Pijat Sensasi 2

Di dalam kamar, Dina hanya bisa merenung. Dirinya masih tak percaya, kalau baru saja dirinya melakukan sesuatu yang sangat-sangat tidak dibenarkan sesungguhnya kalau menurut etika dan moralitas, namun dirinya tak berdaya dan tak kuasa lagi menolak dan mencegah semua itu. Tarikannya demikian kuat. Dina tak pernah merasakan dan mengalami gairah sehebat tadi. Bahkan selama berumah tangga dengan Ferry suaminya.

 

Apakah ini selingkuh ? Entahlah. Namun dirinya tak bermaksud dan memang tak melakukan apa yang disebut selingkuh. Dirinya tak menduakan suaminya dengan lelaki lain, bahkan dengan lelaki yang baru saja melakukan percumbuan dengannya tadi itu. Dina berargumen, dirinya tak melakukan sesuatu yang secara hakikat disebut selingkuh. Tidak. Dirinya tak melakukan hal itu.

 

Apa ini sebuah upaya pembenaran atas apa semua yang telah dilakukannya ?  Mungkin. Tapi itu yang sesungguhnya. Semua itu terjadi dan berjalan begitu saja dan tanpa beban perasaan, dalam arti kata cinta. Semua hanya…biologis. Ya, hanya itu.

 

Namun, secara etika dan moral, memang apa yang telah dilakukannya itu memang tidak dapat dibenarkan. Namun kembali, dirinya sungguh tak kuasa lagi menolak atau menghindarinya. Tarikannya demikian kuat dan hebatnya. Bahkan, sampai saat inipun, dirinya masih merasakan sisa-sisa kenikmatannya itu dengan kuat. Pada bagian organ kewanitaannya, masih merasakan denyutan-denyutan rasa nikmat. Bahkan rasanya, rongga kewanitaannya masih terasa seperti diganjal sesutau yang demikian nikmatnya. Suatu perasaan nikmat dan kepuasan yang belum pernah dirasakannya selama ini, bahkan setelah sekian lamanya mengarungi rumah tangga dengan suaminya itu. Atas semua ini, apakah dirinya bisa disalahkan sepenuhnya ?

 

Rasa lelah dan kegundahan hatinya, membuat Dina akhirnya terlelap tanpa sadar, masih berbalut selembar kain yang tadi digunakannya.

 

Hari telah cukup larut saat dirinya tersadar. Tak dijumpainya Ferry, suaminya. Dina langsung bangkit dan memutuskan untuk membersihkan tubuhnya.

 

Selesai mandi, dikenakannya sebuah gaun dengan belahan dada yang agak rendah sehingga memperlihatkan belahan dadanya. Di bagian bawah, gaun itu hanya sebatas setengah pahanya, sehingga memperlihatkan sepasang paha indahnya. Dina bermaksud menemui suaminya dengan penuh kemesraan. Sikap mesra yang diberikannya sebagai sebuah ucapan terima kasih karena telah memberinya kesempatan untuk mendapatkan sesuatu yang amat menyenangkannya, walau tentu tak mungkin dia menceritakan sepenuhnya. Setidaknya dirinya dapat mengatakan kepada suaminya kalau dirinya berterima kasih karena diberi kesempatan dipijat oleh Darwis sehingga sekujur tubuhnya terasa fresh dan rileks. Ya, setidaknya untuk itu.

 

“Sudah makan mas ?” sapanya saat menjumpai suaminya tengah duduk santai di ruang tamu sambil membaca sebuah majalah.

 

“Belum” jawab Ferry singkat.

 

“Lho khok belum sih ?  Kenapa tak membangunkan aku ?” ujar Dina merasa bersalah sambil melirik ke jam dinding. Waktu menunjukkan pukul 8 malam lewat dua puluh menitan.

 

“Habis, kayaknya kamu pulas dan nyaman sekali tidurnya” balas Ferry sambil melirik sejenak ke arah istrinya, lalu kembali mengarahkan pandangan matanya ke majalah yang masih dipegangnya itu. Sekilas Ferry melihat penampilan istrinya itu yang demikian sensualnya. Andai saja, kejadian tadi siang itu tak terjadi, pasti Ferry akan memburu istrinya itu dan mencumbunya. Namun kali ini, Ferry merasa ada sesuatu yang membuat dirinya agak enggan untuk melakukan hal itu. Masih terbayang jelas dimatanya saat menonton istrinya itu bergumul dengan lelaki pemijatnya itu. Dina istrinya terlihat demikian menggebu-gebu gairahnya dan demikian menikmatinya. Ada terselip kecemburuan dalam dirinya.

 

Tapi kenapa ?  Bukankah dirinya menikmati juga saat itu ?  Dan secara tidak langsung, dirinya membiarkan semua itu terjadi, karena selain memberi kesempatan kepada istrinya untuk melakukan hal itu, juga dirinya tak mencegah, bahkan justru…menikmatinya. Salah siapa ?

 

Atas semua yang terjadi, bisa dikatakan kalau hal itu adalah atas kehendak dan keinginan dirinya sendiri ?  Mengapa harus menyalahkan istrinya ?

 

Ferry menarik napas panjang, seakan hendak melepaskan beban berat dalam dirinya. Perhatiannya tak tertuju ke bacaannya, namun menerawang. Mengingat, membayangkan dan mempertimbangkan atas semua yang baru dialaminya dalam kehidupan rumah tangganya. Ferry coba kembali merenung, kejadian tadi siang itu, bukan saja hanya istrinya yang menikmati, namun juga dirinya. Ya, dirinya.

 

Ferry diam-diam mengutuk dirinya sendiri. Diam-diam mengecam dirinya sendiri. Apakah aku ini suami yang normal, membiarkan, bahkan justru menonton istrinya sendiri bercumbu dengan lelaki lain ?  Tak melakukan tindakan apa-apa. Tak mencegah, bahkan justru…menikmatinya.

 

Ya, menikmatinya. Rasanya kini dirinya terbakar lagi demi membayangkan kejadian tadi siang. Dengan jelas sekali Ferry melihat istrinya yang berada dalam rengkuhan lelaki pemijatnya itu. Jelas sekali, istrinya sangat menikmati apa yang dilakukannya, hingga akhirnya istrinya itu melakukan sesuatu yang selama ini hanya dilakukan dengannya. Istrinya, Dina, dalam keadaan polos, menerima seluruh tindakan lelaki itu.

 

Ya, seluruh tindakan. Sampai akhirnya, Dinapun menerima juga kehadiran lelaki itu. Hadir dalam kehidupan dan dunia pribadinya. Hadir dan datang sepenuhnya. Dina menyambutnya, dan akhirnya…istrinya itupun menerima semuanya.

 

Masih terbayang di pelupuk mata Ferry, betapa istrinya sangat menikmati masukan lelaki itu. Setiap kali lelaki itu bergerak, Dina sampai merintih dan mengerang kenikmatan. Terlihat jelas betapa istrinya sangat menikmatinya, bukan hanya dari rintihan dan erangannya saja, namun juga tergambar pada ekspresi wajah dan gerakan tubuhnya.

 

Dan semua itu, siang tadi, saat kejadian itu berlangsung, Ferry justru ikut menikmatinya, menyaksikan dalam keadaan polos istrinya dan lelaki itu saling memberi dan menerima kenikmatan birahi. Ferry sangat bergairah menyaksikan tubuh polos istrinya itu dalam cumbuan tubuh polos lelaki lain. Ferry sangat bergairah melihat betapa Dina istrinya sangat kenikmatan. Ferry terus menikmatinya, bukan….mencegahnya !  Jadi itu semua, salah siapa ? Istrinya ?  Mungkin. Tapi yang pasti, dirinya sendiri. Dan Ferry tak memiliki alasan untuk menyalahkan Dina istrinya itu, apalagi memarahinya.

 

Kekakuan akhirnya tak terelakkan. Suasana kaku yang hadir tanpa dapat dicegah. Entah bagaimana Ferry ingin bersikap, rasanya bingung. Keadaan batinnya tak bisa disingkirkan begitu saja, hingga terproyeksi dalam sikapnya. Sebaliknya, Dina sendiri, juga merasakan hal yang sama. Kejadian tadi siang membuat dirinya merasa bersalah. Ada terselip perasaan bersalah sekaligus takut kalau-kalau suaminya mencium gelagatnya. Apa yang dilakukannya saat ini untuk suaminya, terasa kaku dan canggung. Namun masing-masing tak sempat mempertanyakan dan memasalahkan sikap pasangannya, karena masing-masing dirinya tengah bergelut dengan perasaan batinnya sendiri.

 

Sampai tiga hari berturut-turut, baik Ferry maupun Dina mencoba mengembalikan suasana. Dan upaya mereka, patut disukuri karena nampaknya berhasil. Namun tetap saja, bila masing-masing teringat akan kejadian itu, maka rasa canggung dan rikuh kembali menyergap. Dan selanjutnya, masing-masing coba secepatnya menyingkirkan semua itu. Setelah satu minggu lamanya, keadaan nampaknya telah kembali normal. Masing-masing seakan telah dapat menerima kejadian itu.

 

Hanya celakanya, dengan sikap penerimaan itu, justru membawa ke tahap berikutnya. Antara sadar dan tidak, baik Ferry maupun Dina istrinya, terseret dengan perasaannya masing-masing, yang sejauh ini hanya dirinya sendiri yang mengetahuinya dan tak di ungkapkan ke masing-masingnya. Seakan semua itu menjadi rahasia sendiri-sendiri.

 

Ya, Ferry merasakan sesuatu yang aneh dan sulit diterima oleh akalnya. Dirinya ingin kembali menyaksikan istrinya bergumul dengan lelaki lain. Ferry ingin menikmati saat-saat yang demikian menggairahkannya itu.

 

Sebaliknya Dina. Kenangan betapa nikmatnya percumbuan itu, menghadirkan rasa rindu, apalagi sejak seminggu ini Ferry suaminya tak memberikannya. Dan memang Dinapun tak memintanya. Situasi yang tidak mendukung untuk itu.

 

Namun kini, nampaknya siklus gairahnya telah kembali. Dan saat kembali, dirinya langsung teringat betapa seminggu yang lalu dirinya mendapatkan sesuatu yang luar biasa. Sesuatu yang hanya didapatkannya saat itu. Dan kini, dirinya ingin kembali merasakannya. Apakah hal itu bisa didapatkannya dari suaminya ?

 

Berharap demikian. Namun rasanya sulit. Karena selain keadaan yang tengah menyelimuti kehidupan hubungan suami istrinya selama seminggu ini, juga rasanya tidak mungkin. Ini semua disebabkan oleh faktor psikologis. Dirinya tak akan merasakan ketegangan yang sama saat melakukannya dengan suaminya sendiri. Beda dengan saat melakukannya dengan Darwis seminggu lalu. Lelaki itu jelas lelaki asing. Secara norma hukum, etika dan moral, tidak dibenarkan. Namun justru disini letak misteri dan ketegangannya. Disinilah letak kelebihannya, yang tak didapatkannya dari suaminya.

 

Mungkin secara pisik, tak ada perbedaan antara suaminya dengan lelaki pemijat itu, namun yang pasti…secara emosional. Walau dengan sembunyi-sembunyi, Dina dapat memastikan kalau sumber kenikmatan yang didapatkan dari lelaki itu, tak berbeda dengan yang dimiliki suaminya. Baik kualitas, kuantitas maupun durasinya. Tak banyak beda. Namun mengapa terasa demikian nikmatnya ?

 

Dan semua itu, kini diam-diam dan tanpa diinginkannya, kembali hadir. Kembali ingin diraihnya dan dinikmatinya. Namun, tentu saja, itu semua tak mungkin untuk diutarakan dan dinyatakannya. Hanya sebuah keinginan yang nampaknya harus dipendamnya dan dibuangnya kemudian. Keinginan yang jauh panggang dari api.

 

Momen dan kendali di tangan Ferry, sebagaimana awalnya dulu. Hanya Ferry sendiri yang dapat mengujudkan fantasi, fariasi dan sensasi itu hadir kembali. Dan Ferrypun tak kuasa membendung keinginannya. Hanya kali ini, Ferry berharap, dirinya tak hanya sekedar menonton semua keasikan dan kemeriahan acara itu, namun ikut terjun ke dalam arena. Bagaimana nanti bentuk permainan dan acaranya, biarlah waktu dan naluri yang membimbingnya.

 

Dorongan yang kuat akhirnya membuat Ferry mengambil langkah dramatis. Skenario di susun, persiapan dilakukan. Suasana diciptakan dan lingkungan di sterilkan.

 

Langkah pertama, “mengungsikan” anak-anak ke mertuanya. Dengan alasan ada hal yang perlu dibicarakan serius dengan ibunya, anak-anakpun mengerti. Diatur agar anak-anak mengatakan pada ibunya akan menginap kembali di rumah nenek, akhirnya tahap pertama berjalan mulus.

 

Tahap kedua, mengubungi Darwis kembali. Membicarakan dengan lelaki itu secara terbuka. Walau mulanya lelaki itu terkejut karena kejadian beberapa hari yang lalu ternyata diketahuinya, namun karena Ferry sudah tidak mempersoalkannya, bahkan meminta lelaki itu untuk kembali memberi sesuatu yang diinginkan dirinya dan juga pasti diinginkan kembali oleh istrinya, maka akhirnya lelaki itu bersedia. Bahkan untuk babak ini, akan dilakukan sesuatu yang berbeda. Dan itu semua sudah diatur dan direncanakan dengan matang, tanpa diketahui Dina tentunya.

 

Tahap ketiga, Ferry meminta ijin ke kantornya untuk libur tiga hari dengan alasan ada urusan keluarga. Selama tiga hari itu dipersiapkan dan direncanakan akan melakukan sebuah petualangan baru dalam kehidupan rumah tangganya.

 

Tanpa kesulitan, Ferry dapat menghadirkan Darwis kembali. Alasannya enteng saja, sudah lebih dari satu minggu tak dipijat. Dinapun tak berkutik. Jam delapan pagi, Darwis datang. Disambut, walau Dina nampak terlihat kikuk, namun Ferry berpura-pura tak mengetahuinya.

 

Untuk tak menimbulkan kecurigaan Dina, Ferrypun mendahului dipijat. Setelah itu, dengan sedikit memaksa, Dinapun akhirnya bersedia. Nampak sekali sikap kikuk dan canggung Dina, seperti saat dia pertama kali dipijat lelaki itu. Namun Ferry tahu apa yang menyebabkan istrinya sampai sekikuk dan secanggung itu.

 

Dina sendiri, dengan berbagai perasaan, membiarkan dirinya mulai “disentuh” kembali lelaki itu. Dan “kerinduan” akan segala rasa minggu lalu kembali menyeruak ke dalam dirinya. Dengan sekuat tenaga berusaha dihapus dan disingkirkannya, namun sia-sia. Dan Dina merasa putus asa atas semua ini.

 

Kedahagaannya, kerinduannya akan saat-saat yang berkesan minggu lalu kembali menekan dirinya. Namun dirinya tak tahu harus berbuat apa. Saat ini rasanya tak mungkin. Suaminya yang masih sepagi ini, nampak segar bugar dan tak akan ada kejadian seperti minggu lalu. Peluang itu nampak tertutup.

 

Ah, apakah aku sudah gila ?  Aku menginginkan kembali dekapan lelaki bukan suamiku ini ?  Ini gila ! batin Dina dalam segala pertarungan batinnya. Ini tak boleh terjadi lagi. Satu kali sudah cukup. Tapi….akh. Mengapa keinginan ini demikian kuatnya ?  Haruskah aku lari ?  Oh mas Ferry, bantulah aku. Suruh lelaki ini pergi, dan selesaikanlah kedahagaanku, batinnya putus asa.

 

Akan tetapi, tanpa diketahuinya, keadaan justru memojokkannya. Tiba-tiba suara HP suaminya berdering. Ferry langsung mengangkat teleponnya. Dan Dina, entah harus bersedih, takut ataukah justru…senang. Suaminya harus segera ke kantor ada sesuatu yang harus dikerjakannya saat ini juga. Dan tanpa bisa berbuat apa-apa, suaminya langsung  bangkit dan meninggalkannya hanya berdua dengan lelaki yang masih memijatnya itu.

 

“Sudah, kamu lanjutkan saja Wis, aku mau keluar dulu” pesan Ferry suaminya, lalu dengan bergegas beranjak pergi. Dina benar-benar bingung dan tak tahu apa yang harus diperbuatnya. Detik demi detik berjalan terasa lambat dan semakin menegangkan. Dina hanya bisa diam.

 

Dengan berhati-hati, Ferry memutar ke arah belakang, lalu di balik tembok yang memisahkan kamar tidurnya dengan sebidang sisa tanah yang dijadikannya taman kecil, Ferry duduk bersandar di bawah jendela kamarnya. Matanya sesaat mengamati sekeliling. Mengamati apakah situasi aman. Dan dari pengamatannya, dirinya merasa puas dan merasa sangat yakin, situasi sangat aman untuk dapat mengadakan “pesta” khususnya itu. Matanya masih menatap ke sekeliling. Di seberang taman kecil, disebelah Timur rumahnya, batas tanah miliknya dengan tanah sebelah dibatasi tembok yang cukup tinggi. Tembok yang dibuat oleh pemilik tanah sebelah itu untuk mengamankan lokasi tanah miliknya itu, justru membantu privasi rumah Ferry sendiri. Tak ada aktivitas di tanah yang dikelilingi tembok tinggi itu, dibiarkan saja kosong oleh pemiliknya, walau sudah dikuasainya beberapa tahun.

 

Sementara di depan, di bagian Utara, walau pagar yang dibuatnya tak semewah tembok tanah sebelah, namun dengan sentuhan artistik, pagar rumahnya terlihat sangat alami. Tumbuhan rambat hampir menutup rapat pagar depan rumahnya. Sementara di seberangnya, setelah dipisahkan jalan selebar 6 meteran, ada sebuah lapangan rumput yang cukup luas yang sesekali biasa digunakan anak-anak kecil untuk bermain bola. Di bagian belakang, atau sebelah Selatan, dipisahkan oleh bangunan gudang yang cukup besar. Sementara di sebelah Barat, dipisahkan oleh tanah kosong yang seolah tak bertuan. Pagarnya tak semewah bidang tanah di sebelah Timur, namun tetap rapat, sebagian oleh tembok yang sudah termakan usia, sebagian lagi oleh rapatnya pohon-pohon besar yang tumbuh di areal tanah itu. Lokasi rumahnya memang masih jarang penghuninya, karena memang Ferry hanya mampu membeli di daerah yang seperti ini.

 

Setelah memastikan semuanya aman, Ferry mulai berkonsentrasi mendengarkan suara-suara yang muncul dari balik kamar tidurnya. Untuk melihat ke dalam, itu tidak mungkin. Karena selain daun jendelanya tertutup rapat, juga tak ada celah untuk melihat ke dalam, kecuali dari lubang ventilasi atas, dan itupun tidak mungkin karena bayangan tubuhnya akan terlihat jelas di balik gordyn jendela kamar tidurnya.

 

Belum ada suara terdengar. Ferry menunggu dengan sabar. Dirinya sangat yakin kalau rencana yang sudah disusunnya ini akan berhasil, dan akhirnya dirinya dan istrinya itu akan memulai babak baru dalam kehidupan seksual mereka selanjutnya.

 

Di kamar, Dina sendiri masih terdiam, sementara Darwis terus memijatnya. Pergolakan batinnya meningkat, antara lanjut dan menghentikan semua ini sebelum terlambat, namun Dina merasa kesulitan untuk mengambil sikap. Setidaknya, saat ini.

 

Ingin rasanya dia berucap, cukup. Cukup sampai disini saja. Tapi….akh, lidahnya terasa kelu, bibirnya terasa terkatup rapat. Batinnya bergolak, sementara suasana dan keadaan makin kritis. Dirinya berada di persimpangan jalan. Jalan mana yang harus diambilnya, dirinya tak mampu memutuskan. Sementara waktu terus berjalan dan keadaan semakin menyudutkannya.

 

Dalam kebimbangannya, tekanan akan kerinduan dan memori satu minggu sebelumnya menyeruak perlahan namun pasti. Dina berusaha menekan dan menyingkirkannya, namun tak mampu. Dengan putus asa digigitnya bibirnya sendiri, berusaha keluar dari masalahnya saat ini.

 

Sampai akhirnya, dengan terkesiap Dina merasakan kalau lelaki itu mulai melakukan sesuatu yang berbeda dari sebelumnya tadi. Saat ini Darwis tak lagi memijat melainkan…membelai-belainya. Ingin rasanya dirinya berontak, namun kekuatannya terasa hilang.

 

“Bu, tubuh ibu indah sekali”  Deg !  Ukh gila. Lelaki ini benar-benar sudah terlihat keinginannya, batinnya. Ini tak boleh lagi. Tak boleh lagi terulang, batinnya berontak.

 

Sementara di balik tembok kamar tidur, Ferry justru senang, sekaligus, tegang. Percakapan di dalam, sudah dapat menggambarkan apa yang sedang terjadi di dalam kamar tidurnya.

 

“Terima kasih”  Akh, kenapa harus itu yang keluar dari celah bibirnya ?  Sudah tak waraskah dirinya ?  Antara keinginan hati dan ucapannya tak sejalan ?

 

Tapi apa iya ?  Apa iya hatinya menginginkan untuk berontak dan tak ingin kejadian minggu lalu terulang lagi ? Apakah benar hatinya tak mau melakukannya lagi ? Apa benar hatinya sebersih itu ? Bukankah sebelumnya, justru hatinya menginginkan hal yang sebaliknya ?

 

“Boleh buka kainnya bu, biar nggak kotor kena minyak” sambung lelaki itu. Oh, gila !  Ini gila !  Aku tak boleh melakukan hal itu ! Aku harus…., batin Dina bertempur. Berbeda dengan Ferry di luar. Dia justru berharap tak mendengar penolakan dari istrinya itu. Ferry berharap, Dina menyambutnya.

 

Dina benar-benar bimbang dan ragu. Tak tahu harus bersikap bagaimana. Aaakhh, kenapa aku ? Kenapa aku tak menyatakan keberatanku ? Kenapa aku tak katakan, jangan. Biarkan saja. Tapi…tidak. Ini bukan salah hatiku dan ucapanku, ini salah….tubuhku.

 

Ya, Dina seperti orang yang sudah kehilangan kesadarannya. Antara hatinya dan gerakan tubuhnya berbeda. Tadi bibirnya yang berucap lain dengan kehendak hatinya, kini…tubuhnya.

 

Walau hatinya berusaha untuk mencegah, namun justru Dina merasakan gerakan tubuhnya sendiri yang memberi jalan kepada lelaki itu untuk melakukan apa yang diinginkannya. Dan dalam tempo hitungan detik saja, semuanya sia-sia sudah. Lelaki itu sudah merenggut kain penutup tubuhnya dan tinggal menyisakan satu pakaian dalamnya saja di bagian bawah tubuhnya. Dina putus asa sudah. Dina pasrah.

 

Dan keputus asaan serta kepasrahannya itulah yang akhirnya memberi ruang pada rasa “kerinduannya” yang langsung mengisi seluruh ruang dalam pikiran dan hatinya. Rasa itu terus menyeruak dalam dan membelitnya dengan sangat kuat sampai akhirnya seluruh persyarafan di tubuhnya tergiring untuk bersiap atas segala sesuatunya, dan itu….Dina rasakan dengan jelas.

 

Dengan berusaha menekan semuanya, dan berusaha kembali ke kesadarannya, Dina merasakan betapa setiap inci permukaan tubuhnya terasa sangat nikmat sekali disentuh lelaki itu. Apalagi saat lelaki itu mengarahkan gerakannya ke bagian depan tubuhnya, Dina akhirnya menyerah. Berontak sudah seluruh hasrat dan kedahagaannya.

 

Tubuhnya menggeliat, merasakan betapa sentuhan tangan lelaki itu terasa sangat nikmat. Napasnya mulai memburu dan akhirnya pada bagian bawah tubuhnya terasa mulai basah. Dina….terbangkitkan.

 

Maka saat lelaki itu bermaksud meraih dadanya, Dinapun mengangkat dadanya. Akhirnya, kembali lelaki itu mulai menjamah dirinya, dan inilah yang diinginkannya kembali. Dina hanya bisa merintih saat jari-jari tangan lelaki itu mempermainkan gundukan payudaranya yang sudah terbuka bebas. Dina benar-benar merasakan terbang ke awang-awang oleh permainan lelaki itu. Dengan lihainya, lelaki itu meremas, mengelus dan menggelitiki seluruh bagian kedua payudaranya sampai akhirnya berhasil memberi tekanan lebih dalam dengan mempermainkan kedua putingnya, membuat Dina semakin tenggelam dalam buaian kenikmatan birahinya.

 

Dan lelaki itu memang sudah demikian terbakarnya, Dinapun sudah teramat “kepanasan.” Dengan satu gerakan tangan terus mempermainkan payudaranya, tangan yang lainnya menarik turun sisa pakaian yang melekat di tubuhnya, dan dirinya membiarkannya. Kini, untuk kedua kalinya dirinya polos. Kalau sudah begini, akhirnya dapat diterka.

 

Tiba-tiba lelaki itu menghentikan segala sesuatunya. Dina menunggu dan bertanya dalam hati. Masih diam, tanpa sentuhan dan tindakan membuat dirinya terpancing untuk mengetahui apa yang terjadi. Dina menoleh dan ternyata… lelaki itu tengah melucuti pakaiannya sendiri. Masih sambil berbaring telungkup, dilihatnya lelaki itu dengan cepat melucuti pakaiannya sendiri sampai akhirnya….

 

Akh, untuk kedua kalinya dirinya melihat organ kejantanan lelaki itu yang langsung meloncat keluar saat celana dalamnya dia lepaskan. Batang kejantanan itu nampak sudah sangat tegangnya. Sekeliling batangnya terlihat guratan urat-urat besar yang melingkar tak beraturan, menambah penampilan akan kejantanannya.

 

“Madep ke depan bu” ucap lelaki itu membuat Dina tersentak kaget dari keterpanaannya. Dan kali ini dengan gairah memuncak, dirinya menyambut permintaan lelaki itu. Dirinya membalikkan badan hingga telentang, berhadapan dengan lelaki itu yang sudah sama-sama polos seperti dirinya.

 

Sementara Ferry coba menunggu kelanjutan dari ucapan Darwis atau istrinya di dalam. Ferry merasa kesal juga, hanya bisa mereka-reka apa yang tengah terjadi di dalam. Apakah istrinya dan Darwis sudah semakin maju, ataukah masih seperti semula.

 

Ferry memang tak mengetahui kalau di dalam kamar tidurnya saat ini, istrinya Dina dan lelaki pemijatnya itu sudah sama-sama dalam keadaan tanpa busana sama sekali, saling berhadapan. Ferry juga tidak dapat mengetahui pasti kalau saat ini istrinya Dina tengah memandangi batang kejantanan pasangannya dengan tatapan penuh gairah yang meluap-luap. Ferry juga tidak tahu kalau saat ini istrinya Dina sudah tanpa ragu dan canggung lagi mempertontonkan seluruh bagian tubuh bugilnya ke lelaki itu, tanpa kecuali.

 

Tak hanya mempertontonkan, namun juga menyilahkan lelaki pasangannya itu untuk memperlakukan apapun terhadap tubuh polosnya. Bahkan saat ini, Ferry tak mengetahui saat si lelaki sedang mempertontonkan juga kepolosan tubuhnya ke istrinya, tangan kiri lelaki itu membelai-belai selangkangan Dina istrinya.

 

Di dalam kamar tidur, tanpa menunggu waktu, Darwis langsung menindih tubuh bugil Dina membuat Dina terkesiap merasakan penyatuan kembali tubuh bugilnya dengan tubuh bugil lelaki itu. Sesaat Dina terkesiap namun kemudian merasa terbang saat lelaki itu langsung menyergap puting payudaranya. Dihisapi, digelitik dan sesekali digigit-gigitnya membuat Dina benar-benar melayang tak kuasa. Perut lelaki itu menekan tulang pubisnya. Dina mengangkat pinggulnya hingga permukaan organ kewanitaannya bergesek dengan perut lelaki itu menghadirkan rasa nikmat yang makin menenggelamkan dirinya.

 

Akhirnya apa yang diinginkannya, didapatkannya. Dirinya kembali dapat mereguk kenikmatan birahi dengan lelaki ini. Seluruh apa yang dirasakannya minggu lalu kembali hadir, bahkan kini dirinya lebih menerima. Suasanapun lebih mendukung. Kali ini dirinya hanya berdua saja dengan lelaki itu, dan ini semakin membakar gairahnya.

 

“Sssshhh….mmmhhh….mmmhhh” tak segan-segan lagi Dina merintih dan mengerang untuk menyalurkan rasa nikmatnya. Apalagi saat lelaki itu mulai menggarap selangkangannya. Rintihan dan erangannya, walau sayup-sayup terdengar dari balik tembok kamar tidurnya, namun sudah membuat Ferry suaminya tersentak. Antara senang dan tegang, Ferry berusaha mempertajam pendengarannya. Dan setelah memastikan kalau istrinya itu sudah memperdengarkan erangan dan rintihannya, Ferry merasa lega sekaligus semakin tegang. Berhasil sudah. Hanya tinggal menunggu waktu saja, semuanya akan selesai.

 

Sambil terus melahap payudaranya, Darwis mulai mengeksplorasi organ kewanitaan Dina. Dinapun membuka penuh kedua pahanya, memberi kebebasan. Maka untuk kedua kalinya setelah minggu lalu, lelaki itupun menjelajahi seluruh permukaan organ kewanitaannya. Dengan tekun dan lembut, Dina merasakan sapuan tangan lelaki itu di permukaan vaginanya. Satu dua sapuan untuk kemudian jari tangannya mulai bermain-main di clitorisnya. Memberi sapuan, gelitikan, tekanan dan pilinan yang membuat sukma Dina kian melayang.

 

“Ssshhh…oookkhh….oookkkhh…..uuukkkhhh….” Dina amat menikmatinya. Pinggul bulatnya langsung berputar-putar. Gairahnya benar-benar sudah sangat memuncak, namun dirinya tak ingin segera menyelesaikannya. Ingin bermain-main dahulu. Ingin mengetahui sejauh mana kreasi dan imajinasi lelaki ini. Dan itu akhirnya didapatkan oleh Dina.

 

Permainan jari tangan lelaki itu di clitorisnya hanya berlangsung beberapa saat saja, untuk kemudian Dina merasakan kalau lelaki itu akan bertindak lebih jauh lagi. Dengan cepat jari tangan lelaki itu bergerak turun dan akhirnya….

 

“Sssshhh…mmmhhhh” erang Dina saat Darwis menusuk liang kewanitaannya dengan jari tangannya. Terus menusuk semakin dalam dan sangat dalam. Bermain-main sebentar di dalamnya, menjelajahi sekeliling dinding liangnya yang sudah mengembang penuh dan sangat basah untuk kemudian…

 

“Ssshhh….uuuukkkhhh” erang Dina tak kuasa ketika merasakan jari tangan yang kedua memasuki liang vaginanya. Tidak, tidak dua tapi…uuukkhh….tiga. Ya tiga ! Okh tidak, satu lagi….empat. Ya…empat ! Uuukkhh….Dina sampai melambungkan pinggul bulatnya tinggi-tinggi merasakan semua ini.

 

“Oookhh…oookkhhh…oookkhhh….” lepas sudah semua yang menghalangi dirinya. Dina benar-benar tenggelam dalam permainan maut lelaki itu. Di payudaranya, Dina merasakan permainan jari tangan dan mulut lelaki itu, sementara di selangkangannya, di dalam rongga kewanitaannya, Dina merasakan korekan dan rojokan keempat jari tangan lelaki itu. Masih ditambah lagi dengan gelitikan, tekanan dan sentilan ibu jari tangan lelaki itu di clitorisnya, membuat Dina semakin kelabakan.

 

Rintihan dan erangannya yang semakin jelas didengar oleh Ferry, justru membuat Ferry semakin tegang sekaligus bergairah. Tanpa melihat langsung, Ferry sudah dapat memastikan kalau babak pergumulan istrinya dengan lelaki pemijatnya itu sudah dimulai. Dia hanya harus bersabar menunggu sesaat. Menunggu moment yang tepat untuk kemudian masuk ke dalam, berpura-pura memergokinya dan akhirnya…bergabung. Ferry ingin mengambil moment yang tepat. Moment saat istrinya berada di puncak gairahnya, dan berada di tepi akhir kenikmatannya, maka dia akan muncul dan dapat dipastikan, bila moment ini tepat diambilnya, maka tak ada alasan dan kemampuan istrinya untuk berbalik lagi, namun terus berjalan maju melanjutkan seluruh petualangan birahinya itu.

 

Kini Darwis mengarahkan cumbuan mulutnya ke bawah tubuh bugilnya. Dina, sebagai seorang wanita yang berpengalaman, tentu mengetahui apa yang akan dilakukan lelaki itu dan karenanya dirinya memberi ruang.

 

“Sssshhh….mmmhhhh” hanya itu yang keluar dari celah bibirnya saat lidah lelaki itu mulai menyapu permukaan vaginanya. Rasanya sangat nikmat. Terasa berbeda dan terasa lebih nikmat dibandingkan bila yang melakukannya adalah suaminya sendiri. Pinggul bulatnya terangakat naik dan bergoyang tanpa sadar merasakan sejuta sensasi dan kenikmatannya. Napasnya langsung memburu, sementara kesadarannya makin tenggelam dalam lautan kenikmatan birahinya. Sapuan lidah lelaki itu terasa asing dan penuh misteri. Dina tak tahu apa yang akan dilakukan lelaki itu selanjutnya dengan gerakan lidah dan bibirnya di permukaan organ kewanitaannya.

 

Dan nyatanya memang demikian. Dina sampai terpekik spontan saat lelaki melakukan sebuah gerakan tak terduga. Dengan tiba-tiba lelaki itu menjepit clitorisnya dengan kedua bibirnya kuat-kuat, lalu ditahannya beberapa saat untuk kemudian melakukan sebuah langkah yang membuat sekujur tubuh polos Dina bergetar tak kuat. Dengan ujung lidahnya lelaki itu menekan clitoris Dina kuat-kuat lalu diakhiri dengan gigitan kecil namun dengan tekanan yang terukur membuat Dina merasa seperti disengat arus yang sangat kuat, namun nikmatnya sulit sekali dilukiskannya. Gerakan selanjutnyapun tak kalah hebatnya. Clitorisnya langsung digelitik ujung lidah lelaki itu sambil terus memberi tekanan dengan kedua bibirnya. Gelitikannya sangat cepat dan kuat membuat tubuhnya bergetar hebat dengan sejuta kenikmatan yang sulit dilukiskannya. Kepalanya tertarik jauh ke belakang, sementara jari-jari tangannya mencengkeram kuat kain penutup tempat tidurnya.

 

Tak cukup sampai disitu, lelaki itu menjulurkan kedua tangannya dan langsung menangkap kedua gundukan payudaranya. Meremasnya dan memilin-milin putting payudaranya hingga membuat Dina benar-benar terkapar tak kuasa.

 

Gerakan itu diulanginya beberapa kali dengan kombinasi dan urutan yang berbeda sehingga sulit diterka, namun memberi efek kejutan yang luar biasa sampai akhirnya….

 

“Cu…cuk..kup. Cukup. Se…les…saik…kan sek…karang. Mas…sukkan sek…karang” susah payah Dina meminta. Tak kuat lagi dirinya berada dalam tekanan gairah yang sudah terasa di ubun-ubun dan siap meledak itu. Dirinya, ingin segera diselesaikan oleh organ kejantanan lelaki itu, bukan oleh organ tubuh lainnya.

 

Di balik tembok, Ferry semakin tegang. Demikian juga di balik celananya. Rasanya sudah sakit sekali karena batang kejantanannya dipaksa tak bebas oleh balutan pakaian yang dikenakannya. Pendengarannya terus dipertajam, demikian pula dengan daya imajinasinya. Berusaha membayangkan dan menggambarkan dengan persis apa yang tengah terjadi di dalam kamar tidurnya. Apa yang tengah dilakukan istrinya dan lelaki pemijatnya itu.

 

Dan saat lelaki itu bersiap, Dinapun menyambut. Kali ini dirinya tak lagi menutup mata, bahkan mengamati setiap gerakan lelaki itu. Kini terlihat lelaki itu duduk diantara kedua kakinya yang sudah terbuka lebar. Sesaat keduanya berpandangan, untuk kemudian keduanya bersiap melanjutnya.

 

“Ssshhh…” saat lelaki itu menyapukan dahulu bagian kepala batangnya di permukaan organ kewanitaannya. Satu dua sapuan lalu….

 

“Sssshhh….mmmhhhh” erangannya terlontar. Matanya memejam meresapi setiap kenikmatan yang ditimbulkannya oleh pergesekan dinding batang kejantanan lelaki itu dengan dinding liang kewanitaannya.

 

“Yyyaaa…ter….russshhh. leb…bih da…lam. Leb…bih da…lam. Mas…sukkan ter…ruuusshhh….sssshhh…uuuukkkhhhh.” Cercauan Dina amat sangat membantu Ferry untuk dapat mereka-reka apa yang tengah terjadi. Tanpa melihatpun Ferry kini sudah yakin kalau saat ini istrinya Dina tengah menerima masukan dari lelaki itu.

 

Ferry sempat kaget juga saat mengetahui kalau istrinya sampai seperti ini. Meminta apa yang diinginkannya dari pasangan bercumbunya. Padahal selama ini, selama melakukan hubungan badan dengannya, bahkan sampai kejadian minggu lalu, istrinya tak sampai seterbuka ini. Tapi kali ini ?  Apakah semua itu dikarenakan begitu menggebunya gairah yang dialami istrinya saat ini ?  Kalau demikian, tentu dirinya harus senang, karena ini awal yang baik untuk melanjutkan ke tahap selanjutnya.

 

Perlahan Dina merasakan batang kemaluan lelaki itu membenam semakin dalam ke rongga vaginanya, terus dan terus semakin dalam mengisi rongga kenikmatannya dengan penuh dan dalam. Terus dan terus mengalirkan rasa nikmat yang semakin kuat sampai akhirnya….

 

“Akh” pekikannya saat ujung batang kemaluan lelaki itu menyentuh dan menekan ujung liang rahimnya memberi lecutan rasa nikmat. Terus masuk lebih dalam lagi sambil terus menggesek ke seluruh bagian dalam rongga vaginanya, termasuk ujung liang rahimnya. Dina hanya bisa merintih merasakan seluruh kenikmatannya hingga akhirnya seluruh batang kemaluan lelaki itupun membenam habis ke dalam rongga kewanitaannya. Mengisinya dengan penuh, menghadirkan rasa nikmat dan sensasi tersendiri. Keduanya terdiam sejenak, lalu mulai bergerak melanjutkan.

 

Apa yang dirasakannya minggu lalu kembali hadir. Gerakan menusuk batang kemaluan Darwis terasa sangat nikmat sekali. Dan kali ini Dina mengekspresikannya dengan lebih bebas.

 

“Nikmat bu ?” tanya Darwis. Sialan, makin dirinya dalam hati. Ya udah tentu lah. Emangnya nggak lihat apa gimana reaksiku, gumamnya dalam hati dengan keki.

 

Namun Dina tak meluapkan rasa kekinya, dia justru mengangguk memberi jawaban.

 

“Mau cepat, apa pelan ?” kembali lelaki itu berucap. Akh kenapa sih dia jadi banyak ngomgong ? batinnya gemas. Tidak di sisi Ferry. Percakapan itu justru yang diinginkannya karena dapat menggambarkan secara lebih utuh siluet-siluet pecahan visual imajinasinya. Seluruh perbincangan maupun suara-suara lainnya akan memberikan kelengkapan gambar yang coba dirangkai oleh otaknya.

 

“Pelan dulu” dijawabnya juga ucapan lelaki itu. Dirinya ingin lebih lama meresapi dan benar-benar meyakinkan kalau apa yang dirasakannya saat ini adalah benar. Benar kalau ternyata melakukan dengan lelaki asing ini lebih nikmat. Benar kalau ternyata, saat ini dirinya merasakan sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang lebih menegangkan. Sesuatu yang misterius, sekaligus sesuatu yang melenakan dan menenggelamkan. Sesuatu yang….jauh lebih hebat.

 

Dan ternyata benar. Melakukannya dengan lelaki lain itu, Dina merasakan kenikmatan yang jauh lebih hebat dan kuat. Dan itu pula yang mendorong dirinya untuk lebih jauh lagi mengeksplorasi diri.

 

“Yang….cep…pat sek…karang” pintanya sudah ingin ke tahap berikutnya. Ke tahap dimana dirinya benar-benar tenggelam dan hanyut dalam gelombang kenikmatan birahinya. Tahap yang pernah dirasakannya minggu lalu, dan kali ini kembali ingin dirasakan dan dialaminya. Di balik tembok, Ferry justru semakin tegang dan semakin terbakar mendengar permintaan Dina istrinya itu pada lelaki pasangan senggamanya.

 

“Ssshh…mmmhhh…mmmhh….mmhhh….uuukkhhh” akhirnya itulah yang keluar dari celah bibirnya dikombinasi dengan suara tepukan akibat benturan kedua permukaan selangkangan mereka dan itu terdengar cukup jelas oleh Ferry di balik tembok, membuatnya semakin kelabakan sendiri. Ingin rasanya dia meluruk ke dalam saat ini juga, namun dia tak yakin apakah ini moment yang tepat.

 

Diputuskan akhirnya untuk menunggu beberapa saat lagi. Menunggu setidaknya setelah Dina mendapatkan klimaks pertamanya. Dalam keadaan seperti ini, keadaan fisik dan batinnya berada dalam keadaan yang tepat dan tak akan memberikan pemberontakan. Kondisi Dina istrinya akan berada di fase yang sulit untuk keluar dari keadaan yang sedang dialaminya. Berada di puncak gairah dan persimpangan, dan tak akan memberi banyak pilihan lagi. Ya, moment itulah yang akhirnya diputuskan oleh Ferry untuk menunggunya.

 

Dina benar-benar mengalami apa yang dinamakan gempuran dan hantaman kenikmatan birahi, saat lelaki itu mulai memompanya dengan sangat cepat dan kuatnya. Dina ingin semua ini berlangsung dengan waktu yang lama. Dina ingin merasakan semuanya secara puas.

 

Tak ada lagi rasa rikuh. Tak ada lagi rasa malu. Dan tak ada lagi rasa canggung. Yang ada kini adalah gairah dan kenikmatan. Gairah yang demikian menggelora serta kenikmatan yang demikian melenakan. Segala aturan norma dan etika yang ada, justru menjadikan apa yang dilakukan ini menjadi sebuah tantangan tersendiri. Tantangan yang akhirnya menghadirkan ketegangan dan sensasi tinggi dan membuahkan kenikmatan tertinggi. Demikianlah yang Dina alami saat ini. Justru sesuatu yang menantang inilah yang membuatnya demikian menikmatinya. Melakukannya dengan lelaki ini, menghadirkan ketegangan dan sensasi yang luar biasa, yang justru membuat segala sesuatunya menjadi lebih hebat.

 

“Yyyaa…tus….suk yang kuat…tus…suk yyaang…kkkuu….aattt….akh !” Dina meminta lelaki itu melakukan tusukan yang kuat. Tusukan batang kemaluan yang sangat kuat dari lelaki itu di rongga kewanitaannya, menghadirkan rasa nikmat yang seakan menggedor-gedor sukmanya, dan ini yang membuat dirinya merasakan peningkatan tekanan dalam dirinya mengalir dan meningkat cepat. Dengan segala kenikmatan dan gairahnya, Dina melakukan putaran-putaran pada pinggul bulatnya, memberi tambahan kenikmatan tersendiri. Apalagi saat lelaki itu memberi tambahan dengan meremas-remas kedua gundukan payudaranya. Remasan yang kadang lembut, kadang juga sangat keras hingga dirinya merasa sedikit sakit pada kedua payudaranya, namun Dina menyukai kombinasi ini.

 

“Aakh !” sampai juga akhirnya dirinya ke puncak kenikmatan birahi pertamanya. Tubuh bugilnya meregang hebat saat merasakan ledakan puncak kenikmatan birahinya yang demikian kuatnya. Jari-jari tangannya tanpa sadar mencengkeram kuat kedua lengan lelaki itu, sementara kedua betis indahnya langsung memiting pinggul lelaki itu dan menekannya kuat-kuat, meminta tekanan yang tertinggi. Napasnya tersendat, wajahnya tertarik jauh ke belakang. Urat-urat kecil muncul di sisi-sisi leher jenjangnya. Dina akhirnya mendapatkan kembali klimaks tertingginya seperti minggu lalu, dan memang inilah yang dirindukannya dan ingin didapatkannya kembali.

 

Babak penentuan akhirnya didapatkan Ferry. Inilah saatnya dirinya masuk ke dalam. Kalaupun istrinya akan bereaksi mundur, setidaknya itu sudah ada yang didapat oleh Dina, kepuasan pertamanya tadi. Namun Ferry sangat yakin, kalau semuanya akan berjalan dengan lancar. Asal cara dan teknisnya saja yang harus dilakukan dengan tepat. Dan Ferry ingin mengambil langkah yang santai dan tak mengejutkan istrinya.

 

Dengan perlahan Ferry melangkah masuk. Mengunci pintu depan dengan perlahan, lalu melangkah mendekat ke kamar tidurnya. Tiba di depan pintu kamar tidurnya, dihentikan sejenak langkahnya. Coba didengarkan suara-suara dari balik pintu kamar tidurnya. Sepi. Akhirnya diputuskan untuk mencoba mengintipnya lewat lubang anak kunci pintu kamar tidurnya. Tak terlihat, karena posisi tempat tidurnya memang tidak memungkinkan untuk dapat dilihat dari lubang anak kunci itu. Ferry sempat bimbang untuk melanjutkan langkahnya. Diam sesaat memikirkan apa yang harus dilakukannya.

 

“Kita terusin bu ?” tiba-tiba terdengar suara dari dalam. Ferry mempertajam pendengarannya. Tak ada suara sesaat.

 

“Kita ganti posisi. Ibu…merangkak sekarang” terdengar lagi suara Darwis. Akh rupanya persenggamaan akan kembali dilanjutkan setelah tadi terhenti sejenak saat Dina mendapatkan klimaksnya.

 

Kembali hening, Ferry menanti.

 

“Sssshhh…uuuukkkhhh” erangan Dina kembali terdengar. Berarti persenggamaan mereka kembali di mulai dan kali ini rupanya mereka memilih posisi doggy. Ferry masih diam menunggu dan mencoba mencari cara bagaimana caranya dia masuk ke dalam agar tak menghentikan semua yang sudah berjalan.

 

Yang pasti, saat ini Dina istrinya sudah dalam keadaan yang terjepit dan sulit untuk menolak bila nanti dirinya meminta melanjutkan permainan ini. Hanya saja bagaimana cara yang tepat untuk bisa bergabung ke dalam.

 

Setelah memikirkan dan mempertimbangkan beberapa saat, akhirnya diputuskan untuk mengambil satu cara. Sebelum masuk, Ferry menanggalkan dahulu seluruh pakaiannya hingga dalam keadaan sama-sama telanjang bulat seperti istrinya dan lelaki di dalam kamar tidurnya itu. Lalu dengan perlahan ditekannya handle pintu kamar tidurnya. Melongok ke dalam dan….

 

Tepat. Mereka sedang melakukan posisi doggy, dan untungnya posisi istrinya membelakanginya sehingga tak melihatnya masuk ke dalam.

 

Ferry langsung duduk di kursi dekat pintu kamar tidurnya, menonton persetubuhan istrinya dengan lelaki pemijatnya itu. Kali ini secara langsung dan tak sembunyi-sembunyi lagi seperti minggu lalu.

 

Darwislah yang pertama kali mengetahui kehadirannya. Lelaki itu sempat terkejut dan menghentikan gerakannya sesaat, namun dengan gerakan tangannya, Ferry memberi isyarat agar lelaki itu melanjutkan semuanya.

 

Setelah merasa yakin, apalagi saat melihat Ferry, suami dari wanita yang tengah disenggamainya itupun sudah dalam keadaan sama-sama bugil, Darwispun melanjutkan gerakannya. Dina belum menyadari kehadiran suaminya dan terus menikmati “tikaman-tikaman” lelaki pasangan senggamanya dari arah belakang.

 

Namun tiba-tiba Ferry menemukan ide. Cepat dia bangkit dan mendekat ke arah keduanya. Dari belakang, Ferry mencolek tubuh Darwis dan memberi isyarat untuk mundur dan dia yang menggantikan.

 

Dengan cepat lelaki itu mundur dan Ferry maju. Tanpa menunggu lama, Ferrypun langsung membenamkan batang kemaluannya ke dalam vagina istrinya.

 

Dina yang tak menyadari semua itu, kembali mengerang-ngerang dan merintih-rintih kenikmatan tanpa tahu kalau yang melakukan tusukan dari belakangnya saat ini adalah suaminya sendiri.

 

“Sssshhh…uuuukkkkhh….uuukkkhhhh…mmmmhhhh….mmmhhh” berkali-kali Dina mengerang dan merintih menerima tusukan-tusukan batang kemaluan di liang vaginanya. Pinggul bulat indahnya berputar-putar mengiringi irama tusukan batang kemaluan Ferry.

 

“Leb…bih cepat…leb….bih cep…paaat” pintanya tanpa menyadari kalau yang melakukannya saat ini adalah suaminya sendiri. Ferrypun langsung “tancap gas” menggempur istrinya dengan sangat hebatnya membuat Dina istrinya sampai berkali-kali memekik menahan serangannya. Tekanan dalam dirinya dengan cepat meningkat dan terus meningkat lebih tinggi seiring dengan laju tikaman batang kemaluan pasangannya dari arah belakang. Dina terus mengerang, merintih dan sesekali memekik merasakan semuanya sampai akhirnya….

 

“Aaakh !” pekiknya lebih keras disusul tubuh bugilnya yang mulai basah oleh keringatnya itupun mengejang dan meregang hebat. Dina kembali mendapatkan klimaks keduanya dengan sangat hebat. Ferry menekan sekuatnya memberi kesempatan pada istrinya untuk menikmati segala kenikmatan yang baru didapatkannya. Seluruh batang kemaluan Ferry yang tertancap dalam-dalam di lubang vagina istrinya itu, terasa seperti diremas-remas dinding lubang kemaluan istrinya itu dengan sangat kuat dan cepatnya. Rupanya Dina mendapatkan klimaks yang sangat kuat.

 

Beberapa saat kemudian, Dina menjatuhkan tubuhnya, hingga telungkup. Napasnya terlihat memburu dari irama turun naik punggung indahnya. Ferry memandangi sekujur tubuh bugil istrinya itu dari belakang. Dina benar-benar belum menyadari semuanya sampai saat dengan gerakan tangannya, Ferry meminta istrinya membalikkan badan menghadap.

 

“Mas..!” pekik Dina terkejut luar biasa. Dengan cepat dia bangkit dan memandang tak percaya ke arah suaminya. Ferry hanya senyum saja.

 

“A..aa” Dina tak mampu berkata-kata. Pandangannya langsung mencari sosok lelaki yang tadi bercumbu dengannya dan mengira juga kalau lelaki itulah yang menyelesaikan klimaks keduanya itu. Ternyata lelaki itu tengah duduk di sofa dimana biasanya Ferry suaminya duduk, masih dalam keadaan telanjang bulat. Pandangannya kembali ke sosok suaminya yang juga dalam keadaan telanjang bulat.

 

“Kenapa sayang ?  Ayo, nggak apa-apa khok” Ferry coba mengatasi kepanikan istrinya. Tentu saja Dina sangat panik dan terkejut. Bagaimana tidak, seorang istri yang ketahuan sedang melakukan percumbuan dengan lelaki lain dan dipergoki oleh suaminya, maka ini sebuah bencana. Hanya kenapa saat ini suaminya juga dalam keadaan sama seperti dirinya dan lelaki itu ?  Dan yang lebih membuat Dina bingung adalah, tak ada kemarahan di mata dan wajah suaminya. Bahkan justru suaminya….

 

Akh ya. Kalau saat ini lelaki itu sedang duduk di sofa, berarti yang baru saja menyenggamainya adalah….

 

Bingung, terkejut dan sempat shock, hingga membuat Dina tak mampu berkata-kata dan tak mampu harus berbuat apa.

 

“Ya sudah, kita ngobrol dulu deh, sambil istirahat” ujar Ferry pelan dan lembut sambil memegangi tangan istrinya yang terasa sangat dingin, nampak ketakutan.

 

“Din, nggak usah takut. Kamu lihat, saya nggak marah kan ?” ujar Ferry menenangkan. Dina masih memperlihatkan sikap paniknya. Sesekali dia tertunduk tak mampu menatap wajah suaminya yang sudah mengetahui perbuatannya, walau tadi ditegaskan tidak apa-apa dan tidak marah, tapi…tetap saja membuat dirinya merasa tertangkap basah.

 

“Hey dengar, ayo. Aku nggak apa-apa. Aku nggak marah khok. Justru…jadi bersemangat lihat kamu begitu menggairahkan sekali saat ini. Ayo Dina sayang, aku sungguh-sungguh khok” Ferry coba meyakinkan. Dina kembali menatapnya dengan sejuta perasaan tak menentu.

 

“Be…benar ?  Mas….” Ucapannya tersendat. Ferry tersenyum menenangkan sambil mengangguk memberi jawaban.

 

“Iya, sungguh. Aku nggak marah khok” menandaskan dan mempertegas jawabannya.

 

“Ta…tapi mas, ak..ku kan…” Dina masih tak yakin.

 

“Ya, aku tahu. Oke, supaya kamu lebih yakin. Wis, ayo sini. Duduk di sini bareng kita” ujar Ferry memanggil lelaki itu. Dina merasa bingung sekaligus kikuk menghadapi segala sesuatu yang serba mendadak dan tak terduga seperti ini.

 

“Nah, ini Darwis. Ini bukti kalau aku nggak marah dan keberatan khok. Ayo, apa lagi yang harus aku pertegas” jawab Ferry setelah Darwis duduk di sisi Dina. Dengan canggung dan bingung, Dina kembali memandang mata suaminya. Benarkah apa yang dikatakan suaminya itu ? Benarkah dia tidak marah ? Tapi bagaimana mungkin ? Bagaimana seorang suami tidak marah saat memergoki istrinya tengah bercumbu dengan lelaki lain ? Apakah suaminya tidak sedang mempermainkannya sekarang ?  Apakah suaminya tidak sedang mengatur siasat sesaat untuk kemudian….

 

“Mas…” hanya itu suara yang keluar dari celah bibir Dina. Tak tahu harus berkata apa. Tak tahu harus berbuat apa.

 

“Oke deh, kita ngobrol dulu aja. Biar semua tenang dulu. Biar kamu rileks dulu. Ayo, kamu mau ngomong apa, atau mau tanya apa ke aku” ujar Ferry sambil membelai lengan istrinya. Dina masih bingung dan tak percaya. Pikirannya buntu walau hatinya bergejolak tak menentu. Pandangannya terus tertuju ke arah suaminya. Dina tak tahu harus bersikap apa. Senang, tenang atau bersiap menerima amukan suaminya itu ?

 

“Ayo, mau tanya apa sayang ?” bujuk Ferry. Dina masih mematung memandanginya. Dengan gerakan kepalanya, Ferry memberi isyarat penegasan, apa yang ingin dikemukakan oleh istrinya itu. Namun Dina masih diam sampai akhirnya hanya menggeleng. Menggeleng tak tahu harus bertanya apa. Tak tahu harus berkata apa.

 

“Ya sudah. Mungkin saat ini kamu masih bingung. Nggak apa-apa. Cuma, gimana, kamu sudah lebih rileks dan percaya kalau aku tak memasalahkan ini ?” ujar Ferry sambil senyum. Dina terus memandanginya dengan ekspresi wajah tetap seperti semula.

 

“Hey, khok nggak jawab ? Kamu sudah percaya dan tenang sekarang ?” Ferry mengulangi pertanyaannya. Dina akhirnya mengangguk tanpa perubahan ekspresi wajahnya.

 

“Tapi mas…” Dina merasakan tenggorokannya kering, lidahnya kelu, tak mampu melanjutkan ucapannya.

 

“Ya, kamu mau ngomong apa ?” desak Ferry, namun Dina hanya menggeleng seakan bingung ingin berkata apa.

 

“Oke, mungkin banyak yang pengen kamu omongin, cuma bingung aja. Mau mulai dari mana ngomongnya. Kalau begitu, aku aja deh yang ngomong. Mudah-mudahan menjawab semua apa yang menjadi pertanyaan kamu saat ini” Ferry masih duduk dihadapan istrinya sambil memegangi tangan istrinya itu memberi kekuatan dan menenangkannya. Perlahan tangan istrinya tak lagi sedingin seperti awalnya tadi, itu menandakan kalau istrinya itu sudah lebih tenang saat ini.

 

“Sebenarnya, aku tahu sejak awal. Sejak minggu lalu. Dan semuanya berjalan seperti diluar kendali. Baik aku maupun kamu, merasakan kebingungan kenapa semuanya tak mampu kita hentikan. Kalau ini dianggap kesalahan, ini kasalahan aku juga. Tapi, aku tandaskan saja, ini bukan kesalahan. Ini semua, karena tanpa sadar, kita inginkan. Aku, juga ternyata menginginkan ini” Ferry menghentikan sejenak penjelasannya.

 

“Awalnya, aku sempat kaget dan akan bereaksi seperti normalnya seorang suami. Tapi entah kenapa saat itu aku tak mampu melakukannya. Aku hanya bisa terpaku di tempat. Bingung dan tak tahu harus bersikap apa. Aku ingin menghentikan dan mencegahnya, tapi tak kuasa. Apalagi saat aku tahu, kamu sedang tenggelam dengan keadaan kamu. Aku tak tega dan kuasa menghentikannya. Aku merasa akan sangat tidak adil menghentikan semua itu setelah aku sendiri yang memulainya.”

 

“Apa yang kamu lakukan dan apa yang terjadi itu, adalah disebabkan aku juga. Dan setelah aku yang memicu, mengapa aku juga yang mematikannya. Ini sangat egois. Aku hanya ingin melihat kamu menerima sesuatu yang bisa kamu nikmati dan sukai. Walau mungkin diluar kehendak kamu awalnya dan walau mungkin di luar kesadaran kamu pada awalnya, tapi apapun masalahnya, semua itu memberikan sesuatu yang amat berharga untuk kamu. Dan itu….aku anggap pemberianku” kembali Ferry menghentikan penjelasannya, sementara Dina masih menunggu kelanjutan penjelasan suaminya itu dengan sejuta gejolak perasaan. Apakah dirinya harus malu dan merasa bersalah ?  Ataukah sebaliknya ?  Malu, ya. Bersalah, juga ya. Tapi, apa yang dikemukakan suaminya itu juga benar. Semua ini bukan tertumpu hanya kepada dirinya. Beban ini harus bersama-sama memikulnya.

 

“Satu minggu lamanya aku berusaha untuk mengkaji dan menelaah masalah kita. Dan satu minggu itulah, aku memutuskan bahwa aku dan kamu, berhak untuk mendapatkan sesuatu yang menyenangkan. Aku dan kamu, berhak senang, sepanjang tak merugikan orang lain”

 

“Tapi mas, aku kan masih berstatus is….”

 

“Ya, aku tahu. Sekarang, kalau aku sebagai suami kamu tak marah dan berkeberatan, lantas….apa masalahnya ? Beres kan ?” jawab Ferry mendahului ucapan Dina. Sesaat hening, seakan masing-masing sibuk dengan alur pikirannya sendiri-sendiri, termasuk Darwis yang sejak tadi setia dan diam memberi kesempatan kepada pasangan suami istri itu untuk berkomunikasi.

 

Panjang lebar Ferry coba menjelaskan dan memberi pengertian pada Dina. Perlahan Dinapun mulai memahami dan kembali tenang.

 

“Jadi, sungguh…mas…tidak…” masih sedikit ragu Dina coba meyakinkan diri.

 

“Ya. Pasti. Sekarang, kita sudahi saja semua yang menjadi masalah itu. Sekarang kita ngobrol yang lain, kasian tuh Darwis, kayak kambing congek didiemin aja” ujar Ferry. Kali ini, walau dengan sedikit canggung dan malu, Dina melirik ke arah lelaki itu yang hanya senyum-senyum simpul saja.

 

“Darwis juga tadinya ketakutan waktu aku memanggil dia dan menyampaikan segala sesuatunya. Tapi setelah aku jelaskan, dia juga akhirnya menerima” jelas Ferry. Dina mengangguk mengerti.

 

“Eh tunggu. Jadi, Darwis udah tahu kalau mas…” tergelitik juga Dina dengan ucapan terakhir suaminya. Ferry mengangguk mengiyakan.

 

“Ter…rus, hari ini, apa…dia juga tahu kalau mas akan…”

 

“Nggak. Kalau itu dia nggak tahu. Dia juga kaget waktu aku muncul tadi” kali ini Ferry menutupi. Dia tak ingin istrinya tahu kalau ini sudah diskenariokan dan akhirnya istrinya merasa tersinggung karena merasa dijebak.

 

“Betul itu mas Dar…wis ?” Dina coba menegaskan dan mencari kebenarannya.

 

“Iya bu. Saya kaget tadi waktu tiba-tiba bapak udah di dalem. Cuma karena bapak kasih isyarat supaya aku terus, makanya aku…” Darwis tak melanjutkan ucapannya karena dilihatnya Dina tertunduk malu.

 

“Terus…tadi yang terakhir, mas…sendiri yang…”

 

“Ya. Aku sendiri yang menyelesaikannya. Aku senang sekali, kamu sangat menikmatinya. Terus terang, aku belum pernah menemui kamu sampai….” Dina menutup mulut suaminya.

 

“Udah akh, jangan di bahas, aku malu” ujarnya tersipu. Ferry tersenyum memaklumi.

 

“Terus, kita ngapain nih. Udah sama-sama begini. Apa….”

 

“Mas…udah. Aku….” Dina merasa digoda dan makin membuatnya malu sendiri.

 

“Ya udah. Kita ngobrol yang lain aja dulu. Oh ya, ceritain dong sedikit soal kamu Wis, biar kita lebih kenal kamu” Ferry coba mengalihkan suasana.

 

“Saya ?  Cerita apa ?  Nggak banyak yang bisa saya ceritain” ujar Darwis.

 

“Ya apa aja. Misalnya, tentang sejarah sekolah kamu. Tentang pengalaman kerja kamu” Ferry coba menjembatani. Lelaki itu diam sesaat, coba merangkai kembali riwayat hidupnya.

 

“Saya sekolah hanya sampai kelas 2 SMP. Maklum, ekonomi orang tua saya tidak mampu menyekolahkan saya tinggi-tinggi. Makanya saya hanya bisa jadi tukang pijat seperti ini” kembali lelaki itu diam.

 

“Kamu sudah punya istri ?” sambung Ferry.

 

“Sudah, dua kali. Tapi dua-duanya berakhir dengan perceraian” jawabnya.

 

“Punya anak ?” lanjut Ferry merasa harus terus dipancing. Lelaki itu menggeleng dengan raut wajah trenyuh.

 

“Saya cerai dengan kedua istri saya itu justru karena itu. Lima tahun berumah tangga dengan istri pertama, dan tiga tahun dengan istri kedua yang janda, tapi tak juga memiliki anak. Terakhir baru saya ketahui, sayalah yang mandul. Karena mantan istri pertama saya yang sudah menikah lagi, punya anak. Sedang mantan istri kedua saya, yang janda dengan dua anak sebelumnya, juga setelah menikah lagi, punya anak lagi. Jadi…sayanya yang mandul” Darwis mengakhiri ceritanya dengan wajah semakin trenyuh.

 

“Saya turut prihatin ya. Dan maaf kalau pertanyaan saya ini kurang enak ditanggapinya” Ferry coba memperbaiki suasana. Dina sendiri kini sudah mulai berani menatap lelaki disampingnya itu yang sesungguhnya sudah seperti “suami keduanya” karena memang antara dia dan dirinya sudah layak dikatakan sebagai “suami istri” sejak satu minggu lalu.

 

“Sekarang, ceritain deh pengalaman kamu selama menjalani profesi kamu ini Wis” Ferry mengganti topik pembicaraan.

 

“Ya, nggak banyak juga pa yang bisa diceritain. Pengalaman saya sebagai tukang pijat ya…begitu aja. Mijat, mijat dan mijat terus” jawabnya datar.

 

“Kalau…pengalaman…yang…seperti ini ?” hati-hati Ferry coba mengutarakan pertanyaannya. Sesaat Ferry dan Dina saling bertatapan. Demikian juga dengan lelaki itu. Bergantian dia menatap ke arah Ferry dan Dina, namun Dina tak balas menatapnya, kecuali Ferry.

 

“Ini…pengalaman saya…yang…pertama” jawab Darwis jujur. Dina dan Ferry kembali saling bertatapan. Kali ini Dina berani beralih memandang lelaki “suami” keduanya itu, seakan hendak mencari kebenaran dan kejujuran dari ucapan lelaki itu.

 

“Masak sih ?” pancing Darwis.

 

“Iya pak, sungguh. Memijat wanita juga, ini yang pertama kalinya” tegas lelaki itu. Akh, pantesan aja, waktu pertama kali dia memijatku minggu lalu, dia seakan grogi dan canggung, batin Dina sendiri.

 

“Sorry yah, kalau aku tanya ini agak kurang enak kedengarannya” sesaat Ferry memandang ke arah Dina istrinya dan juga lelaki di hadapannya.

 

“Berhubungan seks dengan wanita lain selain istri kamu, apa ini juga yang pertama kalinya ?” kali ini pertanyaan Ferry membuat wajah Dina bersemu malu.

 

“Ya pak. Ini…yang pertama” jawab Darwis jujur.

 

“Sudah berapa lama sih kamu cerai dengan istri….kedua kamu ?” Sesaat Darwis tak menjawab, nampak ragu mengutarakannya.

 

“Mas, nanya apa ngintrogasi sih ?” protes Dina seakan membela lelaki itu.

 

“Nggak apa-apa bu, saya juga nggak keberatan khok menjawabnya. Sudah lima tahunan” jawab Darwis lagi. Dina tertegun. Pantes saja, permainannya hot banget sampe bikin aku megap-megap, batinnya sendiri. Wajahnya merona, malu sendiri.

 

“Menurut kamu…istri saya menggairahkan nggak ?” kali ini Dina protes dan membelalakkan matanya tanda protes. Ferry cuma senyum.

 

“Yaa…pastilah pak. Ibu….sangat cantik dan…”

 

“Menggairahkan, begitu ?” Ferry menyambung ucapan Darwis yang terputus. Lelaki itu mengangguk tersipu, terlebih Dina.

 

“Dibanding kedua mantan istri kamu ?”

 

“Mas !  Apa-apaan sich ? Nanyanya khok gitu ?” Dina benar-benar protes karena dibanding-bandingkan.

 

“Nggak apa-apa bu. Sejujurnya…dibanding ibu, kedua mantan istri saya itu…ya jauh lah. Maklum, mereka kan orang desa, sementara ibu…”

 

“Jadi lebih menggairahkan begitu Wis ?” kejar Ferry. Dina mencubit pinggang suaminya, memprotes keras atas pertanyaannya itu.

 

“Sangat. Sangat lebih cantik dan…meng….gairah…kan” terbata-bata dan takut lelaki itu mengucapkannya. Dina semakin tersipu, sekaligus merasa sangat tersanjung.

 

“Kamu benar Wis. Istri saya ini memang, cantik dan sangat menggairahkan sekali. Walau sudah punya anak dua, tapi…nggak kalah kan sama gadis-gadis belia ?” Dina benar-benar dibuat tersipu-sipu sekaligus senang dan merasa melambung dipuji seperti itu.

 

“Permainannya menurut kamu gimana Wis ?” Ferry berucap cepat, menggoda istrinya. Dina terperanjat tak menyangka suaminya akan bertanya sekonyol ini.

 

“Nggak usah dijawab. Aku dan kamu sudah tahu sendiri kan ? Istriku ini hebat banget kan ?” sambung Ferry membuat istrinya agak sewot.

 

“Wis, setuju nggak kalau…kita…perkosa dia bareng-bareng” Dina terbelalak. Gila banget suaminya ini. Apa maksudnya ?

 

“Mas, apa-apaan sih ?” Dina merasa keki di”ganggu” seperti itu.

 

“Ya kalau kamu nggak mau melanjutkan acara ini, aku akan paksa kamu, dan bila perlu…kita perkosa. Ya nggak Wis ?” lelaki itu cuma bengong, melongo seperti orang blo’on.

 

“Mas…”

 

“Kenapa ?  Mau nggak nerusin acara ini ?” kejar Ferry yang sudah tak tahan ingin memulai babak baru kehidupan seksual rumah tangganya itu. Seperti dalam film-film porno, dirinya ingin membuktikan, apakah hubungan model ini bisa dinikmati baik oleh lelakinya ataupun wanitanya. Yang pasti, dirinya sudah merasakan sensasi dan gairah tersendiri saat menyaksikan istrinya berhubungan seks dengan lelaki lain. Dan yang pasti, dirinya sudah dapat memastikan kalau istrinyapun sangat menikmati hubungan seks dengan lelaki selain dirinya itu. Kini tinggal menguji, apakah kalau dilakukan secara terang-terangan dan kalau perlu bersamaan, sensasi dan kenikmatannya akan sama ?

 

“Tapi mas…ak…ku…”

 

“Kenapa ?  Kamu nggak bersedia ?” kejar Ferry cemas, khawatir istrinya menolak model hubungan seperti ini.

 

“Atau aku keluar dulu deh, biar kamu sama Darwis dulu aja”

 

“Mas…mas, bukan begitu. Aku cuma mau ngomong, aku….” Dina benar-benar bingung. Tak menduga akan menemui keadaan seperti ini. Tak menduga kalau suaminya akan mengajukan sesuatu yang gila-gilaan seperti ini. Dirinya diminta melayani suaminya sendiri dan lelaki itu sekaligus. Apa tidak gila namanya.

 

Tapi memang sudah kepalang. Bukankah, melakukan hubungan dengan lelaki lain saja sudah tindakan yang gila ?  Mengapa lagi musti mempertimbangkan yang lainnya. Kegilaan tetap saja kegilaan. Hanya saja, Dina merasa tak berani untuk melakukan hal itu. Atau mungkin…bisa dikatakan, belum berani. Belum siap.

 

Belum siap ?  Apa bukan belum mau ?  Seperti yang ditanyakan suaminya sendiri, mau apa tidak ?  Batinnya coba menerka sendiri jawaban dan keinginannya.

 

Melayani keduanya ?  Gila !  Ini benar-benar gila !  Aku tak pernah menduga dan memimpikannya sekalipun. Tapi kini, kenyataan. Dina merasa bimbang, sekaligus merasa tertantang juga diam-diam. Setelah tertantang melayani lelaki lain selain suaminya, kini tertantang lagi oleh model permainan yang mengandung kegilaan seperti ini. Dirinya teringat adegan film porno yang beberapa kali ditontonnya bersama suaminya itu dimana seorang cewek melayani dua orang cowok, bahkan lebih. Dan kini dirinya mengalami sendiri.

 

“Din, ayo dong jawab. Atau apa Darwis kita suruh pulang aja ?” Ferry coba memojokkannya, dan itu….berhasil.

 

“Ng…nggak, nggak usah” Dina menjawab spontan. Entah karena didorong oleh rasa tidak enak hati kalau harus mengusir lelaki itu ataukah didorong oleh hal lainnya ? Didorong oleh keinginan dirinya yang tak ingin kesempatan ini lepas dan hilang begitu saja akan tantangan kali ini.

 

Namun untuk menjawabnya dengan terus terang, tentu saja tidak mungkin. Dina berharap, suaminya memahami dan dapat membaca gerak tubuhnya.

 

“Ya sudah, jadi kamu nggak keberatan kan ?” Ya, itu dia !  Itu jawaban dan ucapan yang ditunggunya. Walau dalam hatinya bersorak senang, namun tak urung membuatnya tersipu.

 

“Terserah mas aja deh” hanya itu ucapan yang keluar dari celah bibirnya, pasrah. Pasrah seperti sebelum-sebelumnya. Kepasrahan yang akhirnya menghadirkan kenikmatan seperti ini. Dan kini dirinya kembali pasrah diminta melayani sekaligus dua lelaki, satu suaminya sendiri, dan satunya…

 

“Nah gitu dong. Ya udah, biar kamu rileks, gimana kalo…Wis, kamu keluar dulu yah. Kamu tunggu aja di luar dulu. Nanti aku panggil deh kalo udah siap” ujar Ferry memahami keadaan batin Dina. Lelaki itu tanpa banyak komentar, langsung bangkit dan beranjak ke luar.

 

“Sebentar sayang, aku mau ada titipan pesan dulu sama Darwis, jangan sampai dia terlihat orang dari luar” ujar Ferry langsung menyusul lelaki itu keluar. Dina termenung ditempatnya. Masih tak percaya, dalam waktu sesingkat ini dirinya mendapatkan pengalaman yang sangat luar biasa dan tak terduga. Setelah dua kali pertempurannya dengan Darwis yang membuatnya “ketagihan,” kini ditambah lagi dengan kejutan lain. Suaminya sendiri yang mengusulkan hubungan seks gila seperti ini. Dua lelaki akan menggumuli dirinya sekaligus, apa rasanya ?

 

Belum selesai lamunannya, Ferry sudah muncul lagi.

 

“Ngomong apa sama…Darwis mas ?” Dina coba mencari tahu.

 

“Aku suruh dia nunggu di sudut ruang tengah aja dan jangan jalan-jalan ke depan atau ke dapur, takut ada yang lihat” ujar Ferry tak sepenuhnya. Padahal, selain titip pesan tersebut, Ferry juga menitip pesan agar Darwis nanti masuk saat dirinya tengah bercumbu. Ferry pura-pura tidak mengetahuinya, dan Ferry akan melihat reaksi istrinya saat melihat Darwis hadir menonton percumbuan dirinya itu.

 

“Nah, sekarang tinggal kita berdua. Mau tunggu apa lagi ?” ujar Ferry.

 

“Iiih, mas nakal akh” rajuk Dina tersipu.

 

“Ayo, duduk disini. Aku ingin bersenang-senang dengan kamu sayang” ujar Ferry meminta Dina duduk di pangkuannya.

 

“Kamu terlihat sangat cantik dan menggairahkan lho” ujar Ferry senang karena keinginannya terkabul.

 

“Makasih mas” jawab Dina manja sambil duduk di pangkuan suaminya. Keduanya saling berpelukan, dan langsung saling berpagutan dengan penuh gairah. Baik Dina sendiri maupun Ferry, masing-masing sesungguhnya diam-diam sudah terpancing gairahnya dengan rencana acara permainan barunya ini. Dan itulah karenanya, keduanya langsung tancap gas.

 

Dina sendiri, tanpa sadar, napasnya telah memburu, menandakan gairahnya sudah demikian memuncaknya, sejak membayangkan dirinya akan dikerubuti dua lelaki sekaligus.

 

Sambil berpagutan, tangan Ferry menggerayangi sekujur tubuh polos istrinya itu. Mulai dari rambut kepalanya, tengkuknya, punggungnya, sampai ke bongkahan pantatnya dan juga kedua paha mulusnya. Demikian juga halnya dengan Dina.

 

Cukup lama juga keduanya berpagutan dan saling raba, untuk kemudian Ferry mengangkat tubuh Dina agar lebih tinggi lalu segera menyergap kedua gundukan payudara istrinya itu dengan penuh gairah, sementara Dina sendiri langsung menggenggam batang kemaluan suaminya yang sudah mengeras. Dina merasakan batang kemaluan suaminya kali ini sangat keras. Itu menandakan kalau suaminya juga benar-benar berada di puncak gairahnya, sama seperti dirinya saat ini.

 

Dina memejamkan matanya, meresapi permainan lidah dan bibir suaminya. Memang beda, namun juga tetap sangat nikmat. Diam-diam Dina membandingkan permainan antara suaminya dan Darwis. Jujur diakui, permainan Darwis lebih menantang dan penuh misteri. Sedangkan permainan suaminya, rasanya sudah sangat dia hapal. Namun demikian, nikmatnya tetap. Bahkan kali ini terasa lebih nikmat. Mungkinkah hal ini disebabkan kehadiran lelaki lainnya itu ?

 

Dina membuka matanya dan sempat terkejut ketika melihat Darwis sudah masuk ke dalam. Dina tak bisa berbuat apa-apa, hanya membiarkan lelaki itu berdiri di dekat pintu kamar, menghadap ke arahnya sambil menggenggam batang kemaluan nya sendiri yang terlihat sangat tegang. Dina merasakan ada sensasi tersendiri demi untuk pertama kalinya percumbuannya ditonton lelaki lain, walau lelaki itu sudah dua kali bercumbu dengannya. Dina memandang ke arah mata lelaki itu dengan tatapan gairah sekaligus seakan menantang lelaki itu untuk maju bergabung mencumbunya.

 

Aneh, dirinya tak lagi merasa canggung dan malu. Justru merasa sangat bergairah ditonton seperti itu. Rasa canggung dan malu yang tadi sempat hinggap, seakan sirna menguap begitu saja saat ini. Saat dirinya kembali bergairah.

 

Permainan lidah dan bibir suaminya, kini mulai dikombinasi dengan permainan jari tangannya. Dan Dina sempat terkejut. Tak biasanya Ferry melakukan ini. Memasukkan jari tangannya ke dalam liang kewanitaannya. Biasanya Ferry hanya mengusap-usap dan menggosok-gosok permukaan vaginanya saja, tapi kali ini…

 

Dan Dina semakin terperanjat, sekaligus surprise. Ferry kali ini benar-benar melakukan hal tak terduga. Suaminya itu kini mengorek-ngorek liang vaginanya bahkan dengan keempat jari tangannya sekaligus, sama seperti yang sudah dilakukan oleh Darwis tadi dan juga minggu lalu. Dina tak dapat menyembunyikan lagi rasa nikmatnya. Dia mengerang dan merintih sambil meliauk-liukkan pinggulnya. Dan kenikmatannya ini semakin bertambah saat menyaksikan Darwis terlihat bernapsu menyaksikan kenikmatan yang diekspresikannya itu. Sungguh sebuah kontak birahi antara dirinya dan lelaki itu.

 

Cepat sekali Dina merasakan gairahnya meningkat. Dan akhirnya, dalam tempo singkat saja dirinya sudah tak kuat lagi bertahan.

 

“Sudah mas, selesaikan…sek…karang” pintanya sambil menepis pelan tangan suaminya agar menyingkir dari selangkangannya. Lalu, tanpa merubah posisi, batang kemaluan suaminya segera disergapnya dan diarahkan ke pangkal pahanya sendiri untuk kemudian….

 

“Sssshhh….ooouuukkkhhh….” erangnya mengiringi gerakan turun tubuh bugilnya sendiri. Perlahan batang kemaluan suaminya membenam masuk ke dalam liang vaginanya. Dina sengaja melakukan gerakan perlahan untuk meresapi segala kenikmatannya, dan….uuukkhhh….benar-benar nikmat. Entah kenapa, kali terasa berbeda. Rasa nikmat yang diterimanya terasa berlipat-lipat, padahal sebelumnya..

 

Ya, ini pasti karena suasananya. Suasana yang berbeda. Berbeda karena kehadiran lelaki lain. Lelaki lain yang hadir saat ini dan menyaksikan persetubuhannya. Lelaki yang sebelumnya sudah memberikan pengalaman seksual tersendiri bagi dirinya, dan kini akan memberi pengalaman yang baru lagi.

 

“Mmmmhh….mmmhhh….uuuukkkhhh….uuukkkhhh….” Dina terus merintih, mengerang, mengiringi gerakan turun tubuh bugilnya. Perlahan batang kemaluan suaminya semakin dalam memasuki liang kemaluannya dan telah pula menyentuh dan menggesek ujung rahimnya. Dina terus menekan hingga batang kemaluan Ferry yang sepanjang lebih dari tujuh belas centimeter itu semakin dalam memasuki rongga kewanitaannya.

 

“Uuukhh….maassshh” erang Dina akhirnya saat berhasil membenamkan seluruh batang kemaluan suaminya itu. Kini posisinya duduk di pangkuan suaminya dengan liang kewanitaannya yang sudah terisi batang kemaluan suaminya itu. Dina terdiam sejenak, meresapi ganjalan di selangkangannya, sambil melirik ke arah pintu kamar. Dilihatnya Darwis sedang mengocok-ngocok batang kemaluannya sendiri, tak tahan menonton hotnya persenggamaan dirinya dengan suaminya itu.

 

Hanya sejenak Dina terdiam, selanjutnya dia mulai bergerak, menaik turunkan tubuh bugilnya dalam pangkuan tubuh bugil suaminya, sambil matanya terus memandang ke arah lelaki di hadapannya. Gerakannya terus meningkat cepat dan kenikmatannyapun langsung meningkat cepat pula. Dina terus bergerak naik turun diatas pangkuan suaminya. Gerakan naik turun tubuh bugilnya, dikombinasi denga gerakan berputar-putar pinggul indahnya, memberi kenikmatan lebih. Dina sudah semakin tenggelam dalam kenikmatan birahinya. Dan kini dirinya justru merasa sudah sangat siap dan bahkan menginginkan lelaki itu segera bergabung, memberinya kenikmatan yang lebih lagi.

 

Namun sampai Dina merasakan dirinya akan memperoleh hasil kerjanya, Darwis masih diam saja, masih berdiri di tempatnya semula dan masih menontonnya. Dina semakin atraktif dan tak lagi mengerem rintihan dan erangannya sampai kemudian….

 

“Aakh maaasshh!” pekiknya. Dijatuhkannya tubuhnya lalu ditekannya pantatnya keras-keras sambil memeluk kuat tubuh suaminya. Dina meregang memperoleh klimaksnya yang tak kalah hebat seperti dua klimaks sebelumnya. Tubuh bugilnya melengkung, menggeletar dan mengejang hebat. Ferry merasakan seluruh batang kemaluannya diremas-remas dan seperti dihisap-hisap dengan kuat dan cepatnya oleh dinding lubang kemaluan istrinya itu.

 

Keduanya terdiam sejenak. Dalam gulungan puncak kenikmatannya, Dina kembali memandang dengan sayu ke arah pintu kamar tidurnya. Terlihat lelaki itu semakin bergairah menyaksikan dirinya tengah mengalami klimaks. Mungkin Darwis sedang meresapi, betapa batang kemaluannya merasakan remasan dan hisapan lubang kemaluan dirinya saat dirinya klimaks seperti ini. Dan lelaki itu sudah merasakannya beberapa kali, baik tadi pagi maupun pada minggu lalu. Dan terlihat sekali kalau Darwis ingin sekali merasakan kembali apa yang pernah dirasakan sebelumnya. Dina melihat tangan lelaki itu semakin cepat mengocok batang kemaluannya sendiri. Hampir saja Dina berseru agar lelaki itu menghentikan gerakannya karena tentu saja nanti saat akan menggilirnya, dia sudah akan kelelahan.

 

Untung saja, ya…untung saja hal itu tak perlu dicemaskannya karena….

 

“Sekarang, biar Darwis yang menggantikannya dulu ya sayang” ujar suaminya sambil merebahkannya. Setelah itu, suaminya berteriak memanggil lelaki itu yang sebenarnya sudah berada di belakangnya. Dina melihat lelaki itu mendekat dengan penuh gairah. Terlihat batang kemaluannya bergoyang ke sana ke mari saat dia berjalan. Kalau sedang tidak dalam keadaan bergairah seperti ini, tentu dirinya akan tertawa. Terlihat lucu lelaki berjalan dengan alat kejantanannya yang bergoyang-goyang seperti belalai itu. Namun kali ini bukan lucu, justru membuat Dina semakin bergairah, apalagi menyadari kalau kedatangan lelaki itu untuk menggilirnya, memberi kenikmatan kepada dirinya.

 

“Ayo Wis, gantikan aku dulu” ujar Ferry saat lelaki itu sudah berada di sampingnya. Ferry mundur, melepaskan batang kemaluannya dari dalam lubang kemaluan Dina, sementara Dina menunggu dengan tegang sekaligus gairah.

 

Tegang karena ini pertama kalinya menerima masukan alat kelamin lelaki lain disaksikan dan atas perintah suaminya langsung. Dan saat Darwis sudah berada di antara kedua kaki mulusnya, Dina hanya bisa memandang ke arah suaminya seakan meminta dorongan. Ferry mengangguk memberi dorongan. Darwis menoleh sesaat ke Ferry. Kali ini Ferry mengangguk memberi dorongan pada lelaki itu.

 

“Sssshhhh….mmmmmhhhh….mmmaaassshhh” erang Dina sambil mengernyitkan dahinya dan memandang ke arahnya. Ferry senyum memberi motivasi. Darwis bergerak perlahan, Dina mengerang menahan. Perlahan Ferry menyaksikan batang kemaluan Darwis semakin masuk ke dalam lubang vagina istrinya. Perlahan Darwis sendiri kembali merasakan kenikmatan jepitan lubang kemaluan istri lelaki disampingnya ini. Perlahan juga Dina merasakan kembali nikmatnya tusukan batang kemaluan lelaki itu sampai akhirnya seluruh batang kemaluan lelaki itupun membenam habis ke dalam lubang kemaluannya, menghadirkan kembali rasa nikmat yang tadi dirasakannya.

 

Darwispun mulai bekerja. Dengan sedikit malu dan canggung, Dina masih terlihat pasif, hanya rintihan dan erangannya saja yang menandakan kalau dia sedang merasakan kenikmatannya. Ferrypun segera maju, mencondongkan kepalanya dan langsung melahap putting payudara istrinya. Dina tersentak, namun hanya sesaat untuk kemudian dia langsung tenggelam dalam buaian kenikmatannya. Benar-benar sangat terasa kelebihannya. Untuk pertama kalinya Dina merasakan cumbuan dua lelaki sekaligus, dan ini terasa jauh lebih hebat dari pengalaman sebelumnya, termasuk pengalaman saat melakukan pergumulan dengan lelaki itu tadi dan minggu lalu. Rasanya kenikmatannya kali ini terasa sempurna. Dina tak menyangka kalau ternyata melayani dua lelaki sekaligus akan sehebat ini rasanya. Dina sampai mengerang dan merintih kian keras dan kini akhirnya, pinggulnya langsung bergerak menyambut gerakan menusuk lelaki itu. Tangannya langsung bergerak dan menangkap batang kemaluan suaminya yang masih berdiri mantap dan keras sekali. Sambil menikmati hujaman batang kemaluan lelaki itu di liang vaginanya, sambil menikmati jilatan, gelitikan lidah dan hisapan bibir serta gigitan-gigitan kecil suaminya di puting payudaranya, Dinapun menggenggam erat batang kemaluan suaminya.

 

Ferry mengarahkan cumbuannya ke wajah Dina. Mulai dari lehernya, terus ke pipi dan ke daun telinganya, sambil tangannya terus meremas-remas payudara istrinya itu.

 

“Gimana, nikmat sayang ?” bisik Ferry memastikan.

 

“He’eh” hanya itu yang keluar dari celah bibir Dina.

 

“Kita akan melakukan hal ini sampai sepuas-puasnya. Kita akan bersenang-senang sampai tiga hari ke depan” bisik Ferry. Kalau saja Dina tak sedang dalam gulungan kenikmatan birahinya, tentu dia akan terkejut dan melotot tak percaya atas ucapan suaminya itu. Namun saat ini, saat dirinya tengah tenggelam dalam gulungan ombak kenikmatan birahinya, ucapan suaminya itu justru memberikan dorongan tambahan untuk dirinya. Dorongan tambahan agar dirinya tak ragu lagi menikmati ini sepenuhnya, dorongan yang akhirnya membuat gerakan pinggulnya semakin meningkat gencar dan dengan gerakan salah satu tangannya, Dina memberi isyarat agar lelaki yang sedang menggilirnya itu meningkatkan kecepatan dan kekuatan gerakannya. Darwispun mengerti.

 

“Uuuukkkhh…uuuukkkhhh…uuukkkhhh” Dina semakin merintih dan mengerang. Dari ekspresi wajahnya terlihat kalau Dina tengah merasakan kenikmatan yang hebat. Gerakan Darwis sampai membuat tubuh bugil Dina terguncang-guncang kuat walau berusaha dipegangi dan diredam oleh Ferry sendiri. Bagi Ferry, keadaan ini benar-benar sangat menggairahkan. Sangat menggairahkan saat melihat istrinya tak lagi ragu dan malu menikmati semuanya. Sangat menggairahkan karena terlihat istrinya betapa sangat menikmati semua ini. Sangat menggairahkan karena semua yang diekspresikan istrinya itu.

 

Hingga akhirnya….ya, hingga akhirnya….Dina memekik kembali. Dengan cepat dirangkulnya dirinya dan dipeluknya kuat-kuat. Jalan napasnya terdengar terputus-putus dan tubuh bugilnya yang kembali mulai dibasahi keringat itu, terasa mengejang dan bergetar hebat. Dina, istrinya kembali memperoleh klimaksnya dengan hebat. Keadaan ini berlangsung beberapa saat lamanya sampai kemudian dirasakannya pelukan Dina mengendur.

 

“Mas…gantikan lagi” pinta Dina tak lagi ragu dan canggung. Ferry tersenyum setuju. Darwis mundur, dan Ferrypun mengambil posisi. Dengan cepat dimulai giliran keduanya. Ferry mulai membenamkan batang kemaluannya ke dalam lubang vagina istrinya itu dengan perlahan. Perlahan namun pasti sampai seluruh batang kemaluannya membenam habis ke dalam lubang kemaluan istrinya. Masih terasa denyutan dinding lubang kemaluan istrinya pertanda klimaks yang baru didapatkan istrinya itu masih tersisa kenikmatannya.

 

“Wis, kamu duduk disini saja, biar istriku bisa melakukan apapun yang dia inginkan” ujar Ferry saat melihat lelaki itu akan menjauh sejenak. Darwis menurut, duduk di samping tubuh bugil Dina yang baru saja digilirnya itu.

 

Perlahan Ferrypun mulai bekerja. Perlahan pula Dina mulai menyambut. Ferry meraih tangan Darwis dan meletakkannya diatas payudara Dina. Lalu Ferrypun meraih tangan istrinya itu dan meletakkannya tepat di batang kemaluan lelaki itu. Keduanya langsung merespon dengan penuh gairah. Darwis langsung meremas-remas payudara Dina, sementara Dina langsung menggenggam dan mengocok-ngocok batang kemaluan Darwis sambil menikmati hujaman batang kemaluan Ferry di liang kemaluannya.

 

“Ayo Wis, jangan cuma dipegang, lakukan apa yang ingin kamu lakukan, nggak usah ragu” ujar Ferry menyilahkan. Darwispun tersenyum senang. Langsung dia membungkukkan tubuhnya, dan mulutnya segera beraksi di payudara Dina memberi kenikmatan tambahan pada Dina.

 

Ferry mencondongkan tubuhnya ke arah Dina.

 

“Mau isep punya Darwis sayang ?  Ayo, lakukan apapun yang kamu inginkan. Semua terserah kamu, asal kamu menikmatinya” bisiknya. Dina tak menjawab. Ferry kembali menegakkan tubuhnya. Sesaat tak ada reaksi dari Dina istrinya, namun sesaat kemudian, Darwis menegakkan kepalanya karena merasakan batang kemaluannya ditarik tangan Dina. Sebelum bergerak, Darwis memandang ke arah Ferry, meminta persetujuan. Sambil terus bergerak, Ferry mengangguk memberi jawaban dan Darwispun mendekatkan selangkangannya ke wajah Dina. Sambil merintih dan setengah memejamkan matanya, nampak dengan sangat bergairah Dina langsung melahap batang kemaluan Darwis dengan penuh gairah, membuat Ferry semakin bergairah menyenggamai istrinya itu. Darwispun sampai menggeram-geram merasakan hisapan mulut Dina di batang kemaluannya. Ketiganya kini sama-sama kenikmatan.

 

“Leb…bih cep…pat mas…mmmhhh….yyaaa…ter…rus…uuukkhhh….mmmmh” pinta Dina lalu kembali melahap batang kemaluan Darwis. Ferry menusuk-nusuk dengan kekuatan dan kecepatan puncak. Payudara Dina yang tak terpegang Darwis hingga terguncang-guncang. Batang kemaluan Darwispun berkali-kali terlepas dari mulut istrinya itu. Ferry terus berpacu mengantarkan istrinya ke puncak kenikmatan berikutnya.

 

Dan setelah upaya kerasnya berlangsung beberapa menit, Dinapun kembali memekik lalu mengejang klimaks. Kulumannya terlepas, namun terlihat kalau jari tangannya sampai mencekik kuat batang kemaluan Darwis yang masih berada dalam genggamannya itu. Ferry kembali merasakan remasan dan hisapan lubang kemaluan istrinya itu sampai beberapa saat lamanya.

 

“Masih mau dilanjutkan sayang ?” bisik Ferry setelah merasakan denyutan liang vagina istrinya mereda. Dina tak menjawab dengan kata-kata, hanya anggukan kepalanya saja yang menunjukkan jawabannya. Pandangan matanya sudah semakin sayu, sementar sekujur tubuh bugilnya sudah semakin basah oleh keringatnya sendiri. Ferry memberi isyarat pada Darwis untuk kembali menggantikannya.

 

“Mau ganti posisi sayang ?” tanya Ferry. Dina kembali mengangguk. Tanpa sungkan dan ragu lagi, Dina langsung membalikkan tubuh bugilnya sendiri. Kini dia merangkak. Rupanya Dina ingin posisi doggy. Darwispun bersiap, sementara Ferry duduk dihadapan Dina. Dinapun langsung menyergap batang kemaluan suaminya itu yang baru saja mengantarkannya ke klimaks.

 

“Mmmmmhhh….” bertepatan dengan masuknya batang kemaluan Ferry ke dalam mulut Dina, batang kemaluan Darwispun memasuki lubang vagina istrinya itu. Lalu Darwispun kembali bekerja dan Dinapun kembali mengerang-ngerang dan merintih-rintih menikmati semuanya. Kedua payudara Dina yang menggantung bebas, langsung disergap kedua tangan Ferry dan memberinya stimulasi tambahan pada istrinya itu. Sementara di belakang, Darwispun berkali-kali meremas bongkahan pantat Dina yang memang sangat menggairahkan itu.

 

Akhirnya, setelah klimaksnya kembali diperoleh, Ferrypun kembali menggantikan posisi Darwis, masih dalam posisi yang sama, doggy. Dina nampaknya ingin membagi secara adil pada keduanya. Walau lututnya terasa lemas dan gemetar, namun dia berusaha untuk tetap bertahan. Ferry dan Darwis bergantian mengambil posisi. Sementara Dina kembali menerima dan memperoleh hasilnya.

Seakan tak mengenal lelah, Dina kembali menerima giliran Darwis berikutnya, walau sekujur tubuh bugilnya sudah bermandikan keringat. Rasa linu di selangkangannya mulai terasa, namun dia berusaha untuk terus bertahan dan dapat melayani keduanya.

 

“Mas…sel…lesaikan…sek…karang. Ak..ku…aku su…dah…”

 

“Ya sayang. Ayo Wis, kamu selesaikan duluan aja” ujar Ferry. Lelaki itupun dengan semangat dan bergairah menerimanya. Posisinya kini kembali seperti semula. Dina kembali telentang sambil membuka kedua kakinya lebar-lebar, sementara Darwis menusuk dari depan. Dan akhirnya, lelaki itupun menggeram mendapatkan hasilnya setelah sebelumnya Dinapun memekik dan meregang mendapatkan kembali klimaksnya.

 

Ferry mengamati, sedikit sekali lelaki itu menumpahkan cairan klimaksnya diatas tempat tidur. Juga hanya sebuah cairan bening, tak putih dan kental seperti umumnya lelaki miliki. Oh ya tentu, seperti ucapannya tadi saat berbincang, dia memang mandul. Tak mampu menghasilkan sperma. Ferry sempat prihatin dengan keadaan lelaki itu kalau saja Dina tak memanggilnya.

 

“Kamu yakin masih mau melanjutkan sayang ?” tanya Ferry demi melihat istrinya sudah sangat kelelahan.

 

“Ya mas, ak…ku ma…sih ingin. Ak..ku…ingin lag…gi” jawab Dina lirih.

 

“Nggak sebaiknya istirahat dulu sayang ?” bujuk Ferry tak tega.

 

“Ng…gak mas. Ak…ku…ingin…lag…gi. Ayo mas…sek…kali lag…gi aja” pinta Dina merengek. Antara iba sekaligus terkejut dengan gairah istrinya itu, akhirnya Ferrypun menyetujui.

 

“Yang….cep…pat aj…ja mas…lang…sung..aja” pinta Dina saat Ferry mulai membenamkan batang kemaluannya ke dalam lubang kemaluan istrinya itu. Ferrypun memenuhi, langsung menggenjot istrinya dengan cepat dan kuat. Dina sampai megap-megap menerimanya. Kepalanya tertarik jauh ke belakang. Wajahnya mengekspresikan kenikmatan yang amat sangat membuat Ferry semakin bersemangat.

 

“Terus sayang ? Masih kuat ?” tanya Ferry sambil terus bekerja.

 

“Yyyaa…ter..rus maasshh…tus…suk yang…kuu…aaatt, akh ! Ya…terus…terus.. leb…bih kuuu…aaatt !! Ya…ya….ter…russshhh….ooookkkhhh….uuuukkkhhh… akh !” Dina nampak histeris. Pinggulnya bergerak liar, berputar-putar seakan tak terkendali, sementara kepalanya terus tertarik jauh ke belakang. Dahinya mengernyit, kedua alisnya seakan hendak bertaut. Mulutnya terbuka, kedua matanya terpejam rapat. Jari-jari tangannya mencengkeram kuat kedua lengan Ferry. Pinggulnya berkali-kali tersentak naik. Ferry menyaksikan betapa istrinya sangat bergairah dan kenikmatan sehingga memberi tenaga tambahan untuk terus menggempur istrinya dengan hebat. Baru kali ini dirinya dan istrinya melakukan pergumulan sehebat ini sampai akhirnya…baik Dina maupun Ferry sendiri saling memiting hebat, menyelesaikan permainan keduanya. Sama-sama napas memburu, sama-sama meregang kenikmatan dan sama-sama puasnya.

(Bersambung)

Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s