atas ranjang, menemani suaminya di kasur ?  Akh, berminpipun aku tidak untuk sampai seperti ini. Tapi, kalau aku menerima ?

Walau sesungguhnya aku juga merasakan kedahagaan selama ini. Aku sangat haus akan belaian lelaki. Tapi untuk melakukannya dengan Adi, suami adikku, rasanya masih sulit walau bukan hal yang mustahil.

Sampai beberapa hari aku belum bisa menjawab dan mengabulkan permintaan Lastri walau nampak adikku itu ingin segera mendapatkan jawaban dariku. Dan keadaanku semakin terjepit manakala Adi semakin larut pulangnya. Tak jarang kedapati mereka bertengkar karena Lastri mengutarakan keberatannya kalau suaminya pulang terlalu larut. Dan bila dinyatakan demikian, Adi selalu menjawab ketus kadang agak menyakitkan menurutku. Dia katakan untuk apa pulang cepat kalau yang ada hanya kehampaan.

Keadaan itu benar-benar membuatku tersudut. Sementara Lastri tak berani menanya kan jawabanku, tapi dari sikap dan sorot matanya, aku dapat menangkap kalau adikku itu ingin segera mendapat jawaban dariku. Dia nampaknya menginginkan agar aku segera memutuskan dan dapat menerima permintaannya sebelum keadaan terlanjur.

“Kamu sudah mempertimbangkannya matang-matang Las. Apa kamu nggak akan menyesal kalau sampai aku menerima permintaanmu ?” ujarku saat dia sedang duduk santai di ruang tamunya.

“Nggak mbak. Aku sudah mempertimbangkan matang-matang. Dengan mbak aku lebih merasa aman dan keadaan rumah tanggaku akan terjaga” ujarnya.

“Ya tapi, apa kamu nggak merasa terusik kalau sampai aku melakukannya dengan Adi ?” aku coba memancingnya lebih jauh. Lastri memandangku sejenak lalu dia senyum sambil menggeleng.

“Percayalah mbak, aku akan senang bila mas Adi dengan mbak” ujarnya terdengar mantap. Jawabannya justru membuatku tak berkutik.

“Bagaimana mbak, mbak menerima ?” kejarnya. Aku tergagap.

“Entahlah Las. Aku cuma nggak tega aja kalau sampai….”

“Mbak lebih tega mas Adi jatuh ke pelukan perempuan lain, lalu rumah tanggaku hancur ?” Lastri nampaj emosi.

“Bu…bukan itu Las. Kamu jangan salah sangka dulu. Aku cuma…nggak ingin salah langkah” ujarku sejujurnya. Lastri nampak kembali tenang.

“Mbak, aku sayang mas Adi. Aku juga sayang mbak. Apa salahnya aku memberi kan yang terbaik untuk orang-orang yang kusayangi. Mas Adi adalah hal terbaik untuk mbak, juga untukku. Demikian pula, mbak adalah yang terbaik buat mas Adi. Jadi, apa aku salah kalau memutuskan demikian ?” ujar Lastri coba memberi argumentasi.

“Kamu nggak salah Las. Nggak salah” jawabku lagi.

“Lantas, kenapa mbak nggak menerima permintaanku ?” kejarnya.

“Bukan aku nggak menerima, aku hanya….” ucapanku terpotong. Aku tersadar kalau baru saja mengutarakan sesuatu yang berarti penerimaan atas permintaannya. Menerima permintaannya untuk menggantikan posisi adikku sebagai istri Adi. Menerima Adi dalam pelukanku dan aku dalam pelukannya. Batinku bergemuruh.

“Makasih mbak. Aku sangat senang mendengarnya” Lastri memelukku kuat-kuat. Aku hanya bisa terdiam.

“Aku cuma minta waktu untuk menyiapkan mental Las” seakan aku melanjutkan ucapanku yang tadi tak tuntas.

“Baik mbak. Aku beri waktu, tapi jangan lama-lama. Kasihan mas Adi mbak dan kasihani saya yang selalu merasa cemas dan was-was. Jangan sampai terlanjur kacau” balasnya lalu kembali meninggalkanku seorang diri dalam kegalauan pikiran dan batinku seperti beberapa hari yang lalu. Tak ada lagi alasan untuk berkeratan, keputusan nampak nya sudah diambil.

Beberapa hari aku masih merenung. Kegelisahan dan kecemasan melanda diriku. Gelisah menanti saat-saat itu terjadi. Cemas kalau-kalau sampai aku tak mampu melakukannya. Walau bagaimana, perasaanku masih sulit membayangkan aku bercumbu dengan suami adikku sendiri sampai tiga hari kemudian Lastri meminta ijin mau menjenguk mertuanya sekalian mengajak Tomo dan Dita yang kangen ketemu mbah putri dan mbak kakungnya. Sebenarnya aku keberatan ditinggal sendirian namun Lastri memaksa hingga akupun tersudut.

Dan sepeninggal Lastri, aku justru yang gelisah sendiri. Di rumah sebesar ini sendirian, membuatku takut juga, apalagi kalau sampai Adi pulang larut malam seperti biasanya. Namun kali ini perkiraanku meleset. Jam lima Adi sudah pulang, nggak seperti biasanya. Aku terpaksa menyambutnya pulang, menggantikan peran Lastri.

Dug, jantungku berdegup keras. Menggantikan posisi Lastri sebagai istri. Apakah akan dimulai saat ini ?  Dan….

Seerrr, darahku seakan berdesir keras saat sadar kalau Lastri sengaja pergi. Dia sengaja mengkondisikan rumah agar aku berdua saja dengan Adi. Dan kini aku benar-benar “terjebak.”  Mestikah aku lari ?  Tidak mungkin dan tak pantas. Tapi….

Dengan perasaan berkecamuk, aku mengerjakan semua pekerjaan yang biasa Lastri lakukan, dari mulai menyiapkan air mandi dan makan malam. Kulihat Adi seperti tenang-tenang saja, aku tak berani beradu pandang dengannya. Aku seperti seorang gadis belia bersama dengan seorang lelaki. Semua tugas istri yang biasa dilakukan Lastri, kulakukan kecuali….

Nampaknya belum saja dan pasti akan terjadi. Apalagi saat selesai makan, Adi mengajakku menemaninya menonton TV di ruang tamu. Dengan gugup dan kikuk aku menerimanya.

“Maaf ya mbak, kalau membuat mbak jadi nggak enak hati. Lastri semalam berbicara padaku. Terus terang, aku kaget juga dengan ucapannya. Aku nggak bermaksud kurang ajar dengan mbak, walau sejujurnya….aku juga cukup tertarik dengan mbak. Sebagai lelaki normal, aku nggak mau dusta. Cuma aku menghormati mbak. Makanya, kalau mbak keberatan, aku nggak memaksa khok. Lupakan saja usul Lastri” ujar Adi membuatku terdiam.

“Bu…bukan begitu Di, aku…aku cuma….” ucapanku terputus.

“Aku cuma bingung bagaimana harus bersikap. Apalagi, akukan sudah lama nggak bersuami, jadi….maafkan aku kalau….aku kikuk dan kagok” ujarku diantara gemuruh hatiku sendiri.

“Nggak apa-apa mbak, aku mengerti” jawab Adi pelan. Kebisuan kembali menyergap.

“Biar lebih enak, gimana kalau dimulai dengan mbak mendengarkan ceritaku ?” ujarnya membuatku terperanjat.

“Cerita ? Cerita apa ?” aku terpancing dan menatapnya.

“Ya cerita apa saja yang terjadi selama aku diluar” ujarnya. Aku tak menjawab, hanya diam.

“Mau mendengarkan ceritaku ?” kejarnya. Aku mengangguk. Adi senyum sejenak. Senyuman yang ramah dan akrab dan dapat mecairkan sedikit ketagangan dan kekakuan.

“Sejujurnya, aku hampir saja jatuh ke pelukan perempuan lain mbak. Keadaan seperti ini membuatku stres dan depresi. Aku mencari hiburan di luar. Mulanya hanya dengan teman-teman, tapi kemudian mulai aku berpikir ingin mencari penyaluran ke wanita lain. Tapi aku masih sadar, aku takut terjerumus ke keadaan yang kebih parah. Aku tak ingin membawa bencana ke dalam rumah tanggaku. Nikmatnya hanya sesaat tapi penderitaan nya akan berkepanjangan. Maka dari itu aku lebih banyak menghabiskan waktu di kantor mengerjakan semua pekerjaan yang belum seharusnya aku kerjakan. Dan saat mendengar usul Lastri, aku juga bingung mbak. Mau menerima atau menolak. Menerima aku takut mbak menolak. Sebaliknya menolak, aku sudah tak sanggup lagi berada dalam keadaan seperti ini. Aku takut tak kuat menghadapi tarikan dan godaan yang ada. Godaan yang sangat dekat dan hanya berjarak beberapa mili saja dariku” Adi menghentikan pembicaraannya.

“Tapi semuanya kembali aku serahkan ke mbak. Aku tak ingin mbak merasa terpaksa nantinya. Lebih baik tidak daripada mendatangkan penderitaan bagi mbak. Aku tak ingin demikian” ujar Adi lagi membuatku benar-benar tak berdaya. Aku pasrah.

“Bagaimana mbak ?” kejar Adi karena aku tak juga kunjung bersuara.

“Ak…aku. Aku, terserah kalian saja” jawabku apa adanya.

“Lho jangan begitu mbak. Mbak sendiri bagaimana ?  Apa mbak menerima usulan Lastri ?  Itu penting bagiku” ujarnya, aku kembali terdiam.

“Mbak…” ulang Adi.

“Iy…iya. Ak..ku, menerima” akhirnya terlontar juga ucapanku walau rasanya sulit kuucapkan karena batinku bergemuruh. Perasaan malu, canggung dan kikuk bercampur dengan perasaan tegang dan….sekujur badanku terasa panas dingin.

Akh, apakah aku tak salah ?  Aku merasakan tiba-tiba ada rasa rindu. Rindu akan sentuhan dan belaian lelaki. Perasaan yang tiba-tiba saja muncul dan meningkat dengan cepat. Perasaan yang akhirnya membangkitkan gairahku. Aku hanya menggigit bibir bawahku sendiri, berusaha menekan perasaanku.

Dan tatkala Adi mendekat, sekujur tubuhku semakin bergetar. Aku seperti diserang demam dengan tiba-tiba. Apalagi saat Adi meraih tanganku dan menggenggamnya, membuat aku gemetaran.

“Mbak, aku sangat membutuhkan hal ini dan aku juga tahu mbak juga sangat membutuhkan ini” ujar Adi sambil membelai rambutku sejenak lalu meraih daguku dan mengarahkan hingga menghadap ke wajahnya. Aku hanya bisa memejamkan mataku dengan perasaan bergemuruh. Dan tatkala kurasakan wajahnya mendekat serta kurasakan napasnya, aku semakin tegang. Aku hanya bisa meremas sofa tempat aku dan dia duduk saat kurasakan bibir lembutnya mendarat di bibirku. Untuk sesaat aku tak tahu harus berbuat apa sampai Adi kembali menarik diri.

“Mbak, mbak tidak bersedia ?” ujarnya cemas.

“Bu…bukan itu Di, aku cuma…bingung” ujarku jujur. Dia kembali cerah dan senyum senang karena aku tak menolak. Lalu kembali dia mendekatkan wajahnya. Kali ini aku tak memejamkan mataku, kami saling pandang dengan jarak dekat dan tatkala bibirnya kembali menyentuh bibirku, aku langsung menyambut.

Walau ketegangan masih melandaku, namun lumatan bibir Adi membuatku mulai tenggelam. Kami saling melumat dengan lembut, lalu lidahpun saling bertempur. Hasrat ku langsung memuncak, apalagi saat kurasakan jari tangan Adi mulai merayap di lenganku. Lama tak “tersentuh” membuat seluruh syaraf di tubuhku jadi sangat sensitif. Ciuman dan sentuhan ringan saja sudah membuatku seperti melayang. Sukmaku langsung melambung naik, darahku berdesir-desir dan jalan nafasku langsung memburu.

“Mmhh” hanya itu yang keluar dari celah bibirku saat memulai sesuatu. Sesuatu yang diminta oleh Lastri adikku. Sesuatu yang menegangkan dan mendebarkan sekaligus melenakan. Menegangkan karena baru kembali aku melakukannya kembali setelah sekian lama tak kulakukan. Mendebarkan karena menantikan sesuatu yang selama ini kuinginkan dan tak kudapatkan. Melenakan karena memang buaiannya demikian luar biasa hingga melumpuhkan seluruh syaraf kesadaranku.

Aku semakin terhanyut. Lumatan bibir dan lidah kami semakin bergelora, sementara jari-jari tangan Adi semakin jauh bergerak, mendekati lipatan daerah sekitar ketiakku. Bergerak naik ke punggung bagian atas yang terbuka, terus naik hingga ke tengkuk dan bagian belakang telingaku. Suami adikku ini nampaknya tahu persis bagian-bagian di tubuhku yang membuatku langsung ON.

Sementara Adi terus bergerilya, aku masih pasif dan belum berani bertindak. Kedua tanganku hanya berada di dadanya yang terbungkus T-Shirt putih itu. Untuk sesaat pikiranku seperti kosong. Tak terlintas lagi kecamuk pikiran yang sebelumnya ada. Hanya ketegangan dan debaran yang kurasakan mendominasi diriku. Ketegangan dan debaran yang justru menstimulasi sensasi kenikmatan hingga aku berkali-kali mengeluh seperti putus asa. Pasrah pada kenyataan yang ada dan pasrah pada hasrat gairah yang melanda.

“Mmmhh” eranganku yang tersumbat semakin meninggi saat kurasakan jari-jari tangan Adi bergerak turun ke arah dadaku. Terus turun membuat sekujur tubuhku bergetar menahan segala rasanya. Dan manakala untuk pertama kalinya bagian dadaku kembali “disentuh” tangan perkasa seorang lelaki, akupun tumbang. Tumbang oleh seluruh hasrat gairah yang semakin berkobar. Tubuhku tergelinjang tanpa sadar. Kurasa kan aliran rasa nikmat menjalar ke tubuhku. Aliran rasa nikmat yang akhirnya menjelma menjadi gemuruh saat kurasakan jari tangan suami adikku itu mulai meremas gundukan payudaraku dengan lembut. Aku benar-benar menginginkan hal ini. Rasa nikmat terus menjalar membuat nafasku tanpa sadar kian memburu. Lumatan bibir dan lidahkupun semakin bergelora.

Adi nampaknya cukup bersabar, dia tak ingin tergesa-gesa walau sesungguhnya akupun mau saja bila dia akan langsung “menjamahku” karena tekanan gairah dalam diriku sudah demikian kuatnya dan telah terakumulasi sekian lama. Namun aku hanya pasrah saja saat Adi melakukannya dengan sangat perlahan. Dia nampaknya ingin memberikan sesuatu yang amat berkesan padaku.

Setelah sekian menit dia hanya “menjamahku” dari luar, perlahan kurasakan dia mulai masuk. Tangannya menarik turun tali penyangga gaunku. Bahu dan punggungku langsung terbuka namun dadaku masih terbungkus penutup dadaku.

Bermain-main sejenak jari tangannya di kelembutan kulit punggungku, lalu kurasakan dia mulai berusaha membuka pengait BH-ku. Tanpa kesulitan penutup dadaku pun berhasil dilepaskannya dan dicampakkannya entah dimana. Kini bagian atas tubuhku sudah terbuka membuatku semakin tegang dan berdebar.

Kembali kurasakan tarian jari tangannya di seluruh bagian punggungku. Menari-nari dengan tenang namun memberikan efek yang menakjubkan padaku. Gerakannya lembut namun seakan terukur hingga membuatku berkali-kali melenguh sambil menggelinjang dalam kenikmatan.

Kini gerakan jari tangannya mulai mengarah ke tepian punggungku. Terus bergerak ke samping mendekati ketiakku. Aku hanya bisa pasrah menanti. Bulu-bulu halus ditubuhku meremang merasakan sensasi yang demikian kuatnya. Apalagi saat jari tangan nya mendekati kaki bukit payudaraku yang kini terbuka. Aku sampai menahan napas tanpa sadar.

Dan saat jari tangannya sampai di batas kaki bukit payudaraku, tubuhku terasa kejang. Bergerak berputar mengelilingi kaki bukitnya lalu perlahan naik menuju ke atas bukit. Semua gerakannya membuat gairahku semakin terbakar, kenikmatan semakin menyelimutiku. Tanpa sadar tubuhku meliuk-liuk bergerak seperti menari diiringi lenguhan yang mulai berubah ke rintihan.

“Sssshhhh….mmmmhhhh….” eranganku saat bibirku terlepas dari bibirnya. Kini sambil menggelitik bukit payudaraku, lidah dan bibir adik ipar lelakiku itu bermain-main di pipiku. Bergerak ke belakang dan aku semakin tergetar saat lidahnya menyapu daun telingaku. Menggelitik dan mengulum daun telingaku membuat aku bergidik sekaligus bergetar dalam sejuta kenikmatan.

Kini gerakan jari tangannya di bawah, kurasakan sudah semakin mendekati puncak bukit payudaraku dimana terdapat seonggok daging kecil yang sudah sangat menegang. Terus bergerak berputar-putar seakan menanti saat yang tepat untuk hinggap di puncak bukitnya. Aku semakin tenggelam dalam cumbuannya.

“Sssshhhh…ooouuukkkhhh” erangku akhirnya diiringi gerakan tubuhku yang melengkung saat Adi mendaratkan jari tangannya ke puting payudaraku. Sampai juga akhirnya dia di puncak, di daerah yang sangat kuinginkan sejak tadi. Tubuhku bergetar, jalan napasku tersendat demi untuk pertama kalinya kembali kurasakan sentuhan jari tangan lelaki di daerah tersensitif kedua di tubuhku.

Selama beberapa saat tubuhku melengkung merasakan rasa geli bercampur nikmat yang sangat kuat saat adik ipar lelakiku itu menggelitik puting payudaraku. Sementara di atas, dia terus mengulum dan menggelitik daun telingaku membuat aku hampir tak kuat lagi dan ingin langsung menerkam, namun aku berusaha bertahan.

Kini gelitikannya dia padu dengan cubitan-cubitan kecil lalu dia kombinasikan dengan pilinan membuatku semakin tak kuasa mengendalikan diri. Tangankupun kini tak lagi diam berada di dadanya, tanpa sadar bergerak membelai dadanya.

Dan seiring dengan peningkatan permainan jari tangan dan mulutnya, dituntun naluri bergerak turun menuju ke bawah tubuhnya. Terus turun mendekati perutnya. Menari sejenak di sana dan kembali turun hingga akhirnya melewati pusarnya. Terus turun lagi dan akhirnya berhasil mendarat di bagian bawah tubuh adik ipar lelakiku itu yang mengenakan celana training putih.

Aku semakin tergetar saat untuk pertama kalinya kembali menyentuh alat vital lelaki, yang kini milik suami adikku itu. Dari balik celana trainingnya kurasakan sebuah otot yang sudah demikian kerasnya. Bulat lonjong dan memanjang hingga mendekati pusarnya. Gerakan jari tanganku seakan memeriksa bagian vital lelaki adik iparku itu dan aku sungguh terhenyak dengan sejuta perasaan melanda batinku saat merasakan betapa perkasanya dia. Dengan jari tanganku saja aku dapat memastikan kalau suami adikku, Lastri ini akan memberikan sesuatu yang amat kudambakan. Kupastikan kalau dia akan membuatku luluh lantak dalam sejuta kenikmatan nantinya.

Alat vitalnya lebih besar dan panjang dibanding milik Baskoro mantan suamiku. Hal itu yang membuatku sangat tergetar dan merasa takluk sebelum berperang. Di bagian bawah tubuhku, liang kewanitaanku sampai berkedut-kedut tanpa sadar membayang sesaat lagi akan menerima masukan alat vitalnya. Entah bagaimana rasanya, dan yang pasti…aku akan tenggelam dalam buaian kenikmatan dan gemuruh birahi yang hebat.

Jari-jari tanganku langsung menggenggam kejantanannya, seakan sebuah pernyataan kalau aku telah “memilikinya” dan aku bersedia “dimilikinya.” Bukankah itu yang diinginkan oleh Lastri adikku, membagi kepemilikan dengannya atas lelaki yang menjadi suaminya itu ?  Dan saat ini, bukankah aku diminta untuk menggantikan adikku itu ?  Menggantikan perannya sebagai seorang istri. Walau istri dalam arti yang bukan sebenar nya. Atau bisa dikatakan aku sebagai istri kedua bagi suaminya itu ?

Dan rupanya Adipun sudah demikian bergairahnya. Kini dia mulai mengarahkan serangan lidah dan bibirnya ke bawah. Menuruni leher jenjangku, terus turun ke bawah dan tanpa memakan waktu lama, dia sudah…menyergap payudaraku. Aku semakin tak kuasa menahan segalanya. Rasa haus dan dahaga akan kenikmatan birahi benar-benar membuat gejolak birahiku langsung menggelegak. Tangan kananku memegangi alat vitalnya dari balik celana trainingnya sambil meremas-remas dengan lembut, tangan kiriku langsung menangkap kepalanya dan memeganginya agar dia tak melemaskan permainan mulutnya di puting payudara kiriku, sementara tangan kirinya terus meremas-remas lembut payudara kananku sambil menggelitik dan memilin-milin putingnya membuatku berada dalam keadaan yang sulit kulukiskan. Aku hanya bisa diam sambil bibirku mengalunkan rintihan dan erangan yang semakin jelas, sementara tubuhku hanya bisa melengkung berkali-kali merasakan kenikmatan yang baru kembali kualami ini.

Dan entah merasa kurang puas atau merasa masih ada hambatan, kurasakan tangan kanan adik ipar lelakiku itu bergerak-gerak seakan berusaha melepaskan gaunku yang masih melingkari pinggangku. Merasakan hal itu akupun bereaksi, kuangkat tubuhku sedikit dari atas sofa yang kududuki sampai akhirnya dia berkasil melepaskan gaunku sambil terus melakukan “aksi”nya. Sementara gaunkupun langsung tercampak di bawah kakiku. Kini aku hanya tinggal mengenakan satu pakaian dalamku, yang celana dalam. Dan yang pasti, sisa pakaianku itupun tak akan lama lagi berada di tubuhku, melindungi bagian vital tubuhku ini. Entah dia yang melepaskannya atau….aku sendiri yang melakukannya.

Selesai dia melepaskan gaunku, dia terus melakukan cumbuan di tubuhku yang hampir polos ini. Mulutnya di payudara kiriku, tangan kirinya di payudara kananku sementara tangan kanannya bergerilya ke seluruh bagian tubuhku yang bisa dijangkau nya. Sesekali kurasakan remasan jari tangan kanannya di gumpalan pantatku.

Tiba-tiba dia menghentikan “kegiatannya” dan agak menjauh dariku. Aku terdiam sesaat. Ternyata, dia…hendak melucuti pakaiannya sendiri. Sambil masih duduk di hadapanku, dia melepaskan kaosnya. Kulihat dadanya yang sedikit bidang. Setelah itu dia turunkan celana tariningnya. Mataku segera terarah ke bagian bawah tubuhnya itu. Dari balik celana dalam coklatnya, kulihat tonjolan yang bulat dan sedikit melingkar. Tubuhku semakin tergetar menyaksikan itu dan akhirnya dengan sekali sentak, dia tarik celan dalamnya hingga meloncatlah alat vitalnya. Hampir saja aku terpekik tanpa sadar.

Kini kulihat dengan jelas bentuk dan ukuran alat vitalnya dan ternyata benar, ukurannya lebih besar dan panjang dibanding milik Baskoro. Disekeliling batangnyapun nampak tonjolan urat-urat besar yang melingkar tak beraturan seakan semakin memperlihatkan keperkasaannya. Bagian kepala batangnya hampir seukuran kepalan tanganku. Diameternya sekitar 4 atau 5 cm-an. sementara panjangnya lebih dari 15 cm-an.

Aku hanya bisa terpaku memandangi bagian bawah tubuh adik ipar lelakiku itu. Untuk pertama kalinya kembali kulihat tubuh perkasa lelaki dan tentu saja membuatku tak mampu berkata-kata.

Selesai menelanjangi dirinya, kini Adi langsung meraih tepian celana dalamku dan menariknya ke bawah. Perasaanku semakin tak karuan namun tubuhku beraksi spontan. Kuangkat tubuhku dan akhirnya diapun berhasil melepaskan sisa pakaian yang masih melekat di tubuhku. Untuk pertama kalinya aku kembali polos di hadapan lelaki dan ini membuat jantungku berdebar dengan keras, apalagi lelaki itupun dalam keadaan polos sama denganku.

Kali ini adik ipar lelakiku itu yang terpaku memandangi tubuh polosku. Agak sedikit risih dipandangi seperti itu, namun juga sekaligus…gairah. Kami saling pandang beberapa saat hingga akhirnya Adipun merengkuh tubuhku. Perlahan dibaringkannya tubuhku yang sudah terbuka bebas itu ke sofa dan dia langsung menindihku, aku hanya bisa memejam kan mataku sambil berusaha mengendalikan diri. Kurasakan tekanan tubuhnya diatas tubuhku. Juga kurasakan tekanan alat kelaminnya di perutku.

Adi langsung menggumuliku kembali. Bibirnya langsung melumat bibirku, akupun membalasnya. Kami saling melumat dengan lembut beberpa saat untuk kemudian mulai bergerak semakin bergelora, sementara tangannya bergerilya di sekujur tubuh bugilku, terutama di kedua payudaraku. Akhirnya gelorapun tak terbendung lagi, lumatan bibir dan lidah yang semula lembut dan perlahan kini berubah menjadi penuh gelora dan agak liar. Aku mengerang-ngerang merasakan segala rasanya. Lepas sudah kendali diriku.

Lumatan dan pagutan hanya berlangsung beberapa saat untuk kemudan Adi mengarah kan serangan bibir dan lidahnya ke bawah menuju dadaku. Dan akhirnya kedua payudara kupun kembali dalam “penguasaannya.” Aku hanya bisa merintih sambil meliuk-liukkan tubuh bugilku.

Apa yang kurasakan semakin menggila manakala Adi mengarahkan “serangannya” lebih ke bawah lagi. Bergerak menyusuri perutku, terus turun. Aku tahu apa yang diingin kannya dan akupun menginginkannya. Sampai akhirnya lidahnya yang manri-nari menjilati tubuhku sudah sampai di tulang pubisku. Berkerak ke samping kanan lalu menggelitik paha kananku membuatku semakin tergeliat tak kuasa menahan diri. Kubuka kedua pahaku selebar mungkin, siap menanti serangannya di bagian “utama” tubuh polosku.

Aku merasakan ketegangan bercampur sensasi yang mendatangkan rasa nikmat yang berdesir-desir. Apalagi saat kurasakan gerakan lidah suami adikku itu semakin mendekat ke pusat, tubuh polosku langsung menegang.

“Ssshhhhh…..ooouuukkkhhhh……Ddiiiii….” erangku panjang. Tubuhku melengkung, pantatku terangkat naik, otot-otot selangkanganku berkontraksi sementara kepalaku tertari jauh ke belakang saat merasakan sapuan lembut dan panjang di permukaan kemaluanku. Sapuan itu terus berlangsung, menyapu dari mulai bagian lubang pelepasanku terus naik sampai mendekati clitorisku. Tubuhku bergetar, padahal lidahnya baru menyapu bagian luar organ kewanitaanku, namun rasanya sudah demikian menggila nya.

“Ssshhh….ooookkkhhh….” eranganku semakin keras dan panjang. Demikian juga dengan lengkungan tubuh bugilku. Pantatku kian tinggi terangkat sementara kedua paha ku langsung membuka penuh. Jari-jari tangaku sampai berpegangan kuat di sisi sofa yang menyanggah tubuhku, sementara kepalaku semakin jauh tertarik ke belakang saat Adi mulai menguak bibir vaginaku dengan lidahnya. Bergerak sangat luar biasa, padahal hanya sebuah jilatan pelan namun panjang namun memberikan efek yang sangat luar biasa padaku. Sapuan lidahnya kembali bergerak dari mulai lubang anusku hingga mendekati clitorisku. Satu dua hingga tiga sapuan dan akhirnya….

“Aakh…!” aku terpekik diiringi sentakan tubuh bugilku lalu mengejang dan bergetar hebat ketika akhirnya lidahnya “menyentuh” clitorisku. Diawali dengan sentuhan lembut dan perlahan hingga akhirnya bergerak menari-nari dengan lincahnya di tonjolan daging pada vaginaku memberikan lecutan-lecutan rasa nikmat padaku. Sekujut otot di tubuh polosku seakan kejang merasakan lecutan rasa nikmat yang sangat luar biasa ini. Tangan kiriku segera menangkap kepalanya dan menekan ke arah selangkanganku, seakan tak perduli apakah dia bisa bernapas atau tidak karena kurasakan wajahnya menyumbat kuat selangkanganku. Sementara tangan kananku berpegangan erat ke sandaran sofa agar jangan sampai tubuhku terjatuh.

“Ssssshhh…ooouuuukkkhh….ooouuukkkhhh…ooouuukkkhhh….” hanya itu yang keluar dari celah bibirku merasakan bagian organ kewanitaanku diacak-acak oleh bibir dan lidahnya. Pinggulku yang masih berada di atas, bergerak-gerak tak karuan merasakan semua ini, sementara suami adikku itu semakin “gemas” dan bernapsu “menggarap” kemaluanku. Dia seperti orang kehausan menyedoti seluruh bagian dari organ kewanitaanku. Bahkan berkali-kali mulutnya melahap dengan buas alat vitalku itu sampai membuatku tak kuasa memekik berkali-kali. Aku benar-benar kesetanan dibuatnya. Tak perduli lagi dengan keadaan dan hilang sudah segala rasa canggung, risih dan malu. Yang ada hanya gairah dan gejolak yang menggelegak dan rasa nikmat yang sangat hebat sampai akhirnya….

“Aaakhh…Dddiii….!” jeritan panjangku terlontar disusul tubuh bugilku melengkung kuat lalu mengejang dan bergetar hebat. Kedua pahaku menjepit kuat kepalanya dan tanganku menekan sekuatnya membenamkan wajahnya ke selangkanganku. Aku…. meledak !

Rasanya cukup lama aku mengejang sampai akhirnya amukan puncak kenikmatan birahiku mereda. Aku kembali tergolek di sofa dengan napas terengah-engah. Sekujur tubuhku terasa lemas tak bertenaga. Sementara bagian selangkanganku terasa masih berdenyut-denyut nikmat.

“Kita ke kamar mbak” ucapnya. Aku hanya mengangguk pasrah sambil menatapnya dengan sayu. Dia segera bangkit dan tanpa kuduga dia meraih tubuhku dan langsung menggendongnya menuju kamar. Aku hanya mampu berpegangan sambil bertatapan mesra dengannya. Tanpa menutup pintu, tubuh bugilku langsung direbahkan di kasur.

“Langsung aja Di” ujarku saat dia akan kembali mencumbuku. Aku tak tahan lagi ingin segera merasakan “penyatuan” yang sempurna. Diapun mengerti dan mengabulkan nya.

Dengan tenang dia mengarahkan batang kemaluannya ke selangkanganku. Sambil membuka kedua pahaku lebar-lebar, aku mengangkat kepalaku dan mengamati langkah nya. Aku ingin menyaksikan saat-saat pertama batang penis lelaki lain selain suamiku dulu memasuki liang senggamaku.

Agak tegang juga aku dibuatnya. Dan ketegangan semakin meningkat saat kurasakan bagian kepala batangnya menyentuh permukaan vaginaku. Dia sapukan beberapa saat di permukaan vaginaku lalu mulai menempatkan ujung kepala batangnya di pintu masuk lubang vaginaku.

“Pelan-pelan Di” ujarku sedikit cemas karena merasa kurang yakin liang kemaluanku akan bisa dimasuki batang kemaluannya.

“Ssshhhh…uuukkkhhh…” tak sadar aku mengeluh saat kurasakan desakan kepala batangnya di pintu masuk lubang vaginaku. Terus menekan semakin kuat dan akhirnya….

“Akh!” aku terpekik spontan saat kurasakan kepala batang kemaluannya akhirnya menjebol lubang vaginaku. Terasa sekali desakannya. Apalagi saat dia terus menekan dan kurasakan lubang vaginaku seperti terganjal namun juga sangat nikmatnya.

“Sssshhhh….oooouuukkkhhhh….yyaaa….tek….kan ter…ruuusshhh Ddiii….” pintaku tak sadar menginginkan dia memasukiku lebih dalam dan merasakan kenikmatan yang semakin kuat.

“Sakit mbak ?” tanyanya cemas. Akh, kenapa pula dia tanyakan itu ?  Apa dia tak melihat reaksiku ?  Nikmat dan sakitkan berbeda reaksinya ?  Bodoh atau pura-pura bodoh adik iparku ini sih ?  ujarku gemas dalam diri. Namun aku menggeleng juga memberikan jawaban sambil menatapnya gemas bercampur gairah.

“Enak ?” tanyanya lagi. Sialan !  Apa dia menggodaku ?  Aku semakin gemas.

“Udah, masukin terus aja” jawabku gemas, keki dan nikmat bercampur menjadi satu.

“Semuanya ?”  Ugh, dia benar-benar menggodaku namun aku tak memperdulikannya lagi. Gerakan Adi sangat perlahan. Dinding lubang kemaluanku juga tergesek dengan sangat perlahan, namun justru aku dapat meresapi setiap mili pergerakannya yang terasa sangat nikmat sekali. Entah karena ukurannya yang cukup besar sehingga dapat menggesek dengan kuat setiap mili dari bagian dinding lubang kemaluanku ataukah karena memang lubang kemaluanku yang sudah sekian lama tak “terpakai” sehingga menyusut dan mengecil, ataukah karena situasinya yang membuatku sangat bergairah ? Entahlah. Yang pasti aku sangat kenikmatan sekali. Rasanya belum pernah kurasakan kenikmatan sekuat ini. Aku hanya bisa memejamkan mataku sambil meresapi sepenuhnya masukan batang kemaluan adik ipar lelakiku ini untuk pertama kalinya. Dan dia jugalah lelaki pertama yang kuberikan kesempatan memasukkan batang kemaluan nya ke dalam lubang kemaluanku. Aku terus mengerang pelan sementara kedua betisku terangkat naik sambil mengangkang lebar.

“Enak mbak ? Mau dimasukin semuanya ?” ujarnya seakan terus menggodaku. Aku tetap diam, namun dengan kedua tanganku kuberikan isyarat agar dia terus menekan dengan memberi tekanan pada kedua bongkah pantatnya.

Semakin dalam Adi memasukkan batang kemaluannya ke dalam lubang kemaluanku, aku semakin merasakan kenikmatan yang semakin kuat. Tak sadar otot-otot dinding lubang kemaluanku sampai berkedut berkali-kali memberi efek remasan pada batang kemaluannya yang kurasakan sudah sangat dalam memasuki lubang kemaluanku, namun Adi terus menekan dan terasa batangnya terus masuk semakin dalam ke lubang kemaluanku. Gerakan Adi yang sangat perlahan, ditambah dengan godaannya membuatku gemas dan langsung kulilit pinggangnya dengan kedua betisku lalu kutekan dengan kuat hingga akibatnya….

“Aakh !” aku terpekik kuat. Tubuh bugilku langsung tersentak dan kepalaku tumbang ke belakang saat kurasakan hujaman kuat batang kemaluannya di lubang kemaluanku, membenam seluruhnya dan sampai menusuk kuat dasar lubang kemaluanku. Kurasakan seperti ada hantaman di bagian bawah tubuhku, namun terasa sangat nikmat yang luar biasa. Kutekan kedua betisku kuat-kuat dan kurasakan tusukan ujung batang kemaluannyapun semakin kuat di dasar lubang kemaluanku. Otot di liang kemaluanku berkontraksi dan akhirnya dinding lubang kemaluankupun meremas batang kemaluannya dengan kuat. Aku benar-benar tak menduga, persenggamaan pertamaku dengannya itu sangat nikmat sekali. Liang kewanitaanku terasa sangat penuh dan seperti diganjal seuatu namun sangat nikmat sekali. Desakan batangnya demikian kuat dan kurasakan lubang kemaluanku sampai meregang penuh. Tusukannyapun demikian dalamnya sampai terasa ke dalam perut. Baru kali ini kurasakan kenikmatan yang demikian sempurnanya menurutku. Dan aku langsung bertekad, ingin melakukannya terus, terus dan terus. Akan kuulangi lagi, lagi dan lagi persenggamaan ini. Aku…ingin dipuaskan sepuas-puasnya.

Untuk beberapa saat dia kupiting dan tak mampu bergerak. Adi tak menyia-nyiakan kesempatan untuk menyergap kedua payudaraku yang terpampang bebas dengan kedua tangannya. Dia remas-remas dengan sedikit lebih keras lalu dia majukan tubuhnya dan akhirnya mulutnyapun kembali menggarap payudaraku. Ditengah tekanan kenikmatan seperti ini, permainan lidah, bibir dan jari tangan Adi di kedua payudaraku semakin menambah kenikmatan padaku. Aku sampai mengerang-ngerang tak kuasa menahan kenikmatannya.

Cukup lama aku memitingnya, lalu mulai kurenggangkan jepitan betisku di pinggang nya.

“Lanjutkan sek…karang Di” pintaku karena dia belum juga memulai padahal aku sudah melepaskan lilitan betisku di pinggangnya. Dia tersenyum seperti menggodaku, aku langsung mencubit pinggangnya dengan gemas.

“Ssshhh…uuukkkhhh….” akhirnya akupun langsung merintih kenikmatan saat dia mulai “bergerak.” Gesekan batang kemaluannya terasa sekali di dinding lubang vaginaku. Rasanya sangat nikmat sekali. Aku sendiri merasa bingung, rasanya bersenggama dengan nya terasa sangat nikmat. Apa karena ukuran alat vitalnya, ataukah karena sudah sekian lamanya aku tak melakukan hal ini, sehingga liang vaginaku menyempit dan sensitititas syaraf di sekeliling liang vaginaku itu jadi semakin sensitif ?  Ataukah karena gairah menggebu-gebu ?  Akh entahlah, aku tak mau pusing memikirkannya. Aku ingin menikmati persetubuhan pertamaku ini dengan sepuas-puasnya.

“Gimana mbak, nikmat ?” ujarnya.

“Iy…ya. Terus Di. Terus….” jawabku tak sempat lagi memperdulikan godaannya. Dia terus memaju mundurkan pinggulnya. Batang kemaluannyapun terus bergerak menggesek dinding lubang kemaluanku mengalirkan rasa nikmat yang sambung menyambung. Dan setiap kali ujung batang kemaluannya menusuk dasar lubang kemaluanku, akupun memekik karena merasakan sentakan dan lecutan kenikmatan.

Gerakan maju mundur Adi semakin lama semakin cepat. Akupun semakin mengerang-ngerang dan memekik-mekik kenikmatan. Pinggulku bergerak berputar-putar mengiringi gerakan tubuhnya. Tusukan batang kemaluannya terasa sampai ke perutku namun kenikmatannyapun sangat luar biasa.

Aku sudah melupakan segalanya. Lupa kalau awalnya aku agak keberatan menerima tawaran Lastri adikku yang memintaku menggantikan perannya sebagai istri bagi Adi suaminya. Aku juga telah melupakan segala keraguan, kecanggungan dan maluku. Aku justru kini sangat menikmatinya dan menginginkan agar suami Lastri ini terus dan terus memberikan kenikmatan padaku. Aku telah menerimanya sebagai “suamiku” dan aku sebagai “istrinya.” Aku ingin dia terus mencumbuku. Terus dan terus sampai rasa dahaga dan hausku hilang. Aku ingin dia memuaskanku.

Dan akhirnya setelah beberapa menit aku menerima tusukan-tusukannya, akupun kembali memekik dan mengejang hebat. Aku mendapatkan kembali ledakan puncak kenikmatan persenggamaanku. Untuk sesaat Adi memberi waktu padaku untuk mengembalikan diri. Kupeluk dan kupiting tubuh bugilnya yang menindih kuat tubuh bugilku. Setelah itu kuminta dia melanjutkannya.

“Ganti posisi mbak. Doggy” pintanya. Sebagai wanita yang pernah bersuami, aku langsung mengerti. Setelah dia mencabut batang kemaluannya dari liang kemaluanku, aku langsung mengambil posisi merangkak. Dia bersiap di belakangku. Akupun bersiap kembali menerima “masukannya.”

“Sssshhh…oookkkhhh….” erangku lagi saat dia kembali membenamkan batang kemaluannya ke lubang kemaluanku. Kali ini dari arah belakang. Kembali kurasakan desakan batang kemaluannya di lubang vaginaku. Rasanya aku sudah ketagihan akan tusukan batang kemaluan suami adikku ini.

Sambil menghujamkan batang kemaluannya berkali-kali ke liang peranakanku, kedua bongkahan pantatku diremas-remasnya. Sesekali tangannya terulur ke depan dan meraih payudaraku yang tergantung bebas. Aku hanya bisa merintih dan memekik penuh kenikmatan sambil menggoyang-goyang pinggulku mengimbangi tusukan batang kemaluannya di lubang vaginaku. Terus dan terus semakin lama semakin cepat. Erangan, rintihan dan pekikan kenikmatanku terus mengiringi irama maju mundur Adi di belakangku. Gerakannya yang semakin cepat dan kuat sampai-sampai menimbulkan suara bertepuk akibat benturan bongkahan pantatku dengan permukaan selangkangannya memberi irama tersndiri dan semakin membangkitkan gairah. Aku benar-benar pasrah menyerahkan seluruh tubuhku padanya tanpa kecuali lagi. Aku kini benar-benar memposisikan sebagai “istri” baginya seperti yang diminta oleh Lastri adikku itu.

Hujaman Adi terus berlangsung, goyangan dan putaran pinggulku terus mengiringi. Pergesekan batang kemaluannya dengan lubang kemaluanku seperti kerja sebuah mesin kendaraan yang berputar pada putaran tertinggi. Seperti sebuah piston dan silindernya, memberikan efek panas dan percikan api yang mampu membakar dan menggerakkan kendaraan dengan sangat cepatnya. Demikian pula halnya dengan gerakan tubuh bugilku dan tubuh bugilnya. Keringat mulai membasahi tubuh bugilku, sementara di bagian bawah tubuhku terasa demikian nikmatnya. Gerakan ini terus “membakar” dan menggerakkan sesuatu dalam diriku yang seakan meningkat cepat. Sesuatu yang aku sangat kenal. Sesuatu yang nantinya akan membuatku seperti terlempar sangat tinggi menembus puncak mega kenikmatan dan akhirnya menghempaskan diriku dalam sejuta kenikmatan. Dan karenanya kuminta Adi untuk semakin mempercepat dan memperkuat hujamannya sampai akhirnya akupun kembali memekik keras, meledak hebat.

“Gantian mbak diatas” posisi berikutnya dia pilih. Walau aku sedikit lemas dan sekujur tubuh bugilku sudah basah oleh keringat, akupun menurutinya. Dia kembali mencabut batang kemaluannya dari lubang vaginaku lalu berbaring telentang. Kulihat batang kemaluannya yang masih menegang keras berdiri agak condong ke perutnya itu mengkilap dibasahi cairan pelumas vaginaku. Aku langsung mengangkanginya. Kuraih batang kemaluannya yang terasa sangat keras, hangat dan licin itu lalu kuarahkan ke selangkanganku.

“Sssshhh…uuuukkkhhh Dddiiiii…..” erangan panjangku selalu menyertai saat batang kemaluanya menyelusup masuk ke dalam lubang kemaluanku. Kuturunkan tubuhku perlahan, sangat perlahan dan batang kemaluannyapun sedikit demi sedikit mulai memasuki liang vaginaku lagi. Aku terus bergerak dengan sangat perlahan, berusaha meresapi setiap pergerakan ini dan memang, sangat nikmat sekali desakan dan gesekan batang kemaluannya itu di dinding lubang vaginaku. Pelan dan pelan, terus kuturunkan tubuh bugilku diatas selangkangannya. Perlahan batang kemaluannyapun semakin dalam masuk ke lubang kemaluanku, mengalirkan rasa nikmat yang seakan tiada habisnya. Aku hanya bisa mengernag, mengerang dan terus mengerang sambil terus menurunkan tubuh bugilku sampai akhirnya….

“Akh!” aku terpekik, tubuhku tersentak saat kurasakan tusukan ujung batangnya di dasar lubang vaginaku. Aku diam sesaat sambil menduduki selangkangannya dan batang kemaluannya membenam seluruhnya di dalam lubang vaginaku. Kugerakkan pinggulku maju mundur dan kurasakan nikmat sekali “korekan” ujung batangnya di dasar lubang vaginaku.

Akhirnya akupun mulai bergerak turun naik diatas selangkangannya. Sambil menikmati “gigitan” dinding lubang kemaluanku di batang kemaluannya, Adi meremas-remas kedua payudaraku yang membusung bebas itu. Dalam posisi ini kurasakan betapa kuat dan dalamnya tusukan batang kemaluan miliknya itu di dalam lubang kemaluanku. Pekikankupun akibatnya terus terlontar dan semakin kuat karena tak kuasa menahan kenikmatanku.

Aku terus menurunkan naikkan tubuhku. Walau lututku terasa lemas dan gemetar, namun rasa nikmatnya memberikan tenaga dan kekuatan padaku untuk terus bergerak. Tak hanya bergerak naik turun diatas selangkangannya saja, kuputar-putar pinggulku hingga memberikan efek pergesekan yang makin kuat dan memberikan kenikmatan yang semakin tinggi. Sementara kedua payudaraku terus dipermainkan jari-jari tangannya, aku hanya bisa mengerang-ngerang, merintih-rintih atau memekik-mekik kenikmatan. Kedua tanganku bertumpu ke dadanya memberi sedikit topangan bagi tubuh bugilku yang semakin basah itu bergerak naik turun diatas selangkangannya.

“Sssshhhh…Ddiiii…kon…tolmu, enak ba…nget” ukh lepas sudah kendali dalam diriku. Kata-kata yang sesungguhnya sangat kasar itu terlontar dari celah bibirku seperti tanpa kendali oleh pikiran sehatku. Rasanya seluruh bagian tubuhku saat ini hanya dikendalikan oleh birahi dan segala kenikmatannya. Jalan pikiranku seakan tertutup.

“Iya mbak, memek mbak juga….nikmat banget” balasnya tak kalah “kasar”nya, namun anehnya aku senang mendengarnya dan semakin menambah gairah bagiku.

“Kita ngen…tot terus ya Ddiii…”  Gila. Aku benar-benar tak lagi menjadi diriku. Aku sudah…tak terkendali.

“Sampai berapa lama mbak sanggup ?” tantangnya.

“Sampai…pagi kalo…perlu. Ap…pa kamu…sang…..gup ?” ujarku sambil menatapnya dengan tatapan “buas” seolah hendak menerkam dan melumat suami adikku itu.

“Boleh. Aku akan bikin mbak….kelenger dalam kenikmatan nanti” ujarnya seperti “mengancam.”

“Ya Di…aku rela. Habisi aku. Buat ak…ku…semaput. Ak…ku..ak…ku…mau…ssshhh… aakhhh….!!” aku menjerit panjang disusul tubuh bugilku ambruk menindihnya. Aku kembali meledak dalam puncak kenikmatan birahiku. Tubuh bugilku kembali mengejang dan bergetar hebat. Kupiting tubuh bugilnya kuat-kuat, kutekan pinggulku sekuatnya dan kurasakan tusukan ujung batang kemaluannya demikian kuat di dasar lubang vaginaku. Tak sadar ujung-ujung kukuku sampai tertancap di bahunya dan mungkin sedikit melukainya.

“Aaakh…” aku terpekik kaget karena tiba-tiba Adi menggulingkan tubuhku ke samping dan dia langsung naik ke atas menindih tubuhku.

“Sssshhh…ooouuukkkhhh….Dddiiii…..!!” jeritku panjang karena ternyata dia langsung menggenjotku padahal aku dalam keadaan masing kejang-kejang, namun aku tak berdaya mencegahnya. Aku hanya bisa megap-megap menahan “serangannya” itu sambil berusaha menguasai diri.

Akhirnya setelah bersusah payah mengendalikan diri, aku dapat kembali dapat meresapi dan mengimbangi serangannya. Aku kembali membalasnya dengan gairah meluap-luap. Dia bergerak ganas naik turun diatasku sementara aku bergerak liar di bawahnya.

“Yyyaaa…terus Dii…terusshh….entot aku…entot aku se….kuatmu” aku benar-benar sudah tak perduli lagi dengan segala etika dan tata krama. Aku hanya ingin meluapkan seluruh perasaan dan keinginanku. Aku hanya ingin kepuasan yang sepuas-puasnya dan itu kulakukan apapun untuk mendapatkannya. Tak perduli lagi walau sekujur tubuh bugil ku semakin basah kuyup dibanjiri keringat. Walau napasku terengah-engah, namun kurasakan aku sangat bersemangat dan bergairah sekali sehingga memberi tenaga ekstra dalam diriku untuk terus melakukan persenggamaan ini selama mungkin. Tak terbayang kan kalau aku akan “seganas” ini. Padalah dengan suamiku dulu, aku ingat aku pernah mengalami tripple orgasme dan rasanya aku sudah sangat kelelahan waktu itu. Tapi kini… rasanya aku memiliki tenaga ekstra dan yang pasti, semangat serta tekad dan gairah untuk melakukan persenggamaan ini selama mungkin. Aku ingin mereguk kenikmatan sepuas-puasnya. Aku ingin liang senggamaku terus dihujami batang kemaluan adik ipar lelakiku itu.

“Mbak, kita ganti posisi. Mbak nungging di pinggir kasur yah…” pintanya. Tanpa menunggu jawabanku, Adi langsung mencabut batang kemaluannya dari dalam lubang kemaluanku lalu dia mendahului turun. Aku menyusul. Aku langsung mengambil posisi di depannya, kulihat batang kemaluannya yang masih berdiri mantap itu mengkilap.

“Kontol kamu hebat banget Di” ujarku sambil membelai batang kemaluannya. Suami Lastri itu hanya senyum, bangga. Aku langsung membalikkan tubuhku dan membelaka nginya lalu kucondongkan tubuhku. Dengan kedua tanganku yang terjulur lurus bertumpu ke kasur, aku bersiap menanti suami adikku itu kembali membenamkan batang kemaluannya ke dalam lubang vaginaku. Kubuka kedua pahaku selebar mungkin lalu kembali kurasakan ujung kepala batang kemaluan Adi di permukaan vaginaku dan….

“Ssssshhh…..oooouuukkkhhh…..” erangku panjang mengiringi lajunya benaman batang kemaluan adik ipar lelakiku itu ke dalam lubang kemaluanku. Dan tanpa menunggu lama, akupun kembali mengerang-ngerang, merintih-rintih dan memekik-mekik kenikmatan menerima tusukan batang kemaluannya di lubang kemaluanku.

“Yang ker…ras Di…yang….ker…raassshh….!!” jeritku benar-benar nikmat menerima hantamannya. Tubuh bugilku sampai terguncang-guncang hebat akibat impact dari benturan tubuhnya. Kurasakan tusukan dan hantaman yang sangat kuat ujung batang kemaluannya di dasar lubang kemaluanku memberikan hantaman rasa nikmat yang sangat kuat.

“Yyyaaa…ter…ruussshh….sa…yang. Ter….rruussshh en…tot aku….aaakkhhh !!” aku benar-benar kesetanan oleh rasa nikmat ini. Pinggulku bergerak liar, berputar-putar atau sesekali menendang mundur menyambut gerakan maju tubuh adik iparku itu. Kepalaku sampai berkali-kali tertarik jauh ke belakang menahan semua kenikmatan ini.

Tiba-tiba, entah karena terdorong oleh gairahnya atau karena melihat reaksi kenikmatanku, kurasakan rambutku di tariknya ke belakang hingga kepalaku tertarik jauh ke belakang. Agak sakit sebenarnya, namun aku justru merasakan sensasi lain dan rasanya semakin menambah kenikmatan padaku.

Bukan hanya itu, Adi juga kurasakan melakukan sesuatu yang lain. Mulanya hanya sebuah elusan di lubang duburku membuatku merasa merinding geli bercampur nikmat. Namun elusan itu berubah dan kurasakan Adi menekan jari tangannya di lubang duburku. Apa yang hendak dilakukannya ?

Akh…akh dia…dia…semakin menekan jari tangannya. Dia…hendak memasukkan jari tangannya ke dalam lubang anusku. Aku merasa sedikit risih namun sekaligus… penasaran.

“Ssshhh…uuukkkhhh” benar saja. Adi…memasukkan jari tangannya ke lubang dubur ku. Aku yang baru pertama kali ini mengalaminya, sulit menjelaskan perasaanku. Antara risih, canggung bercampur juga dengan perasaan lain. Kurasakan sebuah sensasi lain saat untuk pertama kalinya lubang pelepasanku dimasuki. Mulanya sedikit perih namun kemu dian….nikmat juga. Ada tambahan kenikmatan bagiku. Apalagi saat kurasakan jari tangannya mengorek-ngorek bagian dalamnya dan saat dia menekan membran yang membatasi antara lubang pelepasan dan lubang kemaluanku, kurasakan ada tekanan kuat di sekitarnya membuat tubuhku sampai melengkung menahan kenikmatannya. Kurasakan sepanjang membran yang di tekan jari tangannya itu seperti mendapat tekanan yang lebih kuat oleh jari tangan dan batang kemaluannya. Dan Adi menyadari hal itu sehingga dia semakin dalam memasukkan jari tangannya lalu menekan secara merata pada bagian itu dan akhirnya membuatku kembali memekik panjang disusul kejangan dan getaran tubuh bugilku. Aku kembali meledak dengan kuatnya.

“Di…ak…ku…lem..mas say…yang” ujarku. Dia yang tengah memelukku dari belakang langsung menurunkan tubuhku dan membaringkannya di kasur masih dalam posisi membelakanginya. Lalu sesaat dia menciumi punggungku sambil membiarkan batang kemaluannya masih membenam seluruhnya di dalam lubang kemaluanku. Aku hanya bisa tengkurap diam sambil terengah-engah.

“Lanjut mbak ?” tanyanya seperti meragukan kekuatanku.

“Ya….teruskan sayang” ujarku mantap.

“Nggak capek ?” ujarnya lagi.

“Nggak. Cum….ma….sedikit ngos-ngosan aja” jawabku lagi.

“Jadi…masih kuat dong” lanjutnya.

“Iya. Lanjutkan sayang. Entot aku lagi….se…kuatmu” jawabku yang kembali bergairah setelah amukan badai kenikmatanku mereda.

“Ssshhh….ooouuukkkhhh….nik…mat sayang….nik….mat sek…kali” erangku saat suami adikku itu kembali menggerakkan tubuhnya. Kurasakan kembali kenikmatan gesekan dan tusukan batang kemaluannya di lubang kemaluanku. Sambil tengkurap dan kedua kaki terjuntai di tepi kasur, aku menikmati hujaman-hujaman batang kemaluannya di liang vaginaku. Mulanya perlahan namun kemudian dia semakin mempercepat gerakan nya dan akupun kembali mengerang, merintih dan memekik kenikmatan sampai kemudian dia membalikkan tubuhku tanpa melepas batang kemaluannya. Putaran batang kemaluannya yang seakan menjadi poros putar di lubang kemaluanku terasa nikmat. Nikmat yang berebeda namun tak kalah hebatnya sampai akhirnya akupun kembali berhadapan dengannya. Kutatap dia dengan mata sayu karena aku sudah berada di kedalaman lautan kenikmatanku.

Adipun kembali bergerak, aku kembali kenikmatan. Kali ini tak lagi kupejamkan mataku. Kami saling bertatapan mesra sambil melanjutkan persenggamaan. Berpadu rasa antara kemesraan dan kenikmatan serta gairah yang berkobar-kobar dan seolah tak pernah padam.

“Kamu kuat sekali sayang” pujiku.

“Mbak juga” balasnya sambil terus menggenjotku.

“Apa kalau main dengan…..akh ! Lastri, kamu…akh ! se…..kuat ini ?” ujarku antara rasa nikmat yang terus memburuku.

“Nggak. Lastri… udah nggak mau lama-lama. Awalnya….iya” jawabnya. Kutatap matanya, dia berkata jujur.

“Ber…rapa lama kam….mu…Akh! pernah main de…ngan Las….triii!” aku benar-benar tak sanggup bicara santai.

“Satu jam” jawabnya. Aku menatapnya dengan kagum lalu pandanganku kuarahkan ke jam dinding yang terdapat di kamar. Jam menunjukkan pukul tujuh lewat dua puluh menitan. Dan seingatku, waktu Adi mulai mencumbuku tadi, baru saja jarum jam meninggalkan angka enam. Bila dikurangi dengan percumbuan sekitar setengah jam, berarti aku dan Adi mulai melakukan persenggamaan ini sekitar jam setengah tujuhan. Bila sekarang pukul tujuh lewat, jadi aku dan suami adikku ini sudah bersenggama selama hampir….satu jam-an !

Buatku rekor sendiri. Karena selama aku melakukannya dengan suamiku dulu, paling lama sekitar setengah jam-an. Dan rasanya waktu itu aku sudah kehabisan tenaga. Tetapi kenapa sekarang beda ?  Aku merasa masih sangat bertenaga dan akupun masih menggebu-gebu. Gairahku terasa masih terus menggejolak dan belum berkurang sedikit pun. Apakah ini berarti aku akan melakukan persenggamaan lebih lama lagi ?

Dan sesungguhnya akupun memang menginginkan demikian. Rasa haus dan dahaga setelah sekian lama tak merasakannya, membuatku ingin mereguk kenikmatan ini sebanyak-banyaknya dan sepuas-puasnya. Apalagi kesempatan itu terbuka sangat luas dan bebasnya.

“Mbak, kita coba posisi khusus mumpung tenaga masih banyak ya…” ujar Adi. Aku terdiam tak mengerti dengan usulannya itu, namun kemudian….

“Coba mbak pegangan ke leher saya” ujarnya. Akupun menurut saja, kulingkarkan kedua tanganku di lehernya sementara dia menarik betisku dan disuruhnya mengapit pinggulnya.

“Ssshhh…aakh Ddddiiiii….!!” pekikku keras ketika tiba-tiba dia bangkit sambil menggendongku. Aku sangat terkejut, apalagi kurasakan tekanan yang sangat kuat sekali pada dasar lubang vaginaku oleh batang kemaluannya. Aku seperti merasakan suatu tekanan yang demikian kuatnya, sekaligus demikian nikmatnya sampai-sampai tubuh bugilku melengkung tanpa sadar dalam gendongannya.

“Kenapa mbak, nggak enak posisi ini ?” tanya adik iparku itu.

“Bu…buk..kan. Jus…tru, seb…balik…nya. Ak..kku…nggak…ku..attt” ujarku.

“Jadi, diganti aja po..”

“Ja…jangan. Ak..ku…pengen po…sisi ini Di” aku cepat menukas. Aku tak ingin adik ipar lelakiku itu salah paham. Dan justru aku merasa sangat tertantang dengan posisi ini, dengan segala kelebihan dan kenikmatannya.

“Akh ! Pel..lan…pelan du…lu Di” pintaku belum siap untuk menerima tusukan batang kemaluannya sekuat ini. Dengan kedua kaki dan tanganku, aku coba mengendalikan gerakan. Perlahan namun sudah membuatku sampai menahan napas berkali-kali merasakan betapa kuatnya tusukan batang kemaluannya di lubang kemaluanku dan tentunya kenikmatannyapun sulit kulukiskan.

Perlahan akupun mulai dapat beradaptasi dengan segala rasanya. Dan perlahan pula kubiarkan Adi mempercepat gerakannya sampai akhirnya tubuh bugilku terguncang-guncang dalam gendongannya. Untuk membantunya, kugunakan tumpuan kedua kaki dan tanganku untuk menaik turunkan tubuhku dan rasanya memang gila sekali posisi ini. Tekanan dalam diriku langsung meningkat cepat. Dengan susah payah aku mencoba bertahan namun akhirnya aku menggelepar juga. Didahului pekikan kerasku, lalu tubuh bugilku mengejang dan bergetar hebat dalam gendongannya. Aku…meledak hebat, padahal hanya dalam tempo yang sangat singkat. Tak sampai lima menit.

“Di…jangan beg…gini ter…rus. Bisa cepat hab…bis tenagaku” ujarku meminta ganti posisi. Dia menurunkan tubuhku perlahan sampai aku sama-sama dalam posisi berhadapan sementara batang kemaluannya masih membenam di lubang vaginaku.

Dalam posisi berdiri berhadapan, Adi kembali memompaku. Kupeluk dia dengan mesra, sementara kedua payudaraku menjadi “mainan” jari-jari tangannya. Diapun melumat bibirku. Sampai beberapa menit lamanya aku dan dia melakukan hal ini dalam pergerakan yang lembut dan meresap sampai akhirnya perlahan dia membaringkan tubuh ku di lantai kamar tidur lalu kembali menggenjotku dengan cepat dan kuatnya sampai aku kembali memekik-mekik tak kuasa menahan segala rasanya.

Bergantian aku dan dia mengambil peran aktif. Tubuh bugil kami yang menyatu bergulingan di lantai kamar tidur. Kadang aku di bawah, kadang dia yang di bawah. Lama juga kami melakukan peran saling mengganti ini dan aku memperoleh klimaks berturut-turut sampai tiga kali. Lalu persenggamaan kembali dilakukan dengan kembut dan perlahan sambil saling memagut mesra. Seluruh ruangan dalam kamar itu sudah kami “jelajahi” dengan penuh kenikmatan hingga kami melakukan lagi dalam posisi berdiri. Kali ini aku bersandar ke dinding sementara Adi menggenjotku dari depan. Dan ditangah permainan, tiba-tiba Adi kembali menggendongku tanpa pemberitahuan. Lalu sambil terus menurun-naikkan tubuh bugilku yang sudah basah kuyup bermandikan keringat itu, dia melangkah ke luar kamar, menuju ke ruang tamu. Aku hanya bisa megap-megap dalam gendongannya. Sergapan dan hantaman rasa nikmat terus kuterima dan membuat ku hanya bisa pasrah dalam kenikmatan.

 

Sambil mengelilingi ruang tamu, adik ipar lelakiku itu terus membuatku termegap-megap. Sulit sekali aku melukiskan betapa nikmatnya persenggamaanku ini sampai akhirnya aku memekik panjang menandakan kalau aku kembali meledak. Kuminta dia menurunkan tubuhku dan dia baringkan di atas sofa.

“Masih kuat mbak ?” tanyanya. Aku hanya mengangguk memberi jawaban. Diapun segera menindihku dan kembali bergerak dengan perlahan memberi kesempatan padaku untuk mengembalikan tenaga.

Tak puas di sofa, Adi mengajakku turun. Maka, seperti di kamar tidur tadi, tubuh bugil kami yang saling merapat itu kembali saling gempur, saling bergulingan ke segala arah dan aku terus menerus mereguk kenikmatan persenggamaan ini. Klimaks demi klimaks kembali kuperoleh. Kurasakan tenagaku mulai melemah, namun semangat dan gairah terus memberi motivasi untuk bertahan lebih lama lagi. Adipun nampaknya masih cukup tangguh untuk bertahan lebih lama lagi.

Dan menjelang jam menunjukkan pukul sembilan lebih, baru aku meminta istirahat dulu. Kurasakan organ kewanitaanku linu sekali namun kenikmatan masih saja kurasakan dengan kuatnya. Tenagakupun rasanya sudah terkuras habis. Napasku sudah sangat memburu sementara sekujur tubuh bugilku sudah basah kuyup bermandikan keringat. Adik ipar lelakiku itupun berusaha secepatnya untuk mendapatkan hasilnya. Aku digenjotnya dengan sangat cepat dan kuatnya sampai-sampai tubuh bugilku tergusur-gusur hingga ke dinding. Aku benar-benar dibuat hampir kelenger olehnya. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada aku mencoba terus bertahan, sementara suami adikku itu terus menggenjotku dengan kekuatan dan kecepatan yang gila sekali. Aku tak kuasa lagi bertahan namun untungnya Adipun….selesai bertepatan dengan ledakan klimaksku yang entah ke berapa puluh kalinya. Kami saling memeluk erat dan saling piting. Kurasakan semburan kuat dan banyak sekali cairan kenikmatannya di lubang kemaluanku dan terasa sampai meleleh keluar.

Tak ada percakapan sesaat. Hanya deru napas yang saling memburu seakan saling berpacu menjadi komunikasi kami bahwa aku dan dia sama-sama penuh kepuasan. Bersisian tubuh bugil kami tergolek di lantai tanpa tenaga. Adik ipar lelakiku itu memelukku erat sambil menciumi pipiku. Tangannya berada persis di kedua payudaraku, sementara aku hanya diam sambil tangan kiriku memegangi tangannya yang memeluk dadaku dan tangan kananku menggenggam batang kemaluannya yang menyusut seperti kelelahan. Kulihat jarum jam dinding. Pukul delapan lebih dua puluh menitan. Berarti aku sudah melakukan persenggamaan non stop selama….2 jam !!  Gila !

Selama beberapa menit kami tak mampu berbuat apa-apa, bahkan untuk berbicarapun seperti kesulitan. Pertarungan yang baru saja kami lakukan benar-benar habis-habisan dan semua itu nampaknya terjadi karena baik aku maupun Adi sama-sama sangat dahaga akan kepuasan birahi dan tentu saja sama-sama menumpahkannya dengan sangat bergelora. Kami seakan tak perduli lagi dengan situasi. Yang ada hanyalah gairah, gairah dan gairah untuk dipuaskan. Dan kami benar-benar mendapatkannya.

“Bukan main, mbak hebat sekali” Adi akhirnya mengawali. Aku tersenyum.

“Justru kamu yang luar biasa Di” balasku.

“Khok bisa sih selama itu ?” lanjutku lagi sambil membelai batang kemaluannya yang masih terkulai itu sementara dia sendiri juga terus membelai-belai payudaraku.

“Nggak tahu mbak. Mungkin karena sangat bergairah melihat kemolekan tubuh mbak dan juga… udah lama kepengen sih. Jadinya kesetanan dah” ujarnya.

“Mbak sendiri, khok kuat banget” balasnya. Aku senyum tersipu.

“Mungkin….sama ama kamu Di. Aku kan….sudah sangat lama nggak melakukan ini” ujarku memberi jawaban. Sesaat kami tak melanjutkan percakapan, hanya pandangan mata, belaian tangan dan senyuman yang menjadi alat komunikasi kami.

“Ih, Di. Punyamu….udah bangun lagi tuh” ujarku saat menyadari batang kemaluannya kembali mengembang. Bersamaan aku dan dia memandang sejenak ke pangkal pahanya lalu kembali saling pandang dan tertawa.

“Berarti dia minta lagi mbak. Gimana, punya mbak udah siap belom ?” ujarnya. Percakapan yang “nakal” namun penuh daya rangsang birahi itu terus berlangsung.

“Kalau punyaku sih….siap aja. Kapanpun siap” balasku tak kalah nakalnya. Kami saling pandang mesra.

“Mbak, memek mbak enak banget lho” ujarnya kemudian membuatku kaget dengan bahasa vulgar dan agak kasar itu.

“Sama. Kon…tol kamu juga….enak banget Di” balasku mulai terpancing.

“Jadi, kita ngentot lagi yuk ?” Ukh, gila. Kenapa kami jadi seperti ini ?  Seperti orang tak berpendidikan dan tak mengenal etika.

Etika ?  Apa perlunya lagi dalam keadaan seperti ini ?  Aku dan dia dalam keadaan sama-sama tak berpakaian sedikitpun dan sama-sama melakukan tindakan yang seharusnya hanya dilakukan oleh sepasang suami istri. Apa ini etika namanya ?  Tak perlulah etika dan segala macam aturan yang bisa membatasi segala sesuatunya. Saat ini aku dan suami adikku ini tengah melakukan dan menjalani sesuatu yang menyenangkan dan penuh dengan kenikmatan. Kesenangan dan kenikmatan yang dapat diraih secara maksimal bila tak dibatasi segala macam aturan dan etika. Lakukan apa yang ingin dilakukan sepanjang itu menyenangkan bagi kami berdua.

“Ya Di, entot aku lagi seperti tadi. Kita ngentot sampai pagi” balasku sudah semakin terbakar.

“Mbak seneng ku entot ?” lanjutnya.

“Iya, aku senang. Aku pengen terus di entot sama kamu Di” ujarku sambil mengocok batang kemaluannya yang kini sudah kembali siap tempur.

“Di, kontol kamu….gede dan panjang banget” ujarku sambil memandang ke arah batang kemaluannya dan terus mengocok-ngocoknya dengan tanganku.

“Mbak suka ?” tanyanya.

“Iya. Aku…suka banget. Ayo Di, kita mulai lagi” ajakku. Tanpa menjawab adik ipar lelakiku itu langsung memagut bibirku, sementara jari-jari tangannya yang tadi hanya membelai-belai payudaraku, kini mulai meremas-remas payudaraku itu dengan lembut.

Untuk sesaat aku dan suaminya Lastri ini tenggelam dalam buaian percumbuan. Saling kulum dan saling lumat bibir pasangannya, sementara tangan kami terus “bergerilya” di tubuh bugil pasangannya.

Perlahan namun pasti, kami berdua mulai memuncak gairahnya. Apalagi saat Adi mulai melancarkan serangan dengan lidah dan bibirnya. Dimulai di kedua payudaraku, lalu ke selangkanganku. Kuminta dia mengambil posisi berlawanan agar aku juga dapat “memakan” alat kelaminnya. Akhirnya aku dan dia saling “menyantap” alat kelamin pasangannya sampai kemudian kami sama-sama siap untuk ke puncak permainan.

Dimulailah babak kedua. Aku lebih dahulu mengambil peran aktif. Kududuki selangkangannya dan kubenamkan batang kemaluannya ke dalam lubang kemaluanku. Kembali aki mengerang, merintih dan akhirnya memekik kenikmatan. Kugerakkan tubuh bugilku dengan penuh gairah diatas selangkangannya sampai akhirnya gerakan tubuh bugilku benar-benar puncak. Bergerak naik turun dengan cepat sambil berputar-putar liar membangkitkan rasa nikmat yang semakin kuat dan setelah hampir lima menit lamanya aku “bermain-main” diatas selangkangannya, akupun menjerit panjang disusul tubuh bugilku ambruk menindih tubuh bugilnya lalu mengejang dan bergetar hebat saat mendapatkan klimaks pertamaku di babak kedua ini.

Dengan cepat Adi mengambil alih, memutar tubuhku dan menempatkannya di bawah tindihannya lalu diapun mulai menggenjotku membuatku kembali mengerang, merintih dan memekik kenikmatan.

Persenggamaan di babak kedua ini lebih banyak dilakukan dengan lembut dan perlahan sambil bercumbu membuat sebuah permainan yang berkesan mendalam. Baru saat aku mulai memuncak, Adipun mempercepat gerakannya sampai aku kembali mendapatkan klimaksnya.

Kami kembali bergulingan di lantai. Saling bergantian menindih tubuh pasangannya. Sesekali posisi diganti. Doggy, duduk berhadapan atau berdiri tegak berhadapan, atau berdiri dengan posisi aku membelakanginya dan Adi menusuk dari belakang. Atau juga posisi gendong yang sangat membuatku kewalahan menahan kenikmatannya.

Di babak kedua ini Adi sempat menggendongku cukup lama. Aku diajaknya berjalan-jalan di seluruh bagian rumah, dari mulai ruang tamu, ruang tengah, kamar tidur, dapur bahkan sampai ke halaman belakang. Aku dibuatnya meledak berkali-kali sampai tenagaku terkuras cukup banyak. Maka persenggamaanpun kuminta kembali ke posisi lain karena aku tak akan kuat bertahan bila dilakukan dalam posisi ini lebih lama lagi.

Dan di babak kedua ini memang kami bertekad untuk melakukannya lebih lama lagi. Karenanya kami tak terlalu ngotot dan aku sendiri tak terlalu tergesa-gesa mendapatkan klimaks-klimaksku berikutnya. Bahkan dalam satu kesempatan, kami melakukannya sambil menonton TV sementara aku duduk di pangkuannya dan batang kemaluan Adipun membenam dalam lubang kemaluanku.

Ternyata asik dan punya kesan tersendiri melakukan persenggamaan santai ini. Terasa lebih intim. Lucunya, Adi mengusulkan juga untuk menyelinginya dengan makan karena memang kami juga merasa cukup lapar setelah menguras tenaga. Dan saat makanpun, kami menginginkan alat kelamin kami terus saling bertaut seakan tak ingin dilepaskan.

Karena di babak kedua ini persenggamaan kami lakukan dengan sedikit santai, maka tentu saja waktu yang dibutuhkan lebih lama. Kami baru selesai melakukan persenggama an setelah jam menunjukkan pukul satu lewat lima belas menit. Isirahat sejenak lalu aku dan Adi bersepakat melanjutkan babak ketiga dengan persenggamaan yang….panas dan liar !

Di babak ketiga ini, dari awal dia menghujamkan batang kemaluannya, dia lakukan dengan sangat cepat dan kuatnya sampai aku terpekik keras menahan rasanya. Dan Adi langsung menggenjotkan dengan “ganas” akupun mengimbangi dengan tak kalah ganasnya pula. Permainan jari tangan Adi di payudarakupun tak lagi lembut dan perlahan, namun sangat keras dan terasa cukup menyakitkan, namun aku menyenanginya juga. Ada sensasi yang sulit kulukiskan.

Dan saat aku berada di ataspun, aku melakukannya dengan cukup keras dan kuat. Berkali-kali Adi menjambakku agak keras sementara aku juga berkali-kali mencakarnya hingga meninggalkan goresan merah di beberapa bagian tubuhnya.

Babak ketiga ini benar-benar dilakukan dengan ganas dan cukup liar namun hasilnya pun sangat maksimal karena aku mendapatkan ledakan puncak kenikmatanku demikian hebatnya. Bahkan di tengah permainan Adi memintaku melakukan anal seks dan aku terpancing ingin juga mencobanya. Cukup lumayan walau tak senikmat persenggamaan vaginal tentunya. Sekedar untuk selingan, bolehlah.

Dan diakhir babak, Adi benar-benar “menghabisiku,”  Aku digenjotnya habis-habisan dengan sangat kuat dan cepatnya. Bahkan saat aku klimaks, dia tak menghentikannya, terus menggenjotku sampai aku kehabisan napas dan hampir saja hilang kesadaran.

Jam lima pagi kami baru menyerah setelah seluruh tenaga terkuras habis. Untuk kali pertamanya aku tidur berdua dengan adik ipar lelakiku itu, benar-benar menggantikan posisi Lastri adikku. Kami tidur dalam keadaan masih sama-sama telanjang bulat.

Dan Adi hari itu tak tak masuk kantor sedangkan dua hari berikutnya memang libur. Maka selama tiga hari tiga malam, aku dan suami adikku ini seperti tengah berbulan madu. Selama tiga hari tiga malam, tak sedetik pun pakaian kami pakai lagi, walau hanya selembar benang. Kami sama-sama dalam keadaan telanjang bulat dalam melakukan segala aktivitas kami di rumah. Dan rasanya di segala waktu, tempat dan kesempatan, aku menginginkan Adi memasukkan batang kemaluannya ke dalam lubang kemaluanku, walau hanya sekedar diam di dalamnya saja. Aku benar-benar ketagihan sekali akan ganjalan batang kemaluannya di lubang vaginaku.

Dihari ketiga, atau tepatnya di malam ketiga, kembali aku dan Adi melakukan persenggamaan yang keras dan ganas. Bahkan aku sampai digendongnya hampir setangah jam lamanya membuatku sampai memekik keras, klimaks berkali-kali. Dan akhirnya persenggamaanpun diakhiri dengan model “menghabisiku” lagi. Anehnya, justru aku menikmatinya.

Hari senin pagi, Lastri dan anak-anakpun datang. Tentunya aku dan Adi tak lagi bisa melakukannya dengan bebas. Hanya pada malam hari Adi pamit ke Lastri untuk datang ke kamarku yang berada di rumah sebelah. Dan tentu saja kami melakukannya lagi walau tak seliar sebelumnya karena takut terdengar oleh anak-anak.

Kini Adi tak lagi pulang larut malam. Dia selalu pulang sesore mungkin karena di rumah sudah ada yang menunggunya, yakni Lastri istrinya dan…aku. Aku layaknya istri kedua bagi suami adikku itu.

Dimalam ke tiga di minggu ke empat, aku sempat terkejut juga saat aku dan Adi seperti biasa sedang melakukan persenggamaan, Lastri muncul. Persenggamaan sempat dihentikan namun Lastri menyusuh kami melanjutkan saja. Mulanya risih dan canggung juga namun akhirnya….enjoy lagi. Bahkan Lastri ikut bergabung, walau hanya melakukan seks oral. Sambil aku naik turun diatas selangkangan suaminya, Lastri yang juga telanjang bulat dengan perut membuncit itu mengangkangi wajah suaminya. Adi menjilati vagina Lastri sementara aku terus naik turun diatas selangkangannya. Dan malam itu kami bertiga sama-sama puas. Adi senang sekali karena dapat menikmati dua tubuh bugil wanita sekaligus, istri dan kakak iparnya.

Sejak itulah, kami tak canggung lagi melakukan three-some. Dan sampai sejauh ini Lastri hanya cukup meminta seks oral saja dari suaminya sampai akhirnya dia melahirkan seorang bayi yang sehat dan lucu. Aku senang walau agak ngiri. Karena dengan Adipun aku tak hamil. Padahal selama melakukan persenggamaan dengannya selama hampir lima bulan ini, Adi selalu menumpahkan spermanya ke dalam lubang kemaluanku, namun aku tetap saja tak hamil. Satu sisi aku merasa beruntung karena dengan keadaanku itu aku bebas terus menjalankan peranku sebagai istri “kedua” Adi tanpa diketahui orang.

Dan setelah Lastri pulih dari keadaannya setelah melahirkan, persenggamaan lebih seru lagi. Adi benar-benar lelaki perkasa karena sanggup membuat aku dan Lastri terkapar penuh kepuasan. Adipun seorang pejantan tangguh. Karena hampir setiap malam dia menyenggamai aku ataupun Lastri, atau sekaligus kami berdua. Hanya bedanya aku dan Lastri adalah, saat Adi menyenggamai Lastri dan akan orgasme, dia langsung memintaku menampung spermanya. Dia masukkan batang kemaluannya ke dalam lubang kemaluanku, bergerak sesaat lalu…..tumpahlah spermanya di dalam lubang kemaluanku semuanya.

Tak terasa hampir satu tahun lamanya hubungan ini berjalan. Suatu ketika Adi mengusulkan padaku untuk memulai sebuah permainan baru.

“Mbak, akukan sudah merasakan three-some dengan mbak dan Lastri. Gimana kalau kita coba three-some yang berbeda” ujarnya padaku setelah melakukan persenggamaan seperti biasanya, sementara Lastri tidak ikut karena sedang “halangan.”

“Maksud kamu ?” ujarku bingung. Dia tersenyum sejenak.

“Jangan marah ya dan jangan salah sangka dulu. Permainan ini sekedar mencari kesenangan saja. Jadi mbak jangan berprasangka buruk dulu. Lagi pula, itupun kalau mbak setuju” Adi coba mengawali.

“Ya tapi, apa maksudnya ?” aku penasaran. Dia kembali senyum sambil membelai-belai payudaraku.

“Gimana kalau kita coba….satu cewek dua cowok. MMF istilahnya. Male-Male-Female” dia coba menjelaskan. Aku diam, coba menerka-nerka arah pembicaraannya walau sebenarnya aku dapat memperkirakan arahnya, dan hal itu membuatku tegang.

“Sa..tu cewek…dua cowok ?  Ceweknya siapa ? Dan cowoknya ?” aku memancing penasaran.

“Cowoknya yang pasti satunya aku dan lainnya….nanti kucari” ujarnya tak menuntas kan.

“Lantas, ceweknya ?” aku sudah sangat penasaran. Adi kembali senyum.

“Ceweknya….ya mbak ?” aku tertegun sekaligus terkejut walau sudah kuperkirakan.

“Gila, ak…ku…”

“Mbak, jangan salah sangka dulu. Ini sekedar usul. Kalau mbak keberatan….ya….” dia menghentikan ucapannya dan memandangku lekat-lekat.

“Gimana mbak, mau nggak ?” desaknya. Aku masih diam. Jujur kuakui sebenarnya aku merasa tertantang sekaligus….penasaran juga. Tapi tentunya aku malu mengutarakan nya.

“Tapi Di…”

“Jawab aja, mbak keberatan atau nggak ?” desaknya lagi. Aku tertunduk diam.

“Kalau diam….berarti mbak setuju” dipojokkannya aku.

“Tapi Di…”

“Sudahlah. Kita coba aja dulu. Nanti kalau mbak mau batalin juga nggak apa-apa khok” aku hanya diam. Batinku bergemuruh membayangkan diriku berada dalam cumbuan dua lelaki sekaligus. Ukh, bagaimana rasanya yah…?

Dan Adi tak lagi mendesakku, justru dia mengajakku kembali main. Akupun menerimanya dengan gairah yang sedikit lebih tinggi akibat membayangkan diriku dalam cumbuan dua lelaki. Dan aku merasakan kenikmatan yang berbeda di babak kedua itu akibat pengaruh fantasi seksualku yang dibangkitkan oleh usul Adi itu.

“Aku setuju dengan usulmu Di, asal kamu bisa meng-KO-ku malam ini. Buat aku sampai “kelenger” sekarang” ujarku benar-benar sangat bergairah. Aku rindu dengan permainan liarnya yang hampir satu tahun lamanya tak pernah lagi kami lakukan. Dan Adi membuktikan nya. Aku digempurnya habis-habisan sampai kelojotan dan dia benar-benar membuatku hampir semaput dengan “serangannya” kalau saja aku tak meminta dia segera menyudahinya.

“Jadi, setuju dong usulku karena aku hampir membuat mbak kelenger” ujarnya bangga setelah “menghabisiku” selama lebih dua jam.

“Ya, ak..ku setuju” akhirnya aku menjawab. Dia senang, aku lebih-lebih lagi sebenar nya. Dan malam itu Adi tidur di kamarku masih sama-sama dalam keadaan telanjang bulat.

Satu minggu berlalu, tak ada berita lanjut. Aku tak mau menanyakannya karena selain malu, juga kuanggap Adi hanya bercanda saja walau sempat juga aku tertarik. Begitupun dua tiga hari berikutnya, tak ada khabar dan aku mulai melupakannya sampai Adi datang menemuiku selepas anak-anak tidur. Biasanya dia bila datang ke kamarku, pasti menagih jatah atau akan menggilirku dan akupun senang-senang saja. Setelah ngobrol sejenak, kamipun langsung bergumul dan langsung sama-sama bugil.

“Mbak, aku ada sesuatu untuk mbak malam ini” ujarnya sambil menghentikan cumbuannya. Aku yang sedang memuncak, terpaksa harus bersabar dulu untuk menyelesaikannya.

“Sesuatu apaan ?” tanyaku sambil mengocok batang kemaluannya agar dia juga memuncak.

“Sebentar” ujarnya lalu bangkit menuju ke sudut ruangan dimana ada satu meja kecil dan dua buah kursi santai. Dia ambil HP-nya lalu kembali melangkah ke arahku. Mataku menatap ke arah pangkal pahanya. Terlihat batang kemaluannya terayun-ayun dan terombang-ambing ke sana kemari saat dia berjalan. Terlihat lucu sekaligus “menggemas kan.” Adi seperti hendak menelpon, namun dia batalkan.

“Ngapain kamu ?” tanyaku bingung. Dia hanya senyum saja sambil meletakkan HP-nya di dekatku.

“Sebentar” jawabnya sambil naik ke tempat tidur. Aku benar-benar bingung dengan tindakannya, namun dia tenang saja sambil membelai-belai payudaraku dan aku sendiri langsung menyambar dan menggenggam batang kemaluannya.

Tiba-tiba pintu kamarku terbuka. Aku agak kaget, namun kuyakin itu pasti Lastri. Biasa dia menyusul kami. Namun….

“Aw!” aku terpekik kaget saat yang muncul bukan Lastri, tapi seorang lelaki dan dia… sudah dalam keadaan telanjang bulat sama seperti aku dan Adi. Segera kupalingkan wajahku dari lelaki itu sambil menutupi sebisanya tubuh polosku dan menatap Adi dengan pandangan minta penjelasan. Namun walau aku sudah menghadapkan wajahku ke Adi, tidak lagi ke lelaki itu, terlintas di pikiranku sosok jantan lelaki itu. Dan walau sesaat juga aku sempat melihat alat kelaminnya yang menggantung di pangkal pahanya itu. Belum tegang sepenuhnya namun aku dapat memperkirakan pada saat tegang nanti pasti ukurannya tak kalah dengan alat kelamin Adi.

“Kenalkan, ini temanku, Heru” ujar Adi tenang-tenang. Aku belum memalingkan wajahku, masih menatap lekat ke wajah suami adikku itu.

“Ya tapi….mm..mau ap..pa dia ke…mari ?” tanyaku gugup.

“Lho, mbak ingat kan pembicaraan kita sekitar dua minggu lalu ?  Dan mbak kan sudah setuju, makanya….”

“Ya tapi Di, khok kamu nggak kasih tahu aku sebelumnya ?” aku coba protes.

“Aku sengaja mau kasih surprise buat mbak” jawabnya enteng. Aku merasa terpojok.

“Tapi Di ?  Masak…di sini ?  Nanti kalau…Lastri tahu…” aku masih coba menghindar.

“Tenang, Lastri aku yang tanggung jawab. Lagian, dia sudah tidur sama si kecil. Mbak tahu kan, kalau Lastri sudah tidur ?” ujarnya. Aku kembali terpojok dan tak mampu berkelit lagi. Ya, memang adikku itu gila banget, kalau sudah tidur, kayak orang pingsan dan tak akan bangun sampai pagi.

“Tapi kan ada si kecil, ntar kalau….”

“Kalau si kecil bangun, Lastri cuma nyodorin nenennya sambil merem kan ?”  Akh, apalagi yang mesti kuutarakan untuk menghindari keadaan ini, paling tidak saat ini. Rasanya sangat mendadak dan aku….belum siap. Setidaknya….masih risih dan canggung.

“Tapi Di…”

“Sudahlah. Paling tidak, ayo sambut dulu perkenalan ini. Her, sini. Kenalkan ini Utari” ujar Adi yang nampak santai saja. Antara malu, risih dan tak enak hati kupalingkan wajahku ke arah lelaki itu. Kuarahkan pandanganku ke wajahnya, dia mendekat sambil senyum ramah. Dia nampak santai, lalu mengulurkan tangannya saat sudah berada di dekatku.

“Heru” ucapnya memperkenalkan diri. Kusambut uluran tangannya, sementara tanganku yang lain menutupi bagian dadaku.

“Tari” balasku sambil berjabatan tangan tentu dengan perasaan tak menentu. Malu, canggung dan juga berdebar-debar. Bagaimana tidak ?  Untuk pertama kalinya aku berada di situasi seperti ini. Dua orang lelaki sekaligus, sementara keadaanku dan kedua lelaki itu dalam keadaan yang tak biasa. Sama-sama telanjang bulat.

“Duduk sini Her” ajak Adi. Lelaki itu segera duduk di tepi tempat tidur, persis di sampingku. Spontan akupun agak menggeser tubuhku lebih ke tengah, selain memberinya tempat, juga…masih agak risih berdekatan dengannya dalam keadaan seperti ini.

“Heru ini teman bisnisku. Kami sudah saling mengenal hampir…”

“Lima tahun” Heru menyambung pembicaraan Adi.

“Ya, lima tahun. Sampai lupa aku” sahut Adi, sementara aku hanya bisa diam sambil agak tertunduk. Namun anehnya, mataku melirik diam-diam ke samping ke arah lelaki itu dan…tubuhku terasa semakin bergetar saat kulihat alat kelaminnya. Kini alat kelaminnya sudah hampir menegang penuh, mungkin dia mulai terangsang karena memandangi tubuh polosku. Perasaanku semakin tak menentu saat menyadari arti semua itu. Arti bahwa dia disini, dalam keadaan seperti ini.

“Mbak, khok diam saja sih ?” ucapan Adi mengejutkanku.

“Oh-eh. Nggak. Aku…ndengerin aja deh” ucapku coba menguasai diri dan bersikap biasa.

“Nggak apa-apa. Aku ngerti khok” sambung Heru lagi membuatku merasa kurang enak hati juga, seakan tak menyenangi kehadirannya.

“Maaf Her, aku….agak kikuk” ujarku mencoba meminta pengertiannya. Kulirik dia, dia balas sambil senyum ramah.

“Sebenarnya, aku nggak akrab-akrab banget khok sama Adi. Aku cuma sekedar teman biasa” ujar Heru.

“Maksudmu Her ?” Adi seperti protes dikatakan hanya teman biasa.

“Ya…teman biasa. Biasa nolongin kamu dan juga biasa minta tolong sama kamu Di” ujar Heru.

“Akh sialan, aku kira apa” keduanya ngakak membuatku jadi senyum mendengar mereka saling meledek.

“Tahu nggak, ee…aku panggil apa yah ?” ujar Heru padaku.

“Panggil…Tari saja” jawabku tak enak juga kalau dia harus ikut-ikutan memanggilku dengan sebutan “mbak.”

“Oke…..Tari” jawabnya cepat.

“Tahu nggak, Adi itu waktu ketemu pertama dengan aku, tampangnya memelas lho…” Heru kembali melanjutkan ucapannya yang tadi terhenti. Aku yang ditanya, diam saja, tapi teratrik juga dengan ucapannya itu.

“Me…memelas gimana ?” ucapku tanpa sadar, terpancing pertanyaannya.

“Bohong mbak, dia mengada-ada” sambung Adi yang merasa menjadi objek penderita pembicaraan ini.

“Ha…ha…ha” Heru terbahak sesaat.

“Waktu itu, pengajuan tendernya hampir ke tolak di perusahaanku. Dia sampe mau nangis tahu”

“Akh ngaco !  Wah fitnah nih” semakin sewot adik ipar lelakiku itu.

“Pas ketemu aku, dia seperti petinju yang kena KO. Dia….”

“Udah deh Her, jangan ngebuka kartu”

“Nah bener khan ?  Dia ngaku”

“Ya tapi, nggak seperti yang kamu gambarin itu. Itu sih berlebihan” protes Adi setengah sewot.

“Tahu nggak Tar, dia sampe megangin tangan aku seperti ini. Coba tangan kamu sini” Heru mengambil kedua tanganku. Tanpa sadar akupun sampai melepaskan tutupan tangan kananku di bagian dadaku lalu mengikuti apa yang diminta Heru. Dia memperaga kan adegan bersalaman sambil terus bercerita. Aku selain tak sadar dengan tindakanku, juga jadi senyum menahan geli akan ceritanya itu. Terbayang bagaimana adegan yang lucu menurutku, namun menyebalkan menurut orang yang menjadi obyek ceritanya, yaitu Adi.

“Wah kaco nih. Fitnah besar !” protes Adi yang seakan tak digubris oleh Heru.

“Terus, waktu aku bilang kalau aku bisa bantu supaya pengajuan tendernya masuk, dia bilang apa ?”

“Her udah Her. Jangan diterusin” Adi seperti menghiba.

“Nah nah, seperti itu tuh raut mukanya waktu menghiba padaku” ujar Heru sambil menunjuk ke arah Adi, mau tak mau akupun menoleh ke arah adik iparku itu. Tampangnya memang….memelah. Aku jadi tertawa geli walau berusaha kutahan.

“Lantas, dia bilang apa waktu itu ?” kejarku penasaran karena Heru tak melanjutkan ceritanya.

“Oh ya, dia bilang….”

“Her Her, please… jangan buka kartuku dong” aku semakin tertawa geli, betapa suami adikku itu seperti benar-benar menghiba sekali. Namun Heru merasa sudah tanggung bercerita, apalagi aku mendesaknya agar dia buka saja ceritanya, akhirnya diapun melanjutkan ceritanya dan membuatku benar-benar tertawa geli membayangkan betapa culunnya Adi saat itu. Tanpa sadar, aku tak lagi memperdulikan keadaanku. Aku tak lagi menutupi kepolosan tubuhku. Heru dengan pandainya mengarahkan suasana yang tadinya kaku menjadi akrab dan penuh canda sampai akhirnya….

“Oke, selesai sudah ceritanya. Sekarang, kita bobok yuk…” Seerr, walau dia mengucapkannya dengan nada canda, tapi itu menyadarkanku akan keberadaannya disini. Aku seakan kembali tersadar kalau kami berkumpul itu akan melakukan hal apa. Dan aku juga seakan kembali sadar kalau saat ini kami bertiga dalam keadaan yang tak lazim secara umum, karena kami bertiga…telanjang bulat !

Dan aku semakin berdebar saat Heru meletakkan tangannya di atas paha kiriku tanpa permisi lagi. Desiran kuat mengalir dalam diriku. Aku bingung harus berbuat apa, namun keadaan ini semakin memojokkanku karena Adi langsung menyambar payudara kananku. Dia hisapi puting payudara kananku itu sambil tangannya juga membelai paha kananku. Kurasakan geli menjalari bagian-bagian tubuhku yang tersentuh itu. Aku benar-benar bingung sekaligus merinding bulu kudukku karena mendapat sentuhan yang tak kuduga sebelumnya. Aku hanya bisa diam tak tahu apa yang harus kuperbuat sampai akhirnya aku hanya bisa memejamkan mataku sendiri. Dan itu justru memberi angin pada Heru, lelaki yang baru kukenal itu. Kurasakan payudara kiriku disentuh. Kubuka mataku sedikit untuk mengetahui siapa yang menyentuh payudara kiriku itu dan ternyata….benar, Heru.

Kupejamkan mataku kembali rapat-rapat sambil berusaha sedikit menenangkan diri. Terus terang, perasaanku benar-benar tegang, namun juga kurasakan sesuatu yang lain. Aku merasa asing. Untuk pertama kalinya aku dicumbu oleh dua lelaki sekaligus dan itu benar-benar membuatku “terbakar.” Ketegangan dan keterasingan membuahkan sensasi luar biasa yang membuat seluruh syaraf di tubuhku jadi sangat sensitif. Setiap sentuhan di tubuhku terasa nikmat sekali, bahkan sentuhan Adipun jadi ikut terasa asing dan sangat nikmat bagiku. Aku hanya berusaha menahan semuanya dan tak ingin terlihat sangat menikmati semua ini. Sementara sentuhan dan rabaan kini kurasakan tak hanya di kedua bagian tubuh polosku itu saja, tapi juga kurasakan di punggungku dan di pinggang serta bongkahan pantatku. Aku hanya bisa diam sambil menahan segala rasanya.

Aku semakin tenggelam dalam kenikmatanku. Tanpa sadar, tubuhku bergerak menggelinjang. Akh, apakah aku mulai menerima keadaan ini ? Apakah aku sudah siap melayani kedua lelaki ini ? Ataukah justru aku memang sudah….menginginkannya !

Menginginkan kedua lelaki ini menggumuliku, mencumbuku dan memberiku kenikmatan ? Menginginkan kedua lelaki ini mengantarkan aku ke puncak kenikmatan ? Jauh lebih nikmat dibandingkan saat kudapatkan hanya dari satu lelaki saja ?

Uuukhhh….rasanya memang demikian. Tak sadar tubuhku terus menggelinjang, merasakan semua rasa geli, nikmat dan sensasi yang luar biasa. Sensasi dan kenikmatan yang pada akhirnya menggerakkan kedua pahaku untuk membuka, tanpa perduli akan kehadiran lelaki yang baru kukenal itu ? Apalagi kurasakan gerakan tangan yang mengarah ke pangkal pahaku, entah tangan siapa, Heru atau Adi aku tak perduli. Sementara di kedua payudaraku kini kurasakan rasa geli, hangat dan juga nikmat. Aku tahu pasti kalau kedua payudaraku itu terutama kedua puting payudaranya, tengah dinikmati mulut dua orang yang tak lain tentunya, Adi dan Heru. Aku benar-benar tenggelam dalam sensasi dan nuansa yang berbeda. Sensasi dan nuansa yang cepat sekali membakar libido dan gairah seksualku. Aku merasakan buaian yang jauh lebih hebat demi untuk pertama kalinya dicumbu dua lelaki sekaligus !

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Pengobatan

Setelah perkawinan kami memasuki tahun kelima, aku dan istriku mengalami hubungan suami istri yang makin hari makin hampa, karena kesibukan mengurus 2 anak kami yang masing-masing berumur 2 dan 3 tahun. Istriku malas sekali jika diajak berhubungan suami istri, alasannya terlalu capai bekerja sebagai ibu rumah tangga dan mengurus anak. Aku yakin istriku bukan tipe istri yang suka selingkuh, selain taat beragama, norma-norma moral dan kesusilaan sangat dijaga benar oleh istriku, ini dikarenakan istriku berasal dari keluarga baik-baik dan harmonis.

Aku berusaha mencari informasi bagaimana memulihkan hubungan kami supaya normal kembali. Jika kupaksakan berhubungan, istriku berteriak kesakitan, meskipun sudah dengan pemanasan (four play) yang lama. Istriku tidak terangsang sama sekali dan lubang kemaluannya tetap kering, dan jika dipaksakan masuk, dia akan menjerit kesakitan. Aku berusaha mencari alternatif untuk penyembuhan frigiditas istriku ini. Sudah berbagai terapi dan dokter psiater sex yang canggih kami datangi, tetapi tetap saja istriku belum hilang frigiditasnya.

Istriku berumur 28 tahun dan aku 31 tahun, pada awalnya perkawinan kami boleh dikatakan cukup bahagia, namun sekarang karena istriku mengalami frigiditas yang nampaknya permanen, membuatku bingung mencari solusinya.

Sebelum kulanjutkan, aku ingin menceritakan istriku yang bernama Mia, yang kukawinkan 5 tahun yang lalu, untuk ukuran orang Indonesia dia termasuk wanita yang cukup jangkung dengan tinggi 170 cm dengan berat 49 kg. Kulitnya kuning langsat, rambut sebahu, memiliki leher yang jenjang.

Apa yang kusuka dari istriku adalah kakinya yang panjang dan jenjang, serta bibirnya yang tebal dan sensual, buah dadanya tidak terlalu besar namun bentuknya indah mancung ke atas. Yang membuatku penasaran adalah puting payudaranya yang besar, hampir sebesar ujung kelingking, itu yang membuatku senantiasa gemas dan ingin selalu menghisapnya.

Kembali ke masalah tadi. Setelah mendapat informasi dari seorang rekan kerja, dia mengatakan bahwa di daerah Ciputat ada orang pintar/Dukun yang dapat menyembuhkan segala penyakit termasuk penyakit frigiditas seperti istriku ini. Namanya Pak Acan, dia sering dipanggil Abah Acan (bukan nama sebenarnya). Sebenarnya istriku ragu-ragu untuk berobat ke orang pintar itu, namun atas desakanku tidak ada salahnya dicoba.

Singkat cerita, kami pun pergi ke tempat itu, dan memang banyak yang datang dengan berbagai penyakit, kami pun mendaftar dan mendapat giliran terakhir.

Sambil menunggu, aku mengamati pasien-pasien sebelumnya, ternyata terapi orang pintar tersebut adalah dengan memijat dengan menggunakan minyak (seperti minyak kelapa) yang dibuatnya sendiri. Setiap pasien perempuan harus melepas seluruh bajunya, bh dan tinggal celana dalam, dan mengenakan sarung yang disediakan.

Aku sempat mengamati kamar kerjanya yang serupa dengan kamar tidur itu pada saat pintunya terbuka. Beberapa wanita sedang menanggalkan BH dan memakai sarung. Begitu istriku tahu tentang itu, dia hampir saja mengurungkan niatnya untuk berobat karena risih harus buka pakaian segala, apalagi harus melepas BH.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 20.30, kemudian giliran kami dipanggil ke dalam. Aku pun disuruh masuk oleh assistennya.

Orang itu meperkenalkan namanya, kemudian menanyakan keluhan penyakit istriku, dia pun mengangguk-angguk mengerti dengan syarat seluruh terapi harus diikuti dengan serius tanpa ragu-ragu. Kami pun mengiyakan, asal istriku dapat sembuh.

Kemudian Abah Acan menyuruh istriku menanggalkan pakaiannya, begitu istriku membuka BH-nya, kulihat ekor mata Abah Acan agak terkejut melihat buah dada istriku yang putih dan mancung ke atas itu, serta puting susunya yang cukup besar itu.

Setelah sarung dililitkan di tubuh istriku yang hanya tinggal mengenakan celana dalam, kemudian istriku disuruh tidur telentang di kasur yang sudah disediakan. Aku melihat Abah Acan mulai meminyaki rambut dan kepala istriku dengan minyak, kemudian istriku disuruh duduk, serta merta lilitan sarung yang dipakai istriku terlepas. Kemudian dari arah belakang Abah Acan meminyaki punggung istriku.

Posisi Abah Acan duduk menghadap punggung istriku. Dari arah belakang kedua tangannya mulai meminyaki payudara istriku yang kiri dan kanan, seluruh permukaan payudara istriku diminyaki, dan kemudian aku melihat Abah Acan melakukan pijatan-pijatan yang menurutku sepertinya pijatan pijatan erotis.

Aku juga melihat tangan Abah Acan meminyaki puting susu istriku, tangannya yang hitam dan telapak tangannya yang besar dan kasar itu meminyaki puting susu istriku. Dan aku terkejut ketika aku melihat jari-jari Abah Acan yang besar itu juga memelintir-melintir puting susu istriku yang besar itu. Anehnya aku melihat istriku diam saja, tidak memberikan perlawanan. Sungguh aku heran, dengan aku saja suaminya dia paling tidak suka puting susunya kupegang-pegang tapi ini kenapa, sama Abah Acan dia diam saja?

Puting susu istriku yang dasarnya memang sudah besar itu semakin besar dan keras terlihat semakin kencang dan mencuat karena terus dipelintir, dipencet dan ditekan-tekan oleh jari-jari Abah Acan, yang kiri dan kanan.

Aku semakin mengamati bahwa pijatan Abah Acan tidak lagi memijat, tapi justru meremas-remas kedua payudara istriku. Aku bertanya-tanya dalam hati, kenapa dia tidak memijat bagian tubuhnya yang lain tapi justru hanya kedua payudara istriku saja. Kuperhatikan kedua puting susu istriku semakin besar dan mencuat keras. Sungguh kontras menyaksikan kedua telapak tangan Abah Acan yang hitam dan besar dengan payudara istriku yang putih yang diremas-remas oleh tangan yang kasar.

Aku semakin heran, apakah ini terapi untuk menghilangkan frigiditas istriku? Dan yang lebih aneh, buah dada istriku nampak makin keras dan mengencang seiring dengan puting susunya yang juga mengencang. Apalagi istriku kok diam saja diperlakukan demikian, karena benar-benar kusaksikan Abah Acan bukan memijat, tapi meremas-remas buah dada istriku seenaknya, dan itu dilakukan cukup lama.

Segala macam bentuk pertanyaan timbul dalam hatiku, bayangkan buah dada istriku diremas-remas oleh Abah Acan di hadapan mata kepalaku sendiri, dan aku mendiamkannya. Dan yang lebih aneh lagi sarung yang masih melilit di pinggang istriku diturunkan ke bawah oleh Abah Acan, tentu saja paha istriku yang putih panjang dan mulus langsung terpampang.

Lalu dia berkata kepada istriku, “Neng, tolong dibuka celana dalamnya, Abah mau periksa sebentar..!”
Anehnya entah karena kena sirep atau apa, istriku menurut membuka celana dalamnya tanpa membantah sedikit pun. Tentu saja aku kaget dan lidahku tercekat. Jantungku berdegup dengan kencang. Kok, Abah Acan menyuruh membuka celana dalam istriku. Dan yang membuat jantungku lebih berdegup dengan kencang, kenapa istriku tidak keberatan atas permintaan Abah Acan?

Setelah istriku melepaskan celana dalamnya, aku melihat sendiri mata Abah Acan terkesiap melihat kemaluan istriku, yang bersih tanpa rambut sedikit pun. (Memang bulu kemaluan istriku selalu dicukur, agar nampak bersih) Dan memang aku mengakui kemaluan istriku termasuk indah seperti kemaluan anak gadis umur 14 tahun, dengan kedua bibir kemaluan yang tertutup rapat.

Jantungku semakin berdegup kencang ketika Abah Acan menyuruh istriku berbaring dan sekaligus melebarkan pahanya ke kiri dan ke kanan yang secara otomatis kemaluan istriku terpampang tanpa ada yang menutupi sama sekali.
Lalu Abah Acan berkata, “Neng, Abah mau periksa dalam yah.., Neng tenang-tenang aja, yang penting frigid-nya Nneng bisa sembuh.”
Lalu istriku pun mengangguk tanda setuju.

Dan tanpa kusadari, batang kemaluanku sudah tegang luar biasa, apalagi ketika jari-jari Abah Acan yang berbuku-buku besar itu mulai membelai-belai kemaluan istriku. Dia mulai memijat mijat bibir kemaluan istriku seraya mengolesinya dengan minyak. Jari-jari Abah Acan, yang besar dan berlumuran minyak itu mulai mempermainkan kemaluan istriku. Aku melihat jari telunjuk Abah Acan menyentuh kelentit istriku. Jari tengahnya mulai masuk perlahan-lahan merojok ke dalam kemaluan istriku.

Aku hampir tidak percaya pada pendengaranku, aku mendengar istriku melenguh kecil dan mendesah-desah tertahan, seperti orang yang sedang menahan suatu kenikmatan orgasme (sebenarnya aku senang mengetahui bahwa sebenarnya istriku tidak frigid). Aku melihat mata istriku begitu redup, seperti orang keenakan. Abah Acan tidak hentinya terus mulai memundur-majukan jari tengahnya ke dalam liang kemaluan istriku. Jari tengah Abah Acan yang besar dan hitam itu masuk dengan lancarnya ke dalam kemaluan istriku. Nampaknya minyak pelumas di dalam kemalaun istriku sudah keluar.

Aku terkejut paha istriku semakin dibuka lebar, dan tanpa disadarinya istriku mulai mengoyangkan pinggulnya.
“Oh.. Bah.. oh.., eh.., eh.., eh..!” desahnya.
Istriku kemudian mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi, sudah dipastikan istriku terangsang luar biasa oleh permaianan Abah Acan.

Aku melihat istriku benar-benar menikmati apa yang dilakukan oleh Abah Acan pada dirinya. Jari-jari Abah Acan yang berada di dalam liang kemaluan istriku membuat tubuh istriku yang telanjang bulat itu mengelinjang-gelinjang tidak karuan sambil tangannya mencengkram kasur serta mengangkat pinggulnya dan pantatnya, kemudian mengoyangkannya ke kiri dan ke kanan. Jari tengah Abah Acan yang besar dan kasar itu terbenam dalam sekali di dalam lubang kemaluan istriku. Aku juga melihat jempol jarinya mengosok-gosok klitoris istriku. Sungguh lihay sekali Abah Acan membangkitkan birahi istriku.

Aku melihat mata istriku menandakan keenakan, dimana biji matanya yang hitam tidak nampak, sementara jari-jari Abah Acan terus bergerak mundur maju di antara bibir vagina istriku, dan makin lama jari-jari Abah Acan makin jauh terbenam di dalam vagina istriku. Lalu yang membuat jantungku berdegup kencang, Abah Acan memutar-mutar jarinya yang sedang berada di dalam kemaluan istriku, diputar ke kiri dan ke kanan, lihay sekali dia merojok-rojok kemaluan istriku.

Klitoris istriku juga menjadi perhatian penuh Abah Acan, jempol Abah Acan yang besar dan kasar permukaanya itu terus mengosok-gosok klitoris istriku. Semakin lama nampak klitoris istriku membesar dan menonjol kepermukaan, sungguh pemandangan yang luar biasa. Digosok dan dimainkan sedemikian rupa, klitoris istriku semakin besar sebesar biji kacang tanah, dan istriku pun melenguh tidak karuan menahan kenikmatan yang didapat oleh Abah Acan.

Aku pun semakin tercekat, karena Abah Acan mulai memasukkan tambahan jarinya, yaitu jari telunjuknya yang berbuku-buku besar itu ke dalam kemaluan istriku. Bersama jari tengah dan telunjuknya yang besar itu, Abah Acan semakin menggila mengexplorasi kemaluan istriku serta sering memutar-mutar jarinya di dalam.

Tidak dapat dibayangkan selama ini, aku saja suaminya tidak pernah melakukan apa yang seperti Abah Acan lakukan. Jangankan memasukkan jari ke dalam kemaluannya, menggosoknya dari luar pun istriku tidak mau, alasan istriku tidak hygienis. Susah dibayangkan, bagaimana rasa nikmatnya Abah Acan ketika jarinya masuk ke dalam kemalauan istriku yang kecil dan tertutup rapat itu dirojok oleh kedua jari Abah Acan yang besar-besar itu.

Apalagi tangan kiri Abah Acan yang bebas mulai menggapai payudara istriku dan mulai meremas-remasnya bergantian yang kiri dan kanan serta memelintir-melintir puting susu istriku bergantian. Aku melihat puting susu istriku yang sebesar ujung kelingking itu membesar dan mencuat ke atas karena diperlakukan demikian.
“Ahhh..!” suara desahan istriku makin keras terdengar (sebenarnya istriku paling malu mendesah-desah keenakan seperti ini, biasanya dia tahan, tidak mengeluarkan suara) tapi dengan Abah Acan dia benar-benar tidak tahan.

Sungguh aku heran, dengan Abah Acan, kok jadi lain. Kalau aku suaminya yang melakukan dia tidak mau, jangankan memasukkan jari ke dalam lubang kemaluannya, meremas-remas buah dadanya saja istriku tidak mau, ngilu katanya. Dengan Abah Acan dia merelakan kedua payudaranya diremas-remas, dan membiarkan Abah Acan mempermainkan puting susunya (yang menurut dia sangat geli dan sensitif). Dan yang membuatku tidak habis berpikir dan membuat birahiku semakin naik, kenapa dia membiarkan jari-jari Abah Acan masuk ke dalam lubang kemaluannya, sedangkan aku ditolaknya dengan tegas jika ingin mempermainkan kemaluannya.

Tapi aku tidak dapat berpikir lama lagi, karena aku sedang menyaksikan pemandangan yang sangat luar biasa, dimana istriku sedang menikmati perbuatan Abah Acan. Jari-jari Abah Acan semakin dalam terbenam dan semakin cepat maju mundurnya.

Dan, tiba-tiba aku melihat kedua paha istriku menjepit kencang tangan Abah Acan yang berada di selangkangan istriku. Kedua tangan istriku menarik tangan Abah Acan sambil berusaha menekan pinggulnya ke depan serta menarik tangan Abah Acan dan berusaha menekan jari-jari Abah Acan untuk lebih jauh masuk ke dalam vaginanya.
Istriku merintih histeris tidak tertahan, “Ahh.., ahh.., ahh.., ahhh..!”
Rupanya istriku telah mencapai orgasme dengan sempurnanya.

Abah Acan dapat merasakan cairan istriku telah keluar dan meleleh ke bibir kemaluannya. Dan aku juga melihat wajah Abah Acan sudah memburu penuh nafsu. Dengan perlahan dia membuka celana hitam komprangnya, kemudian membuka celana dalamnya, lalu tersembul lah batang kemaluan Pak Acan yang sudah membesar dan menegang itu, yang dikelilingi oleh urat-urat yang besar. Aku pun tercekat memandang batang kemaluan Aban Acan yang besar dan panjang itu. Jantungku berdegup dengan kencangnya.

Lalu Abah Acan menoleh kepadaku, “Pak, Bapak rela tidak sebagai suami, demi untuk kesembuhan istri Bapak ini, istri Bapak musti saya suntik dengan ini,” sambil menunjukkan batang kemaluannya yang besar itu, “Saya harus menyetubuhi istri Bapak sekarang. Biar frigidnya hilang.”
Aku pun terdiam, pikiranku berkecamuk, tiba-tiba seperti suara halilintar yang memecahkan telingaku, istriku berkata, “Biar saja Abah Acan, saya mau, yang penting.. saya bisa sembuh.”

Jantungku berdegup kencang, tapi tubuhku menjadi lemas mendengar perkataan istriku barusan. Istriku rela disetubuhi oleh orang yang baru dikenal, bahkan dilakukan di depan suaminya, seingatku Mia adalah istriku yang paling setia, alim dan tidak pernah macam-macam, tapi kenapa sekarang jadi begini, apakah kena guna-guna..? Sirap..? Atau apa..?

Aku tidak dapat berpikir lebih lama lagi, dengan perlahan dan pasti Abah Acan mengarahkan topi bajanya ke dalam kemaluan istriku. Istriku pun juga cukup kaget melihat topi baja Abah Acan lebih besar dari batang kemaluannya. Dan sialnya, sepertinya istriku tidak sabar menunggu batang kemaluan Abah Acan menghampiri kemaluannya. Tanpa rasa malu sedikit pun, istriku menarik pinggul Abah Acan dengan kedua belah tangannya untuk cepat merapat ke selangkangannya.

Tapi ternyata Abah Acan sadar diameter kemaluannya yang hampir 3 cm itu memang terlalu besar untuk kemaluan istriku yang mungil dan imut-imut itu, (sebenarnya ada perasaan minder dalam diriku, karena batang kemaluanku jika dibandingkan dengan Abah Acan jauh lebih kecil).

Perlahan Abah Acan mengosok-gosok topi bajanya di permukaan kemaluan istriku yang kecil dan mungil itu. Aku pun deg-degan melihat pemandangan yang spektakuler itu, apa bisa masuk seluruh batang kemaluan Abah Acan ke dalam vagina istriku..?

Aku melihat wajah ketidaksabaran istriku karena Abah Acan belum memasukkan seluruh batang kemaluannya ke dalam liang vaginanya. Nampak wajah protes dari istriku dan Abah Acan mengerti. Perlahan dan pasti topi baja Abah Acan sudah mulai terbenam masuk ke dalam kemaluan istriku. Mata istriku mendelik-delik ke belakang, merasakan kenikmatan yang luar biasa, dan membuat perasaan iri menjalar di tubuhku. Istriku memeluk tubuh Abah Acan dengan kencangnya, seolah tidak mau melepas batang kemaluan yang sudah masuk ke dalam vaginanya.

Istriku semakin memperlebar kedua pahanya lebar-lebar, ke kiri dan ke kanan, mempersilakan batang kemaluan Abah Acan masuk tanpa hambatan. Kini seluruh batang kemaluan Abah Acan sudah terbenam di dalam liang vagina istriku. Abah Acan tidak langsung memainkan batang kemaluannya, dibiarkannya sesaat batang kemaluan itu terbenam, ini membuat istriku makin gelisah. Dan sungguh di luar dugaan, Abah Acan berusaha mencium bibir istriku yang sensual itu, aku menyaksikan bagaimana bibir Abah Acan yang hitam itu melumat bibir istriku yang tebal dan sensual itu.

Aku tahu sebenarnya istriku tidak mau dicium oleh sembarang pria, tapi karena desakan birahi yang meluap-luap, mau juga istriku membalas ciuman Abah Acan dengan ganasnya. Kulihat mereka berpagutan, namun istriku sudah tidak tahan.
Dia berkata, “Ayo dong.., Abah Acan, mulai..!”

Perlahan dan pasti Abah Acan mulai memaju-mundurkan batang kemaluannya di dalam vagina istriku. Aku melihat disaat batang kemaluan Abah Acan menghujam ke dalam, bibir kemaluan istriku pun ikut melesak ke dalam, dan disaat batang kemaluan tersebut ditarik keluar, bibir vagina istriku pun ikut melesak keluar. Hal ini dikarenakan batang kemaluan Abah Acan yang terlalu besar untuk ukuran vagina istriku yang kecil dan imut itu.

Aku melihat wajah istriku merah padam, menahan kenikmatan yang luar biasa. Matanya terpejam-pejam saat menerima hujaman batang kemaluan Abah Acan serta bibirnya mendesis-desis. Ternyata istriku sangat menikmati persetubuhannya dengan Abah Acan, dikarenakan memiliki batang kemaluan yang besar dan panjang. Sementara aku melihat wajah Abah Acan, matanya merem melek, menikmati liang vagina istriku yang kecil dan imut-imut itu.

Tanpa ada rasa malu, di sela-sela rengekan nikmat yang keluar dari bibir istriku, aku mendengar dia berkata, “Ahh… Ayo dong.. Bah Acan, cepetan..!”
Rupanya istriku sudah ingin mencapai orgasme. Istriku semakin cepat menggoyangkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan, dan mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi. Dan benar saja, Abah Acan semakin mempercepat permainannya, topi baja dan batang kemaluan Abah Acan yang dikelilingi oleh urat-urat yang besar sekarang begitu mudahnya masuk keluar dari dalam liang kemaluan istriku yang sempit itu.

Sukar dibayangkan, batang kemaluan Abah Acan yang demikin besar itu dapat menerobos masuk dan keluar dengan mudahnya, ini dikarenakan pasti istriku sudah mengeluarkan cairan pelumasnya begitu banyaknya. Tapi karena saking besarnya batang kemaluan Abah Acan, bibir kemaluan istriku tetap melesak ke dalam atau ke luar ketika dihujam maupun ketika dicabut.

Ini merupakan pemandangan yang sangat menakjubkan, cepatnya batang kemaluan Abah Acan masuk dan keluar, diikuti dengan cepatnya bibir vagina istriku melesak ke dalam dan keluar. Aku pun sudah tidak tahan untuk melakukan masturbasi melihat istriku disetubuhi oleh laki-laki yang belum dikenal dengan batang kemaluan yang luar biasa besarnya.

Abah Acan ternyata tidak mau rugi sama sekali, apabila diperbolehkan menyetubuhi istri orang dalam rangka penyembuhan, harus dimanfaatkan sebaik mungkin, tidak boleh ada bagian tubuh yang dilewatkan. Memang sungguh keterlaluan, sempat-sempatnya Abah Acan melahap kedua buah dada istriku yang terguncang-guncang terkena hentakan batang kemaluannya.

Dengan rakus disedot-sedotnya puting susu istriku dengan kuatnya yang kiri dan kanan bergantian, sungguh Abah Acan menikmati puting susu istriku yang sebesar ujung kelingking itu (seperti anak kecil ngempeng dot). Pasti nikmat karena terasa puting itu di mulut yang menghisapnya.

Efek dari ini semua istriku tidak tahan untuk berteriak-teriak menikmati kenikmatan yang amat sangat yang belum pernah dirasakan. Dan tiba-tiba aku melihat tubuh istriku mengejang kaku dan bergetar seperti dialiri listrik ribuan volt. Tangan dan kakinya memeluk Abah Acan dengan kuat seperti lengket.

“Ahh.., ahh… Ahh..!” tangannya mencakar punggung Abah Acan hingga berdarah dan bibirnya mengigit lengan Abah Acan hingga berdarah pula.
Pinggul istriku diangkat menempel di tubuh Abah Acan, seolah tidak dapat lepas, istriku mengalami orgasme yang luar biasa hebatnya, yang seumur hidup belum pernah dirasakannya.

Sementara Abah Acan pun sudah tidak tahan, dia mempercepat kocokannya. Dan akhirnya ketika ingin memuntahkan laharnya, dia cepat mencabut batang kemaluannya yang besar dan berurat itu dan ditumpahkannya cairannya diatas pantan bulat istriku.

Setelah selesai, Abah Acan menyuruh istriku mandi air kembang yang disediakannya dan memberikan beberapa ramuan kepadaku untuk diminumkan istriku. Kemudian Abah Acan juga memberikan semacam dildo dari karet, untuk menstimulir birahi istriku, karena katanya istriku hanya dapat orgasme dengan ukuran penis yang besar dan panjang minimal dengan diameter 2 cm dan panjang 20 cm.

Ketika hendak pulang, kutanyakan berapa ongkos tarif terapi yang baru saja dilakukannya. Dikatakannya gratis, untuk istriku karena sudah dibayar dengan tubuh istriku. Dia mengatakan aku merupakan pria yang beruntung mempunyai istri yang lubang kemaluannya kecil dan peret meskipun sudah beranak 2.

Demikianlah pembaca. Setelah kejadian di tempat Abah Acan, istriku sudah mulai berangsur-angsur sembuh dari frigidnya, dan terus menjalankan terapi serta minum ramuan yang dibuat oleh Abah Acan.

TAMAT

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Pijat Sensasi 3

“Bagaimana, kamu senang sayang ?” Ferry berbisik pada Dina istrinya, setelah selesai melakukan “pertempuran” birahi di medan pertempuran baru mereka. Dina yang masih kelelahan, hanya mengangguk sambil tersenyum puas. Diliriknya suaminya sesaat, lalu dia mengecup mesra pipi suaminya itu sebagai ungkapan rasa senang dan terima kasihnya karena telah memberinya sebuah pengalaman yang sangat berkesan. Sambil mencium pipi suaminya, Dina melirik ke arah Darwis yang sedang duduk santai di sudut kamar. Lelaki itu balas memandang ke arahnya sambil menyunggingkan senyum. Dina melirik ke arah pangkal paha lelaki itu. Nampak batang kemaluannya yang terkulai seakan kelelahan setelah memberinya kenikmatan.

 

Hening beberapa saat, tak ada percakapan. Ketiganya, di kamar tidur itu, masih sama-sama dalam keadaan polos, saling terdiam seolah berusaha mengembalikan stamina mereka masing-masing setelah menguras tenaga untuk berlomba memberi dan menerima kenikmatan birahi. Tanpa terasa, satu jam lamanya mereka melangsungkan pertempuran yang seru. Hanya lirikan dan pandangan mata mereka bertiga saja yang mengkomunikasikan antar mereka. Sesekali tangan Ferry menyentuh dan membelai bagian-bagian di tubuh polos Dina. Selebihnya…hening.

 

Namun keheningan itu berakhir cepat. Ferry kembali memegang kendali. Diajaknya Darwis bergabung kembali diatas pembaringan. Saling bincang dan saling canda, tanpa rasa malu atau risih mempertontonkan tubuh bugil mereka masing-masing. Ferrypun memberi ijin pada Darwis untuk bebas memperlakukan tubuh polos istrinya itu sesukanya, demikian sebaliknya. Hingga obrolan dan perbincangan merekapun terselingi kegiatan-kegiatan yang membangkitkan kembali gairah mereka, terutama Dina yang dikelilingi dua lelaki sekaligus. Darwis sendiri, sebagai seorang lelaki yang sudah menduda selama lima tahunan, tentu saja sangat bernapsu memandangi kemolekan dan kemulusan tubuh bugil wanita dihadapannya itu. Apalagi, suaminya mengijinkan sepenuhnya untuk melakukan apapun terhadap istrinya itu sekehendak dan sesuka hatinya. Maka kesempatan itu tak disia-siakannya.

 

Bukan saja terus memandangi betapa merangsangnya tubuh bugil Dina, namun Darwispun selalu menyentuh, meraba dan membelai bagian-bagian tubuh bugil Dina, tanpa kecuali. Hanya bagian selangkangan Dina saja yang tak dijamahnya karena memang selain agak canggung, juga kesulitan oleh posisi Dina yang duduk di atas pembaringan itu. Tindakan Darwis rupanya tak sepihak karena mendapat sambutan dan balasan dari Dina. Sesekali wanita itu, atas ijin suaminya yang sudah memberi kebebasan, menyentuh, membelai ataupun menggenggam batang kejantanan Darwis dan karenanya dengan cepat terbangkitkan lagi.

 

“Kita mulai lagi yuk ? Kamu udah siap lagi sayang ?” Ferry yang juga terbangkitkan gairahnya oleh pemandangan erotis dihadapannya saat tubuh bugil istrinya dijamahi oleh Darwis hingga tubuh polos istrinya itu beberapa kali menggelinjang dan juga saat melihat betapa Dina istrinya sangat senang menyentuh dan memegang batang kemaluan lelaki itu disamping juga terus memegangi batang kemaluan miliknya sendiri, akhirnya memutuskan untuk memulai babak berikutnya.

 

Dina, dengan sikapnya sebagai seorang wanita, hanya senyum memandang suaminya. Dari tatapan matanya, Ferry memahami bahwa istrinya itupun sudah kembali berhasrat untuk melanjutkan petualangan birahinya. Baik Ferry maupun Dina nampaknya sangat bergairah menyambut moment dan babak baru kehidupan seksual mereka. Moment dan babak baru yang baru saja mereka alami, membangkitkan gelora dan hasrat yang demikian menggebu.

 

“Ya udah, kalau gitu, gimana kalau kamu sama Darwis memulai aja dulu, biar aku lebih fresh lagi” ujar Ferry seakan sangat memahami kalau keduanya, Darwis dan Dina istrinya, akan lebih cepat ON bila mereka bercumbu dahulu. Darwis yang sudah lima tahun menduda, tentu sangat haus untuk menikmati tubuh indah wanita dan Dina istrinya, akan lebih bergairah bila bercumbu dengan lelaki baru, yang lebih menantang dan penuh daya misteri.

 

Tanpa menunggu waktu, Ferrypun turun dari pembaringan, memberi kesempatan pada keduanya untuk memulai. Darwis sendiri, setelah memastikan mendapat lampu hijau dari Ferry dan Dina sendiri, langsung menyergap tubuh bugil wanita dihadapannya dengan gairah meluap-luap. Dengan cepat tubuh bugil Dina dibaringkan, lalu dengan penuh napsu berkobar, lelaki itu menciumi sekujur tubuh bugil Dina. Mendapat serangan gencar seperti itu, membuat Dina terkejut juga, namun akhirnya diapun mulai menikmatinya.

 

Dina sangat kaget, sekaligus bergairah, merasakan cumbuan yang demikian panasnya. Dina menyadari, ini semua disebabkan oleh rasa dahaga lelaki ini akan wanita setelah sekian tahun tak didapatkannya. Apalagi kini dia diberi kesempatan seluas-luasnya oleh lelaki yang memiliki hak atas dirinya. Tanpa beban mental, maka lelaki itupun mengambil kesempatan ini sebaik-baiknya. Demikian sebaliknya dengan Dina sendiri.

 

Maka percumbuan keduanyapun berlangsung dengan bergelora. Dina tak lagi ragu mengerang dan merintih merasakan nikmatnya cumbuan lelaki itu. Tak hanya menerima cumbuan, Dinapun membalas dengan rabaan tangannya di tubuh lelaki itu, serta geliatan tubuhnya dan gesekan-gesekan kulit lembut tubuhnya ke kulit tubuh lelaki itu.

 

Dimulai dari leher jenjangnya, terus turun ke bahunya, dada atas, melewati gundukan payudaranya, turun ke bawah, keperutnya, sampai ke bagian sedikit di bawah pusar Dina, lalu ke kedua pinggulnya, ciuman dan jilatan lidah Darwis kembali mengarah ke atas dan akhirnya terkonsentrasi di kedua gundukan payudara Dina.

 

Sementara mulut lelaki itu gencar mencecar kedua payudaranya, tangan lelaki itu terus bergerak menjelajahi sekujur tubuh bugil dirinya sejauh yang dapat dicapainya sampai akhirnya mengarah ke pangkal pahanya. Dina merenggangkan kedua pahanya, memberi jalan. Diawali sebuah usapan lembut dipermukaan vaginanya, membuat Dina semakin merintih dan mengerang kenikmatan. Kembali dibukanya kedua pahanya lebih lebar dan mulailah lelaki itu membuka bibir kemaluannya. Jarinya bergerak lincah namun terukur, mulai menjelajahi permukaan organ kewanitaan Dina, mengalirkan rasa nikmat yang semakin tinggi.

 

“Mmmhhh…mmmhhh…uuukkkhhh…ssshhhh…uuukkkhhh….uuukkkhhh” berkali-kali Dina merintih dan mengerang. Tubuh polosnya yang berada di bawah tindihan tubuh polos lelaki itu terus menggelinjang-gelinjang mengekspresikan kenikmatannya, apalagi saat dirasakannya jari tangan lelaki itu mulai menjamah clitorisnya. Pinggul Dina sampai terangkat naik saat merasakan usapan jari tangan lelaki itu di clitorisnya. Bergerak mengusap-usap beberapa saat untuk kemudian intens melakukan pijatan, gelitikan dan sesekali pilinan di clitoris Dina membuat dirinya semakin melayang dalam kenikmatan yang hebat.

 

Kombinasi permainan jari tangan di clitorisnya dan permainan mulut lelaki itu di putting payudaranya, membuat Dina dengan cepat memuncak. Dinding-dinding liang kewanitaannya dengan cepat mengembang dan basah, siap untuk kembali dimasuki.

 

Dan masukan pertama diterima Dina adalah jari tangan lelaki itu. Seperti yang sudah-sudah, lelaki itu memulai dengan satu jari tangannya, menyelusup masuk dan menusuk dalam-dalam ke liang vaginanya. Menari-nari sebentar didalamnya untuk kemudian menyusul jari tangan kedua, ketiga dan keempatnya. Dina benar-benar tak kuasa menahan seluruh kenikmatannya. Kelopak matanya sayu, bola matanya terbalik-balik, wajahnya berkali-kali tertarik ke belakang, sementara erangan dan rintihannya terus mengalir, ditambah lagi gerakan pinggulnya yang tengah terangkat naik itu, bergerak berputar-putar merasakan seluruh permainan lelaki itu. Dina sudah tak ragu lagi mengekspresikan segala kenikmatannya.

 

“Cu…cuk…kup. Mulai sek…karang” tak tahan lagi Dinapun meminta dimulai babak kedua pertempuran model terbarunya ini.

 

“Mas, sini” sambil menunggu Darwis memulai, Dina meminta suaminya mendekat. Ferrypun langsung mendekat, duduk di samping tubuh polos istrinya itu yang siap menerima masukan pertama di babak keduanya ini.

 

Tanpa menunggu lama, Dina langsung menyambar batang kemaluan Ferry yang sudah menegang akibat menyaksikan pemandangan erotis yang dipertontonkan oleh istrinya dan lelaki pasangannya itu. Sesaat Dina mengamati langkah lelaki itu yang sudah bersiap diantara kedua paha mulusnya. Dina memperlebar bukaan kedua pahanya, sementara dilihatnya Darwis tengah mengarahkan batang kemaluannya ke selangkangan dirinya.

 

“Ssshhh…mmmhhh” sebuah sapuan awal dari kepala batang kemaluan lelaki itu dirasakan Dina dipermukaan vaginanya. Hanya sekali, ya, hanya sekali saja sapuan itu untuk kemudian…

 

“Sssshhhhh….uuuuukkkkhhhh” erangan panjang Dina mengiringi lajunya benaman batang kemaluan Darwis ke dalam lubang kemaluannya. Terus membenam masuk makin dalam, mengalirkan rasa nikmat yang terasakan sampai ke ujung-ujung jari. Ferry melihat, bola mata istrinya terbalik dengan kelopak mata sayu saat Darwis mulai membenamkan batang kemaluannya itu. Nampak sekali kalau Dina istrinya itu sangat menikmati semuanya, dan Ferry tentu saja senang.

 

Sambil mengamati reaksi kenikmatan istrinya, Ferrypun memberi tambahan kenikmatan pada Dina dengan meremas-remas payudara istrinya itu. Sementara itu dilihatnya Darwis terus membenamkan batang kemaluannya semakin dalam dan akhirnya, batang kemaluan lelaki yang seukuran batang kemaluannya sendiri itupun habis membenam seluruhnya ke dalam lubang kemaluan istrinya. Dina sampai menarik kepalanya ke belakang sambil mengangkat dadanya saat merasakan tusukan terdalam Darwis. Keduanya diam sejenak untuk kemudian Darwispun mulai bergerak. Menarik perlahan pinggulnya ke belakang hingga batang kemaluannya kembali muncul, lalu kembali membenamkannya hingga tandas diiringi rintihan dan liukan pinggul indah Dina. Tarik lagi, benamkan lagi. Terus berulang-ulang dengan tempo yang semakin cepat. Dinapun semakin menggeliat-geliat dan mengerang-ngerang dalam kenikmatannya. Sampai akhirnya gerakan Darwis konstan. Belum mencapai puncaknya memang, tapi sudah cukup memberi kenikmatan yang tepat untuk Dina. Hal itu terlihat dari reaksi Dina istrinya.

 

“Ma..ju mas” pinta Dina disela-sela kenikmatannya menerima tusukan Darwis. Ferrypun maju, mendekatkan tubuhnya ke istrinya sampai posisi selangkangannya persis berada di samping wajah istrinya itu. Dengan memiringkan wajahnya, Dina segera melumat batang kemaluan suaminya itu sambil menikmati tikaman-tikaman batang kemaluan Darwis di liang vaginanya. Kedua payudaranyapun terus diremas-remas oleh suaminya dan juga Darwis, memberi efek ganda pada kenikmatan yang didapatkannya.

 

Menit demi menit berlalu, kenikmatan terus dirasakan oleh Dina, dan gairah terus dirasakan meningkat oleh Ferry menyaksikan persetubuhan istrinya dengan Darwis. Sampai akhirnya, Darwispun mempercepat dan memperkuat gerakannya saat Dina meminta. Rupanya Dina sudah merasakan tekanan dalam dirinya dan sebentar lagi akan berada di puncaknya dan akhirnya meledak dengan sejuta kenikmatan hingga membuat tubuhnya bergetar dan mengejang hebat.

 

Benar saja, kurang dari dua menit kemudian, Ferry merasakan cekikan jari tangan Dina di batang kemaluannya. Didahului pekikan panjang istrinya itu, terlihat tubuh bugil Dina langsung mengejang hebat lalu bergetar. Dina sudah mendapatkan hasilnya. Ferry bersiap menggantikan posisi Darwis.

 

Tanpa berucap, baik Ferry maupun Darwis seakan sudah saling mengerti. Darwis mundur dan Ferry maju menggantikan.

 

“Aku diatas mas” rupanya Dina menginginkan ganti posisi. Ferrypun langsung berbaring telentang, dan Dina bangkit lalu mengangkangi tubuh bugil suaminya persis diatas selangkangannya. Diraihnya batang kemaluan Ferry dan diarahkannya ke selangkangannya untuk kemudian….

 

“Sssshhhh….uuuukkkhhh” erang Dina mengiringi gerakan turun tubuh bugilnya. Batang kemaluan Ferrypun membenam masuk ke dalam lubang kemaluannya. Terus turun sampai menduduki selangkangan suaminya itu. Diam sejenak untuk kemudian mulai bergerak naik turun. Ferrypun langsung menangkap kedua payudara istrinya itu yang membusung menantang, sementara Darwis duduk menonton sambil mengocok-ngocok batang kemaluannya sendiri untuk mempertahankan ketegangannya.

 

Gerakan naik turun Dina diatas selangkangan Ferry, makin lama makin cepat. Demikian juga dengan erangan dan rintihan kenikmatannya, semakin cering dan panjang. Pinggul indahnya bergerak lincah, berputar-putar atau maju mundur sambil terus tubuhnya naik turun. Nampak butiran-butiran keringat mulai bermunculan dari sela-sela pori tubuh polosnya, menampilkan sosok tubuh yang terlihat makin segar dan menggairahkan.

 

“Mas…Darwis, sini” panggil Dina tak tega membiarkan lelaki itu sendirian. Sambil terus naik turun diatas selangkangan suaminya, Dina meminta lelaki itu berdiri disisinya, lalu tanpa ragu lagi menangkap batang kemaluan lelaki itu dan menggenggamnya erat-erat. Sesekali sambil terus turun naik diatas selangkangan suaminya, Dina menyempatkan mengulum batang kemaluan lelaki disampingnya itu, atau sekedar mengocok batang kemaluan lelaki itu dengan kelembutan jari tangannya. Terus dia lakukan semua gerakannya sampai tekanan kembali dirasakannya. Secara otomatis, Dinapun meningkatkan kecepatan gerakan tubuhnya.

 

Ditengahnya gerakan turun naik tubuh bugil Dina, sesekali Darwis menyempatkan menangkap payudara wanita itu yang tengah menikmati batang kemaluan suaminya sendiri. Dina terlihat semakin bergerak cepat, sementara butiran-butiran keringatnya semakin banyak dan mulai membasahi tubuh bugilnya itu, namun seakan dia tak perduli. Nampaknya sesaat lagi Dina akan mendapatkan hasilnya.

 

“Aaakh Masshh!” benar saja. Diiringi pekikan panjangnya, Dina langsung ambruk menindih dan memiting tubuh bugil suaminya dengan kuat. Terlihat tubuhnya yang mulai basah kuyup itu mengejang hebat. Ferry merasakan seluruh batang kemaluannya diremas-remas dan dihisapi lubang kemaluan istrinya itu dengan sangat cepat dan kuatnya. Untuk sesaat, Ferry membiarkan istrinya menikmati dahulu seluruh kenikmatan yang baru didapatkannya itu.

 

Sementara Darwis yang masih berdiri di samping keduanya, sambil mengocok-ngocok sendiri batang kemaluannya, memandangi tubuh bugil Dina di hadapannya. Walau yang terlihat hanya bagian belakang tubuhnya, tetap saja kemolekan tubuh telanjang wanita itu sangat menggairahkan sekali. Kulitnya yang putih bersih dan mulus, nampak terlihat semakin segar karena dibasahi oleh keringat. Pada tengkuknya, terlihat untaian-untaian anak rambut yang melekat erat oleh basah keringatnya, seolah membentuk lukisan-lukisan erotis yang tergores dengan indahnya. Bahu Dinapun memberi daya rangsang birahi tersendiri. Punggung indahnya nampak bergerak turun naik oleh hembusan napasnya yang memburu karena baru saja bekerja keras untuk mendapatkan kepuasan birahinya. Sementara pinggang rampingnya, berpadu dengan pinggul bulat dan mencuat ke luar membentuk lekukan indah dan berdaya tarik birahi kuat. Ditambah bongkahan pantatnya yang membusung padat, rasanya memiliki daya tarik tersendiri. Daya tarik yang seakan magnet untuk menggerakkan tangan setiap lelaki normal untuk meremas dan membelainya. Darwis sudah cukup merasakan bagaimana nikmatnya permukaan selangkangannya dan batang kemaluannya akan  kelembutan, kepadatan dan kenikmatan tersendiri bila bergesekan dan berhimpitan dengan bongkahan pantat indah itu. Darwis semakin tak sabar ingin kembali diberi giliran untuk menikmati tubuh molek wanita itu, namun dia harus bersabar karena hak dan ijin atas seluruh keindahan dan kemolekan tubuh polos wanita itu berada di tangan Ferry, suaminya yang saat ini tengah menikmatinya.

 

Dan tatkala datang ijin itu, Darwispun bersorak senang. Masih dalam posisi merangkak menindih tubuh bugil suaminya itu, Darwis dipersilahkan melanjutkan. Dari arah belakang, Darwispun segera bertindak. Saat Ferry sudah melepas batang kemaluannya sendiri dari liang kemaluan istrinya itu, Darwispun langsung menggantikan.

 

“Sssshhh…mmmhhh….” kembali erangan wanita itu meluncur saat lubang kemaluannya dimasuki batang kemaluan Darwis. Langsung membenam masuk seluruhnya. Darwis masih merasakan remasan-remasan dinding lubang vagina istrinya Ferry itu di seluruh batang kemaluannya yang kini sudah membenam habis kedalamnya. Untuk sesaat Darwis diam, meresapi kelembutan, kehangatan dan kenikmatan lubang kemaluan wanita itu yang masih berdenyut-denyut, sisa dari klimaks yang baru didapatkannya. Sambil menunggu, tangan Darwispun tak tinggal diam. Seluruh permukaan bagian belakang tubuh polos Dina diusap-usapnya sampai ke bongkahan pantat indahnya, meresapi betapa halus dan lembutnya permukaan kulit tubuh bugil wanita itu. Lalu dengan penuh perasaan, diremas-remasnya bongkahan pantat istrinya Ferry itu.

 

“Mmmhhh…mmmhhh…” kembali didengarnya rintihan wanita saat Darwis mulai bergerak. Perlahan, penuh penghayatan meresapi nikmatnya cengkeraman lubang kemaluan wanita di batang kemaluannya. Bergerak mundur perlahan, lalu kembali dibenamkannya sampai terasa menusuk dasar lubang kemaluan wanita itu. Kembali bergerak mundur, lalu maju lagi. Terus berulang-ulang memberi dan menerima kenikmatan bersama ibu rumah tangga yang luar biasa ini. Darwis sangat beruntung memperoleh kesempatan menikmati sepenuhnya tubuh ibu rumah tangga ini.

 

Sambil terus bergerak maju mundur, kedua tangan Darwis tak henti-hentinya meremasi kedua bongkahan pantat Dina, seakan kedua tangannya hendak memuaskan diri menikmati bongkahan pantat yang sangat merangsang itu.

 

Perlahan namun pasti, Darwis semakin mempercepat gerakannya. Perlahan namun pasti, Dinapun merasakan aliran kenikmatan yang semakin intens mengalir ke dalam dirinya. Sambil menikmati tusukan batang kemaluan lelaki di belakangnya, Dina berpagutan dengan suaminya yang berada di bawah tubuh polosnya itu. Kedua tangan suaminyapun sejak beberapa saat lalu, intens memberi stimulasi tambahan dengan meremasi kedua payudaranya yang tergantung bebas itu, memberi nilai tambah akan kenikmatan yang dirasakan Dina. Sungguh, ternyata melayani dua lelaki sekaligus, kenikmatannya tak terbayangkan. Sensasi dan ketegangannya sangat berbeda, memacu adrenalinnya secara maksimal. Belum lagi, kepuasannya karena dapat merasakan kenikmatan birahi secara maksimal dan sangat memuaskan. Dirinya dapat meraih seberapapun puncak kenikmatan yang ingin diraihnya, sepanjang tenaganya tersedia.

 

Sisa-sisa puncak kenikmatannya telah habis, dan karenanya Dina dapat kembali meresapi sepenuhnya tahap pendakian puncak kenikmatan birahi berikutnya. Gesekan, tekanan dan tusukan batang kemaluan Darwis dari belakang, kembali mengalirkan rasa nikmat yang bersumber dari dalam liang kenikmatannya. Dina terus merintih dan mengerang merasakan kenikmatan birahinya yang dia rasakan dari sejak tadi pagi, dan Dina masih ingin terus merasakan semuanya. Kesempatan yang mungkin tak akan terulang lagi ini ingin dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk mendapatkan kepuasan setinggi-tingginya. Dan itu, kini sedang dilakukannya.

 

Gerakan Darwis semakin cepat dan kuat. Aliran kenikmatan terus mengalir ke dalam tubuhnya, dikombinasi dengan lecutan dan sentakan kenikmatan saat ujung batang kemaluan lelaki itu menghantam ujung liang rahimnya dan juga dasar lubang vaginanya. Pinggul dan pantat bulat indahnya, bergerak-gerak liar mengiringi lajunya tusukan batang kemaluan lelaki itu. Dina merasakan juga, jari-jari tangan lelaki itu terus menerus meremasi kedua bongkahan pantatnya, menghadirkan sensasi tersendiri. Apalagi di bagian depan tubuhnya, dibawah tubuh bugilnya, suaminya Ferry terus memberikan kenikmatan tersendiri dengan mencumbu kedua payudaranya. Lengkap sudah rasanya kenikmatan birahi yang dialami dan dirasakannya hingga memacu tekanan dalam dirinya. Tekanan yang sangat dihafalnya. Tekanan yang menandakan dirinya akan segera kembali mendapatkan ledakan puncak kenikmatan birahinya yang mampu melontarkan sukmanya jauh ke ketinggian yang kemudian akan menghempaskannya dengan kuat dalam hamparan keindahan dan kedamaian. Untuk beberapa saat lamanya nanti, dirinya akan merasakan kehilangan tenaga, daya dan segala sesuatunya. Tulang-tulang tubuhnya seakan dilolosi. Namun untaian kebahagiaan dan kepuasan akan menyelimuti seluruh batinnya. Dan Dina menginginkan hal itu terus berulang. Berulang dan berulang sampai waktunya selesai nanti.

 

“Uuukkkhhh maaassshhh….leb…bih cep…pat…leb…bih cep…paaatt. Yaaa…… terus…ter…rus, ak…ku mau….da…pet la…ggiiii….ooouuuukkkhh….” Dina meminta Darwis mempercepat gerakkannya karena merasakan tekanan dalam dirinya semakin memuncak dan hampir mendapatkan klimaks berikutnya. Darwispun langsung menggenjot tubuhnya sehingga benturan permukaan selangkangan lelaki itu dengan permukaan pantat Dina, menimbulkan suara bertepuk yang cukup keras. Tubuh bugil Dina yang semakin basah oleh keringat itupun sampai terhentak-hentak kuat hingga Ferry suaminya yang berada di bawah berusaha menahan hentakan tubuh bugil istrinya itu agar dapat terus mengulum dan menjilati putting payudaranya. Darwis terus bergerak, Dinapun terus mengerang dan merintih sambil memutar-mutar pantat indahnya hingga akhirnya..

 

“Mmmaaaassshhh !” pekiknya panjang disusul kemudian wanita itu memeluk kuat tubuh bugil suaminya yang berada di bawahnya. Darwis menghentikan gerakannya sambil menekan kuat-kuat tubuhnya agar batang kemaluannya membenam sedalam-dalamnya di lubang kemaluan istrinya Ferry itu. Darwis kembali merasakan remasan dan hisapan lubang kemaluan Dina di seluruh batang kemaluannya. Sambil memberi kesempatan kepada Dina untuk menikmati semuanya terlebih dahulu, jari-jari tangan lelaki itu terus meremas-remas bongkahan pantat Dina.

 

Untuk beberapa saat lamanya Dina meregang dan mengejang sampai berangsur-angsur badai pucak kenikmatan birahinya mereda. Setelah itu, tanpa dikomando, Darwis kembali menyingkir, memberi kesempatan pada Ferry, suami wanita itu, untuk melanjutkan.

 

Ferry menelentangkan tubuh bugil Dina, istrinya. Lalu dengan cepat diapun membenamkan batang kemaluannya ke dalam lubang kemaluan istrinya itu. Dina kembali merintih merasakan terobosan batang kemaluan suaminya. Dina sungguh-sungguh merasa bergairah sekali merasakan lubang kewanitaannya bergantian dimasuki dua batang kemaluan lelaki berbeda. Kenikmatannya seakan tak pernah berakhir, walau sekujur tubuh bugilnya sudah bermandikan keringat.

 

Dina tak menyangka, ternyata melayani dua lelaki sekaligus itu, nikmatnya luar biasa dan sangat puas karena dapat mereguk kenikmatan birahi sebanyak-banyaknya.

 

Kali ini Ferry suaminya yang memberinya kenikmatan. Sementara Darwis menunggu giliran berikutnya sambil duduk disamping tubuh bugil Dina. Tangannya terus menjelajahi permukaan tubuh polos Dina dihadapan suaminya yang sedang sibuk menusuk-nusukkan batang kemaluannya ke dalam lubang kemaluan istrinya itu. Dinapun, sambil menikmati tusukan batang kemaluan suaminya dan remasan serta belaian tangan Darwis di kedua payudaranya, jari-jari tangan lembut Dina terus memegangi batang kemaluan lelaki itu seakan takut kehilangan.

 

Selesai mendapatkan satu klimaksnya lagi, Dina gantian menerima masukan dari Darwis. Sekujur tubuh bugilnya semakin basah kuyup, namun dirinya masih ingin melanjutkan mereguk kenikmatan birahinya itu. Seakan memiliki tenaga ekstra, Dina sungguh-sungguh ingin merasakan selama mungkin liang kewanitaannya bergantian di tusuk-tusuk dua batang kemaluan lelaki pasangan senggamanya itu.

 

Posisi berikutnya kembali berubah. Kali ini dalam posisi duduk berhadapan dengan suaminya. Sama-sama mengambil peran aktif. Sama-sama bergerak dan sama-sama menikmatinya. Walau kelelahan mulai menderanya, namun Dina masih belum ingin berhenti. Masih ingin menikmati hujaman kedua batang kemaluan itu di liang kenikmatannya.

 

Namun akhirnya, setelah hampir satu jam lamanya, Dina tak bisa memungkiri daya tahan tubuhnya. Tenaganya seakan telah terkuras habis, sementara bagian vaginanya mulai merasakan linu. Dina meminta diselesaikan dulu dan ingin beristirahat dahulu.

 

Akhirnya setelah Darwis dan suaminya Ferry menyelesaikan satu putaran lagi dan keduanya mendapatkan hasilnya, Dinapun terkapar tak berdaya namun dengan tingkat kepuasan yang luar biasa. Selangkangannya terasa linu namun kenikmatannya masih terus dirasakannya. Liang kewanitaannya yang akhirnya terbebas dari “serangan” kedua batang kemaluan lelaki pasangannya itu, terasa berdenyut-denyut nikmat. Sementara tubuhnya yang masih polos itu seakan tak bertenaga. Keringat benar-benar membanjiri sekujur tubuh bugilnya. Dina beristirahat dengan diapit oleh Ferry suaminya dan Darwis “suami” keduanya. Mereka bertiga beristirahat untuk kembali mengumpulkan tenaga dan akan melanjutkan babak berikutnya.

 

(Bersambung)

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Pijat Sensasi 2

Di dalam kamar, Dina hanya bisa merenung. Dirinya masih tak percaya, kalau baru saja dirinya melakukan sesuatu yang sangat-sangat tidak dibenarkan sesungguhnya kalau menurut etika dan moralitas, namun dirinya tak berdaya dan tak kuasa lagi menolak dan mencegah semua itu. Tarikannya demikian kuat. Dina tak pernah merasakan dan mengalami gairah sehebat tadi. Bahkan selama berumah tangga dengan Ferry suaminya.

 

Apakah ini selingkuh ? Entahlah. Namun dirinya tak bermaksud dan memang tak melakukan apa yang disebut selingkuh. Dirinya tak menduakan suaminya dengan lelaki lain, bahkan dengan lelaki yang baru saja melakukan percumbuan dengannya tadi itu. Dina berargumen, dirinya tak melakukan sesuatu yang secara hakikat disebut selingkuh. Tidak. Dirinya tak melakukan hal itu.

 

Apa ini sebuah upaya pembenaran atas apa semua yang telah dilakukannya ?  Mungkin. Tapi itu yang sesungguhnya. Semua itu terjadi dan berjalan begitu saja dan tanpa beban perasaan, dalam arti kata cinta. Semua hanya…biologis. Ya, hanya itu.

 

Namun, secara etika dan moral, memang apa yang telah dilakukannya itu memang tidak dapat dibenarkan. Namun kembali, dirinya sungguh tak kuasa lagi menolak atau menghindarinya. Tarikannya demikian kuat dan hebatnya. Bahkan, sampai saat inipun, dirinya masih merasakan sisa-sisa kenikmatannya itu dengan kuat. Pada bagian organ kewanitaannya, masih merasakan denyutan-denyutan rasa nikmat. Bahkan rasanya, rongga kewanitaannya masih terasa seperti diganjal sesutau yang demikian nikmatnya. Suatu perasaan nikmat dan kepuasan yang belum pernah dirasakannya selama ini, bahkan setelah sekian lamanya mengarungi rumah tangga dengan suaminya itu. Atas semua ini, apakah dirinya bisa disalahkan sepenuhnya ?

 

Rasa lelah dan kegundahan hatinya, membuat Dina akhirnya terlelap tanpa sadar, masih berbalut selembar kain yang tadi digunakannya.

 

Hari telah cukup larut saat dirinya tersadar. Tak dijumpainya Ferry, suaminya. Dina langsung bangkit dan memutuskan untuk membersihkan tubuhnya.

 

Selesai mandi, dikenakannya sebuah gaun dengan belahan dada yang agak rendah sehingga memperlihatkan belahan dadanya. Di bagian bawah, gaun itu hanya sebatas setengah pahanya, sehingga memperlihatkan sepasang paha indahnya. Dina bermaksud menemui suaminya dengan penuh kemesraan. Sikap mesra yang diberikannya sebagai sebuah ucapan terima kasih karena telah memberinya kesempatan untuk mendapatkan sesuatu yang amat menyenangkannya, walau tentu tak mungkin dia menceritakan sepenuhnya. Setidaknya dirinya dapat mengatakan kepada suaminya kalau dirinya berterima kasih karena diberi kesempatan dipijat oleh Darwis sehingga sekujur tubuhnya terasa fresh dan rileks. Ya, setidaknya untuk itu.

 

“Sudah makan mas ?” sapanya saat menjumpai suaminya tengah duduk santai di ruang tamu sambil membaca sebuah majalah.

 

“Belum” jawab Ferry singkat.

 

“Lho khok belum sih ?  Kenapa tak membangunkan aku ?” ujar Dina merasa bersalah sambil melirik ke jam dinding. Waktu menunjukkan pukul 8 malam lewat dua puluh menitan.

 

“Habis, kayaknya kamu pulas dan nyaman sekali tidurnya” balas Ferry sambil melirik sejenak ke arah istrinya, lalu kembali mengarahkan pandangan matanya ke majalah yang masih dipegangnya itu. Sekilas Ferry melihat penampilan istrinya itu yang demikian sensualnya. Andai saja, kejadian tadi siang itu tak terjadi, pasti Ferry akan memburu istrinya itu dan mencumbunya. Namun kali ini, Ferry merasa ada sesuatu yang membuat dirinya agak enggan untuk melakukan hal itu. Masih terbayang jelas dimatanya saat menonton istrinya itu bergumul dengan lelaki pemijatnya itu. Dina istrinya terlihat demikian menggebu-gebu gairahnya dan demikian menikmatinya. Ada terselip kecemburuan dalam dirinya.

 

Tapi kenapa ?  Bukankah dirinya menikmati juga saat itu ?  Dan secara tidak langsung, dirinya membiarkan semua itu terjadi, karena selain memberi kesempatan kepada istrinya untuk melakukan hal itu, juga dirinya tak mencegah, bahkan justru…menikmatinya. Salah siapa ?

 

Atas semua yang terjadi, bisa dikatakan kalau hal itu adalah atas kehendak dan keinginan dirinya sendiri ?  Mengapa harus menyalahkan istrinya ?

 

Ferry menarik napas panjang, seakan hendak melepaskan beban berat dalam dirinya. Perhatiannya tak tertuju ke bacaannya, namun menerawang. Mengingat, membayangkan dan mempertimbangkan atas semua yang baru dialaminya dalam kehidupan rumah tangganya. Ferry coba kembali merenung, kejadian tadi siang itu, bukan saja hanya istrinya yang menikmati, namun juga dirinya. Ya, dirinya.

 

Ferry diam-diam mengutuk dirinya sendiri. Diam-diam mengecam dirinya sendiri. Apakah aku ini suami yang normal, membiarkan, bahkan justru menonton istrinya sendiri bercumbu dengan lelaki lain ?  Tak melakukan tindakan apa-apa. Tak mencegah, bahkan justru…menikmatinya.

 

Ya, menikmatinya. Rasanya kini dirinya terbakar lagi demi membayangkan kejadian tadi siang. Dengan jelas sekali Ferry melihat istrinya yang berada dalam rengkuhan lelaki pemijatnya itu. Jelas sekali, istrinya sangat menikmati apa yang dilakukannya, hingga akhirnya istrinya itu melakukan sesuatu yang selama ini hanya dilakukan dengannya. Istrinya, Dina, dalam keadaan polos, menerima seluruh tindakan lelaki itu.

 

Ya, seluruh tindakan. Sampai akhirnya, Dinapun menerima juga kehadiran lelaki itu. Hadir dalam kehidupan dan dunia pribadinya. Hadir dan datang sepenuhnya. Dina menyambutnya, dan akhirnya…istrinya itupun menerima semuanya.

 

Masih terbayang di pelupuk mata Ferry, betapa istrinya sangat menikmati masukan lelaki itu. Setiap kali lelaki itu bergerak, Dina sampai merintih dan mengerang kenikmatan. Terlihat jelas betapa istrinya sangat menikmatinya, bukan hanya dari rintihan dan erangannya saja, namun juga tergambar pada ekspresi wajah dan gerakan tubuhnya.

 

Dan semua itu, siang tadi, saat kejadian itu berlangsung, Ferry justru ikut menikmatinya, menyaksikan dalam keadaan polos istrinya dan lelaki itu saling memberi dan menerima kenikmatan birahi. Ferry sangat bergairah menyaksikan tubuh polos istrinya itu dalam cumbuan tubuh polos lelaki lain. Ferry sangat bergairah melihat betapa Dina istrinya sangat kenikmatan. Ferry terus menikmatinya, bukan….mencegahnya !  Jadi itu semua, salah siapa ? Istrinya ?  Mungkin. Tapi yang pasti, dirinya sendiri. Dan Ferry tak memiliki alasan untuk menyalahkan Dina istrinya itu, apalagi memarahinya.

 

Kekakuan akhirnya tak terelakkan. Suasana kaku yang hadir tanpa dapat dicegah. Entah bagaimana Ferry ingin bersikap, rasanya bingung. Keadaan batinnya tak bisa disingkirkan begitu saja, hingga terproyeksi dalam sikapnya. Sebaliknya, Dina sendiri, juga merasakan hal yang sama. Kejadian tadi siang membuat dirinya merasa bersalah. Ada terselip perasaan bersalah sekaligus takut kalau-kalau suaminya mencium gelagatnya. Apa yang dilakukannya saat ini untuk suaminya, terasa kaku dan canggung. Namun masing-masing tak sempat mempertanyakan dan memasalahkan sikap pasangannya, karena masing-masing dirinya tengah bergelut dengan perasaan batinnya sendiri.

 

Sampai tiga hari berturut-turut, baik Ferry maupun Dina mencoba mengembalikan suasana. Dan upaya mereka, patut disukuri karena nampaknya berhasil. Namun tetap saja, bila masing-masing teringat akan kejadian itu, maka rasa canggung dan rikuh kembali menyergap. Dan selanjutnya, masing-masing coba secepatnya menyingkirkan semua itu. Setelah satu minggu lamanya, keadaan nampaknya telah kembali normal. Masing-masing seakan telah dapat menerima kejadian itu.

 

Hanya celakanya, dengan sikap penerimaan itu, justru membawa ke tahap berikutnya. Antara sadar dan tidak, baik Ferry maupun Dina istrinya, terseret dengan perasaannya masing-masing, yang sejauh ini hanya dirinya sendiri yang mengetahuinya dan tak di ungkapkan ke masing-masingnya. Seakan semua itu menjadi rahasia sendiri-sendiri.

 

Ya, Ferry merasakan sesuatu yang aneh dan sulit diterima oleh akalnya. Dirinya ingin kembali menyaksikan istrinya bergumul dengan lelaki lain. Ferry ingin menikmati saat-saat yang demikian menggairahkannya itu.

 

Sebaliknya Dina. Kenangan betapa nikmatnya percumbuan itu, menghadirkan rasa rindu, apalagi sejak seminggu ini Ferry suaminya tak memberikannya. Dan memang Dinapun tak memintanya. Situasi yang tidak mendukung untuk itu.

 

Namun kini, nampaknya siklus gairahnya telah kembali. Dan saat kembali, dirinya langsung teringat betapa seminggu yang lalu dirinya mendapatkan sesuatu yang luar biasa. Sesuatu yang hanya didapatkannya saat itu. Dan kini, dirinya ingin kembali merasakannya. Apakah hal itu bisa didapatkannya dari suaminya ?

 

Berharap demikian. Namun rasanya sulit. Karena selain keadaan yang tengah menyelimuti kehidupan hubungan suami istrinya selama seminggu ini, juga rasanya tidak mungkin. Ini semua disebabkan oleh faktor psikologis. Dirinya tak akan merasakan ketegangan yang sama saat melakukannya dengan suaminya sendiri. Beda dengan saat melakukannya dengan Darwis seminggu lalu. Lelaki itu jelas lelaki asing. Secara norma hukum, etika dan moral, tidak dibenarkan. Namun justru disini letak misteri dan ketegangannya. Disinilah letak kelebihannya, yang tak didapatkannya dari suaminya.

 

Mungkin secara pisik, tak ada perbedaan antara suaminya dengan lelaki pemijat itu, namun yang pasti…secara emosional. Walau dengan sembunyi-sembunyi, Dina dapat memastikan kalau sumber kenikmatan yang didapatkan dari lelaki itu, tak berbeda dengan yang dimiliki suaminya. Baik kualitas, kuantitas maupun durasinya. Tak banyak beda. Namun mengapa terasa demikian nikmatnya ?

 

Dan semua itu, kini diam-diam dan tanpa diinginkannya, kembali hadir. Kembali ingin diraihnya dan dinikmatinya. Namun, tentu saja, itu semua tak mungkin untuk diutarakan dan dinyatakannya. Hanya sebuah keinginan yang nampaknya harus dipendamnya dan dibuangnya kemudian. Keinginan yang jauh panggang dari api.

 

Momen dan kendali di tangan Ferry, sebagaimana awalnya dulu. Hanya Ferry sendiri yang dapat mengujudkan fantasi, fariasi dan sensasi itu hadir kembali. Dan Ferrypun tak kuasa membendung keinginannya. Hanya kali ini, Ferry berharap, dirinya tak hanya sekedar menonton semua keasikan dan kemeriahan acara itu, namun ikut terjun ke dalam arena. Bagaimana nanti bentuk permainan dan acaranya, biarlah waktu dan naluri yang membimbingnya.

 

Dorongan yang kuat akhirnya membuat Ferry mengambil langkah dramatis. Skenario di susun, persiapan dilakukan. Suasana diciptakan dan lingkungan di sterilkan.

 

Langkah pertama, “mengungsikan” anak-anak ke mertuanya. Dengan alasan ada hal yang perlu dibicarakan serius dengan ibunya, anak-anakpun mengerti. Diatur agar anak-anak mengatakan pada ibunya akan menginap kembali di rumah nenek, akhirnya tahap pertama berjalan mulus.

 

Tahap kedua, mengubungi Darwis kembali. Membicarakan dengan lelaki itu secara terbuka. Walau mulanya lelaki itu terkejut karena kejadian beberapa hari yang lalu ternyata diketahuinya, namun karena Ferry sudah tidak mempersoalkannya, bahkan meminta lelaki itu untuk kembali memberi sesuatu yang diinginkan dirinya dan juga pasti diinginkan kembali oleh istrinya, maka akhirnya lelaki itu bersedia. Bahkan untuk babak ini, akan dilakukan sesuatu yang berbeda. Dan itu semua sudah diatur dan direncanakan dengan matang, tanpa diketahui Dina tentunya.

 

Tahap ketiga, Ferry meminta ijin ke kantornya untuk libur tiga hari dengan alasan ada urusan keluarga. Selama tiga hari itu dipersiapkan dan direncanakan akan melakukan sebuah petualangan baru dalam kehidupan rumah tangganya.

 

Tanpa kesulitan, Ferry dapat menghadirkan Darwis kembali. Alasannya enteng saja, sudah lebih dari satu minggu tak dipijat. Dinapun tak berkutik. Jam delapan pagi, Darwis datang. Disambut, walau Dina nampak terlihat kikuk, namun Ferry berpura-pura tak mengetahuinya.

 

Untuk tak menimbulkan kecurigaan Dina, Ferrypun mendahului dipijat. Setelah itu, dengan sedikit memaksa, Dinapun akhirnya bersedia. Nampak sekali sikap kikuk dan canggung Dina, seperti saat dia pertama kali dipijat lelaki itu. Namun Ferry tahu apa yang menyebabkan istrinya sampai sekikuk dan secanggung itu.

 

Dina sendiri, dengan berbagai perasaan, membiarkan dirinya mulai “disentuh” kembali lelaki itu. Dan “kerinduan” akan segala rasa minggu lalu kembali menyeruak ke dalam dirinya. Dengan sekuat tenaga berusaha dihapus dan disingkirkannya, namun sia-sia. Dan Dina merasa putus asa atas semua ini.

 

Kedahagaannya, kerinduannya akan saat-saat yang berkesan minggu lalu kembali menekan dirinya. Namun dirinya tak tahu harus berbuat apa. Saat ini rasanya tak mungkin. Suaminya yang masih sepagi ini, nampak segar bugar dan tak akan ada kejadian seperti minggu lalu. Peluang itu nampak tertutup.

 

Ah, apakah aku sudah gila ?  Aku menginginkan kembali dekapan lelaki bukan suamiku ini ?  Ini gila ! batin Dina dalam segala pertarungan batinnya. Ini tak boleh terjadi lagi. Satu kali sudah cukup. Tapi….akh. Mengapa keinginan ini demikian kuatnya ?  Haruskah aku lari ?  Oh mas Ferry, bantulah aku. Suruh lelaki ini pergi, dan selesaikanlah kedahagaanku, batinnya putus asa.

 

Akan tetapi, tanpa diketahuinya, keadaan justru memojokkannya. Tiba-tiba suara HP suaminya berdering. Ferry langsung mengangkat teleponnya. Dan Dina, entah harus bersedih, takut ataukah justru…senang. Suaminya harus segera ke kantor ada sesuatu yang harus dikerjakannya saat ini juga. Dan tanpa bisa berbuat apa-apa, suaminya langsung  bangkit dan meninggalkannya hanya berdua dengan lelaki yang masih memijatnya itu.

 

“Sudah, kamu lanjutkan saja Wis, aku mau keluar dulu” pesan Ferry suaminya, lalu dengan bergegas beranjak pergi. Dina benar-benar bingung dan tak tahu apa yang harus diperbuatnya. Detik demi detik berjalan terasa lambat dan semakin menegangkan. Dina hanya bisa diam.

 

Dengan berhati-hati, Ferry memutar ke arah belakang, lalu di balik tembok yang memisahkan kamar tidurnya dengan sebidang sisa tanah yang dijadikannya taman kecil, Ferry duduk bersandar di bawah jendela kamarnya. Matanya sesaat mengamati sekeliling. Mengamati apakah situasi aman. Dan dari pengamatannya, dirinya merasa puas dan merasa sangat yakin, situasi sangat aman untuk dapat mengadakan “pesta” khususnya itu. Matanya masih menatap ke sekeliling. Di seberang taman kecil, disebelah Timur rumahnya, batas tanah miliknya dengan tanah sebelah dibatasi tembok yang cukup tinggi. Tembok yang dibuat oleh pemilik tanah sebelah itu untuk mengamankan lokasi tanah miliknya itu, justru membantu privasi rumah Ferry sendiri. Tak ada aktivitas di tanah yang dikelilingi tembok tinggi itu, dibiarkan saja kosong oleh pemiliknya, walau sudah dikuasainya beberapa tahun.

 

Sementara di depan, di bagian Utara, walau pagar yang dibuatnya tak semewah tembok tanah sebelah, namun dengan sentuhan artistik, pagar rumahnya terlihat sangat alami. Tumbuhan rambat hampir menutup rapat pagar depan rumahnya. Sementara di seberangnya, setelah dipisahkan jalan selebar 6 meteran, ada sebuah lapangan rumput yang cukup luas yang sesekali biasa digunakan anak-anak kecil untuk bermain bola. Di bagian belakang, atau sebelah Selatan, dipisahkan oleh bangunan gudang yang cukup besar. Sementara di sebelah Barat, dipisahkan oleh tanah kosong yang seolah tak bertuan. Pagarnya tak semewah bidang tanah di sebelah Timur, namun tetap rapat, sebagian oleh tembok yang sudah termakan usia, sebagian lagi oleh rapatnya pohon-pohon besar yang tumbuh di areal tanah itu. Lokasi rumahnya memang masih jarang penghuninya, karena memang Ferry hanya mampu membeli di daerah yang seperti ini.

 

Setelah memastikan semuanya aman, Ferry mulai berkonsentrasi mendengarkan suara-suara yang muncul dari balik kamar tidurnya. Untuk melihat ke dalam, itu tidak mungkin. Karena selain daun jendelanya tertutup rapat, juga tak ada celah untuk melihat ke dalam, kecuali dari lubang ventilasi atas, dan itupun tidak mungkin karena bayangan tubuhnya akan terlihat jelas di balik gordyn jendela kamar tidurnya.

 

Belum ada suara terdengar. Ferry menunggu dengan sabar. Dirinya sangat yakin kalau rencana yang sudah disusunnya ini akan berhasil, dan akhirnya dirinya dan istrinya itu akan memulai babak baru dalam kehidupan seksual mereka selanjutnya.

 

Di kamar, Dina sendiri masih terdiam, sementara Darwis terus memijatnya. Pergolakan batinnya meningkat, antara lanjut dan menghentikan semua ini sebelum terlambat, namun Dina merasa kesulitan untuk mengambil sikap. Setidaknya, saat ini.

 

Ingin rasanya dia berucap, cukup. Cukup sampai disini saja. Tapi….akh, lidahnya terasa kelu, bibirnya terasa terkatup rapat. Batinnya bergolak, sementara suasana dan keadaan makin kritis. Dirinya berada di persimpangan jalan. Jalan mana yang harus diambilnya, dirinya tak mampu memutuskan. Sementara waktu terus berjalan dan keadaan semakin menyudutkannya.

 

Dalam kebimbangannya, tekanan akan kerinduan dan memori satu minggu sebelumnya menyeruak perlahan namun pasti. Dina berusaha menekan dan menyingkirkannya, namun tak mampu. Dengan putus asa digigitnya bibirnya sendiri, berusaha keluar dari masalahnya saat ini.

 

Sampai akhirnya, dengan terkesiap Dina merasakan kalau lelaki itu mulai melakukan sesuatu yang berbeda dari sebelumnya tadi. Saat ini Darwis tak lagi memijat melainkan…membelai-belainya. Ingin rasanya dirinya berontak, namun kekuatannya terasa hilang.

 

“Bu, tubuh ibu indah sekali”  Deg !  Ukh gila. Lelaki ini benar-benar sudah terlihat keinginannya, batinnya. Ini tak boleh lagi. Tak boleh lagi terulang, batinnya berontak.

 

Sementara di balik tembok kamar tidur, Ferry justru senang, sekaligus, tegang. Percakapan di dalam, sudah dapat menggambarkan apa yang sedang terjadi di dalam kamar tidurnya.

 

“Terima kasih”  Akh, kenapa harus itu yang keluar dari celah bibirnya ?  Sudah tak waraskah dirinya ?  Antara keinginan hati dan ucapannya tak sejalan ?

 

Tapi apa iya ?  Apa iya hatinya menginginkan untuk berontak dan tak ingin kejadian minggu lalu terulang lagi ? Apakah benar hatinya tak mau melakukannya lagi ? Apa benar hatinya sebersih itu ? Bukankah sebelumnya, justru hatinya menginginkan hal yang sebaliknya ?

 

“Boleh buka kainnya bu, biar nggak kotor kena minyak” sambung lelaki itu. Oh, gila !  Ini gila !  Aku tak boleh melakukan hal itu ! Aku harus…., batin Dina bertempur. Berbeda dengan Ferry di luar. Dia justru berharap tak mendengar penolakan dari istrinya itu. Ferry berharap, Dina menyambutnya.

 

Dina benar-benar bimbang dan ragu. Tak tahu harus bersikap bagaimana. Aaakhh, kenapa aku ? Kenapa aku tak menyatakan keberatanku ? Kenapa aku tak katakan, jangan. Biarkan saja. Tapi…tidak. Ini bukan salah hatiku dan ucapanku, ini salah….tubuhku.

 

Ya, Dina seperti orang yang sudah kehilangan kesadarannya. Antara hatinya dan gerakan tubuhnya berbeda. Tadi bibirnya yang berucap lain dengan kehendak hatinya, kini…tubuhnya.

 

Walau hatinya berusaha untuk mencegah, namun justru Dina merasakan gerakan tubuhnya sendiri yang memberi jalan kepada lelaki itu untuk melakukan apa yang diinginkannya. Dan dalam tempo hitungan detik saja, semuanya sia-sia sudah. Lelaki itu sudah merenggut kain penutup tubuhnya dan tinggal menyisakan satu pakaian dalamnya saja di bagian bawah tubuhnya. Dina putus asa sudah. Dina pasrah.

 

Dan keputus asaan serta kepasrahannya itulah yang akhirnya memberi ruang pada rasa “kerinduannya” yang langsung mengisi seluruh ruang dalam pikiran dan hatinya. Rasa itu terus menyeruak dalam dan membelitnya dengan sangat kuat sampai akhirnya seluruh persyarafan di tubuhnya tergiring untuk bersiap atas segala sesuatunya, dan itu….Dina rasakan dengan jelas.

 

Dengan berusaha menekan semuanya, dan berusaha kembali ke kesadarannya, Dina merasakan betapa setiap inci permukaan tubuhnya terasa sangat nikmat sekali disentuh lelaki itu. Apalagi saat lelaki itu mengarahkan gerakannya ke bagian depan tubuhnya, Dina akhirnya menyerah. Berontak sudah seluruh hasrat dan kedahagaannya.

 

Tubuhnya menggeliat, merasakan betapa sentuhan tangan lelaki itu terasa sangat nikmat. Napasnya mulai memburu dan akhirnya pada bagian bawah tubuhnya terasa mulai basah. Dina….terbangkitkan.

 

Maka saat lelaki itu bermaksud meraih dadanya, Dinapun mengangkat dadanya. Akhirnya, kembali lelaki itu mulai menjamah dirinya, dan inilah yang diinginkannya kembali. Dina hanya bisa merintih saat jari-jari tangan lelaki itu mempermainkan gundukan payudaranya yang sudah terbuka bebas. Dina benar-benar merasakan terbang ke awang-awang oleh permainan lelaki itu. Dengan lihainya, lelaki itu meremas, mengelus dan menggelitiki seluruh bagian kedua payudaranya sampai akhirnya berhasil memberi tekanan lebih dalam dengan mempermainkan kedua putingnya, membuat Dina semakin tenggelam dalam buaian kenikmatan birahinya.

 

Dan lelaki itu memang sudah demikian terbakarnya, Dinapun sudah teramat “kepanasan.” Dengan satu gerakan tangan terus mempermainkan payudaranya, tangan yang lainnya menarik turun sisa pakaian yang melekat di tubuhnya, dan dirinya membiarkannya. Kini, untuk kedua kalinya dirinya polos. Kalau sudah begini, akhirnya dapat diterka.

 

Tiba-tiba lelaki itu menghentikan segala sesuatunya. Dina menunggu dan bertanya dalam hati. Masih diam, tanpa sentuhan dan tindakan membuat dirinya terpancing untuk mengetahui apa yang terjadi. Dina menoleh dan ternyata… lelaki itu tengah melucuti pakaiannya sendiri. Masih sambil berbaring telungkup, dilihatnya lelaki itu dengan cepat melucuti pakaiannya sendiri sampai akhirnya….

 

Akh, untuk kedua kalinya dirinya melihat organ kejantanan lelaki itu yang langsung meloncat keluar saat celana dalamnya dia lepaskan. Batang kejantanan itu nampak sudah sangat tegangnya. Sekeliling batangnya terlihat guratan urat-urat besar yang melingkar tak beraturan, menambah penampilan akan kejantanannya.

 

“Madep ke depan bu” ucap lelaki itu membuat Dina tersentak kaget dari keterpanaannya. Dan kali ini dengan gairah memuncak, dirinya menyambut permintaan lelaki itu. Dirinya membalikkan badan hingga telentang, berhadapan dengan lelaki itu yang sudah sama-sama polos seperti dirinya.

 

Sementara Ferry coba menunggu kelanjutan dari ucapan Darwis atau istrinya di dalam. Ferry merasa kesal juga, hanya bisa mereka-reka apa yang tengah terjadi di dalam. Apakah istrinya dan Darwis sudah semakin maju, ataukah masih seperti semula.

 

Ferry memang tak mengetahui kalau di dalam kamar tidurnya saat ini, istrinya Dina dan lelaki pemijatnya itu sudah sama-sama dalam keadaan tanpa busana sama sekali, saling berhadapan. Ferry juga tidak dapat mengetahui pasti kalau saat ini istrinya Dina tengah memandangi batang kejantanan pasangannya dengan tatapan penuh gairah yang meluap-luap. Ferry juga tidak tahu kalau saat ini istrinya Dina sudah tanpa ragu dan canggung lagi mempertontonkan seluruh bagian tubuh bugilnya ke lelaki itu, tanpa kecuali.

 

Tak hanya mempertontonkan, namun juga menyilahkan lelaki pasangannya itu untuk memperlakukan apapun terhadap tubuh polosnya. Bahkan saat ini, Ferry tak mengetahui saat si lelaki sedang mempertontonkan juga kepolosan tubuhnya ke istrinya, tangan kiri lelaki itu membelai-belai selangkangan Dina istrinya.

 

Di dalam kamar tidur, tanpa menunggu waktu, Darwis langsung menindih tubuh bugil Dina membuat Dina terkesiap merasakan penyatuan kembali tubuh bugilnya dengan tubuh bugil lelaki itu. Sesaat Dina terkesiap namun kemudian merasa terbang saat lelaki itu langsung menyergap puting payudaranya. Dihisapi, digelitik dan sesekali digigit-gigitnya membuat Dina benar-benar melayang tak kuasa. Perut lelaki itu menekan tulang pubisnya. Dina mengangkat pinggulnya hingga permukaan organ kewanitaannya bergesek dengan perut lelaki itu menghadirkan rasa nikmat yang makin menenggelamkan dirinya.

 

Akhirnya apa yang diinginkannya, didapatkannya. Dirinya kembali dapat mereguk kenikmatan birahi dengan lelaki ini. Seluruh apa yang dirasakannya minggu lalu kembali hadir, bahkan kini dirinya lebih menerima. Suasanapun lebih mendukung. Kali ini dirinya hanya berdua saja dengan lelaki itu, dan ini semakin membakar gairahnya.

 

“Sssshhh….mmmhhh….mmmhhh” tak segan-segan lagi Dina merintih dan mengerang untuk menyalurkan rasa nikmatnya. Apalagi saat lelaki itu mulai menggarap selangkangannya. Rintihan dan erangannya, walau sayup-sayup terdengar dari balik tembok kamar tidurnya, namun sudah membuat Ferry suaminya tersentak. Antara senang dan tegang, Ferry berusaha mempertajam pendengarannya. Dan setelah memastikan kalau istrinya itu sudah memperdengarkan erangan dan rintihannya, Ferry merasa lega sekaligus semakin tegang. Berhasil sudah. Hanya tinggal menunggu waktu saja, semuanya akan selesai.

 

Sambil terus melahap payudaranya, Darwis mulai mengeksplorasi organ kewanitaan Dina. Dinapun membuka penuh kedua pahanya, memberi kebebasan. Maka untuk kedua kalinya setelah minggu lalu, lelaki itupun menjelajahi seluruh permukaan organ kewanitaannya. Dengan tekun dan lembut, Dina merasakan sapuan tangan lelaki itu di permukaan vaginanya. Satu dua sapuan untuk kemudian jari tangannya mulai bermain-main di clitorisnya. Memberi sapuan, gelitikan, tekanan dan pilinan yang membuat sukma Dina kian melayang.

 

“Ssshhh…oookkhh….oookkkhh…..uuukkkhhh….” Dina amat menikmatinya. Pinggul bulatnya langsung berputar-putar. Gairahnya benar-benar sudah sangat memuncak, namun dirinya tak ingin segera menyelesaikannya. Ingin bermain-main dahulu. Ingin mengetahui sejauh mana kreasi dan imajinasi lelaki ini. Dan itu akhirnya didapatkan oleh Dina.

 

Permainan jari tangan lelaki itu di clitorisnya hanya berlangsung beberapa saat saja, untuk kemudian Dina merasakan kalau lelaki itu akan bertindak lebih jauh lagi. Dengan cepat jari tangan lelaki itu bergerak turun dan akhirnya….

 

“Sssshhh…mmmhhhh” erang Dina saat Darwis menusuk liang kewanitaannya dengan jari tangannya. Terus menusuk semakin dalam dan sangat dalam. Bermain-main sebentar di dalamnya, menjelajahi sekeliling dinding liangnya yang sudah mengembang penuh dan sangat basah untuk kemudian…

 

“Ssshhh….uuuukkkhhh” erang Dina tak kuasa ketika merasakan jari tangan yang kedua memasuki liang vaginanya. Tidak, tidak dua tapi…uuukkhh….tiga. Ya tiga ! Okh tidak, satu lagi….empat. Ya…empat ! Uuukkhh….Dina sampai melambungkan pinggul bulatnya tinggi-tinggi merasakan semua ini.

 

“Oookhh…oookkhhh…oookkhhh….” lepas sudah semua yang menghalangi dirinya. Dina benar-benar tenggelam dalam permainan maut lelaki itu. Di payudaranya, Dina merasakan permainan jari tangan dan mulut lelaki itu, sementara di selangkangannya, di dalam rongga kewanitaannya, Dina merasakan korekan dan rojokan keempat jari tangan lelaki itu. Masih ditambah lagi dengan gelitikan, tekanan dan sentilan ibu jari tangan lelaki itu di clitorisnya, membuat Dina semakin kelabakan.

 

Rintihan dan erangannya yang semakin jelas didengar oleh Ferry, justru membuat Ferry semakin tegang sekaligus bergairah. Tanpa melihat langsung, Ferry sudah dapat memastikan kalau babak pergumulan istrinya dengan lelaki pemijatnya itu sudah dimulai. Dia hanya harus bersabar menunggu sesaat. Menunggu moment yang tepat untuk kemudian masuk ke dalam, berpura-pura memergokinya dan akhirnya…bergabung. Ferry ingin mengambil moment yang tepat. Moment saat istrinya berada di puncak gairahnya, dan berada di tepi akhir kenikmatannya, maka dia akan muncul dan dapat dipastikan, bila moment ini tepat diambilnya, maka tak ada alasan dan kemampuan istrinya untuk berbalik lagi, namun terus berjalan maju melanjutkan seluruh petualangan birahinya itu.

 

Kini Darwis mengarahkan cumbuan mulutnya ke bawah tubuh bugilnya. Dina, sebagai seorang wanita yang berpengalaman, tentu mengetahui apa yang akan dilakukan lelaki itu dan karenanya dirinya memberi ruang.

 

“Sssshhh….mmmhhhh” hanya itu yang keluar dari celah bibirnya saat lidah lelaki itu mulai menyapu permukaan vaginanya. Rasanya sangat nikmat. Terasa berbeda dan terasa lebih nikmat dibandingkan bila yang melakukannya adalah suaminya sendiri. Pinggul bulatnya terangakat naik dan bergoyang tanpa sadar merasakan sejuta sensasi dan kenikmatannya. Napasnya langsung memburu, sementara kesadarannya makin tenggelam dalam lautan kenikmatan birahinya. Sapuan lidah lelaki itu terasa asing dan penuh misteri. Dina tak tahu apa yang akan dilakukan lelaki itu selanjutnya dengan gerakan lidah dan bibirnya di permukaan organ kewanitaannya.

 

Dan nyatanya memang demikian. Dina sampai terpekik spontan saat lelaki melakukan sebuah gerakan tak terduga. Dengan tiba-tiba lelaki itu menjepit clitorisnya dengan kedua bibirnya kuat-kuat, lalu ditahannya beberapa saat untuk kemudian melakukan sebuah langkah yang membuat sekujur tubuh polos Dina bergetar tak kuat. Dengan ujung lidahnya lelaki itu menekan clitoris Dina kuat-kuat lalu diakhiri dengan gigitan kecil namun dengan tekanan yang terukur membuat Dina merasa seperti disengat arus yang sangat kuat, namun nikmatnya sulit sekali dilukiskannya. Gerakan selanjutnyapun tak kalah hebatnya. Clitorisnya langsung digelitik ujung lidah lelaki itu sambil terus memberi tekanan dengan kedua bibirnya. Gelitikannya sangat cepat dan kuat membuat tubuhnya bergetar hebat dengan sejuta kenikmatan yang sulit dilukiskannya. Kepalanya tertarik jauh ke belakang, sementara jari-jari tangannya mencengkeram kuat kain penutup tempat tidurnya.

 

Tak cukup sampai disitu, lelaki itu menjulurkan kedua tangannya dan langsung menangkap kedua gundukan payudaranya. Meremasnya dan memilin-milin putting payudaranya hingga membuat Dina benar-benar terkapar tak kuasa.

 

Gerakan itu diulanginya beberapa kali dengan kombinasi dan urutan yang berbeda sehingga sulit diterka, namun memberi efek kejutan yang luar biasa sampai akhirnya….

 

“Cu…cuk..kup. Cukup. Se…les…saik…kan sek…karang. Mas…sukkan sek…karang” susah payah Dina meminta. Tak kuat lagi dirinya berada dalam tekanan gairah yang sudah terasa di ubun-ubun dan siap meledak itu. Dirinya, ingin segera diselesaikan oleh organ kejantanan lelaki itu, bukan oleh organ tubuh lainnya.

 

Di balik tembok, Ferry semakin tegang. Demikian juga di balik celananya. Rasanya sudah sakit sekali karena batang kejantanannya dipaksa tak bebas oleh balutan pakaian yang dikenakannya. Pendengarannya terus dipertajam, demikian pula dengan daya imajinasinya. Berusaha membayangkan dan menggambarkan dengan persis apa yang tengah terjadi di dalam kamar tidurnya. Apa yang tengah dilakukan istrinya dan lelaki pemijatnya itu.

 

Dan saat lelaki itu bersiap, Dinapun menyambut. Kali ini dirinya tak lagi menutup mata, bahkan mengamati setiap gerakan lelaki itu. Kini terlihat lelaki itu duduk diantara kedua kakinya yang sudah terbuka lebar. Sesaat keduanya berpandangan, untuk kemudian keduanya bersiap melanjutnya.

 

“Ssshhh…” saat lelaki itu menyapukan dahulu bagian kepala batangnya di permukaan organ kewanitaannya. Satu dua sapuan lalu….

 

“Sssshhh….mmmhhhh” erangannya terlontar. Matanya memejam meresapi setiap kenikmatan yang ditimbulkannya oleh pergesekan dinding batang kejantanan lelaki itu dengan dinding liang kewanitaannya.

 

“Yyyaaa…ter….russshhh. leb…bih da…lam. Leb…bih da…lam. Mas…sukkan ter…ruuusshhh….sssshhh…uuuukkkhhhh.” Cercauan Dina amat sangat membantu Ferry untuk dapat mereka-reka apa yang tengah terjadi. Tanpa melihatpun Ferry kini sudah yakin kalau saat ini istrinya Dina tengah menerima masukan dari lelaki itu.

 

Ferry sempat kaget juga saat mengetahui kalau istrinya sampai seperti ini. Meminta apa yang diinginkannya dari pasangan bercumbunya. Padahal selama ini, selama melakukan hubungan badan dengannya, bahkan sampai kejadian minggu lalu, istrinya tak sampai seterbuka ini. Tapi kali ini ?  Apakah semua itu dikarenakan begitu menggebunya gairah yang dialami istrinya saat ini ?  Kalau demikian, tentu dirinya harus senang, karena ini awal yang baik untuk melanjutkan ke tahap selanjutnya.

 

Perlahan Dina merasakan batang kemaluan lelaki itu membenam semakin dalam ke rongga vaginanya, terus dan terus semakin dalam mengisi rongga kenikmatannya dengan penuh dan dalam. Terus dan terus mengalirkan rasa nikmat yang semakin kuat sampai akhirnya….

 

“Akh” pekikannya saat ujung batang kemaluan lelaki itu menyentuh dan menekan ujung liang rahimnya memberi lecutan rasa nikmat. Terus masuk lebih dalam lagi sambil terus menggesek ke seluruh bagian dalam rongga vaginanya, termasuk ujung liang rahimnya. Dina hanya bisa merintih merasakan seluruh kenikmatannya hingga akhirnya seluruh batang kemaluan lelaki itupun membenam habis ke dalam rongga kewanitaannya. Mengisinya dengan penuh, menghadirkan rasa nikmat dan sensasi tersendiri. Keduanya terdiam sejenak, lalu mulai bergerak melanjutkan.

 

Apa yang dirasakannya minggu lalu kembali hadir. Gerakan menusuk batang kemaluan Darwis terasa sangat nikmat sekali. Dan kali ini Dina mengekspresikannya dengan lebih bebas.

 

“Nikmat bu ?” tanya Darwis. Sialan, makin dirinya dalam hati. Ya udah tentu lah. Emangnya nggak lihat apa gimana reaksiku, gumamnya dalam hati dengan keki.

 

Namun Dina tak meluapkan rasa kekinya, dia justru mengangguk memberi jawaban.

 

“Mau cepat, apa pelan ?” kembali lelaki itu berucap. Akh kenapa sih dia jadi banyak ngomgong ? batinnya gemas. Tidak di sisi Ferry. Percakapan itu justru yang diinginkannya karena dapat menggambarkan secara lebih utuh siluet-siluet pecahan visual imajinasinya. Seluruh perbincangan maupun suara-suara lainnya akan memberikan kelengkapan gambar yang coba dirangkai oleh otaknya.

 

“Pelan dulu” dijawabnya juga ucapan lelaki itu. Dirinya ingin lebih lama meresapi dan benar-benar meyakinkan kalau apa yang dirasakannya saat ini adalah benar. Benar kalau ternyata melakukan dengan lelaki asing ini lebih nikmat. Benar kalau ternyata, saat ini dirinya merasakan sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang lebih menegangkan. Sesuatu yang misterius, sekaligus sesuatu yang melenakan dan menenggelamkan. Sesuatu yang….jauh lebih hebat.

 

Dan ternyata benar. Melakukannya dengan lelaki lain itu, Dina merasakan kenikmatan yang jauh lebih hebat dan kuat. Dan itu pula yang mendorong dirinya untuk lebih jauh lagi mengeksplorasi diri.

 

“Yang….cep…pat sek…karang” pintanya sudah ingin ke tahap berikutnya. Ke tahap dimana dirinya benar-benar tenggelam dan hanyut dalam gelombang kenikmatan birahinya. Tahap yang pernah dirasakannya minggu lalu, dan kali ini kembali ingin dirasakan dan dialaminya. Di balik tembok, Ferry justru semakin tegang dan semakin terbakar mendengar permintaan Dina istrinya itu pada lelaki pasangan senggamanya.

 

“Ssshh…mmmhhh…mmmhh….mmhhh….uuukkhhh” akhirnya itulah yang keluar dari celah bibirnya dikombinasi dengan suara tepukan akibat benturan kedua permukaan selangkangan mereka dan itu terdengar cukup jelas oleh Ferry di balik tembok, membuatnya semakin kelabakan sendiri. Ingin rasanya dia meluruk ke dalam saat ini juga, namun dia tak yakin apakah ini moment yang tepat.

 

Diputuskan akhirnya untuk menunggu beberapa saat lagi. Menunggu setidaknya setelah Dina mendapatkan klimaks pertamanya. Dalam keadaan seperti ini, keadaan fisik dan batinnya berada dalam keadaan yang tepat dan tak akan memberikan pemberontakan. Kondisi Dina istrinya akan berada di fase yang sulit untuk keluar dari keadaan yang sedang dialaminya. Berada di puncak gairah dan persimpangan, dan tak akan memberi banyak pilihan lagi. Ya, moment itulah yang akhirnya diputuskan oleh Ferry untuk menunggunya.

 

Dina benar-benar mengalami apa yang dinamakan gempuran dan hantaman kenikmatan birahi, saat lelaki itu mulai memompanya dengan sangat cepat dan kuatnya. Dina ingin semua ini berlangsung dengan waktu yang lama. Dina ingin merasakan semuanya secara puas.

 

Tak ada lagi rasa rikuh. Tak ada lagi rasa malu. Dan tak ada lagi rasa canggung. Yang ada kini adalah gairah dan kenikmatan. Gairah yang demikian menggelora serta kenikmatan yang demikian melenakan. Segala aturan norma dan etika yang ada, justru menjadikan apa yang dilakukan ini menjadi sebuah tantangan tersendiri. Tantangan yang akhirnya menghadirkan ketegangan dan sensasi tinggi dan membuahkan kenikmatan tertinggi. Demikianlah yang Dina alami saat ini. Justru sesuatu yang menantang inilah yang membuatnya demikian menikmatinya. Melakukannya dengan lelaki ini, menghadirkan ketegangan dan sensasi yang luar biasa, yang justru membuat segala sesuatunya menjadi lebih hebat.

 

“Yyyaa…tus….suk yang kuat…tus…suk yyaang…kkkuu….aattt….akh !” Dina meminta lelaki itu melakukan tusukan yang kuat. Tusukan batang kemaluan yang sangat kuat dari lelaki itu di rongga kewanitaannya, menghadirkan rasa nikmat yang seakan menggedor-gedor sukmanya, dan ini yang membuat dirinya merasakan peningkatan tekanan dalam dirinya mengalir dan meningkat cepat. Dengan segala kenikmatan dan gairahnya, Dina melakukan putaran-putaran pada pinggul bulatnya, memberi tambahan kenikmatan tersendiri. Apalagi saat lelaki itu memberi tambahan dengan meremas-remas kedua gundukan payudaranya. Remasan yang kadang lembut, kadang juga sangat keras hingga dirinya merasa sedikit sakit pada kedua payudaranya, namun Dina menyukai kombinasi ini.

 

“Aakh !” sampai juga akhirnya dirinya ke puncak kenikmatan birahi pertamanya. Tubuh bugilnya meregang hebat saat merasakan ledakan puncak kenikmatan birahinya yang demikian kuatnya. Jari-jari tangannya tanpa sadar mencengkeram kuat kedua lengan lelaki itu, sementara kedua betis indahnya langsung memiting pinggul lelaki itu dan menekannya kuat-kuat, meminta tekanan yang tertinggi. Napasnya tersendat, wajahnya tertarik jauh ke belakang. Urat-urat kecil muncul di sisi-sisi leher jenjangnya. Dina akhirnya mendapatkan kembali klimaks tertingginya seperti minggu lalu, dan memang inilah yang dirindukannya dan ingin didapatkannya kembali.

 

Babak penentuan akhirnya didapatkan Ferry. Inilah saatnya dirinya masuk ke dalam. Kalaupun istrinya akan bereaksi mundur, setidaknya itu sudah ada yang didapat oleh Dina, kepuasan pertamanya tadi. Namun Ferry sangat yakin, kalau semuanya akan berjalan dengan lancar. Asal cara dan teknisnya saja yang harus dilakukan dengan tepat. Dan Ferry ingin mengambil langkah yang santai dan tak mengejutkan istrinya.

 

Dengan perlahan Ferry melangkah masuk. Mengunci pintu depan dengan perlahan, lalu melangkah mendekat ke kamar tidurnya. Tiba di depan pintu kamar tidurnya, dihentikan sejenak langkahnya. Coba didengarkan suara-suara dari balik pintu kamar tidurnya. Sepi. Akhirnya diputuskan untuk mencoba mengintipnya lewat lubang anak kunci pintu kamar tidurnya. Tak terlihat, karena posisi tempat tidurnya memang tidak memungkinkan untuk dapat dilihat dari lubang anak kunci itu. Ferry sempat bimbang untuk melanjutkan langkahnya. Diam sesaat memikirkan apa yang harus dilakukannya.

 

“Kita terusin bu ?” tiba-tiba terdengar suara dari dalam. Ferry mempertajam pendengarannya. Tak ada suara sesaat.

 

“Kita ganti posisi. Ibu…merangkak sekarang” terdengar lagi suara Darwis. Akh rupanya persenggamaan akan kembali dilanjutkan setelah tadi terhenti sejenak saat Dina mendapatkan klimaksnya.

 

Kembali hening, Ferry menanti.

 

“Sssshhh…uuuukkkhhh” erangan Dina kembali terdengar. Berarti persenggamaan mereka kembali di mulai dan kali ini rupanya mereka memilih posisi doggy. Ferry masih diam menunggu dan mencoba mencari cara bagaimana caranya dia masuk ke dalam agar tak menghentikan semua yang sudah berjalan.

 

Yang pasti, saat ini Dina istrinya sudah dalam keadaan yang terjepit dan sulit untuk menolak bila nanti dirinya meminta melanjutkan permainan ini. Hanya saja bagaimana cara yang tepat untuk bisa bergabung ke dalam.

 

Setelah memikirkan dan mempertimbangkan beberapa saat, akhirnya diputuskan untuk mengambil satu cara. Sebelum masuk, Ferry menanggalkan dahulu seluruh pakaiannya hingga dalam keadaan sama-sama telanjang bulat seperti istrinya dan lelaki di dalam kamar tidurnya itu. Lalu dengan perlahan ditekannya handle pintu kamar tidurnya. Melongok ke dalam dan….

 

Tepat. Mereka sedang melakukan posisi doggy, dan untungnya posisi istrinya membelakanginya sehingga tak melihatnya masuk ke dalam.

 

Ferry langsung duduk di kursi dekat pintu kamar tidurnya, menonton persetubuhan istrinya dengan lelaki pemijatnya itu. Kali ini secara langsung dan tak sembunyi-sembunyi lagi seperti minggu lalu.

 

Darwislah yang pertama kali mengetahui kehadirannya. Lelaki itu sempat terkejut dan menghentikan gerakannya sesaat, namun dengan gerakan tangannya, Ferry memberi isyarat agar lelaki itu melanjutkan semuanya.

 

Setelah merasa yakin, apalagi saat melihat Ferry, suami dari wanita yang tengah disenggamainya itupun sudah dalam keadaan sama-sama bugil, Darwispun melanjutkan gerakannya. Dina belum menyadari kehadiran suaminya dan terus menikmati “tikaman-tikaman” lelaki pasangan senggamanya dari arah belakang.

 

Namun tiba-tiba Ferry menemukan ide. Cepat dia bangkit dan mendekat ke arah keduanya. Dari belakang, Ferry mencolek tubuh Darwis dan memberi isyarat untuk mundur dan dia yang menggantikan.

 

Dengan cepat lelaki itu mundur dan Ferry maju. Tanpa menunggu lama, Ferrypun langsung membenamkan batang kemaluannya ke dalam vagina istrinya.

 

Dina yang tak menyadari semua itu, kembali mengerang-ngerang dan merintih-rintih kenikmatan tanpa tahu kalau yang melakukan tusukan dari belakangnya saat ini adalah suaminya sendiri.

 

“Sssshhh…uuuukkkkhh….uuukkkhhhh…mmmmhhhh….mmmhhh” berkali-kali Dina mengerang dan merintih menerima tusukan-tusukan batang kemaluan di liang vaginanya. Pinggul bulat indahnya berputar-putar mengiringi irama tusukan batang kemaluan Ferry.

 

“Leb…bih cepat…leb….bih cep…paaat” pintanya tanpa menyadari kalau yang melakukannya saat ini adalah suaminya sendiri. Ferrypun langsung “tancap gas” menggempur istrinya dengan sangat hebatnya membuat Dina istrinya sampai berkali-kali memekik menahan serangannya. Tekanan dalam dirinya dengan cepat meningkat dan terus meningkat lebih tinggi seiring dengan laju tikaman batang kemaluan pasangannya dari arah belakang. Dina terus mengerang, merintih dan sesekali memekik merasakan semuanya sampai akhirnya….

 

“Aaakh !” pekiknya lebih keras disusul tubuh bugilnya yang mulai basah oleh keringatnya itupun mengejang dan meregang hebat. Dina kembali mendapatkan klimaks keduanya dengan sangat hebat. Ferry menekan sekuatnya memberi kesempatan pada istrinya untuk menikmati segala kenikmatan yang baru didapatkannya. Seluruh batang kemaluan Ferry yang tertancap dalam-dalam di lubang vagina istrinya itu, terasa seperti diremas-remas dinding lubang kemaluan istrinya itu dengan sangat kuat dan cepatnya. Rupanya Dina mendapatkan klimaks yang sangat kuat.

 

Beberapa saat kemudian, Dina menjatuhkan tubuhnya, hingga telungkup. Napasnya terlihat memburu dari irama turun naik punggung indahnya. Ferry memandangi sekujur tubuh bugil istrinya itu dari belakang. Dina benar-benar belum menyadari semuanya sampai saat dengan gerakan tangannya, Ferry meminta istrinya membalikkan badan menghadap.

 

“Mas..!” pekik Dina terkejut luar biasa. Dengan cepat dia bangkit dan memandang tak percaya ke arah suaminya. Ferry hanya senyum saja.

 

“A..aa” Dina tak mampu berkata-kata. Pandangannya langsung mencari sosok lelaki yang tadi bercumbu dengannya dan mengira juga kalau lelaki itulah yang menyelesaikan klimaks keduanya itu. Ternyata lelaki itu tengah duduk di sofa dimana biasanya Ferry suaminya duduk, masih dalam keadaan telanjang bulat. Pandangannya kembali ke sosok suaminya yang juga dalam keadaan telanjang bulat.

 

“Kenapa sayang ?  Ayo, nggak apa-apa khok” Ferry coba mengatasi kepanikan istrinya. Tentu saja Dina sangat panik dan terkejut. Bagaimana tidak, seorang istri yang ketahuan sedang melakukan percumbuan dengan lelaki lain dan dipergoki oleh suaminya, maka ini sebuah bencana. Hanya kenapa saat ini suaminya juga dalam keadaan sama seperti dirinya dan lelaki itu ?  Dan yang lebih membuat Dina bingung adalah, tak ada kemarahan di mata dan wajah suaminya. Bahkan justru suaminya….

 

Akh ya. Kalau saat ini lelaki itu sedang duduk di sofa, berarti yang baru saja menyenggamainya adalah….

 

Bingung, terkejut dan sempat shock, hingga membuat Dina tak mampu berkata-kata dan tak mampu harus berbuat apa.

 

“Ya sudah, kita ngobrol dulu deh, sambil istirahat” ujar Ferry pelan dan lembut sambil memegangi tangan istrinya yang terasa sangat dingin, nampak ketakutan.

 

“Din, nggak usah takut. Kamu lihat, saya nggak marah kan ?” ujar Ferry menenangkan. Dina masih memperlihatkan sikap paniknya. Sesekali dia tertunduk tak mampu menatap wajah suaminya yang sudah mengetahui perbuatannya, walau tadi ditegaskan tidak apa-apa dan tidak marah, tapi…tetap saja membuat dirinya merasa tertangkap basah.

 

“Hey dengar, ayo. Aku nggak apa-apa. Aku nggak marah khok. Justru…jadi bersemangat lihat kamu begitu menggairahkan sekali saat ini. Ayo Dina sayang, aku sungguh-sungguh khok” Ferry coba meyakinkan. Dina kembali menatapnya dengan sejuta perasaan tak menentu.

 

“Be…benar ?  Mas….” Ucapannya tersendat. Ferry tersenyum menenangkan sambil mengangguk memberi jawaban.

 

“Iya, sungguh. Aku nggak marah khok” menandaskan dan mempertegas jawabannya.

 

“Ta…tapi mas, ak..ku kan…” Dina masih tak yakin.

 

“Ya, aku tahu. Oke, supaya kamu lebih yakin. Wis, ayo sini. Duduk di sini bareng kita” ujar Ferry memanggil lelaki itu. Dina merasa bingung sekaligus kikuk menghadapi segala sesuatu yang serba mendadak dan tak terduga seperti ini.

 

“Nah, ini Darwis. Ini bukti kalau aku nggak marah dan keberatan khok. Ayo, apa lagi yang harus aku pertegas” jawab Ferry setelah Darwis duduk di sisi Dina. Dengan canggung dan bingung, Dina kembali memandang mata suaminya. Benarkah apa yang dikatakan suaminya itu ? Benarkah dia tidak marah ? Tapi bagaimana mungkin ? Bagaimana seorang suami tidak marah saat memergoki istrinya tengah bercumbu dengan lelaki lain ? Apakah suaminya tidak sedang mempermainkannya sekarang ?  Apakah suaminya tidak sedang mengatur siasat sesaat untuk kemudian….

 

“Mas…” hanya itu suara yang keluar dari celah bibir Dina. Tak tahu harus berkata apa. Tak tahu harus berbuat apa.

 

“Oke deh, kita ngobrol dulu aja. Biar semua tenang dulu. Biar kamu rileks dulu. Ayo, kamu mau ngomong apa, atau mau tanya apa ke aku” ujar Ferry sambil membelai lengan istrinya. Dina masih bingung dan tak percaya. Pikirannya buntu walau hatinya bergejolak tak menentu. Pandangannya terus tertuju ke arah suaminya. Dina tak tahu harus bersikap apa. Senang, tenang atau bersiap menerima amukan suaminya itu ?

 

“Ayo, mau tanya apa sayang ?” bujuk Ferry. Dina masih mematung memandanginya. Dengan gerakan kepalanya, Ferry memberi isyarat penegasan, apa yang ingin dikemukakan oleh istrinya itu. Namun Dina masih diam sampai akhirnya hanya menggeleng. Menggeleng tak tahu harus bertanya apa. Tak tahu harus berkata apa.

 

“Ya sudah. Mungkin saat ini kamu masih bingung. Nggak apa-apa. Cuma, gimana, kamu sudah lebih rileks dan percaya kalau aku tak memasalahkan ini ?” ujar Ferry sambil senyum. Dina terus memandanginya dengan ekspresi wajah tetap seperti semula.

 

“Hey, khok nggak jawab ? Kamu sudah percaya dan tenang sekarang ?” Ferry mengulangi pertanyaannya. Dina akhirnya mengangguk tanpa perubahan ekspresi wajahnya.

 

“Tapi mas…” Dina merasakan tenggorokannya kering, lidahnya kelu, tak mampu melanjutkan ucapannya.

 

“Ya, kamu mau ngomong apa ?” desak Ferry, namun Dina hanya menggeleng seakan bingung ingin berkata apa.

 

“Oke, mungkin banyak yang pengen kamu omongin, cuma bingung aja. Mau mulai dari mana ngomongnya. Kalau begitu, aku aja deh yang ngomong. Mudah-mudahan menjawab semua apa yang menjadi pertanyaan kamu saat ini” Ferry masih duduk dihadapan istrinya sambil memegangi tangan istrinya itu memberi kekuatan dan menenangkannya. Perlahan tangan istrinya tak lagi sedingin seperti awalnya tadi, itu menandakan kalau istrinya itu sudah lebih tenang saat ini.

 

“Sebenarnya, aku tahu sejak awal. Sejak minggu lalu. Dan semuanya berjalan seperti diluar kendali. Baik aku maupun kamu, merasakan kebingungan kenapa semuanya tak mampu kita hentikan. Kalau ini dianggap kesalahan, ini kasalahan aku juga. Tapi, aku tandaskan saja, ini bukan kesalahan. Ini semua, karena tanpa sadar, kita inginkan. Aku, juga ternyata menginginkan ini” Ferry menghentikan sejenak penjelasannya.

 

“Awalnya, aku sempat kaget dan akan bereaksi seperti normalnya seorang suami. Tapi entah kenapa saat itu aku tak mampu melakukannya. Aku hanya bisa terpaku di tempat. Bingung dan tak tahu harus bersikap apa. Aku ingin menghentikan dan mencegahnya, tapi tak kuasa. Apalagi saat aku tahu, kamu sedang tenggelam dengan keadaan kamu. Aku tak tega dan kuasa menghentikannya. Aku merasa akan sangat tidak adil menghentikan semua itu setelah aku sendiri yang memulainya.”

 

“Apa yang kamu lakukan dan apa yang terjadi itu, adalah disebabkan aku juga. Dan setelah aku yang memicu, mengapa aku juga yang mematikannya. Ini sangat egois. Aku hanya ingin melihat kamu menerima sesuatu yang bisa kamu nikmati dan sukai. Walau mungkin diluar kehendak kamu awalnya dan walau mungkin di luar kesadaran kamu pada awalnya, tapi apapun masalahnya, semua itu memberikan sesuatu yang amat berharga untuk kamu. Dan itu….aku anggap pemberianku” kembali Ferry menghentikan penjelasannya, sementara Dina masih menunggu kelanjutan penjelasan suaminya itu dengan sejuta gejolak perasaan. Apakah dirinya harus malu dan merasa bersalah ?  Ataukah sebaliknya ?  Malu, ya. Bersalah, juga ya. Tapi, apa yang dikemukakan suaminya itu juga benar. Semua ini bukan tertumpu hanya kepada dirinya. Beban ini harus bersama-sama memikulnya.

 

“Satu minggu lamanya aku berusaha untuk mengkaji dan menelaah masalah kita. Dan satu minggu itulah, aku memutuskan bahwa aku dan kamu, berhak untuk mendapatkan sesuatu yang menyenangkan. Aku dan kamu, berhak senang, sepanjang tak merugikan orang lain”

 

“Tapi mas, aku kan masih berstatus is….”

 

“Ya, aku tahu. Sekarang, kalau aku sebagai suami kamu tak marah dan berkeberatan, lantas….apa masalahnya ? Beres kan ?” jawab Ferry mendahului ucapan Dina. Sesaat hening, seakan masing-masing sibuk dengan alur pikirannya sendiri-sendiri, termasuk Darwis yang sejak tadi setia dan diam memberi kesempatan kepada pasangan suami istri itu untuk berkomunikasi.

 

Panjang lebar Ferry coba menjelaskan dan memberi pengertian pada Dina. Perlahan Dinapun mulai memahami dan kembali tenang.

 

“Jadi, sungguh…mas…tidak…” masih sedikit ragu Dina coba meyakinkan diri.

 

“Ya. Pasti. Sekarang, kita sudahi saja semua yang menjadi masalah itu. Sekarang kita ngobrol yang lain, kasian tuh Darwis, kayak kambing congek didiemin aja” ujar Ferry. Kali ini, walau dengan sedikit canggung dan malu, Dina melirik ke arah lelaki itu yang hanya senyum-senyum simpul saja.

 

“Darwis juga tadinya ketakutan waktu aku memanggil dia dan menyampaikan segala sesuatunya. Tapi setelah aku jelaskan, dia juga akhirnya menerima” jelas Ferry. Dina mengangguk mengerti.

 

“Eh tunggu. Jadi, Darwis udah tahu kalau mas…” tergelitik juga Dina dengan ucapan terakhir suaminya. Ferry mengangguk mengiyakan.

 

“Ter…rus, hari ini, apa…dia juga tahu kalau mas akan…”

 

“Nggak. Kalau itu dia nggak tahu. Dia juga kaget waktu aku muncul tadi” kali ini Ferry menutupi. Dia tak ingin istrinya tahu kalau ini sudah diskenariokan dan akhirnya istrinya merasa tersinggung karena merasa dijebak.

 

“Betul itu mas Dar…wis ?” Dina coba menegaskan dan mencari kebenarannya.

 

“Iya bu. Saya kaget tadi waktu tiba-tiba bapak udah di dalem. Cuma karena bapak kasih isyarat supaya aku terus, makanya aku…” Darwis tak melanjutkan ucapannya karena dilihatnya Dina tertunduk malu.

 

“Terus…tadi yang terakhir, mas…sendiri yang…”

 

“Ya. Aku sendiri yang menyelesaikannya. Aku senang sekali, kamu sangat menikmatinya. Terus terang, aku belum pernah menemui kamu sampai….” Dina menutup mulut suaminya.

 

“Udah akh, jangan di bahas, aku malu” ujarnya tersipu. Ferry tersenyum memaklumi.

 

“Terus, kita ngapain nih. Udah sama-sama begini. Apa….”

 

“Mas…udah. Aku….” Dina merasa digoda dan makin membuatnya malu sendiri.

 

“Ya udah. Kita ngobrol yang lain aja dulu. Oh ya, ceritain dong sedikit soal kamu Wis, biar kita lebih kenal kamu” Ferry coba mengalihkan suasana.

 

“Saya ?  Cerita apa ?  Nggak banyak yang bisa saya ceritain” ujar Darwis.

 

“Ya apa aja. Misalnya, tentang sejarah sekolah kamu. Tentang pengalaman kerja kamu” Ferry coba menjembatani. Lelaki itu diam sesaat, coba merangkai kembali riwayat hidupnya.

 

“Saya sekolah hanya sampai kelas 2 SMP. Maklum, ekonomi orang tua saya tidak mampu menyekolahkan saya tinggi-tinggi. Makanya saya hanya bisa jadi tukang pijat seperti ini” kembali lelaki itu diam.

 

“Kamu sudah punya istri ?” sambung Ferry.

 

“Sudah, dua kali. Tapi dua-duanya berakhir dengan perceraian” jawabnya.

 

“Punya anak ?” lanjut Ferry merasa harus terus dipancing. Lelaki itu menggeleng dengan raut wajah trenyuh.

 

“Saya cerai dengan kedua istri saya itu justru karena itu. Lima tahun berumah tangga dengan istri pertama, dan tiga tahun dengan istri kedua yang janda, tapi tak juga memiliki anak. Terakhir baru saya ketahui, sayalah yang mandul. Karena mantan istri pertama saya yang sudah menikah lagi, punya anak. Sedang mantan istri kedua saya, yang janda dengan dua anak sebelumnya, juga setelah menikah lagi, punya anak lagi. Jadi…sayanya yang mandul” Darwis mengakhiri ceritanya dengan wajah semakin trenyuh.

 

“Saya turut prihatin ya. Dan maaf kalau pertanyaan saya ini kurang enak ditanggapinya” Ferry coba memperbaiki suasana. Dina sendiri kini sudah mulai berani menatap lelaki disampingnya itu yang sesungguhnya sudah seperti “suami keduanya” karena memang antara dia dan dirinya sudah layak dikatakan sebagai “suami istri” sejak satu minggu lalu.

 

“Sekarang, ceritain deh pengalaman kamu selama menjalani profesi kamu ini Wis” Ferry mengganti topik pembicaraan.

 

“Ya, nggak banyak juga pa yang bisa diceritain. Pengalaman saya sebagai tukang pijat ya…begitu aja. Mijat, mijat dan mijat terus” jawabnya datar.

 

“Kalau…pengalaman…yang…seperti ini ?” hati-hati Ferry coba mengutarakan pertanyaannya. Sesaat Ferry dan Dina saling bertatapan. Demikian juga dengan lelaki itu. Bergantian dia menatap ke arah Ferry dan Dina, namun Dina tak balas menatapnya, kecuali Ferry.

 

“Ini…pengalaman saya…yang…pertama” jawab Darwis jujur. Dina dan Ferry kembali saling bertatapan. Kali ini Dina berani beralih memandang lelaki “suami” keduanya itu, seakan hendak mencari kebenaran dan kejujuran dari ucapan lelaki itu.

 

“Masak sih ?” pancing Darwis.

 

“Iya pak, sungguh. Memijat wanita juga, ini yang pertama kalinya” tegas lelaki itu. Akh, pantesan aja, waktu pertama kali dia memijatku minggu lalu, dia seakan grogi dan canggung, batin Dina sendiri.

 

“Sorry yah, kalau aku tanya ini agak kurang enak kedengarannya” sesaat Ferry memandang ke arah Dina istrinya dan juga lelaki di hadapannya.

 

“Berhubungan seks dengan wanita lain selain istri kamu, apa ini juga yang pertama kalinya ?” kali ini pertanyaan Ferry membuat wajah Dina bersemu malu.

 

“Ya pak. Ini…yang pertama” jawab Darwis jujur.

 

“Sudah berapa lama sih kamu cerai dengan istri….kedua kamu ?” Sesaat Darwis tak menjawab, nampak ragu mengutarakannya.

 

“Mas, nanya apa ngintrogasi sih ?” protes Dina seakan membela lelaki itu.

 

“Nggak apa-apa bu, saya juga nggak keberatan khok menjawabnya. Sudah lima tahunan” jawab Darwis lagi. Dina tertegun. Pantes saja, permainannya hot banget sampe bikin aku megap-megap, batinnya sendiri. Wajahnya merona, malu sendiri.

 

“Menurut kamu…istri saya menggairahkan nggak ?” kali ini Dina protes dan membelalakkan matanya tanda protes. Ferry cuma senyum.

 

“Yaa…pastilah pak. Ibu….sangat cantik dan…”

 

“Menggairahkan, begitu ?” Ferry menyambung ucapan Darwis yang terputus. Lelaki itu mengangguk tersipu, terlebih Dina.

 

“Dibanding kedua mantan istri kamu ?”

 

“Mas !  Apa-apaan sich ? Nanyanya khok gitu ?” Dina benar-benar protes karena dibanding-bandingkan.

 

“Nggak apa-apa bu. Sejujurnya…dibanding ibu, kedua mantan istri saya itu…ya jauh lah. Maklum, mereka kan orang desa, sementara ibu…”

 

“Jadi lebih menggairahkan begitu Wis ?” kejar Ferry. Dina mencubit pinggang suaminya, memprotes keras atas pertanyaannya itu.

 

“Sangat. Sangat lebih cantik dan…meng….gairah…kan” terbata-bata dan takut lelaki itu mengucapkannya. Dina semakin tersipu, sekaligus merasa sangat tersanjung.

 

“Kamu benar Wis. Istri saya ini memang, cantik dan sangat menggairahkan sekali. Walau sudah punya anak dua, tapi…nggak kalah kan sama gadis-gadis belia ?” Dina benar-benar dibuat tersipu-sipu sekaligus senang dan merasa melambung dipuji seperti itu.

 

“Permainannya menurut kamu gimana Wis ?” Ferry berucap cepat, menggoda istrinya. Dina terperanjat tak menyangka suaminya akan bertanya sekonyol ini.

 

“Nggak usah dijawab. Aku dan kamu sudah tahu sendiri kan ? Istriku ini hebat banget kan ?” sambung Ferry membuat istrinya agak sewot.

 

“Wis, setuju nggak kalau…kita…perkosa dia bareng-bareng” Dina terbelalak. Gila banget suaminya ini. Apa maksudnya ?

 

“Mas, apa-apaan sih ?” Dina merasa keki di”ganggu” seperti itu.

 

“Ya kalau kamu nggak mau melanjutkan acara ini, aku akan paksa kamu, dan bila perlu…kita perkosa. Ya nggak Wis ?” lelaki itu cuma bengong, melongo seperti orang blo’on.

 

“Mas…”

 

“Kenapa ?  Mau nggak nerusin acara ini ?” kejar Ferry yang sudah tak tahan ingin memulai babak baru kehidupan seksual rumah tangganya itu. Seperti dalam film-film porno, dirinya ingin membuktikan, apakah hubungan model ini bisa dinikmati baik oleh lelakinya ataupun wanitanya. Yang pasti, dirinya sudah merasakan sensasi dan gairah tersendiri saat menyaksikan istrinya berhubungan seks dengan lelaki lain. Dan yang pasti, dirinya sudah dapat memastikan kalau istrinyapun sangat menikmati hubungan seks dengan lelaki selain dirinya itu. Kini tinggal menguji, apakah kalau dilakukan secara terang-terangan dan kalau perlu bersamaan, sensasi dan kenikmatannya akan sama ?

 

“Tapi mas…ak…ku…”

 

“Kenapa ?  Kamu nggak bersedia ?” kejar Ferry cemas, khawatir istrinya menolak model hubungan seperti ini.

 

“Atau aku keluar dulu deh, biar kamu sama Darwis dulu aja”

 

“Mas…mas, bukan begitu. Aku cuma mau ngomong, aku….” Dina benar-benar bingung. Tak menduga akan menemui keadaan seperti ini. Tak menduga kalau suaminya akan mengajukan sesuatu yang gila-gilaan seperti ini. Dirinya diminta melayani suaminya sendiri dan lelaki itu sekaligus. Apa tidak gila namanya.

 

Tapi memang sudah kepalang. Bukankah, melakukan hubungan dengan lelaki lain saja sudah tindakan yang gila ?  Mengapa lagi musti mempertimbangkan yang lainnya. Kegilaan tetap saja kegilaan. Hanya saja, Dina merasa tak berani untuk melakukan hal itu. Atau mungkin…bisa dikatakan, belum berani. Belum siap.

 

Belum siap ?  Apa bukan belum mau ?  Seperti yang ditanyakan suaminya sendiri, mau apa tidak ?  Batinnya coba menerka sendiri jawaban dan keinginannya.

 

Melayani keduanya ?  Gila !  Ini benar-benar gila !  Aku tak pernah menduga dan memimpikannya sekalipun. Tapi kini, kenyataan. Dina merasa bimbang, sekaligus merasa tertantang juga diam-diam. Setelah tertantang melayani lelaki lain selain suaminya, kini tertantang lagi oleh model permainan yang mengandung kegilaan seperti ini. Dirinya teringat adegan film porno yang beberapa kali ditontonnya bersama suaminya itu dimana seorang cewek melayani dua orang cowok, bahkan lebih. Dan kini dirinya mengalami sendiri.

 

“Din, ayo dong jawab. Atau apa Darwis kita suruh pulang aja ?” Ferry coba memojokkannya, dan itu….berhasil.

 

“Ng…nggak, nggak usah” Dina menjawab spontan. Entah karena didorong oleh rasa tidak enak hati kalau harus mengusir lelaki itu ataukah didorong oleh hal lainnya ? Didorong oleh keinginan dirinya yang tak ingin kesempatan ini lepas dan hilang begitu saja akan tantangan kali ini.

 

Namun untuk menjawabnya dengan terus terang, tentu saja tidak mungkin. Dina berharap, suaminya memahami dan dapat membaca gerak tubuhnya.

 

“Ya sudah, jadi kamu nggak keberatan kan ?” Ya, itu dia !  Itu jawaban dan ucapan yang ditunggunya. Walau dalam hatinya bersorak senang, namun tak urung membuatnya tersipu.

 

“Terserah mas aja deh” hanya itu ucapan yang keluar dari celah bibirnya, pasrah. Pasrah seperti sebelum-sebelumnya. Kepasrahan yang akhirnya menghadirkan kenikmatan seperti ini. Dan kini dirinya kembali pasrah diminta melayani sekaligus dua lelaki, satu suaminya sendiri, dan satunya…

 

“Nah gitu dong. Ya udah, biar kamu rileks, gimana kalo…Wis, kamu keluar dulu yah. Kamu tunggu aja di luar dulu. Nanti aku panggil deh kalo udah siap” ujar Ferry memahami keadaan batin Dina. Lelaki itu tanpa banyak komentar, langsung bangkit dan beranjak ke luar.

 

“Sebentar sayang, aku mau ada titipan pesan dulu sama Darwis, jangan sampai dia terlihat orang dari luar” ujar Ferry langsung menyusul lelaki itu keluar. Dina termenung ditempatnya. Masih tak percaya, dalam waktu sesingkat ini dirinya mendapatkan pengalaman yang sangat luar biasa dan tak terduga. Setelah dua kali pertempurannya dengan Darwis yang membuatnya “ketagihan,” kini ditambah lagi dengan kejutan lain. Suaminya sendiri yang mengusulkan hubungan seks gila seperti ini. Dua lelaki akan menggumuli dirinya sekaligus, apa rasanya ?

 

Belum selesai lamunannya, Ferry sudah muncul lagi.

 

“Ngomong apa sama…Darwis mas ?” Dina coba mencari tahu.

 

“Aku suruh dia nunggu di sudut ruang tengah aja dan jangan jalan-jalan ke depan atau ke dapur, takut ada yang lihat” ujar Ferry tak sepenuhnya. Padahal, selain titip pesan tersebut, Ferry juga menitip pesan agar Darwis nanti masuk saat dirinya tengah bercumbu. Ferry pura-pura tidak mengetahuinya, dan Ferry akan melihat reaksi istrinya saat melihat Darwis hadir menonton percumbuan dirinya itu.

 

“Nah, sekarang tinggal kita berdua. Mau tunggu apa lagi ?” ujar Ferry.

 

“Iiih, mas nakal akh” rajuk Dina tersipu.

 

“Ayo, duduk disini. Aku ingin bersenang-senang dengan kamu sayang” ujar Ferry meminta Dina duduk di pangkuannya.

 

“Kamu terlihat sangat cantik dan menggairahkan lho” ujar Ferry senang karena keinginannya terkabul.

 

“Makasih mas” jawab Dina manja sambil duduk di pangkuan suaminya. Keduanya saling berpelukan, dan langsung saling berpagutan dengan penuh gairah. Baik Dina sendiri maupun Ferry, masing-masing sesungguhnya diam-diam sudah terpancing gairahnya dengan rencana acara permainan barunya ini. Dan itulah karenanya, keduanya langsung tancap gas.

 

Dina sendiri, tanpa sadar, napasnya telah memburu, menandakan gairahnya sudah demikian memuncaknya, sejak membayangkan dirinya akan dikerubuti dua lelaki sekaligus.

 

Sambil berpagutan, tangan Ferry menggerayangi sekujur tubuh polos istrinya itu. Mulai dari rambut kepalanya, tengkuknya, punggungnya, sampai ke bongkahan pantatnya dan juga kedua paha mulusnya. Demikian juga halnya dengan Dina.

 

Cukup lama juga keduanya berpagutan dan saling raba, untuk kemudian Ferry mengangkat tubuh Dina agar lebih tinggi lalu segera menyergap kedua gundukan payudara istrinya itu dengan penuh gairah, sementara Dina sendiri langsung menggenggam batang kemaluan suaminya yang sudah mengeras. Dina merasakan batang kemaluan suaminya kali ini sangat keras. Itu menandakan kalau suaminya juga benar-benar berada di puncak gairahnya, sama seperti dirinya saat ini.

 

Dina memejamkan matanya, meresapi permainan lidah dan bibir suaminya. Memang beda, namun juga tetap sangat nikmat. Diam-diam Dina membandingkan permainan antara suaminya dan Darwis. Jujur diakui, permainan Darwis lebih menantang dan penuh misteri. Sedangkan permainan suaminya, rasanya sudah sangat dia hapal. Namun demikian, nikmatnya tetap. Bahkan kali ini terasa lebih nikmat. Mungkinkah hal ini disebabkan kehadiran lelaki lainnya itu ?

 

Dina membuka matanya dan sempat terkejut ketika melihat Darwis sudah masuk ke dalam. Dina tak bisa berbuat apa-apa, hanya membiarkan lelaki itu berdiri di dekat pintu kamar, menghadap ke arahnya sambil menggenggam batang kemaluan nya sendiri yang terlihat sangat tegang. Dina merasakan ada sensasi tersendiri demi untuk pertama kalinya percumbuannya ditonton lelaki lain, walau lelaki itu sudah dua kali bercumbu dengannya. Dina memandang ke arah mata lelaki itu dengan tatapan gairah sekaligus seakan menantang lelaki itu untuk maju bergabung mencumbunya.

 

Aneh, dirinya tak lagi merasa canggung dan malu. Justru merasa sangat bergairah ditonton seperti itu. Rasa canggung dan malu yang tadi sempat hinggap, seakan sirna menguap begitu saja saat ini. Saat dirinya kembali bergairah.

 

Permainan lidah dan bibir suaminya, kini mulai dikombinasi dengan permainan jari tangannya. Dan Dina sempat terkejut. Tak biasanya Ferry melakukan ini. Memasukkan jari tangannya ke dalam liang kewanitaannya. Biasanya Ferry hanya mengusap-usap dan menggosok-gosok permukaan vaginanya saja, tapi kali ini…

 

Dan Dina semakin terperanjat, sekaligus surprise. Ferry kali ini benar-benar melakukan hal tak terduga. Suaminya itu kini mengorek-ngorek liang vaginanya bahkan dengan keempat jari tangannya sekaligus, sama seperti yang sudah dilakukan oleh Darwis tadi dan juga minggu lalu. Dina tak dapat menyembunyikan lagi rasa nikmatnya. Dia mengerang dan merintih sambil meliauk-liukkan pinggulnya. Dan kenikmatannya ini semakin bertambah saat menyaksikan Darwis terlihat bernapsu menyaksikan kenikmatan yang diekspresikannya itu. Sungguh sebuah kontak birahi antara dirinya dan lelaki itu.

 

Cepat sekali Dina merasakan gairahnya meningkat. Dan akhirnya, dalam tempo singkat saja dirinya sudah tak kuat lagi bertahan.

 

“Sudah mas, selesaikan…sek…karang” pintanya sambil menepis pelan tangan suaminya agar menyingkir dari selangkangannya. Lalu, tanpa merubah posisi, batang kemaluan suaminya segera disergapnya dan diarahkan ke pangkal pahanya sendiri untuk kemudian….

 

“Sssshhh….ooouuukkkhhh….” erangnya mengiringi gerakan turun tubuh bugilnya sendiri. Perlahan batang kemaluan suaminya membenam masuk ke dalam liang vaginanya. Dina sengaja melakukan gerakan perlahan untuk meresapi segala kenikmatannya, dan….uuukkhhh….benar-benar nikmat. Entah kenapa, kali terasa berbeda. Rasa nikmat yang diterimanya terasa berlipat-lipat, padahal sebelumnya..

 

Ya, ini pasti karena suasananya. Suasana yang berbeda. Berbeda karena kehadiran lelaki lain. Lelaki lain yang hadir saat ini dan menyaksikan persetubuhannya. Lelaki yang sebelumnya sudah memberikan pengalaman seksual tersendiri bagi dirinya, dan kini akan memberi pengalaman yang baru lagi.

 

“Mmmmhh….mmmhhh….uuuukkkhhh….uuukkkhhh….” Dina terus merintih, mengerang, mengiringi gerakan turun tubuh bugilnya. Perlahan batang kemaluan suaminya semakin dalam memasuki liang kemaluannya dan telah pula menyentuh dan menggesek ujung rahimnya. Dina terus menekan hingga batang kemaluan Ferry yang sepanjang lebih dari tujuh belas centimeter itu semakin dalam memasuki rongga kewanitaannya.

 

“Uuukhh….maassshh” erang Dina akhirnya saat berhasil membenamkan seluruh batang kemaluan suaminya itu. Kini posisinya duduk di pangkuan suaminya dengan liang kewanitaannya yang sudah terisi batang kemaluan suaminya itu. Dina terdiam sejenak, meresapi ganjalan di selangkangannya, sambil melirik ke arah pintu kamar. Dilihatnya Darwis sedang mengocok-ngocok batang kemaluannya sendiri, tak tahan menonton hotnya persenggamaan dirinya dengan suaminya itu.

 

Hanya sejenak Dina terdiam, selanjutnya dia mulai bergerak, menaik turunkan tubuh bugilnya dalam pangkuan tubuh bugil suaminya, sambil matanya terus memandang ke arah lelaki di hadapannya. Gerakannya terus meningkat cepat dan kenikmatannyapun langsung meningkat cepat pula. Dina terus bergerak naik turun diatas pangkuan suaminya. Gerakan naik turun tubuh bugilnya, dikombinasi denga gerakan berputar-putar pinggul indahnya, memberi kenikmatan lebih. Dina sudah semakin tenggelam dalam kenikmatan birahinya. Dan kini dirinya justru merasa sudah sangat siap dan bahkan menginginkan lelaki itu segera bergabung, memberinya kenikmatan yang lebih lagi.

 

Namun sampai Dina merasakan dirinya akan memperoleh hasil kerjanya, Darwis masih diam saja, masih berdiri di tempatnya semula dan masih menontonnya. Dina semakin atraktif dan tak lagi mengerem rintihan dan erangannya sampai kemudian….

 

“Aakh maaasshh!” pekiknya. Dijatuhkannya tubuhnya lalu ditekannya pantatnya keras-keras sambil memeluk kuat tubuh suaminya. Dina meregang memperoleh klimaksnya yang tak kalah hebat seperti dua klimaks sebelumnya. Tubuh bugilnya melengkung, menggeletar dan mengejang hebat. Ferry merasakan seluruh batang kemaluannya diremas-remas dan seperti dihisap-hisap dengan kuat dan cepatnya oleh dinding lubang kemaluan istrinya itu.

 

Keduanya terdiam sejenak. Dalam gulungan puncak kenikmatannya, Dina kembali memandang dengan sayu ke arah pintu kamar tidurnya. Terlihat lelaki itu semakin bergairah menyaksikan dirinya tengah mengalami klimaks. Mungkin Darwis sedang meresapi, betapa batang kemaluannya merasakan remasan dan hisapan lubang kemaluan dirinya saat dirinya klimaks seperti ini. Dan lelaki itu sudah merasakannya beberapa kali, baik tadi pagi maupun pada minggu lalu. Dan terlihat sekali kalau Darwis ingin sekali merasakan kembali apa yang pernah dirasakan sebelumnya. Dina melihat tangan lelaki itu semakin cepat mengocok batang kemaluannya sendiri. Hampir saja Dina berseru agar lelaki itu menghentikan gerakannya karena tentu saja nanti saat akan menggilirnya, dia sudah akan kelelahan.

 

Untung saja, ya…untung saja hal itu tak perlu dicemaskannya karena….

 

“Sekarang, biar Darwis yang menggantikannya dulu ya sayang” ujar suaminya sambil merebahkannya. Setelah itu, suaminya berteriak memanggil lelaki itu yang sebenarnya sudah berada di belakangnya. Dina melihat lelaki itu mendekat dengan penuh gairah. Terlihat batang kemaluannya bergoyang ke sana ke mari saat dia berjalan. Kalau sedang tidak dalam keadaan bergairah seperti ini, tentu dirinya akan tertawa. Terlihat lucu lelaki berjalan dengan alat kejantanannya yang bergoyang-goyang seperti belalai itu. Namun kali ini bukan lucu, justru membuat Dina semakin bergairah, apalagi menyadari kalau kedatangan lelaki itu untuk menggilirnya, memberi kenikmatan kepada dirinya.

 

“Ayo Wis, gantikan aku dulu” ujar Ferry saat lelaki itu sudah berada di sampingnya. Ferry mundur, melepaskan batang kemaluannya dari dalam lubang kemaluan Dina, sementara Dina menunggu dengan tegang sekaligus gairah.

 

Tegang karena ini pertama kalinya menerima masukan alat kelamin lelaki lain disaksikan dan atas perintah suaminya langsung. Dan saat Darwis sudah berada di antara kedua kaki mulusnya, Dina hanya bisa memandang ke arah suaminya seakan meminta dorongan. Ferry mengangguk memberi dorongan. Darwis menoleh sesaat ke Ferry. Kali ini Ferry mengangguk memberi dorongan pada lelaki itu.

 

“Sssshhhh….mmmmmhhhh….mmmaaassshhh” erang Dina sambil mengernyitkan dahinya dan memandang ke arahnya. Ferry senyum memberi motivasi. Darwis bergerak perlahan, Dina mengerang menahan. Perlahan Ferry menyaksikan batang kemaluan Darwis semakin masuk ke dalam lubang vagina istrinya. Perlahan Darwis sendiri kembali merasakan kenikmatan jepitan lubang kemaluan istri lelaki disampingnya ini. Perlahan juga Dina merasakan kembali nikmatnya tusukan batang kemaluan lelaki itu sampai akhirnya seluruh batang kemaluan lelaki itupun membenam habis ke dalam lubang kemaluannya, menghadirkan kembali rasa nikmat yang tadi dirasakannya.

 

Darwispun mulai bekerja. Dengan sedikit malu dan canggung, Dina masih terlihat pasif, hanya rintihan dan erangannya saja yang menandakan kalau dia sedang merasakan kenikmatannya. Ferrypun segera maju, mencondongkan kepalanya dan langsung melahap putting payudara istrinya. Dina tersentak, namun hanya sesaat untuk kemudian dia langsung tenggelam dalam buaian kenikmatannya. Benar-benar sangat terasa kelebihannya. Untuk pertama kalinya Dina merasakan cumbuan dua lelaki sekaligus, dan ini terasa jauh lebih hebat dari pengalaman sebelumnya, termasuk pengalaman saat melakukan pergumulan dengan lelaki itu tadi dan minggu lalu. Rasanya kenikmatannya kali ini terasa sempurna. Dina tak menyangka kalau ternyata melayani dua lelaki sekaligus akan sehebat ini rasanya. Dina sampai mengerang dan merintih kian keras dan kini akhirnya, pinggulnya langsung bergerak menyambut gerakan menusuk lelaki itu. Tangannya langsung bergerak dan menangkap batang kemaluan suaminya yang masih berdiri mantap dan keras sekali. Sambil menikmati hujaman batang kemaluan lelaki itu di liang vaginanya, sambil menikmati jilatan, gelitikan lidah dan hisapan bibir serta gigitan-gigitan kecil suaminya di puting payudaranya, Dinapun menggenggam erat batang kemaluan suaminya.

 

Ferry mengarahkan cumbuannya ke wajah Dina. Mulai dari lehernya, terus ke pipi dan ke daun telinganya, sambil tangannya terus meremas-remas payudara istrinya itu.

 

“Gimana, nikmat sayang ?” bisik Ferry memastikan.

 

“He’eh” hanya itu yang keluar dari celah bibir Dina.

 

“Kita akan melakukan hal ini sampai sepuas-puasnya. Kita akan bersenang-senang sampai tiga hari ke depan” bisik Ferry. Kalau saja Dina tak sedang dalam gulungan kenikmatan birahinya, tentu dia akan terkejut dan melotot tak percaya atas ucapan suaminya itu. Namun saat ini, saat dirinya tengah tenggelam dalam gulungan ombak kenikmatan birahinya, ucapan suaminya itu justru memberikan dorongan tambahan untuk dirinya. Dorongan tambahan agar dirinya tak ragu lagi menikmati ini sepenuhnya, dorongan yang akhirnya membuat gerakan pinggulnya semakin meningkat gencar dan dengan gerakan salah satu tangannya, Dina memberi isyarat agar lelaki yang sedang menggilirnya itu meningkatkan kecepatan dan kekuatan gerakannya. Darwispun mengerti.

 

“Uuuukkkhh…uuuukkkhhh…uuukkkhhh” Dina semakin merintih dan mengerang. Dari ekspresi wajahnya terlihat kalau Dina tengah merasakan kenikmatan yang hebat. Gerakan Darwis sampai membuat tubuh bugil Dina terguncang-guncang kuat walau berusaha dipegangi dan diredam oleh Ferry sendiri. Bagi Ferry, keadaan ini benar-benar sangat menggairahkan. Sangat menggairahkan saat melihat istrinya tak lagi ragu dan malu menikmati semuanya. Sangat menggairahkan karena terlihat istrinya betapa sangat menikmati semua ini. Sangat menggairahkan karena semua yang diekspresikan istrinya itu.

 

Hingga akhirnya….ya, hingga akhirnya….Dina memekik kembali. Dengan cepat dirangkulnya dirinya dan dipeluknya kuat-kuat. Jalan napasnya terdengar terputus-putus dan tubuh bugilnya yang kembali mulai dibasahi keringat itu, terasa mengejang dan bergetar hebat. Dina, istrinya kembali memperoleh klimaksnya dengan hebat. Keadaan ini berlangsung beberapa saat lamanya sampai kemudian dirasakannya pelukan Dina mengendur.

 

“Mas…gantikan lagi” pinta Dina tak lagi ragu dan canggung. Ferry tersenyum setuju. Darwis mundur, dan Ferrypun mengambil posisi. Dengan cepat dimulai giliran keduanya. Ferry mulai membenamkan batang kemaluannya ke dalam lubang vagina istrinya itu dengan perlahan. Perlahan namun pasti sampai seluruh batang kemaluannya membenam habis ke dalam lubang kemaluan istrinya. Masih terasa denyutan dinding lubang kemaluan istrinya pertanda klimaks yang baru didapatkan istrinya itu masih tersisa kenikmatannya.

 

“Wis, kamu duduk disini saja, biar istriku bisa melakukan apapun yang dia inginkan” ujar Ferry saat melihat lelaki itu akan menjauh sejenak. Darwis menurut, duduk di samping tubuh bugil Dina yang baru saja digilirnya itu.

 

Perlahan Ferrypun mulai bekerja. Perlahan pula Dina mulai menyambut. Ferry meraih tangan Darwis dan meletakkannya diatas payudara Dina. Lalu Ferrypun meraih tangan istrinya itu dan meletakkannya tepat di batang kemaluan lelaki itu. Keduanya langsung merespon dengan penuh gairah. Darwis langsung meremas-remas payudara Dina, sementara Dina langsung menggenggam dan mengocok-ngocok batang kemaluan Darwis sambil menikmati hujaman batang kemaluan Ferry di liang kemaluannya.

 

“Ayo Wis, jangan cuma dipegang, lakukan apa yang ingin kamu lakukan, nggak usah ragu” ujar Ferry menyilahkan. Darwispun tersenyum senang. Langsung dia membungkukkan tubuhnya, dan mulutnya segera beraksi di payudara Dina memberi kenikmatan tambahan pada Dina.

 

Ferry mencondongkan tubuhnya ke arah Dina.

 

“Mau isep punya Darwis sayang ?  Ayo, lakukan apapun yang kamu inginkan. Semua terserah kamu, asal kamu menikmatinya” bisiknya. Dina tak menjawab. Ferry kembali menegakkan tubuhnya. Sesaat tak ada reaksi dari Dina istrinya, namun sesaat kemudian, Darwis menegakkan kepalanya karena merasakan batang kemaluannya ditarik tangan Dina. Sebelum bergerak, Darwis memandang ke arah Ferry, meminta persetujuan. Sambil terus bergerak, Ferry mengangguk memberi jawaban dan Darwispun mendekatkan selangkangannya ke wajah Dina. Sambil merintih dan setengah memejamkan matanya, nampak dengan sangat bergairah Dina langsung melahap batang kemaluan Darwis dengan penuh gairah, membuat Ferry semakin bergairah menyenggamai istrinya itu. Darwispun sampai menggeram-geram merasakan hisapan mulut Dina di batang kemaluannya. Ketiganya kini sama-sama kenikmatan.

 

“Leb…bih cep…pat mas…mmmhhh….yyaaa…ter…rus…uuukkhhh….mmmmh” pinta Dina lalu kembali melahap batang kemaluan Darwis. Ferry menusuk-nusuk dengan kekuatan dan kecepatan puncak. Payudara Dina yang tak terpegang Darwis hingga terguncang-guncang. Batang kemaluan Darwispun berkali-kali terlepas dari mulut istrinya itu. Ferry terus berpacu mengantarkan istrinya ke puncak kenikmatan berikutnya.

 

Dan setelah upaya kerasnya berlangsung beberapa menit, Dinapun kembali memekik lalu mengejang klimaks. Kulumannya terlepas, namun terlihat kalau jari tangannya sampai mencekik kuat batang kemaluan Darwis yang masih berada dalam genggamannya itu. Ferry kembali merasakan remasan dan hisapan lubang kemaluan istrinya itu sampai beberapa saat lamanya.

 

“Masih mau dilanjutkan sayang ?” bisik Ferry setelah merasakan denyutan liang vagina istrinya mereda. Dina tak menjawab dengan kata-kata, hanya anggukan kepalanya saja yang menunjukkan jawabannya. Pandangan matanya sudah semakin sayu, sementar sekujur tubuh bugilnya sudah semakin basah oleh keringatnya sendiri. Ferry memberi isyarat pada Darwis untuk kembali menggantikannya.

 

“Mau ganti posisi sayang ?” tanya Ferry. Dina kembali mengangguk. Tanpa sungkan dan ragu lagi, Dina langsung membalikkan tubuh bugilnya sendiri. Kini dia merangkak. Rupanya Dina ingin posisi doggy. Darwispun bersiap, sementara Ferry duduk dihadapan Dina. Dinapun langsung menyergap batang kemaluan suaminya itu yang baru saja mengantarkannya ke klimaks.

 

“Mmmmmhhh….” bertepatan dengan masuknya batang kemaluan Ferry ke dalam mulut Dina, batang kemaluan Darwispun memasuki lubang vagina istrinya itu. Lalu Darwispun kembali bekerja dan Dinapun kembali mengerang-ngerang dan merintih-rintih menikmati semuanya. Kedua payudara Dina yang menggantung bebas, langsung disergap kedua tangan Ferry dan memberinya stimulasi tambahan pada istrinya itu. Sementara di belakang, Darwispun berkali-kali meremas bongkahan pantat Dina yang memang sangat menggairahkan itu.

 

Akhirnya, setelah klimaksnya kembali diperoleh, Ferrypun kembali menggantikan posisi Darwis, masih dalam posisi yang sama, doggy. Dina nampaknya ingin membagi secara adil pada keduanya. Walau lututnya terasa lemas dan gemetar, namun dia berusaha untuk tetap bertahan. Ferry dan Darwis bergantian mengambil posisi. Sementara Dina kembali menerima dan memperoleh hasilnya.

Seakan tak mengenal lelah, Dina kembali menerima giliran Darwis berikutnya, walau sekujur tubuh bugilnya sudah bermandikan keringat. Rasa linu di selangkangannya mulai terasa, namun dia berusaha untuk terus bertahan dan dapat melayani keduanya.

 

“Mas…sel…lesaikan…sek…karang. Ak..ku…aku su…dah…”

 

“Ya sayang. Ayo Wis, kamu selesaikan duluan aja” ujar Ferry. Lelaki itupun dengan semangat dan bergairah menerimanya. Posisinya kini kembali seperti semula. Dina kembali telentang sambil membuka kedua kakinya lebar-lebar, sementara Darwis menusuk dari depan. Dan akhirnya, lelaki itupun menggeram mendapatkan hasilnya setelah sebelumnya Dinapun memekik dan meregang mendapatkan kembali klimaksnya.

 

Ferry mengamati, sedikit sekali lelaki itu menumpahkan cairan klimaksnya diatas tempat tidur. Juga hanya sebuah cairan bening, tak putih dan kental seperti umumnya lelaki miliki. Oh ya tentu, seperti ucapannya tadi saat berbincang, dia memang mandul. Tak mampu menghasilkan sperma. Ferry sempat prihatin dengan keadaan lelaki itu kalau saja Dina tak memanggilnya.

 

“Kamu yakin masih mau melanjutkan sayang ?” tanya Ferry demi melihat istrinya sudah sangat kelelahan.

 

“Ya mas, ak…ku ma…sih ingin. Ak..ku…ingin lag…gi” jawab Dina lirih.

 

“Nggak sebaiknya istirahat dulu sayang ?” bujuk Ferry tak tega.

 

“Ng…gak mas. Ak…ku…ingin…lag…gi. Ayo mas…sek…kali lag…gi aja” pinta Dina merengek. Antara iba sekaligus terkejut dengan gairah istrinya itu, akhirnya Ferrypun menyetujui.

 

“Yang….cep…pat aj…ja mas…lang…sung..aja” pinta Dina saat Ferry mulai membenamkan batang kemaluannya ke dalam lubang kemaluan istrinya itu. Ferrypun memenuhi, langsung menggenjot istrinya dengan cepat dan kuat. Dina sampai megap-megap menerimanya. Kepalanya tertarik jauh ke belakang. Wajahnya mengekspresikan kenikmatan yang amat sangat membuat Ferry semakin bersemangat.

 

“Terus sayang ? Masih kuat ?” tanya Ferry sambil terus bekerja.

 

“Yyyaa…ter..rus maasshh…tus…suk yang…kuu…aaatt, akh ! Ya…terus…terus.. leb…bih kuuu…aaatt !! Ya…ya….ter…russshhh….ooookkkhhh….uuuukkkhhh… akh !” Dina nampak histeris. Pinggulnya bergerak liar, berputar-putar seakan tak terkendali, sementara kepalanya terus tertarik jauh ke belakang. Dahinya mengernyit, kedua alisnya seakan hendak bertaut. Mulutnya terbuka, kedua matanya terpejam rapat. Jari-jari tangannya mencengkeram kuat kedua lengan Ferry. Pinggulnya berkali-kali tersentak naik. Ferry menyaksikan betapa istrinya sangat bergairah dan kenikmatan sehingga memberi tenaga tambahan untuk terus menggempur istrinya dengan hebat. Baru kali ini dirinya dan istrinya melakukan pergumulan sehebat ini sampai akhirnya…baik Dina maupun Ferry sendiri saling memiting hebat, menyelesaikan permainan keduanya. Sama-sama napas memburu, sama-sama meregang kenikmatan dan sama-sama puasnya.

(Bersambung)

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Pijat Sensasi.

Aku Hary. Ingat kisah Hadiah Untuk Istriku ? Namun kali ini aku tidak menceritakan pengalamanku dan istriku dulu, melainkan justru pengalaman keluarga temanku, Ferry.   Ya, Ferry yang dalam kisah Hadiah Untuk Istriku itu. Ferry yang bersama-sama denganku memberikan kepuasan … Baca lebih lanjut

Galeri | Tinggalkan komentar

Berbagi Kebahagiaan

Malam itu, 21 Juni 2006..
“Kami mau tidur dulu, Mbak..”, kata Sandra kepada Shanty yang masih asyik menonton acara di televisi.
“Tadi anakku tertidur di kamarmu..”, kata Sandra lagi.
“Iya.. Pergilah istirahat sana. Kasihan si Lucky besok harus kerja lagi..”, kata Shanty sambil tersenyum.
“Biar anakmu tidur denganku..”, sambung Shanty. Akhirnya Sandra dan Lucky segera masuk ke kamarnya.
“Kasihan Mbak Shanty ya, Mas?”, kata Sandra sambil memeluk Lucky.
“Betul.. Sudah berapa lama dia pisah ranjang dengan suaminya?”, tanya Lucky sambil memjamkan matanya.
“Kalau tidak salah sih.. Sudah hampir 4 bulan, Mas”, kata Sandra sambil menyusupkan tangannya ke sarung Lucky.
“Ha?! Mas nggak pakai celana dalam ya?”, tanya Sandra agak kaget tapi tangannya erat memegang batang kemaluan Lucky.
“Memang tidak pakai kok..”, kata Lucky santai sambil tersenyum menatap Sandra.
“Jadi selama kita tadi nonton TV bersama Mbak Shanty.. Yee nakal ya!”, kata Sandra sambil meremas batang kemaluan Lucky agak keras.
“Nggak apa-apa kok.. Nggak kelihatan ini kan?”, kata Lucky sambil memiringkan badannya menghadap Sandra.
“Lagian kalau dia lihat juga.. Anggap saja amal.”, kata Lucky sambil tersenyum nakal.
“Nakal ya!”, kata Sandra sambil melumat bibir Lucky sementara tangannya tak henti mengocok batang kemaluan Lucky hingga tegang.
“Mm.. Enak sayang..”, bisik Lucky ketika batang kemaluannya makin cepat dikocok.
“Buka dulu bajunya, Mas..”, kata Sandra sambil menghentikan tangannya.

Lalu Sandra bangkit dari kasur dan melepas seluruh pakaiannya. Lucky juga ikut bangkit lalu segera melepas pakaiannya.
“Jangan dulu ke kasur.. Hisap dulu dong..”, kata Lucky sambil mengecup bibir Sandra lalu tangannya agak menekan dan membimbing kepala Sandra ke arah batang kemaluannya. Sandra mengerti dan menuruti kemauan suaminya itu.
“Ohh..”, desah Lucky terdengar ketika mulut Sandra sudah mengulum penuh batang kemaluannya.
“Mm.. Kamu memang pintar.. hh..”, kata Lucky sambil memejamkan matanya ketika tangan Sandra dengan pelan mengocok batang kemaluannya.
“Mm..”, terdengar suara Sandra ketika mulutnya tak henti menghisap batang kemaluan Lucky sambil tangannya tak henti mengocoknya.
“Ohh.. Ennakk sayangg..”, kata Lucky sambil memaju mundurkan pantatnya seiring hisapan mulut Sandra pada batang kemaluannya.
“Gantian, Mas..”, kata Sandra setelah menghisap batang kemaluan Lucky beberapa lama.
Sandra lalu membaringkan tubuhnya di kasur kemudian membuka lebar pahanya. Tampak bulu bulu halus tumbuh agak lebat di sekitar vaginanya.
“Oww.. Enak sekali Mass..”, desah Sandra dengan mata terpejam ketika lidah Lucky mulai menjilati belahan vaginanya dari atas ke bawah bolak-balik. Pantat Sandra langsung bergoyang seiring rasa nikmat yang dirasakannya.
“Ohh.. Teruss.. Ohh.”, desah Sandra makin keras ketika jari Lucky keluar masuk lubang vaginanya yang sangat basah sambil tetap lidahnya menjilati kelentitnya.
Tubuh Sandra melengkung dan menggeliat serta menggelinjang menahan nikmat yang luar biasa.. Sampai akhirnya, serr! Serr! Serr! Sandra mendesakkan kepala Lucky ke vaginanya ketika terasa semburan air mani dalam vaginanya disertai rasa nikmat dan nyaman yang amat sangat.
“Ohh!! Ohh!!”, suara Sandra serak keluar dari mulutnya..
“Nikmat sekali Mass..”, desah Sandra dengan tubuh lemas terkulai di atas kasur.
“Kini giliranku..”, kata Lucky tersenyum sambil bangkit lalu menaiki tubuh Sandra.
Mulut Lucky yang masih basah oleh cairan vagina Sandra segera melumat bibir Sandra. Sandra segera membalas lumatan bibir Lucky sambil memegang batang kemaluan Lucky dan mengarahkan ke lubang vaginanya. Bless.. Bless.. batang kemaluan Lucky ditekan dan dengan segera sudah keluar masuk vagina Sandra.
“Ohh..”, kembali desah Sandra terdengar seiring keluar masuk batang kemaluan Lucky ke vaginanya.
“Ohh enak sekali rasanya sayang..”, bisik Lucky ke telinga Sandra sambil tak henti memompa batang kemaluannya.
“Kita enak-enakan di sini, sementara Mbak Shanty kesepian..”, kata Sandra sambil mengecup bibir Lucky.
“Ya itu sudah nasibnya, sayang..”, kata Lucky sambil terus merengkuh tubuh Sandra dalam kenikmatan.
“Ohh enakk, sayangg..”, desah Sandra sambil menggeliat keenakan.
“Mas suka nggak kepada Mbak Shanty?”, tanya Sandra di sela persetubuhan itu.
“Ya tentu saja suka, namanya juga kakak sendiri..”, kata Lucky sambil terus memompa batang kemaluannya keluar masuk.
“Maksudku, suka secara fisik.. Lelaki suka wanita..”, kata Sandra sambil menggoyangkan pantatnya.
“Kok kamu membicarakan orang lain sih?”, kata Lucky.
“Ngak apa-apa kan, Mas? Lagian itu membuatku makin bergairah..”, kata Sandra sambil mempercepat goyangannya.
“Benarkah?”, tanya Lucky.
“Iyaahh.. Kadang saya suka membayangkan Mas bersetubuh dengan wanita lain. Dan itu membuat saya bergairah.. Nggak marah kan, Mas?”, tanya Sandra.
“Fantasi seperti itu boleh saja, sayang..”, kata Lucky sambil mengecup kening Sandra.
“Ohh.. Betulkahh?”, Sandra mendesah.
“Kalau saya mau Mas membahagiakan Mbak Shanty, mau nggak?”, tanya Sandra mengagetkan Lucky.
Serta merta mereka menghentikan gerakan sambil vagina dan batang kemaluan mereka tetap berpautan.
“Masksud kamu apa, sayang..?”, tanya Lucky. Sandra tidak menjawab pertanyaan Lucky, tapi hanya tersenyum lalu mengecup bibir Lucky.
“Mbak Shanty adalah orang yang paling saya sayang, dan saya ingin dia mendapatkan yang terbaik..”, kata Sandra.
“Saya ingin bisa memberikan yang terbaik buat dia..”, lanjut Sandra.
“Mas adalah yang terbaik buat saya..”, kata Sandra sambil tersenyum.
“Saya rela membagi hal terbaik yang saya punya dengan Mbak Shanty..”, kata Sandra lagi.
“Mas ngerti kan maksud saya?”, Sandra sambil kembali menggoyang pantatnya.
“Mas ngerti.. Tapi apakah kamu benar-benar..”, ucapan Lucky terputus karena Sandra keburu melumat bibirnya.
Kembali mereka bersetubuh melanjutkan yang terhenti tadi.
“Saya benar-benar ingin Mas membahagiakan Mbak Shanty.. Juga itu membuat saya makin bergairah..”, kata Sandra sambil menggoyang pantatnya lebih cepat.
“Baiklah.. Ohh.. Ohh..”, desah Lucky sambil mempercepat gerakannya.
“Aku mau keluarr sayangg..”, kata Lucky sambil mendesakkan batang kemaluannya makin dalam ke vagina Sandra.
Crott! Croott! Croott! Air mani Lucky menyembur banyak di dalam vagina Sandra.
“Ohh.. Enak sekali sayang..”, kata Lucky sambil mengecup bibir Sandra.
“Mas mau kan memenuhi permintaan saya..?”, tanya Sandra manja.
“Iya.. Baiklah..”, kata Lucky sambil tersenyum.
“Terima kasih. Sering saya membayangkan Mas menyetubuhi Mbak Shanty..”, bisik Sandra. Dan mereka pun kembali saling berpagutan tanpa melepas batang kemaluan dan vagina mereka yang masih bertautan.
*****
Suatu pagi..
“Mas, Mbak Shanty.. Saya akan ke pasar dengan si kecil.., ada mau titip tidak?”, kata Sandra kepada mereka berdua.
“Aku ikut, San..”, kata Shanty.
“Nggak usah, Mbak.., saya mau ke rumah ibu Heru dulu soalnya”, kata Sandra berdalih.
“Ya sudah kalau begitu..”, kata Shanty.
Akhirnya Sandra dan anaknya segera meninggalkan rumah. Tinggal Lucky dan Shanty berdua.
“Tidak ke kantor, Luck?”, tanya Shanty.
“Saya sudah ijin untuk datang agak siang, Mbak..”, jawab Lucky sambil mendekati dan duduk di samping Shanty.
“Ada satu hal yang ingin saya tanyakan, Mbak..”, kata Lucky.
“Apa itu?”, tanya Shanty sambil menatap mata Lucky.
“Bagaimana urusan Mbak dengan Mas Rudy? Saya kasihan kepada Mbak..”, kata Lucky.
“Nggak tahulah, Luck.. Kita lihat saja nanti..”, kata Shanty sambil menyenderkan tubuhnya di kursi.
“Mbak putus asa?”, tanya Lucky sambil tangannya mencoba memegang tangan Shanty.
Shanty hanya diam ketika Lucky menggenggam tangannya. Hanya air mata yang terlihat menetes di sudut matanya.
“Aku tidak ingin hidup lebih lama lagi..”, kata Sandra sambil terisak.
“Saya mengerti bagaimana perasaan Mbak..”, kata Lucky air mata Shanty makin deras membasahi pipinya..
“Boleh aku pinjam bahumu, Luck? Aku nggak tahan..”, kata Shanty.
Lucky mengangguk. Dan Shanty segera merebahkan kepalanya di bahu Lucky dan menangis terisak. Lucky mengusap-ngusap rambut dan punggung Shanty untuk menenangkannya.
“Sudahlah, Mbak.. Mbak masih punya kami..”, kata Lucky sambil melepas rangkulan Shanty dan menatap matanya.
“Kami sayang Mbak.. Saya sayang Mbak..”, kata Lucky.
“Benarkah?”, tanya Shanty sambil meyeka air matanya. Lucky tak menjawab hanya mengangguk sambil menatap mata Shanty.
Lama mereka saling bertatapan. Ada rasa tak menentu ketika Shanty menatap mata Lucky. Apalagi ketika Lucky sedikit demi sedikit mendekatkan wajahnya hingga hampir bersentuhan. Shanty tak bisa berkata apa-apa ketika terasa ada rasa hangat dan nyaman ketika bibir Lucky menyentuh bibirnya. Ketika Lucky mengecup bibirnya, Shanty hanya bisa terpejam merasakan rasa nyaman dan rasa berdesir di hatinya.
“Mmhh..”, hanya itu yang keluar dari mulut Shanty ketika Lucky mulai melumat bibirnya.
“Luck.. Jangan.. Mmhh..”, kata Shanty ingin menolak tapi gairahnya telah mulai naik. Lucky tak menjawab, tapi makin hangat melumat bibir Shanty.
“Mmhh..”, Shanty mendesah dan mulai terbawa aliran gairahnya yang bangkit perlahan.
Dibalasnya ciuman Lucky dengan panas dan liar. Sebagai wanita yang telah lama tidak merasakan kehangatan sentuhan laki-laki, perlakuan Lucky membuat Shanty bergairah tinggi dan mulai melupakan kesedihannya saat itu.
“Luck.. Aku.. Aku.. Ohh..”, suara Shanty terputus putus serak ketika tangan Lucky mulai menggerayangi bagian depan baju dasternya. Dua gumpalan empuk di dada Shanty diremas perlahan oleh Lucky sambil tetap berciuman.
“Mbak, kita pindah ke kamar..”, ajak Lucky sambil menarik tangan Shanty.
“Tapi.. Tapi.. Bagaimana dengan Sandra?”, tanya Shanty ragu.
“Saya bisa menyayangi Mbak seperti ini karena Sandra sayang kepada Mbak..”, kata Lucky sambil menarik Shanty ke kamar.
“Maksudnya apa, Luck..”, tanya Shanty.
Lucky tidak langsung menjawab, tapi langsung memeluk dan melumat bibir Shanty. Shantypun karena sudah terbawa gairahnya langsung membalas pagutan Lucky. Keduanya terus berciuman sambil melepas pakaian masing-masing. Lucky merebahkan tubuh telanjang Shanty ke atas kasur.
“Ohh.. Luckyy.. Mmhh..”, desah Shanty keras ketika lidah dan mulut Lucky menggigit dan menjilati buah dadanya, apalagi ketika satu tangan Lucky turun ke perut lalu turun lagi ke vaginanya yang sudah sangat basah.
“Saya sayang Mbak..”, kata Lucky sambil menatap Shanty lalu kepalanya mulai turun ke perut lalu turun lagi ke vagina.
“Oohh.. Ohh.. Oww.. Sshh..”, jerit lirih Shanty sambil mata terpejam ketika lidah Lucky liar menjilati belahan vagina dan kelentitnya bergantian.
Serr! Serr! Serr! Shanty merasakan rasa nikmat yang sangat luar biasa ketika cairan cintanya menyembur disertai dengan geliatan dan gelinjang tubuh ketika rasa nikmat itu menjalar.
“Ohh, Lucky.. Aku sudah lama tidak merasakan hal seperti ini.. Makanya aku keluar cepat..”, kata Shanty sambil menatap Lucky yang sudah berada di atas tubuhnya.
“Saya akan membahagiakan Mbak.. Kapan saja Mbak mau..”, kata Lucky sambil tersenyum lalu mengecup bibir Shanty.
“Tapi.. Sandra..”, tanya Shanty.
“Sandra sangat sayang pada Mbak..”, kata Lucky sambil mengarahkan batang kemaluannya ke lubang vagina Shanty.
Shanty meraih batang kemaluan Lucky dan membimbing ke lubang vaginanya. Tak lama Lucky sudah turun naik memompa batang kemaluannya di lubang vagina Shanty.
“Ohh.. Mhh..”, desah Lucky dengan mata terpejam sambil memeluk Shanty.
“Ohh.. Enak sekaliihh.. Ohh..”, desah Shanty sambil menggoyangkan pinggulnya cepat.
Setelah beberapa lama, serr! Serr! Serr! Kembali Shanty menyemburkan air maninya disertai jeritan kenikmatan dari mulutnya.
“Nikmat sekali.. Ohh..”, bisik Shanty dengan tubuh lunglai.
“Tengkurap, Mbak..”, pinta Lucky sambil mencabut batang kemaluannya.
Shanty menuruti permintaan Lucky tersebut. Shanty membalikkan badannya tanpa menungging, lalu melebarkan kakinya agar batang kemaluan Lucky bisa mudah masuk lubang vaginanya. Bless..! Lucky mengarahkan batang kemaluan ke lubang vagina Shanty dari belakang lalu menekan dan akhirnya batang kemaluan Lucky leluasa keluar masuk. Mata Lucky terpejam merasakan kenikmatan memompa batang kemaluannya di vagina Shanty sambil memegangi bongkahan pantat Shanty yang bulat padat.
“Ohh.. Saya mau keluarrhh..”, kata Lucky serak.
“Jangan dikeluarkan di dalam, Luck.. Aku nggak KB..”, kata Shanty cepat.
Lucky makin mempercepat pompaan batang kemaluannya lalu dengan segera mengeluarkan batang kemaluannya kemudian digesek-gesekkan di belahan pantat Shanty, sampai.. Croott! Croott! Croott! Air mani Lucky menyembur banyak dan jauh hingga punggung Shanty.
“Ohh.. Enak sekali, Mbak..”, kata Lucky sambil berbaring di samping tubuh Shanty yang masih tengkurap berlumuran air mani Lucky di punggung dan pantatnya.
“Apakah ini akan menjadi masalah, Luck?”, tanya Shanty.
“Tidak akan, Mbak.. Percaya kepada kata-kata saya..”, kata Lucky sambil tersenyum lalu mengecup bibir Shanty. Keduanya saling terdiam beberapa saat masih dalam keadaan telanjang bulat, napas keduanya saling memburu. Shanty memejamkan matanya, dirinya merasa bahagia kembali mendapatkan sesuatu yang selama ini tak didapatkannya.
“Luc, sebaiknya kita cepat berpakaian, nanti Sandra…”
“Tenang aja Mbak, Sandra kalau ke pasar lama banget, bisa tiga jam-an. Soalnya sekalian ngajak Tanto main. Lagian, dia juga kan mau ke rumah temannya itu. Dan kalau sudah disana….wiiih… bisa seharian” ujar Lucky menenangkan. Shanty senang mendengar keterangan Lucky, dengan demikian dirinya memiliki waktu untuk lebih lama berdua dengan suami adiknya itu dan dapat lebih banyak menggali kenikmatannya.
Shanty yang kehausan dan Lucky yang mendapat “barang” baru, tentu saja membuat keduanya langsung bergairah kembali. Hanya dalam tempo kurang dari sepuluh menit, keduanya kembali bergumul dengan serunya. Saling peluk, saling raba, saling pagut dan apapun yang mereka inginkan sampai akhirnya keduanya kembali ke puncak permainan.
“Aku diatas Luc” ujar Shanty bersemangat. Lucky langsung rebah telentang dan Shanty langsung mengangkangi suami adiknya itu. Dengancepat diraihnya batang kemaluan Lucky dan diarahkan nya ke selangkangannya lalu….
“Sssshhh….ooookkkhh….” desah Shanty saat menurunkan tubuh bugilnya diatas selangkangan Lucky. Perlahan batang kemaluan Luckypun membenam masuk ke dalam lubang vaginanya. Terasa sekali desakan, gesekan dan terobosan batang kemaluan suami adiknya itu di lubang vaginanya, menyentuh, menggesek dan menggelitik setiap bagian sensitif di dalam liang vaginanya memberikan kenikmatan yang luar biasa. Shanty terus menurunkan tubuhnya sampai akhirnya….
“Akh” pekiknya disertai sentakan tubuh bugilnya saat ujung batang kemaluan Lucky menusuk kuat dasar lubang vaginanya. Shanty diam sejenak sambil menekan kuat-kuat tubuhnya sehingga tusukan ujung batang kemaluan Lucky benar-benar maksimal. Lalu dengan gerakan perlahan Shanty menggoyangkan pinggulnya ke segala arah sehingga ujung batang kemaluan Lucky mengorek-ngorek dasar lubang vaginanya memberikan rasa nikmat yang kuat. Shanty sampai mencakar dada suami adiknya itu tanpa sadar. Lalu dengan perlahan Shantypun mengangkat pinggulnya. Naik beberapa saat hingga tinggal bagian kepala batang milik Lucky yang tersisa di dalam lubang vaginanya untuk kemudian dia kembali menurunkan tubuh bugilnya hingga seluruh batang kemaluan Luckypun kembali membenam habis ke dalam lubang kemaluannya diiringi pekikan kecil. Diulanginya lagi, lagi dan lagi dengan gerakan yang semakin lama semakin cepat. Sesekali matanya yang sayu memandang ke arah Lucky dengan pandangan bahagia karena telah memberikannya kebahagiaan dan kenikmatan yang tak didapatkannya lagi ini.
Gerakan tubuh bugil Shanty semakin tak terkendali. Sambil turun naik, pinggul Shanty bergerak berputar-putar membuat Lucky merasa batang kemaluannya seperti dipilin-pilin. Sambil terus menikmati gerakan Shanty, Luckypun tak menyia-nyiakan kedua payudara kakak iparnya itu terpampang bebas. Diremasinya kedua payudara Shanty yang membuncah indah itu memberikan kenikmatan tambahan bagi keduanya sampai akhirnya Shanty memekik panjang disusul tubuh bugilnya ambruk menimpa tubuh bugil Lucky lalu mengejang dan bergetar hebat.
“Aku dapat Luck” ujar Shanty pelan hampir tak bersuara. Napasnya memburu, sekujur tubuh bugilnya berkeringat.
Lucky langsung membalikkan tubuh bugil kakak iparnya itu hingga Shanty berada di bawahnya. Lalu dengan cepat Luckypun langsung bergerak sementara Shanty hanya bisa megap-megap merasakan serangan Lucky di tengah gemuruh badai puncak kenikmatannya yang baru saja meledak tadi.
Lucky terus bekerja sementara Shanty terus merintih-rintih kenikmatan. Perlahan Shantypun mulai membalas gerakan Lucky setelah gemuruh ledakan kenikmatannya mereda. Sambil memutar-mutar pinggulnya, Santy menerima tusukan Lucky. Keduanya memacu kenikmatan mereka. Sesekali Shanty menarik lututnya ke belakang dan memegangi kedua lututnya dengan kedua tangannya sambil mengangkang lebar, menginginkan tusukan yang terdalam di lubang kemaluannya.
“Luck…terus Luck…terus. Aku…aku…mau da…pat la…gi” rintih Shanty. Luckypun semakin mempercepat gerakannya sampai akhirnya Shanty memekik klimaks. Lucky menghentikan sejenak gerakannya sambil menekan sekuat-kuatnya pinggulnya. Terasa sekali denyutan lubang kemaluan kakak ipar perempuannya itu sehingga seluruh batang kemaluannya terasa seperti diremas-remas dan disedot-sedot lubang kemaluan Shanty dan sangat cepat dan kuatnya.
Keduanya kembali melanjutkan persenggamaannya setelah Shanty tenang kembali. Berbagai posisi mereka lakukan. Bergantian mengambil peranan aktif menandakan baik Shanty maupun Lucky sama-sama bergairah dan ingin memberi dan menerima kenikmatan birahi sepuasnya. Dan persenggamaan babak kedua ini berakhir di sudut kamar dalam posisi sama-sama berdiri. Keduanya langsung ambruk ke bawah, terkapar di lantai kamar tidur dalam keadaan basah kuyup dan napas memburu setelah lebih dari setengah jam berpacu dalam kenikmatan birahi.
Seakan tak ada puasnya dan seolah memanfaatkan kesempatan, baik Shanty maupun Lucky kembali mengulangi persetubuhannya setelah tenaga mereka sedikit pulih. Babak ketiga mereka lakukan di ruang tamu sambil mengamati halaman kalau-kalau Sandra pulang, setidaknya demikian yang diminta Shanty. Lucky tenang-tenang saja karena memang apa yang dilakukannya saat ini adalah atas permintaan Sandra sendiri agar dirinya memberi kebahagiaan pada kakaknya itu, dan itulah yang kini dilakukannya.
Kembali Shanty dan Lucky tenggelam dalam buaian kenikmatan birahi mereka. Seakan mereka tengah berbulan madu, saling mereguk kenikmatan sepuas-puasnya, terutama Shanty yang sekian lama dalam kedahagaan. Dan waktu yang diberikan Sandra memang sangat luang, sampai sekitar lima jam membuat Shanty benar-benar merasa sangat puas. Bahkan dengan tenaga yang sangat lemah, Shanty masih meminta Lucky menyenggamainya sampai akhirnya dia benar-benar kehabisan tenaga. Lalu dengan dipapah Lucky, Shantypun meminta diantar ke kamar tidur dan disana dia minta satu babak lagi sampai benar-benar lunglai tak bertenaga lagi. Shantypun terkapar kehabisan tenaga, lalu minta tubuh bugilnya ditutupi selimut dan mengucapkan terima kasih pada adik ipar lelakinya itu yang telah memberikan kenikmatan yang luar biasa, Shanty menyuruh Lucky menunggu Sandra di luar.
*****
“Bagaimana mas ?” ujar Sandra setelah pulang dan menemui suaminya.
“Sudah. Kakakmu benar-benar ingin dipuaskan” jawab Lucky.
“Makasih ya mas” ucap Sandra sambil mengecup pipi suaminya itu.
“Eh, Tanto mana ?” ujar Lucky baru sadar akan si kecil buah hati mereka.
“Dia di rumah ibu. Dia minta nginap disana selama liburannya” ujar Sandra.
“Sekarang puaskan aku dong, gantian” ujar Sandra manja.
“Ayo” jawab Lucky senang sambil bangkit dan menggamit pinggul istrinya masuk ke kamar tidur yang tadi digunakan untuk memuaskan Shanty.
“Disini aja. Toh kak Shanty sedang tidur. Lagian, biar aja dia lihat, kalau perlu…sekalian kita ajak” ujar Sandra membuat Lucky terperangah kaget.
“Oke, siapa takut” jawab Lucky sambil melucuti pakaian istrinya hingga Sandra dalam keadaan telanjang bulat, demikian juga sebaliknya Sandra. Keduanya langsung bugil di ruangan tamu, lalu memulai cumbuan. Hanya sebentar Sandra minta dicumbu, lalu dia mengambil inisiatif mendahului. Lucky duduk di sofa dan Sandra duduk di pangkuannya. Dengan cepat Sandrapun menangkap batang kemaluan suaminya dan langsung membenamkannya ke dalam lubang kemaluannya sendiri hingga tandas diiringi pekikan nikmatnya. Selanjutnya Sandrapun bergerak licah, naik turun sambil memberikan kedua payudaranya ke suaminya untuk dihisapi dan diremas-remas. Sandra terus bekerja sampai mendapatkan hasilnya. Setelah itu berganti posisi. Dilanjutkan dalam posisi doggy sambil berdiri. Selesai, ganti lagi dalam posisi duduk di sofa dalam posisi berkebalikan dari sebelumnya. Sandra duduk mengangkang, suaminya berlutut dan menusuk dari depan.
Babak pertama selesai dengan skor 4-1 dan memakan waktu sekitar dua puluh menitan. Keduanya istrirahat di lantai yang berkarpet tebal masih dalam keadaan sama-sama telanjang bulat. Setelah itu keduanya kembali melanjutkan ke babak kedua.
Dan ditengah acara babak kedua ini berlangsung, Shanty bangun dan keluar dengan mengenakan gaun. Dia terkejut saat melihat adiknya Sandra dalam di ruang tamu dalam keadaan bugil tengah naik turun menduduki Lucky suaminya yang juga dalam keadaan bugil. Sandra yang melihat Shanty, sejenak menghentikan gerakannya.
“Ayo kak Santy, sini. Kita main bareng” ajak Sandra membuat Shanty terperanjat kaget. Luckypun ikut menoleh ke arah Shanty.
“Iya Mbak, ayo sini” sambung Lucky menguatkan. Shanty sedikit bingung namun kemudian dia melangkah mendekat sambil memandangi keduanya.
“Kak…kamu, nggak bercanda kan San ?” ujar Shanty tak percaya, kalau adiknya itu menawari dirinya bergabung untuk melakukan hubungan badan bersama.
“Ya nggaklah kak, masak sih aku bercanda” ujar Sandra sambil memutar-mutar pinggulnya menikmati korekan ujung batang kemaluan Lucky suaminya di dasar lubang vaginanya.
“Buka dong bajunya” sambung Lucky membuat Sandra kikuk walau sebenarnya dirinya sudah melakukannya tadi dengan adik ipar lelakinya itu. Kehadiran Sandra adiknya yang membuat Shanty jadi kikuk, walau saat ini adiknya tengah melakukan persenggamaan dengan suaminya dalam keadaan sama-sama polos.
“Ak..aku ke belakang dulu deh” ujar Shanty untuk meredakan perasaannya. Sambil mengendalikan dirinya, Shanty masuk ke kamar mandi. Sesaat di dalam dirinya diam, coba meyakinkan apa yang baru ditawarkan Sandra adiknya. Shanty benar-benar tak percaya kalau adiknya memberikan tawaran yang bagi orang umum sangat gila, berbagi suami. Dan sebenarnya, tadipun Shanty sudah mendapatkannya, namun kini terang-terangan Sandra mengajaknya bergabung bersama.
(Bersambung)

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar