Perjalanan Hidup

 

Perjalanan hidup memang sulit diterka, demikian yang kualami. Aku Ratna, 29 tahun.. Lima tahun menikah namun juga belum dikaruniai keturunan. Usiaku kini mendekati kepala tiga dan itu membuatku semakin panik. Sementara Baskoro suamiku nampak sekali ingin segera memiliki keturunan. Hal itu dapat tergambar dari sikapnya walau sekuat apapun dia menyembunyikannya.

Sampailah pada satu titik dimana Baskoro ingin menikahi wanita lain guna mendapat kan keturunan. Aku tak bersedia dimadu, dan lebih memilih pisah. Maka jalan perpisahan itulah yang ditempuh walau berat.

Tak terasa hampir satu tahun aku hidup seorang diri. Sering kali adikku Lastri mengunjungiku, baik seorang diri ataupun dengan Adi suaminya atau kadang juga dengan Tomo dan Dita kedua anaknya. Dalam keadaan ini aku sedikit terhibur dan dapat melupakan segala penderitaanku.

Penderitaan yang utama adalah, kesendirian. Sebagai seorang wanita yang pernah berumah tangga, tentu ada kalanya aku merasakan kesepian dan ingin sentuhan serta belaian seorang lelaki, tapi apa daya.

Karena tak tega, Lastri akhirnya menyarankan agar aku pindah saja dan tinggal dekat dengan mereka, kebetulan rumah di sebelah akan dijual. Kehadiranku itu juga sekalian bisa menjaga Tomo dan Dita bila mereka sedang ditinggal. Selama ini mereka hanya bersama pembantu bila Lastri dan Adi keluar rumah.

Dengan segala pertimbangan akhirnya aku menyetujui usul mereka. Rumah yang kutinggali rencananya akan aku jual, namun Lastri dan Adi tak setuju. Biarlah rumahku dikontrakkan saja, rumah yang akan dijual itu dibeli oleh mereka sekalian untuk investasi.

Dengan sedikit renovasi akhirnya rumah siap kutinggali. Untuk menyatukan dua rumah, Adi sengaja membangun satu ruangan lagi yang menghubungkan rumah baru dengan rumah yang lama, sehingga aku seperti tinggal di satu rumah walau berbeda atap.

Semenjak pindah ke rumah mereka, aku sedikit terhibur terutama dengan kehadiran dua keponakanku itu, Tomo dan Dita. Tomo yang baru kelas 3 SD sementara adiknya Dita baru kelas 1 SD, namun keduanya sangat ceria dan penuh semangat walau sesekali mereka bertengkar, maklum anak-anak.

Tak terasa lebih dari tiga bulan aku tinggal bersama mereka. Perlahan kesepianku mulai kembali mengusikku terutama di malam hari. Kalau sudah begini biasanya aku pindah tidur di kamar tidur Dita sekalian menemaninya. Kesepianku dapat sedikit terobati dengan memandangi wajah lucu kepinakanku itu, namun itu semua tidak bertahan lama. Sementara Lastri sudah kembali mengandung anak ketiganya. Aku sebenarnya iri dengan kehidupan adikku itu yang menurutku sangat beruntung. Ada keluarga yang utuh dan penuh kasih sayang. Secara materipun mereka dapat dikatakan lebih dari cukup, sementara aku…..

Tak terasa kandungan Lastri semakin besar dan kini adikku itu terlihat semakin gemuk. Hingga mendekati kandungannya yang ke enam bulan, Lastri sengaja datang ke rumah sebelah dimana aku tinggal.

“Ada apa Las, tumben kamu nongkrong disini ?” ujarku sambil meneruskan kegiatan isengku, menyulam.

“Aku ada yang pengen dibicarakan sama Mbak” ujarnya pelan. Kuhentikan kegiatan ku sejenak dan kupandangi Lastri yang nampak serius. Akhirnya kuletakkan kain yang sedang kusulam.

“Pengen ngomong apa ?” ujarku ikut serius. Lastri terdiam sejenak, dia nampak ragu.

“Tapi Mbak janji nggak akan marah ya ?” ujarnya. Aku terdiam. Apa dia akan menyuruhku keluar dari rumahnya ? Tapi kenapa ? Bukankah dulu dia yang menyurhku tinggal disini ? Atau….

“Baik, aku janji” ujarku tak lagi mau menerka-nerka, biar dia mengatakannya saja.

“Begini mbak. Sejak aku mengandung Dita dulu, aku disarankan oleh dokter kandungan agar tak melakukan hubungan seks dengan Mas Adi. Mbak kan tahu aku pernah keguguran. Kandunganku kata dokter lemah. Maka sejak itulah aku dianjurkan untuk tak melakukan kegiatan seksual selama mengandung.” Lastri menghentikan pembicaraannya sejenak. Aku sendiri memang tahu dan sempat menjenguk saat adikku itu keguguran.

“Lantas, apa yang akan kamu bicarakan denganku ?” ujarku. Apa hubungannya denganku ? batinku bertanya-tanya.

“Waktu mengandung Dita dulu mas Adi memang cukup mampu bertahan. Tapi saat ini mas Adi sering uring-uringan dan pulangnya juga sering larut malam.” Lastri kembali menghentikan pembicaraannya. Aku memang membenarkan ucapan adikku itu, Adi memang akhir-akhir ini kalau pulang cukup larut malam, padahal biasanya dia pulang paling lambat jam tujuhan.

“Kalau soal uring-uringannya aku masih bisa memahami mbak, tapi pulang larutnya itu yang aku khawatirkan. Setiap ditanya, mas Adi malah marah. Aku takut, mas Adi main perempuan di luar mbak” ujar Lastri. Aku coba memahami dan menerka kemana arah pembicaraannya itu.

“Lantas, apa yang akan kamu lakukan ?” ujarku coba mengejar.

“Entahlah mbak. Aku cuma tak ingin mas Adi sampai jatuh ke pelukan perempuan lain, apalagi yang nggak bersih” Lastri kembali menghentikan pembicarannya, aku hanya menunggu.

“Sebenarnya aku berat mengutarakan ini. Aku takut mbak salah terima” lanjutnya kembali, menggantung.

“Kenapa aku salah terima ?” kejarku.

“Sebab….” Lastri memandangku sesaat, akupun balas memandang.

“Sebab, aku ingin…mbak….menggantikanku selama aku hamil” ucapannya sungguh membuatku terperanjat. Aku terdiam masih tak percaya dengan apa yang kudengar.

“Menggantikanmu ? Mak…maksudmu ?” aku sungguh-sungguh bingung dan sulit percaya.

“Ya mbak. Maaf, aku nggak bermaksud…. Aku cuma nggak ingin mas Adi terjerumus. Aku harap, mbak mengerti” Lastri berucap pelan, sementara aku hanya bisa terdiam, tak tahu apa yang harus kukatakan.

“Mbak nggak perlu ngejawab sekarang. Mbak pikirin dulu aja. Cuma aku minta, pertimbangkan permintaanku ini mbak. Aku, tinggal dulu mbak” tanpa menunggu ucapanku, Lastri beranjak pergi meninggalkanku seorang diri yang hanya terduduk diam tak tahu harus berbuat apa.

Sungguh apa yang dikatakan adikku Lastri, membuatku sangat terkejut. Batinku bergejolak, pikiranku berkecamuk. Aku coba tenang dan memikirkan dengan jernih apa yang diminta Lastri.

Sesungguhnya kekhawatiran Lastri memang beralasan. Siapa sih yang ingin suaminya jatuh ke pelukan wanita lain, apalagi wanita itu sampai mendatangkan bencana nantinya. Dan biasanya lelaki yang sudah jatuh ke pelukan wanita lain, akan berkurang rasa tanggung jawabnya ke keluarga dan yang pasti secara ekonomi pula akan terjadi kekacauan. Kalau sampai Adi jatuh hati ke wanita lain dan kebetulan wanita itu materialistis, maka dapat diterka akan kehancuran rumah tangganya. Itulah mengapa dia sampai mengambil keputusan itu, memintaku menggantikan posisinya. Tentunya posisi sebagai istri, sebagai pasangan dalam menyalurkan hasrat seksual suaminya.

Aku sungguh bingung dan sulit memutuskan. Kenapa Lastri sampai sefrustasi itu. Aku sebenarnya kasihan terhadap kemelut dirinya, tapi untuk menerima begitu saja permintaannya juga sangat sulit. Walau bagaimana ini bukan main-main. Menggantikan perannya di atas ranjang, menemani suaminya di kasur ?  Akh, berminpipun aku tidak untuk sampai seperti ini. Tapi, kalau aku menerima ?

Walau sesungguhnya aku juga merasakan kedahagaan selama ini. Aku sangat haus akan belaian lelaki. Tapi untuk melakukannya dengan Adi, suami adikku, rasanya masih sulit walau bukan hal yang mustahil.

Sampai beberapa hari aku belum bisa menjawab dan mengabulkan permintaan Lastri walau nampak adikku itu ingin segera mendapatkan jawaban dariku. Dan keadaanku semakin terjepit manakala Adi semakin larut pulangnya. Tak jarang kedapati mereka bertengkar karena Lastri mengutarakan keberatannya kalau suaminya pulang terlalu larut. Dan bila dinyatakan demikian, Adi selalu menjawab ketus kadang agak menyakitkan menurutku. Dia katakan untuk apa pulang cepat kalau yang ada hanya kehampaan.

Keadaan itu benar-benar membuatku tersudut. Sementara Lastri tak berani menanya kan jawabanku, tapi dari sikap dan sorot matanya, aku dapat menangkap kalau adikku itu ingin segera mendapat jawaban dariku. Dia nampaknya menginginkan agar aku segera memutuskan dan dapat menerima permintaannya sebelum keadaan terlanjur.

“Kamu sudah mempertimbangkannya matang-matang Las. Apa kamu nggak akan menyesal kalau sampai aku menerima permintaanmu ?” ujarku saat dia sedang duduk santai di ruang tamunya.

“Nggak mbak. Aku sudah mempertimbangkan matang-matang. Dengan mbak aku lebih merasa aman dan keadaan rumah tanggaku akan terjaga” ujarnya.

“Ya tapi, apa kamu nggak merasa terusik kalau sampai aku melakukannya dengan Adi ?” aku coba memancingnya lebih jauh. Lastri memandangku sejenak lalu dia senyum sambil menggeleng.

“Percayalah mbak, aku akan senang bila mas Adi dengan mbak” ujarnya terdengar mantap. Jawabannya justru membuatku tak berkutik.

“Bagaimana mbak, mbak menerima ?” kejarnya. Aku tergagap.

“Entahlah Las. Aku cuma nggak tega aja kalau sampai….”

“Mbak lebih tega mas Adi jatuh ke pelukan perempuan lain, lalu rumah tanggaku hancur ?” Lastri nampaj emosi.

“Bu…bukan itu Las. Kamu jangan salah sangka dulu. Aku cuma…nggak ingin salah langkah” ujarku sejujurnya. Lastri nampak kembali tenang.

“Mbak, aku sayang mas Adi. Aku juga sayang mbak. Apa salahnya aku memberi kan yang terbaik untuk orang-orang yang kusayangi. Mas Adi adalah hal terbaik untuk mbak, juga untukku. Demikian pula, mbak adalah yang terbaik buat mas Adi. Jadi, apa aku salah kalau memutuskan demikian ?” ujar Lastri coba memberi argumentasi.

“Kamu nggak salah Las. Nggak salah” jawabku lagi.

“Lantas, kenapa mbak nggak menerima permintaanku ?” kejarnya.

“Bukan aku nggak menerima, aku hanya….” ucapanku terpotong. Aku tersadar kalau baru saja mengutarakan sesuatu yang berarti penerimaan atas permintaannya. Menerima permintaannya untuk menggantikan posisi adikku sebagai istri Adi. Menerima Adi dalam pelukanku dan aku dalam pelukannya. Batinku bergemuruh.

“Makasih mbak. Aku sangat senang mendengarnya” Lastri memelukku kuat-kuat. Aku hanya bisa terdiam.

“Aku cuma minta waktu untuk menyiapkan mental Las” seakan aku melanjutkan ucapanku yang tadi tak tuntas.

“Baik mbak. Aku beri waktu, tapi jangan lama-lama. Kasihan mas Adi mbak dan kasihani saya yang selalu merasa cemas dan was-was. Jangan sampai terlanjur kacau” balasnya lalu kembali meninggalkanku seorang diri dalam kegalauan pikiran dan batinku seperti beberapa hari yang lalu. Tak ada lagi alasan untuk berkeratan, keputusan nampak nya sudah diambil.

Beberapa hari aku masih merenung. Kegelisahan dan kecemasan melanda diriku. Gelisah menanti saat-saat itu terjadi. Cemas kalau-kalau sampai aku tak mampu melakukannya. Walau bagaimana, perasaanku masih sulit membayangkan aku bercumbu dengan suami adikku sendiri sampai tiga hari kemudian Lastri meminta ijin mau menjenguk mertuanya sekalian mengajak Tomo dan Dita yang kangen ketemu mbah putri dan mbak kakungnya. Sebenarnya aku keberatan ditinggal sendirian namun Lastri memaksa hingga akupun tersudut.

Dan sepeninggal Lastri, aku justru yang gelisah sendiri. Di rumah sebesar ini sendirian, membuatku takut juga, apalagi kalau sampai Adi pulang larut malam seperti biasanya. Namun kali ini perkiraanku meleset. Jam lima Adi sudah pulang, nggak seperti biasanya. Aku terpaksa menyambutnya pulang, menggantikan peran Lastri.

Dug, jantungku berdegup keras. Menggantikan posisi Lastri sebagai istri. Apakah akan dimulai saat ini ?  Dan….

Seerrr, darahku seakan berdesir keras saat sadar kalau Lastri sengaja pergi. Dia sengaja mengkondisikan rumah agar aku berdua saja dengan Adi. Dan kini aku benar-benar “terjebak.”  Mestikah aku lari ?  Tidak mungkin dan tak pantas. Tapi….

Dengan perasaan berkecamuk, aku mengerjakan semua pekerjaan yang biasa Lastri lakukan, dari mulai menyiapkan air mandi dan makan malam. Kulihat Adi seperti tenang-tenang saja, aku tak berani beradu pandang dengannya. Aku seperti seorang gadis belia bersama dengan seorang lelaki. Semua tugas istri yang biasa dilakukan Lastri, kulakukan kecuali….

Nampaknya belum saja dan pasti akan terjadi. Apalagi saat selesai makan, Adi mengajakku menemaninya menonton TV di ruang tamu. Dengan gugup dan kikuk aku menerimanya.

“Maaf ya mbak, kalau membuat mbak jadi nggak enak hati. Lastri semalam berbicara padaku. Terus terang, aku kaget juga dengan ucapannya. Aku nggak bermaksud kurang ajar dengan mbak, walau sejujurnya….aku juga cukup tertarik dengan mbak. Sebagai lelaki normal, aku nggak mau dusta. Cuma aku menghormati mbak. Makanya, kalau mbak keberatan, aku nggak memaksa khok. Lupakan saja usul Lastri” ujar Adi membuatku terdiam.

“Bu…bukan begitu Di, aku…aku cuma….” ucapanku terputus.

“Aku cuma bingung bagaimana harus bersikap. Apalagi, akukan sudah lama nggak bersuami, jadi….maafkan aku kalau….aku kikuk dan kagok” ujarku diantara gemuruh hatiku sendiri.

“Nggak apa-apa mbak, aku mengerti” jawab Adi pelan. Kebisuan kembali menyergap.

“Biar lebih enak, gimana kalau dimulai dengan mbak mendengarkan ceritaku ?” ujarnya membuatku terperanjat.

“Cerita ? Cerita apa ?” aku terpancing dan menatapnya.

“Ya cerita apa saja yang terjadi selama aku diluar” ujarnya. Aku tak menjawab, hanya diam.

“Mau mendengarkan ceritaku ?” kejarnya. Aku mengangguk. Adi senyum sejenak. Senyuman yang ramah dan akrab dan dapat mecairkan sedikit ketagangan dan kekakuan.

“Sejujurnya, aku hampir saja jatuh ke pelukan perempuan lain mbak. Keadaan seperti ini membuatku stres dan depresi. Aku mencari hiburan di luar. Mulanya hanya dengan teman-teman, tapi kemudian mulai aku berpikir ingin mencari penyaluran ke wanita lain. Tapi aku masih sadar, aku takut terjerumus ke keadaan yang kebih parah. Aku tak ingin membawa bencana ke dalam rumah tanggaku. Nikmatnya hanya sesaat tapi penderitaan nya akan berkepanjangan. Maka dari itu aku lebih banyak menghabiskan waktu di kantor mengerjakan semua pekerjaan yang belum seharusnya aku kerjakan. Dan saat mendengar usul Lastri, aku juga bingung mbak. Mau menerima atau menolak. Menerima aku takut mbak menolak. Sebaliknya menolak, aku sudah tak sanggup lagi berada dalam keadaan seperti ini. Aku takut tak kuat menghadapi tarikan dan godaan yang ada. Godaan yang sangat dekat dan hanya berjarak beberapa mili saja dariku” Adi menghentikan pembicaraannya.

“Tapi semuanya kembali aku serahkan ke mbak. Aku tak ingin mbak merasa terpaksa nantinya. Lebih baik tidak daripada mendatangkan penderitaan bagi mbak. Aku tak ingin demikian” ujar Adi lagi membuatku benar-benar tak berdaya. Aku pasrah.

“Bagaimana mbak ?” kejar Adi karena aku tak juga kunjung bersuara.

“Ak…aku. Aku, terserah kalian saja” jawabku apa adanya.

“Lho jangan begitu mbak. Mbak sendiri bagaimana ?  Apa mbak menerima usulan Lastri ?  Itu penting bagiku” ujarnya, aku kembali terdiam.

“Mbak…” ulang Adi.

“Iy…iya. Ak..ku, menerima” akhirnya terlontar juga ucapanku walau rasanya sulit kuucapkan karena batinku bergemuruh. Perasaan malu, canggung dan kikuk bercampur dengan perasaan tegang dan….sekujur badanku terasa panas dingin.

Akh, apakah aku tak salah ?  Aku merasakan tiba-tiba ada rasa rindu. Rindu akan sentuhan dan belaian lelaki. Perasaan yang tiba-tiba saja muncul dan meningkat dengan cepat. Perasaan yang akhirnya membangkitkan gairahku. Aku hanya menggigit bibir bawahku sendiri, berusaha menekan perasaanku.

Dan tatkala Adi mendekat, sekujur tubuhku semakin bergetar. Aku seperti diserang demam dengan tiba-tiba. Apalagi saat Adi meraih tanganku dan menggenggamnya, membuat aku gemetaran.

“Mbak, aku sangat membutuhkan hal ini dan aku juga tahu mbak juga sangat membutuhkan ini” ujar Adi sambil membelai rambutku sejenak lalu meraih daguku dan mengarahkan hingga menghadap ke wajahnya. Aku hanya bisa memejamkan mataku dengan perasaan bergemuruh. Dan tatkala kurasakan wajahnya mendekat serta kurasakan napasnya, aku semakin tegang. Aku hanya bisa meremas sofa tempat aku dan dia duduk saat kurasakan bibir lembutnya mendarat di bibirku. Untuk sesaat aku tak tahu harus berbuat apa sampai Adi kembali menarik diri.

“Mbak, mbak tidak bersedia ?” ujarnya cemas.

“Bu…bukan itu Di, aku cuma…bingung” ujarku jujur. Dia kembali cerah dan senyum senang karena aku tak menolak. Lalu kembali dia mendekatkan wajahnya. Kali ini aku tak memejamkan mataku, kami saling pandang dengan jarak dekat dan tatkala bibirnya kembali menyentuh bibirku, aku langsung menyambut.

Walau ketegangan masih melandaku, namun lumatan bibir Adi membuatku mulai tenggelam. Kami saling melumat dengan lembut, lalu lidahpun saling bertempur. Hasrat ku langsung memuncak, apalagi saat kurasakan jari tangan Adi mulai merayap di lenganku. Lama tak “tersentuh” membuat seluruh syaraf di tubuhku jadi sangat sensitif. Ciuman dan sentuhan ringan saja sudah membuatku seperti melayang. Sukmaku langsung melambung naik, darahku berdesir-desir dan jalan nafasku langsung memburu.

“Mmhh” hanya itu yang keluar dari celah bibirku saat memulai sesuatu. Sesuatu yang diminta oleh Lastri adikku. Sesuatu yang menegangkan dan mendebarkan sekaligus melenakan. Menegangkan karena baru kembali aku melakukannya kembali setelah sekian lama tak kulakukan. Mendebarkan karena menantikan sesuatu yang selama ini kuinginkan dan tak kudapatkan. Melenakan karena memang buaiannya demikian luar biasa hingga melumpuhkan seluruh syaraf kesadaranku.

Aku semakin terhanyut. Lumatan bibir dan lidah kami semakin bergelora, sementara jari-jari tangan Adi semakin jauh bergerak, mendekati lipatan daerah sekitar ketiakku. Bergerak naik ke punggung bagian atas yang terbuka, terus naik hingga ke tengkuk dan bagian belakang telingaku. Suami adikku ini nampaknya tahu persis bagian-bagian di tubuhku yang membuatku langsung ON.

Sementara Adi terus bergerilya, aku masih pasif dan belum berani bertindak. Kedua tanganku hanya berada di dadanya yang terbungkus T-Shirt putih itu. Untuk sesaat pikiranku seperti kosong. Tak terlintas lagi kecamuk pikiran yang sebelumnya ada. Hanya ketegangan dan debaran yang kurasakan mendominasi diriku. Ketegangan dan debaran yang justru menstimulasi sensasi kenikmatan hingga aku berkali-kali mengeluh seperti putus asa. Pasrah pada kenyataan yang ada dan pasrah pada hasrat gairah yang melanda.

“Mmmhh” eranganku yang tersumbat semakin meninggi saat kurasakan jari-jari tangan Adi bergerak turun ke arah dadaku. Terus turun membuat sekujur tubuhku bergetar menahan segala rasanya. Dan manakala untuk pertama kalinya bagian dadaku kembali “disentuh” tangan perkasa seorang lelaki, akupun tumbang. Tumbang oleh seluruh hasrat gairah yang semakin berkobar. Tubuhku tergelinjang tanpa sadar. Kurasa kan aliran rasa nikmat menjalar ke tubuhku. Aliran rasa nikmat yang akhirnya menjelma menjadi gemuruh saat kurasakan jari tangan suami adikku itu mulai meremas gundukan payudaraku dengan lembut. Aku benar-benar menginginkan hal ini. Rasa nikmat terus menjalar membuat nafasku tanpa sadar kian memburu. Lumatan bibir dan lidahkupun semakin bergelora.

Adi nampaknya cukup bersabar, dia tak ingin tergesa-gesa walau sesungguhnya akupun mau saja bila dia akan langsung “menjamahku” karena tekanan gairah dalam diriku sudah demikian kuatnya dan telah terakumulasi sekian lama. Namun aku hanya pasrah saja saat Adi melakukannya dengan sangat perlahan. Dia nampaknya ingin memberikan sesuatu yang amat berkesan padaku.

Setelah sekian menit dia hanya “menjamahku” dari luar, perlahan kurasakan dia mulai masuk. Tangannya menarik turun tali penyangga gaunku. Bahu dan punggungku langsung terbuka namun dadaku masih terbungkus penutup dadaku.

Bermain-main sejenak jari tangannya di kelembutan kulit punggungku, lalu kurasakan dia mulai berusaha membuka pengait BH-ku. Tanpa kesulitan penutup dadaku pun berhasil dilepaskannya dan dicampakkannya entah dimana. Kini bagian atas tubuhku sudah terbuka membuatku semakin tegang dan berdebar.

Kembali kurasakan tarian jari tangannya di seluruh bagian punggungku. Menari-nari dengan tenang namun memberikan efek yang menakjubkan padaku. Gerakannya lembut namun seakan terukur hingga membuatku berkali-kali melenguh sambil menggelinjang dalam kenikmatan.

Kini gerakan jari tangannya mulai mengarah ke tepian punggungku. Terus bergerak ke samping mendekati ketiakku. Aku hanya bisa pasrah menanti. Bulu-bulu halus ditubuhku meremang merasakan sensasi yang demikian kuatnya. Apalagi saat jari tangan nya mendekati kaki bukit payudaraku yang kini terbuka. Aku sampai menahan napas tanpa sadar.

Dan saat jari tangannya sampai di batas kaki bukit payudaraku, tubuhku terasa kejang. Bergerak berputar mengelilingi kaki bukitnya lalu perlahan naik menuju ke atas bukit. Semua gerakannya membuat gairahku semakin terbakar, kenikmatan semakin menyelimutiku. Tanpa sadar tubuhku meliuk-liuk bergerak seperti menari diiringi lenguhan yang mulai berubah ke rintihan.

“Sssshhhh….mmmmhhhh….” eranganku saat bibirku terlepas dari bibirnya. Kini sambil menggelitik bukit payudaraku, lidah dan bibir adik ipar lelakiku itu bermain-main di pipiku. Bergerak ke belakang dan aku semakin tergetar saat lidahnya menyapu daun telingaku. Menggelitik dan mengulum daun telingaku membuat aku bergidik sekaligus bergetar dalam sejuta kenikmatan.

Kini gerakan jari tangannya di bawah, kurasakan sudah semakin mendekati puncak bukit payudaraku dimana terdapat seonggok daging kecil yang sudah sangat menegang. Terus bergerak berputar-putar seakan menanti saat yang tepat untuk hinggap di puncak bukitnya. Aku semakin tenggelam dalam cumbuannya.

“Sssshhhh…ooouuukkkhhh” erangku akhirnya diiringi gerakan tubuhku yang melengkung saat Adi mendaratkan jari tangannya ke puting payudaraku. Sampai juga akhirnya dia di puncak, di daerah yang sangat kuinginkan sejak tadi. Tubuhku bergetar, jalan napasku tersendat demi untuk pertama kalinya kembali kurasakan sentuhan jari tangan lelaki di daerah tersensitif kedua di tubuhku.

Selama beberapa saat tubuhku melengkung merasakan rasa geli bercampur nikmat yang sangat kuat saat adik ipar lelakiku itu menggelitik puting payudaraku. Sementara di atas, dia terus mengulum dan menggelitik daun telingaku membuat aku hampir tak kuat lagi dan ingin langsung menerkam, namun aku berusaha bertahan.

Kini gelitikannya dia padu dengan cubitan-cubitan kecil lalu dia kombinasikan dengan pilinan membuatku semakin tak kuasa mengendalikan diri. Tangankupun kini tak lagi diam berada di dadanya, tanpa sadar bergerak membelai dadanya.

Dan seiring dengan peningkatan permainan jari tangan dan mulutnya, dituntun naluri bergerak turun menuju ke bawah tubuhnya. Terus turun mendekati perutnya. Menari sejenak di sana dan kembali turun hingga akhirnya melewati pusarnya. Terus turun lagi dan akhirnya berhasil mendarat di bagian bawah tubuh adik ipar lelakiku itu yang mengenakan celana training putih.

Aku semakin tergetar saat untuk pertama kalinya kembali menyentuh alat vital lelaki, yang kini milik suami adikku itu. Dari balik celana trainingnya kurasakan sebuah otot yang sudah demikian kerasnya. Bulat lonjong dan memanjang hingga mendekati pusarnya. Gerakan jari tanganku seakan memeriksa bagian vital lelaki adik iparku itu dan aku sungguh terhenyak dengan sejuta perasaan melanda batinku saat merasakan betapa perkasanya dia. Dengan jari tanganku saja aku dapat memastikan kalau suami adikku, Lastri ini akan memberikan sesuatu yang amat kudambakan. Kupastikan kalau dia akan membuatku luluh lantak dalam sejuta kenikmatan nantinya.

Alat vitalnya lebih besar dan panjang dibanding milik Baskoro mantan suamiku. Hal itu yang membuatku sangat tergetar dan merasa takluk sebelum berperang. Di bagian bawah tubuhku, liang kewanitaanku sampai berkedut-kedut tanpa sadar membayang sesaat lagi akan menerima masukan alat vitalnya. Entah bagaimana rasanya, dan yang pasti…aku akan tenggelam dalam buaian kenikmatan dan gemuruh birahi yang hebat.

Jari-jari tanganku langsung menggenggam kejantanannya, seakan sebuah pernyataan kalau aku telah “memilikinya” dan aku bersedia “dimilikinya.” Bukankah itu yang diinginkan oleh Lastri adikku, membagi kepemilikan dengannya atas lelaki yang menjadi suaminya itu ?  Dan saat ini, bukankah aku diminta untuk menggantikan adikku itu ?  Menggantikan perannya sebagai seorang istri. Walau istri dalam arti yang bukan sebenar nya. Atau bisa dikatakan aku sebagai istri kedua bagi suaminya itu ?

Dan rupanya Adipun sudah demikian bergairahnya. Kini dia mulai mengarahkan serangan lidah dan bibirnya ke bawah. Menuruni leher jenjangku, terus turun ke bawah dan tanpa memakan waktu lama, dia sudah…menyergap payudaraku. Aku semakin tak kuasa menahan segalanya. Rasa haus dan dahaga akan kenikmatan birahi benar-benar membuat gejolak birahiku langsung menggelegak. Tangan kananku memegangi alat vitalnya dari balik celana trainingnya sambil meremas-remas dengan lembut, tangan kiriku langsung menangkap kepalanya dan memeganginya agar dia tak melemaskan permainan mulutnya di puting payudara kiriku, sementara tangan kirinya terus meremas-remas lembut payudara kananku sambil menggelitik dan memilin-milin putingnya membuatku berada dalam keadaan yang sulit kulukiskan. Aku hanya bisa diam sambil bibirku mengalunkan rintihan dan erangan yang semakin jelas, sementara tubuhku hanya bisa melengkung berkali-kali merasakan kenikmatan yang baru kembali kualami ini.

Dan entah merasa kurang puas atau merasa masih ada hambatan, kurasakan tangan kanan adik ipar lelakiku itu bergerak-gerak seakan berusaha melepaskan gaunku yang masih melingkari pinggangku. Merasakan hal itu akupun bereaksi, kuangkat tubuhku sedikit dari atas sofa yang kududuki sampai akhirnya dia berkasil melepaskan gaunku sambil terus melakukan “aksi”nya. Sementara gaunkupun langsung tercampak di bawah kakiku. Kini aku hanya tinggal mengenakan satu pakaian dalamku, yang celana dalam. Dan yang pasti, sisa pakaianku itupun tak akan lama lagi berada di tubuhku, melindungi bagian vital tubuhku ini. Entah dia yang melepaskannya atau….aku sendiri yang melakukannya.

Selesai dia melepaskan gaunku, dia terus melakukan cumbuan di tubuhku yang hampir polos ini. Mulutnya di payudara kiriku, tangan kirinya di payudara kananku sementara tangan kanannya bergerilya ke seluruh bagian tubuhku yang bisa dijangkau nya. Sesekali kurasakan remasan jari tangan kanannya di gumpalan pantatku.

Tiba-tiba dia menghentikan “kegiatannya” dan agak menjauh dariku. Aku terdiam sesaat. Ternyata, dia…hendak melucuti pakaiannya sendiri. Sambil masih duduk di hadapanku, dia melepaskan kaosnya. Kulihat dadanya yang sedikit bidang. Setelah itu dia turunkan celana tariningnya. Mataku segera terarah ke bagian bawah tubuhnya itu. Dari balik celana dalam coklatnya, kulihat tonjolan yang bulat dan sedikit melingkar. Tubuhku semakin tergetar menyaksikan itu dan akhirnya dengan sekali sentak, dia tarik celan dalamnya hingga meloncatlah alat vitalnya. Hampir saja aku terpekik tanpa sadar.

Kini kulihat dengan jelas bentuk dan ukuran alat vitalnya dan ternyata benar, ukurannya lebih besar dan panjang dibanding milik Baskoro. Disekeliling batangnyapun nampak tonjolan urat-urat besar yang melingkar tak beraturan seakan semakin memperlihatkan keperkasaannya. Bagian kepala batangnya hampir seukuran kepalan tanganku. Diameternya sekitar 4 atau 5 cm-an. sementara panjangnya lebih dari 15 cm-an.

Aku hanya bisa terpaku memandangi bagian bawah tubuh adik ipar lelakiku itu. Untuk pertama kalinya kembali kulihat tubuh perkasa lelaki dan tentu saja membuatku tak mampu berkata-kata.

Selesai menelanjangi dirinya, kini Adi langsung meraih tepian celana dalamku dan menariknya ke bawah. Perasaanku semakin tak karuan namun tubuhku beraksi spontan. Kuangkat tubuhku dan akhirnya diapun berhasil melepaskan sisa pakaian yang masih melekat di tubuhku. Untuk pertama kalinya aku kembali polos di hadapan lelaki dan ini membuat jantungku berdebar dengan keras, apalagi lelaki itupun dalam keadaan polos sama denganku.

Kali ini adik ipar lelakiku itu yang terpaku memandangi tubuh polosku. Agak sedikit risih dipandangi seperti itu, namun juga sekaligus…gairah. Kami saling pandang beberapa saat hingga akhirnya Adipun merengkuh tubuhku. Perlahan dibaringkannya tubuhku yang sudah terbuka bebas itu ke sofa dan dia langsung menindihku, aku hanya bisa memejam kan mataku sambil berusaha mengendalikan diri. Kurasakan tekanan tubuhnya diatas tubuhku. Juga kurasakan tekanan alat kelaminnya di perutku.

Adi langsung menggumuliku kembali. Bibirnya langsung melumat bibirku, akupun membalasnya. Kami saling melumat dengan lembut beberpa saat untuk kemudian mulai bergerak semakin bergelora, sementara tangannya bergerilya di sekujur tubuh bugilku, terutama di kedua payudaraku. Akhirnya gelorapun tak terbendung lagi, lumatan bibir dan lidah yang semula lembut dan perlahan kini berubah menjadi penuh gelora dan agak liar. Aku mengerang-ngerang merasakan segala rasanya. Lepas sudah kendali diriku.

Lumatan dan pagutan hanya berlangsung beberapa saat untuk kemudan Adi mengarah kan serangan bibir dan lidahnya ke bawah menuju dadaku. Dan akhirnya kedua payudara kupun kembali dalam “penguasaannya.” Aku hanya bisa merintih sambil meliuk-liukkan tubuh bugilku.

Apa yang kurasakan semakin menggila manakala Adi mengarahkan “serangannya” lebih ke bawah lagi. Bergerak menyusuri perutku, terus turun. Aku tahu apa yang diingin kannya dan akupun menginginkannya. Sampai akhirnya lidahnya yang manri-nari menjilati tubuhku sudah sampai di tulang pubisku. Berkerak ke samping kanan lalu menggelitik paha kananku membuatku semakin tergeliat tak kuasa menahan diri. Kubuka kedua pahaku selebar mungkin, siap menanti serangannya di bagian “utama” tubuh polosku.

Aku merasakan ketegangan bercampur sensasi yang mendatangkan rasa nikmat yang berdesir-desir. Apalagi saat kurasakan gerakan lidah suami adikku itu semakin mendekat ke pusat, tubuh polosku langsung menegang.

“Ssshhhhh…..ooouuukkkhhhh……Ddiiiii….” erangku panjang. Tubuhku melengkung, pantatku terangkat naik, otot-otot selangkanganku berkontraksi sementara kepalaku tertari jauh ke belakang saat merasakan sapuan lembut dan panjang di permukaan kemaluanku. Sapuan itu terus berlangsung, menyapu dari mulai bagian lubang pelepasanku terus naik sampai mendekati clitorisku. Tubuhku bergetar, padahal lidahnya baru menyapu bagian luar organ kewanitaanku, namun rasanya sudah demikian menggila nya.

“Ssshhh….ooookkkhhh….” eranganku semakin keras dan panjang. Demikian juga dengan lengkungan tubuh bugilku. Pantatku kian tinggi terangkat sementara kedua paha ku langsung membuka penuh. Jari-jari tangaku sampai berpegangan kuat di sisi sofa yang menyanggah tubuhku, sementara kepalaku semakin jauh tertarik ke belakang saat Adi mulai menguak bibir vaginaku dengan lidahnya. Bergerak sangat luar biasa, padahal hanya sebuah jilatan pelan namun panjang namun memberikan efek yang sangat luar biasa padaku. Sapuan lidahnya kembali bergerak dari mulai lubang anusku hingga mendekati clitorisku. Satu dua hingga tiga sapuan dan akhirnya….

“Aakh…!” aku terpekik diiringi sentakan tubuh bugilku lalu mengejang dan bergetar hebat ketika akhirnya lidahnya “menyentuh” clitorisku. Diawali dengan sentuhan lembut dan perlahan hingga akhirnya bergerak menari-nari dengan lincahnya di tonjolan daging pada vaginaku memberikan lecutan-lecutan rasa nikmat padaku. Sekujut otot di tubuh polosku seakan kejang merasakan lecutan rasa nikmat yang sangat luar biasa ini. Tangan kiriku segera menangkap kepalanya dan menekan ke arah selangkanganku, seakan tak perduli apakah dia bisa bernapas atau tidak karena kurasakan wajahnya menyumbat kuat selangkanganku. Sementara tangan kananku berpegangan erat ke sandaran sofa agar jangan sampai tubuhku terjatuh.

“Ssssshhh…ooouuuukkkhh….ooouuukkkhhh…ooouuukkkhhh….” hanya itu yang keluar dari celah bibirku merasakan bagian organ kewanitaanku diacak-acak oleh bibir dan lidahnya. Pinggulku yang masih berada di atas, bergerak-gerak tak karuan merasakan semua ini, sementara suami adikku itu semakin “gemas” dan bernapsu “menggarap” kemaluanku. Dia seperti orang kehausan menyedoti seluruh bagian dari organ kewanitaanku. Bahkan berkali-kali mulutnya melahap dengan buas alat vitalku itu sampai membuatku tak kuasa memekik berkali-kali. Aku benar-benar kesetanan dibuatnya. Tak perduli lagi dengan keadaan dan hilang sudah segala rasa canggung, risih dan malu. Yang ada hanya gairah dan gejolak yang menggelegak dan rasa nikmat yang sangat hebat sampai akhirnya….

“Aaakhh…Dddiii….!” jeritan panjangku terlontar disusul tubuh bugilku melengkung kuat lalu mengejang dan bergetar hebat. Kedua pahaku menjepit kuat kepalanya dan tanganku menekan sekuatnya membenamkan wajahnya ke selangkanganku. Aku…. meledak !

Rasanya cukup lama aku mengejang sampai akhirnya amukan puncak kenikmatan birahiku mereda. Aku kembali tergolek di sofa dengan napas terengah-engah. Sekujur tubuhku terasa lemas tak bertenaga. Sementara bagian selangkanganku terasa masih berdenyut-denyut nikmat.

“Kita ke kamar mbak” ucapnya. Aku hanya mengangguk pasrah sambil menatapnya dengan sayu. Dia segera bangkit dan tanpa kuduga dia meraih tubuhku dan langsung menggendongnya menuju kamar. Aku hanya mampu berpegangan sambil bertatapan mesra dengannya. Tanpa menutup pintu, tubuh bugilku langsung direbahkan di kasur.

“Langsung aja Di” ujarku saat dia akan kembali mencumbuku. Aku tak tahan lagi ingin segera merasakan “penyatuan” yang sempurna. Diapun mengerti dan mengabulkan nya.

Dengan tenang dia mengarahkan batang kemaluannya ke selangkanganku. Sambil membuka kedua pahaku lebar-lebar, aku mengangkat kepalaku dan mengamati langkah nya. Aku ingin menyaksikan saat-saat pertama batang penis lelaki lain selain suamiku dulu memasuki liang senggamaku.

Agak tegang juga aku dibuatnya. Dan ketegangan semakin meningkat saat kurasakan bagian kepala batangnya menyentuh permukaan vaginaku. Dia sapukan beberapa saat di permukaan vaginaku lalu mulai menempatkan ujung kepala batangnya di pintu masuk lubang vaginaku.

“Pelan-pelan Di” ujarku sedikit cemas karena merasa kurang yakin liang kemaluanku akan bisa dimasuki batang kemaluannya.

“Ssshhhh…uuukkkhhh…” tak sadar aku mengeluh saat kurasakan desakan kepala batangnya di pintu masuk lubang vaginaku. Terus menekan semakin kuat dan akhirnya….

“Akh!” aku terpekik spontan saat kurasakan kepala batang kemaluannya akhirnya menjebol lubang vaginaku. Terasa sekali desakannya. Apalagi saat dia terus menekan dan kurasakan lubang vaginaku seperti terganjal namun juga sangat nikmatnya.

“Sssshhhh….oooouuukkkhhhh….yyaaa….tek….kan ter…ruuusshhh Ddiii….” pintaku tak sadar menginginkan dia memasukiku lebih dalam dan merasakan kenikmatan yang semakin kuat.

“Sakit mbak ?” tanyanya cemas. Akh, kenapa pula dia tanyakan itu ?  Apa dia tak melihat reaksiku ?  Nikmat dan sakitkan berbeda reaksinya ?  Bodoh atau pura-pura bodoh adik iparku ini sih ?  ujarku gemas dalam diri. Namun aku menggeleng juga memberikan jawaban sambil menatapnya gemas bercampur gairah.

“Enak ?” tanyanya lagi. Sialan !  Apa dia menggodaku ?  Aku semakin gemas.

“Udah, masukin terus aja” jawabku gemas, keki dan nikmat bercampur menjadi satu.

“Semuanya ?”  Ugh, dia benar-benar menggodaku namun aku tak memperdulikannya lagi. Gerakan Adi sangat perlahan. Dinding lubang kemaluanku juga tergesek dengan sangat perlahan, namun justru aku dapat meresapi setiap mili pergerakannya yang terasa sangat nikmat sekali. Entah karena ukurannya yang cukup besar sehingga dapat menggesek dengan kuat setiap mili dari bagian dinding lubang kemaluanku ataukah karena memang lubang kemaluanku yang sudah sekian lama tak “terpakai” sehingga menyusut dan mengecil, ataukah karena situasinya yang membuatku sangat bergairah ? Entahlah. Yang pasti aku sangat kenikmatan sekali. Rasanya belum pernah kurasakan kenikmatan sekuat ini. Aku hanya bisa memejamkan mataku sambil meresapi sepenuhnya masukan batang kemaluan adik ipar lelakiku ini untuk pertama kalinya. Dan dia jugalah lelaki pertama yang kuberikan kesempatan memasukkan batang kemaluan nya ke dalam lubang kemaluanku. Aku terus mengerang pelan sementara kedua betisku terangkat naik sambil mengangkang lebar.

“Enak mbak ? Mau dimasukin semuanya ?” ujarnya seakan terus menggodaku. Aku tetap diam, namun dengan kedua tanganku kuberikan isyarat agar dia terus menekan dengan memberi tekanan pada kedua bongkah pantatnya.

Semakin dalam Adi memasukkan batang kemaluannya ke dalam lubang kemaluanku, aku semakin merasakan kenikmatan yang semakin kuat. Tak sadar otot-otot dinding lubang kemaluanku sampai berkedut berkali-kali memberi efek remasan pada batang kemaluannya yang kurasakan sudah sangat dalam memasuki lubang kemaluanku, namun Adi terus menekan dan terasa batangnya terus masuk semakin dalam ke lubang kemaluanku. Gerakan Adi yang sangat perlahan, ditambah dengan godaannya membuatku gemas dan langsung kulilit pinggangnya dengan kedua betisku lalu kutekan dengan kuat hingga akibatnya….

“Aakh !” aku terpekik kuat. Tubuh bugilku langsung tersentak dan kepalaku tumbang ke belakang saat kurasakan hujaman kuat batang kemaluannya di lubang kemaluanku, membenam seluruhnya dan sampai menusuk kuat dasar lubang kemaluanku. Kurasakan seperti ada hantaman di bagian bawah tubuhku, namun terasa sangat nikmat yang luar biasa. Kutekan kedua betisku kuat-kuat dan kurasakan tusukan ujung batang kemaluannyapun semakin kuat di dasar lubang kemaluanku. Otot di liang kemaluanku berkontraksi dan akhirnya dinding lubang kemaluankupun meremas batang kemaluannya dengan kuat. Aku benar-benar tak menduga, persenggamaan pertamaku dengannya itu sangat nikmat sekali. Liang kewanitaanku terasa sangat penuh dan seperti diganjal seuatu namun sangat nikmat sekali. Desakan batangnya demikian kuat dan kurasakan lubang kemaluanku sampai meregang penuh. Tusukannyapun demikian dalamnya sampai terasa ke dalam perut. Baru kali ini kurasakan kenikmatan yang demikian sempurnanya menurutku. Dan aku langsung bertekad, ingin melakukannya terus, terus dan terus. Akan kuulangi lagi, lagi dan lagi persenggamaan ini. Aku…ingin dipuaskan sepuas-puasnya.

Untuk beberapa saat dia kupiting dan tak mampu bergerak. Adi tak menyia-nyiakan kesempatan untuk menyergap kedua payudaraku yang terpampang bebas dengan kedua tangannya. Dia remas-remas dengan sedikit lebih keras lalu dia majukan tubuhnya dan akhirnya mulutnyapun kembali menggarap payudaraku. Ditengah tekanan kenikmatan seperti ini, permainan lidah, bibir dan jari tangan Adi di kedua payudaraku semakin menambah kenikmatan padaku. Aku sampai mengerang-ngerang tak kuasa menahan kenikmatannya.

Cukup lama aku memitingnya, lalu mulai kurenggangkan jepitan betisku di pinggang nya.

“Lanjutkan sek…karang Di” pintaku karena dia belum juga memulai padahal aku sudah melepaskan lilitan betisku di pinggangnya. Dia tersenyum seperti menggodaku, aku langsung mencubit pinggangnya dengan gemas.

“Ssshhh…uuukkkhhh….” akhirnya akupun langsung merintih kenikmatan saat dia mulai “bergerak.” Gesekan batang kemaluannya terasa sekali di dinding lubang vaginaku. Rasanya sangat nikmat sekali. Aku sendiri merasa bingung, rasanya bersenggama dengan nya terasa sangat nikmat. Apa karena ukuran alat vitalnya, ataukah karena sudah sekian lamanya aku tak melakukan hal ini, sehingga liang vaginaku menyempit dan sensitititas syaraf di sekeliling liang vaginaku itu jadi semakin sensitif ?  Ataukah karena gairah menggebu-gebu ?  Akh entahlah, aku tak mau pusing memikirkannya. Aku ingin menikmati persetubuhan pertamaku ini dengan sepuas-puasnya.

“Gimana mbak, nikmat ?” ujarnya.

“Iy…ya. Terus Di. Terus….” jawabku tak sempat lagi memperdulikan godaannya. Dia terus memaju mundurkan pinggulnya. Batang kemaluannyapun terus bergerak menggesek dinding lubang kemaluanku mengalirkan rasa nikmat yang sambung menyambung. Dan setiap kali ujung batang kemaluannya menusuk dasar lubang kemaluanku, akupun memekik karena merasakan sentakan dan lecutan kenikmatan.

Gerakan maju mundur Adi semakin lama semakin cepat. Akupun semakin mengerang-ngerang dan memekik-mekik kenikmatan. Pinggulku bergerak berputar-putar mengiringi gerakan tubuhnya. Tusukan batang kemaluannya terasa sampai ke perutku namun kenikmatannyapun sangat luar biasa.

Aku sudah melupakan segalanya. Lupa kalau awalnya aku agak keberatan menerima tawaran Lastri adikku yang memintaku menggantikan perannya sebagai istri bagi Adi suaminya. Aku juga telah melupakan segala keraguan, kecanggungan dan maluku. Aku justru kini sangat menikmatinya dan menginginkan agar suami Lastri ini terus dan terus memberikan kenikmatan padaku. Aku telah menerimanya sebagai “suamiku” dan aku sebagai “istrinya.” Aku ingin dia terus mencumbuku. Terus dan terus sampai rasa dahaga dan hausku hilang. Aku ingin dia memuaskanku.

Dan akhirnya setelah beberapa menit aku menerima tusukan-tusukannya, akupun kembali memekik dan mengejang hebat. Aku mendapatkan kembali ledakan puncak kenikmatan persenggamaanku. Untuk sesaat Adi memberi waktu padaku untuk mengembalikan diri. Kupeluk dan kupiting tubuh bugilnya yang menindih kuat tubuh bugilku. Setelah itu kuminta dia melanjutkannya.

“Ganti posisi mbak. Doggy” pintanya. Sebagai wanita yang pernah bersuami, aku langsung mengerti. Setelah dia mencabut batang kemaluannya dari liang kemaluanku, aku langsung mengambil posisi merangkak. Dia bersiap di belakangku. Akupun bersiap kembali menerima “masukannya.”

“Sssshhh…oookkkhhh….” erangku lagi saat dia kembali membenamkan batang kemaluannya ke lubang kemaluanku. Kali ini dari arah belakang. Kembali kurasakan desakan batang kemaluannya di lubang vaginaku. Rasanya aku sudah ketagihan akan tusukan batang kemaluan suami adikku ini.

Sambil menghujamkan batang kemaluannya berkali-kali ke liang peranakanku, kedua bongkahan pantatku diremas-remasnya. Sesekali tangannya terulur ke depan dan meraih payudaraku yang tergantung bebas. Aku hanya bisa merintih dan memekik penuh kenikmatan sambil menggoyang-goyang pinggulku mengimbangi tusukan batang kemaluannya di lubang vaginaku. Terus dan terus semakin lama semakin cepat. Erangan, rintihan dan pekikan kenikmatanku terus mengiringi irama maju mundur Adi di belakangku. Gerakannya yang semakin cepat dan kuat sampai-sampai menimbulkan suara bertepuk akibat benturan bongkahan pantatku dengan permukaan selangkangannya memberi irama tersndiri dan semakin membangkitkan gairah. Aku benar-benar pasrah menyerahkan seluruh tubuhku padanya tanpa kecuali lagi. Aku kini benar-benar memposisikan sebagai “istri” baginya seperti yang diminta oleh Lastri adikku itu.

Hujaman Adi terus berlangsung, goyangan dan putaran pinggulku terus mengiringi. Pergesekan batang kemaluannya dengan lubang kemaluanku seperti kerja sebuah mesin kendaraan yang berputar pada putaran tertinggi. Seperti sebuah piston dan silindernya, memberikan efek panas dan percikan api yang mampu membakar dan menggerakkan kendaraan dengan sangat cepatnya. Demikian pula halnya dengan gerakan tubuh bugilku dan tubuh bugilnya. Keringat mulai membasahi tubuh bugilku, sementara di bagian bawah tubuhku terasa demikian nikmatnya. Gerakan ini terus “membakar” dan menggerakkan sesuatu dalam diriku yang seakan meningkat cepat. Sesuatu yang aku sangat kenal. Sesuatu yang nantinya akan membuatku seperti terlempar sangat tinggi menembus puncak mega kenikmatan dan akhirnya menghempaskan diriku dalam sejuta kenikmatan. Dan karenanya kuminta Adi untuk semakin mempercepat dan memperkuat hujamannya sampai akhirnya akupun kembali memekik keras, meledak hebat.

“Gantian mbak diatas” posisi berikutnya dia pilih. Walau aku sedikit lemas dan sekujur tubuh bugilku sudah basah oleh keringat, akupun menurutinya. Dia kembali mencabut batang kemaluannya dari lubang vaginaku lalu berbaring telentang. Kulihat batang kemaluannya yang masih menegang keras berdiri agak condong ke perutnya itu mengkilap dibasahi cairan pelumas vaginaku. Aku langsung mengangkanginya. Kuraih batang kemaluannya yang terasa sangat keras, hangat dan licin itu lalu kuarahkan ke selangkanganku.

“Sssshhh…uuuukkkhhh Dddiiiii…..” erangan panjangku selalu menyertai saat batang kemaluanya menyelusup masuk ke dalam lubang kemaluanku. Kuturunkan tubuhku perlahan, sangat perlahan dan batang kemaluannyapun sedikit demi sedikit mulai memasuki liang vaginaku lagi. Aku terus bergerak dengan sangat perlahan, berusaha meresapi setiap pergerakan ini dan memang, sangat nikmat sekali desakan dan gesekan batang kemaluannya itu di dinding lubang vaginaku. Pelan dan pelan, terus kuturunkan tubuh bugilku diatas selangkangannya. Perlahan batang kemaluannyapun semakin dalam masuk ke lubang kemaluanku, mengalirkan rasa nikmat yang seakan tiada habisnya. Aku hanya bisa mengernag, mengerang dan terus mengerang sambil terus menurunkan tubuh bugilku sampai akhirnya….

“Akh!” aku terpekik, tubuhku tersentak saat kurasakan tusukan ujung batangnya di dasar lubang vaginaku. Aku diam sesaat sambil menduduki selangkangannya dan batang kemaluannya membenam seluruhnya di dalam lubang vaginaku. Kugerakkan pinggulku maju mundur dan kurasakan nikmat sekali “korekan” ujung batangnya di dasar lubang vaginaku.

Akhirnya akupun mulai bergerak turun naik diatas selangkangannya. Sambil menikmati “gigitan” dinding lubang kemaluanku di batang kemaluannya, Adi meremas-remas kedua payudaraku yang membusung bebas itu. Dalam posisi ini kurasakan betapa kuat dan dalamnya tusukan batang kemaluan miliknya itu di dalam lubang kemaluanku. Pekikankupun akibatnya terus terlontar dan semakin kuat karena tak kuasa menahan kenikmatanku.

Aku terus menurunkan naikkan tubuhku. Walau lututku terasa lemas dan gemetar, namun rasa nikmatnya memberikan tenaga dan kekuatan padaku untuk terus bergerak. Tak hanya bergerak naik turun diatas selangkangannya saja, kuputar-putar pinggulku hingga memberikan efek pergesekan yang makin kuat dan memberikan kenikmatan yang semakin tinggi. Sementara kedua payudaraku terus dipermainkan jari-jari tangannya, aku hanya bisa mengerang-ngerang, merintih-rintih atau memekik-mekik kenikmatan. Kedua tanganku bertumpu ke dadanya memberi sedikit topangan bagi tubuh bugilku yang semakin basah itu bergerak naik turun diatas selangkangannya.

“Sssshhhh…Ddiiii…kon…tolmu, enak ba…nget” ukh lepas sudah kendali dalam diriku. Kata-kata yang sesungguhnya sangat kasar itu terlontar dari celah bibirku seperti tanpa kendali oleh pikiran sehatku. Rasanya seluruh bagian tubuhku saat ini hanya dikendalikan oleh birahi dan segala kenikmatannya. Jalan pikiranku seakan tertutup.

“Iya mbak, memek mbak juga….nikmat banget” balasnya tak kalah “kasar”nya, namun anehnya aku senang mendengarnya dan semakin menambah gairah bagiku.

“Kita ngen…tot terus ya Ddiii…”  Gila. Aku benar-benar tak lagi menjadi diriku. Aku sudah…tak terkendali.

“Sampai berapa lama mbak sanggup ?” tantangnya.

“Sampai…pagi kalo…perlu. Ap…pa kamu…sang…..gup ?” ujarku sambil menatapnya dengan tatapan “buas” seolah hendak menerkam dan melumat suami adikku itu.

“Boleh. Aku akan bikin mbak….kelenger dalam kenikmatan nanti” ujarnya seperti “mengancam.”

“Ya Di…aku rela. Habisi aku. Buat ak…ku…semaput. Ak…ku..ak…ku…mau…ssshhh… aakhhh….!!” aku menjerit panjang disusul tubuh bugilku ambruk menindihnya. Aku kembali meledak dalam puncak kenikmatan birahiku. Tubuh bugilku kembali mengejang dan bergetar hebat. Kupiting tubuh bugilnya kuat-kuat, kutekan pinggulku sekuatnya dan kurasakan tusukan ujung batang kemaluannya demikian kuat di dasar lubang vaginaku. Tak sadar ujung-ujung kukuku sampai tertancap di bahunya dan mungkin sedikit melukainya.

“Aaakh…” aku terpekik kaget karena tiba-tiba Adi menggulingkan tubuhku ke samping dan dia langsung naik ke atas menindih tubuhku.

“Sssshhh…ooouuukkkhhh….Dddiiii…..!!” jeritku panjang karena ternyata dia langsung menggenjotku padahal aku dalam keadaan masing kejang-kejang, namun aku tak berdaya mencegahnya. Aku hanya bisa megap-megap menahan “serangannya” itu sambil berusaha menguasai diri.

Akhirnya setelah bersusah payah mengendalikan diri, aku dapat kembali dapat meresapi dan mengimbangi serangannya. Aku kembali membalasnya dengan gairah meluap-luap. Dia bergerak ganas naik turun diatasku sementara aku bergerak liar di bawahnya.

“Yyyaaa…terus Dii…terusshh….entot aku…entot aku se….kuatmu” aku benar-benar sudah tak perduli lagi dengan segala etika dan tata krama. Aku hanya ingin meluapkan seluruh perasaan dan keinginanku. Aku hanya ingin kepuasan yang sepuas-puasnya dan itu kulakukan apapun untuk mendapatkannya. Tak perduli lagi walau sekujur tubuh bugil ku semakin basah kuyup dibanjiri keringat. Walau napasku terengah-engah, namun kurasakan aku sangat bersemangat dan bergairah sekali sehingga memberi tenaga ekstra dalam diriku untuk terus melakukan persenggamaan ini selama mungkin. Tak terbayang kan kalau aku akan “seganas” ini. Padalah dengan suamiku dulu, aku ingat aku pernah mengalami tripple orgasme dan rasanya aku sudah sangat kelelahan waktu itu. Tapi kini… rasanya aku memiliki tenaga ekstra dan yang pasti, semangat serta tekad dan gairah untuk melakukan persenggamaan ini selama mungkin. Aku ingin mereguk kenikmatan sepuas-puasnya. Aku ingin liang senggamaku terus dihujami batang kemaluan adik ipar lelakiku itu.

“Mbak, kita ganti posisi. Mbak nungging di pinggir kasur yah…” pintanya. Tanpa menunggu jawabanku, Adi langsung mencabut batang kemaluannya dari dalam lubang kemaluanku lalu dia mendahului turun. Aku menyusul. Aku langsung mengambil posisi di depannya, kulihat batang kemaluannya yang masih berdiri mantap itu mengkilap.

“Kontol kamu hebat banget Di” ujarku sambil membelai batang kemaluannya. Suami Lastri itu hanya senyum, bangga. Aku langsung membalikkan tubuhku dan membelaka nginya lalu kucondongkan tubuhku. Dengan kedua tanganku yang terjulur lurus bertumpu ke kasur, aku bersiap menanti suami adikku itu kembali membenamkan batang kemaluannya ke dalam lubang vaginaku. Kubuka kedua pahaku selebar mungkin lalu kembali kurasakan ujung kepala batang kemaluan Adi di permukaan vaginaku dan….

“Ssssshhh…..oooouuukkkhhh…..” erangku panjang mengiringi lajunya benaman batang kemaluan adik ipar lelakiku itu ke dalam lubang kemaluanku. Dan tanpa menunggu lama, akupun kembali mengerang-ngerang, merintih-rintih dan memekik-mekik kenikmatan menerima tusukan batang kemaluannya di lubang kemaluanku.

“Yang ker…ras Di…yang….ker…raassshh….!!” jeritku benar-benar nikmat menerima hantamannya. Tubuh bugilku sampai terguncang-guncang hebat akibat impact dari benturan tubuhnya. Kurasakan tusukan dan hantaman yang sangat kuat ujung batang kemaluannya di dasar lubang kemaluanku memberikan hantaman rasa nikmat yang sangat kuat.

“Yyyaaa…ter…ruussshh….sa…yang. Ter….rruussshh en…tot aku….aaakkhhh !!” aku benar-benar kesetanan oleh rasa nikmat ini. Pinggulku bergerak liar, berputar-putar atau sesekali menendang mundur menyambut gerakan maju tubuh adik iparku itu. Kepalaku sampai berkali-kali tertarik jauh ke belakang menahan semua kenikmatan ini.

Tiba-tiba, entah karena terdorong oleh gairahnya atau karena melihat reaksi kenikmatanku, kurasakan rambutku di tariknya ke belakang hingga kepalaku tertarik jauh ke belakang. Agak sakit sebenarnya, namun aku justru merasakan sensasi lain dan rasanya semakin menambah kenikmatan padaku.

Bukan hanya itu, Adi juga kurasakan melakukan sesuatu yang lain. Mulanya hanya sebuah elusan di lubang duburku membuatku merasa merinding geli bercampur nikmat. Namun elusan itu berubah dan kurasakan Adi menekan jari tangannya di lubang duburku. Apa yang hendak dilakukannya ?

Akh…akh dia…dia…semakin menekan jari tangannya. Dia…hendak memasukkan jari tangannya ke dalam lubang anusku. Aku merasa sedikit risih namun sekaligus… penasaran.

“Ssshhh…uuukkkhhh” benar saja. Adi…memasukkan jari tangannya ke lubang dubur ku. Aku yang baru pertama kali ini mengalaminya, sulit menjelaskan perasaanku. Antara risih, canggung bercampur juga dengan perasaan lain. Kurasakan sebuah sensasi lain saat untuk pertama kalinya lubang pelepasanku dimasuki. Mulanya sedikit perih namun kemu dian….nikmat juga. Ada tambahan kenikmatan bagiku. Apalagi saat kurasakan jari tangannya mengorek-ngorek bagian dalamnya dan saat dia menekan membran yang membatasi antara lubang pelepasan dan lubang kemaluanku, kurasakan ada tekanan kuat di sekitarnya membuat tubuhku sampai melengkung menahan kenikmatannya. Kurasakan sepanjang membran yang di tekan jari tangannya itu seperti mendapat tekanan yang lebih kuat oleh jari tangan dan batang kemaluannya. Dan Adi menyadari hal itu sehingga dia semakin dalam memasukkan jari tangannya lalu menekan secara merata pada bagian itu dan akhirnya membuatku kembali memekik panjang disusul kejangan dan getaran tubuh bugilku. Aku kembali meledak dengan kuatnya.

“Di…ak…ku…lem..mas say…yang” ujarku. Dia yang tengah memelukku dari belakang langsung menurunkan tubuhku dan membaringkannya di kasur masih dalam posisi membelakanginya. Lalu sesaat dia menciumi punggungku sambil membiarkan batang kemaluannya masih membenam seluruhnya di dalam lubang kemaluanku. Aku hanya bisa tengkurap diam sambil terengah-engah.

“Lanjut mbak ?” tanyanya seperti meragukan kekuatanku.

“Ya….teruskan sayang” ujarku mantap.

“Nggak capek ?” ujarnya lagi.

“Nggak. Cum….ma….sedikit ngos-ngosan aja” jawabku lagi.

“Jadi…masih kuat dong” lanjutnya.

“Iya. Lanjutkan sayang. Entot aku lagi….se…kuatmu” jawabku yang kembali bergairah setelah amukan badai kenikmatanku mereda.

“Ssshhh….ooouuukkkhhh….nik…mat sayang….nik….mat sek…kali” erangku saat suami adikku itu kembali menggerakkan tubuhnya. Kurasakan kembali kenikmatan gesekan dan tusukan batang kemaluannya di lubang kemaluanku. Sambil tengkurap dan kedua kaki terjuntai di tepi kasur, aku menikmati hujaman-hujaman batang kemaluannya di liang vaginaku. Mulanya perlahan namun kemudian dia semakin mempercepat gerakan nya dan akupun kembali mengerang, merintih dan memekik kenikmatan sampai kemudian dia membalikkan tubuhku tanpa melepas batang kemaluannya. Putaran batang kemaluannya yang seakan menjadi poros putar di lubang kemaluanku terasa nikmat. Nikmat yang berebeda namun tak kalah hebatnya sampai akhirnya akupun kembali berhadapan dengannya. Kutatap dia dengan mata sayu karena aku sudah berada di kedalaman lautan kenikmatanku.

Adipun kembali bergerak, aku kembali kenikmatan. Kali ini tak lagi kupejamkan mataku. Kami saling bertatapan mesra sambil melanjutkan persenggamaan. Berpadu rasa antara kemesraan dan kenikmatan serta gairah yang berkobar-kobar dan seolah tak pernah padam.

“Kamu kuat sekali sayang” pujiku.

“Mbak juga” balasnya sambil terus menggenjotku.

“Apa kalau main dengan…..akh ! Lastri, kamu…akh ! se…..kuat ini ?” ujarku antara rasa nikmat yang terus memburuku.

“Nggak. Lastri… udah nggak mau lama-lama. Awalnya….iya” jawabnya. Kutatap matanya, dia berkata jujur.

“Ber…rapa lama kam….mu…Akh! pernah main de…ngan Las….triii!” aku benar-benar tak sanggup bicara santai.

“Satu jam” jawabnya. Aku menatapnya dengan kagum lalu pandanganku kuarahkan ke jam dinding yang terdapat di kamar. Jam menunjukkan pukul tujuh lewat dua puluh menitan. Dan seingatku, waktu Adi mulai mencumbuku tadi, baru saja jarum jam meninggalkan angka enam. Bila dikurangi dengan percumbuan sekitar setengah jam, berarti aku dan Adi mulai melakukan persenggamaan ini sekitar jam setengah tujuhan. Bila sekarang pukul tujuh lewat, jadi aku dan suami adikku ini sudah bersenggama selama hampir….satu jam-an !

Buatku rekor sendiri. Karena selama aku melakukannya dengan suamiku dulu, paling lama sekitar setengah jam-an. Dan rasanya waktu itu aku sudah kehabisan tenaga. Tetapi kenapa sekarang beda ?  Aku merasa masih sangat bertenaga dan akupun masih menggebu-gebu. Gairahku terasa masih terus menggejolak dan belum berkurang sedikit pun. Apakah ini berarti aku akan melakukan persenggamaan lebih lama lagi ?

Dan sesungguhnya akupun memang menginginkan demikian. Rasa haus dan dahaga setelah sekian lama tak merasakannya, membuatku ingin mereguk kenikmatan ini sebanyak-banyaknya dan sepuas-puasnya. Apalagi kesempatan itu terbuka sangat luas dan bebasnya.

“Mbak, kita coba posisi khusus mumpung tenaga masih banyak ya…” ujar Adi. Aku terdiam tak mengerti dengan usulannya itu, namun kemudian….

“Coba mbak pegangan ke leher saya” ujarnya. Akupun menurut saja, kulingkarkan kedua tanganku di lehernya sementara dia menarik betisku dan disuruhnya mengapit pinggulnya.

“Ssshhh…aakh Ddddiiiii….!!” pekikku keras ketika tiba-tiba dia bangkit sambil menggendongku. Aku sangat terkejut, apalagi kurasakan tekanan yang sangat kuat sekali pada dasar lubang vaginaku oleh batang kemaluannya. Aku seperti merasakan suatu tekanan yang demikian kuatnya, sekaligus demikian nikmatnya sampai-sampai tubuh bugilku melengkung tanpa sadar dalam gendongannya.

“Kenapa mbak, nggak enak posisi ini ?” tanya adik iparku itu.

“Bu…buk..kan. Jus…tru, seb…balik…nya. Ak..kku…nggak…ku..attt” ujarku.

“Jadi, diganti aja po..”

“Ja…jangan. Ak..ku…pengen po…sisi ini Di” aku cepat menukas. Aku tak ingin adik ipar lelakiku itu salah paham. Dan justru aku merasa sangat tertantang dengan posisi ini, dengan segala kelebihan dan kenikmatannya.

“Akh ! Pel..lan…pelan du…lu Di” pintaku belum siap untuk menerima tusukan batang kemaluannya sekuat ini. Dengan kedua kaki dan tanganku, aku coba mengendalikan gerakan. Perlahan namun sudah membuatku sampai menahan napas berkali-kali merasakan betapa kuatnya tusukan batang kemaluannya di lubang kemaluanku dan tentunya kenikmatannyapun sulit kulukiskan.

Perlahan akupun mulai dapat beradaptasi dengan segala rasanya. Dan perlahan pula kubiarkan Adi mempercepat gerakannya sampai akhirnya tubuh bugilku terguncang-guncang dalam gendongannya. Untuk membantunya, kugunakan tumpuan kedua kaki dan tanganku untuk menaik turunkan tubuhku dan rasanya memang gila sekali posisi ini. Tekanan dalam diriku langsung meningkat cepat. Dengan susah payah aku mencoba bertahan namun akhirnya aku menggelepar juga. Didahului pekikan kerasku, lalu tubuh bugilku mengejang dan bergetar hebat dalam gendongannya. Aku…meledak hebat, padahal hanya dalam tempo yang sangat singkat. Tak sampai lima menit.

“Di…jangan beg…gini ter…rus. Bisa cepat hab…bis tenagaku” ujarku meminta ganti posisi. Dia menurunkan tubuhku perlahan sampai aku sama-sama dalam posisi berhadapan sementara batang kemaluannya masih membenam di lubang vaginaku.

Dalam posisi berdiri berhadapan, Adi kembali memompaku. Kupeluk dia dengan mesra, sementara kedua payudaraku menjadi “mainan” jari-jari tangannya. Diapun melumat bibirku. Sampai beberapa menit lamanya aku dan dia melakukan hal ini dalam pergerakan yang lembut dan meresap sampai akhirnya perlahan dia membaringkan tubuh ku di lantai kamar tidur lalu kembali menggenjotku dengan cepat dan kuatnya sampai aku kembali memekik-mekik tak kuasa menahan segala rasanya.

Bergantian aku dan dia mengambil peran aktif. Tubuh bugil kami yang menyatu bergulingan di lantai kamar tidur. Kadang aku di bawah, kadang dia yang di bawah. Lama juga kami melakukan peran saling mengganti ini dan aku memperoleh klimaks berturut-turut sampai tiga kali. Lalu persenggamaan kembali dilakukan dengan kembut dan perlahan sambil saling memagut mesra. Seluruh ruangan dalam kamar itu sudah kami “jelajahi” dengan penuh kenikmatan hingga kami melakukan lagi dalam posisi berdiri. Kali ini aku bersandar ke dinding sementara Adi menggenjotku dari depan. Dan ditangah permainan, tiba-tiba Adi kembali menggendongku tanpa pemberitahuan. Lalu sambil terus menurun-naikkan tubuh bugilku yang sudah basah kuyup bermandikan keringat itu, dia melangkah ke luar kamar, menuju ke ruang tamu. Aku hanya bisa megap-megap dalam gendongannya. Sergapan dan hantaman rasa nikmat terus kuterima dan membuat ku hanya bisa pasrah dalam kenikmatan.

 

Sambil mengelilingi ruang tamu, adik ipar lelakiku itu terus membuatku termegap-megap. Sulit sekali aku melukiskan betapa nikmatnya persenggamaanku ini sampai akhirnya aku memekik panjang menandakan kalau aku kembali meledak. Kuminta dia menurunkan tubuhku dan dia baringkan di atas sofa.

“Masih kuat mbak ?” tanyanya. Aku hanya mengangguk memberi jawaban. Diapun segera menindihku dan kembali bergerak dengan perlahan memberi kesempatan padaku untuk mengembalikan tenaga.

Tak puas di sofa, Adi mengajakku turun. Maka, seperti di kamar tidur tadi, tubuh bugil kami yang saling merapat itu kembali saling gempur, saling bergulingan ke segala arah dan aku terus menerus mereguk kenikmatan persenggamaan ini. Klimaks demi klimaks kembali kuperoleh. Kurasakan tenagaku mulai melemah, namun semangat dan gairah terus memberi motivasi untuk bertahan lebih lama lagi. Adipun nampaknya masih cukup tangguh untuk bertahan lebih lama lagi.

Dan menjelang jam menunjukkan pukul sembilan lebih, baru aku meminta istirahat dulu. Kurasakan organ kewanitaanku linu sekali namun kenikmatan masih saja kurasakan dengan kuatnya. Tenagakupun rasanya sudah terkuras habis. Napasku sudah sangat memburu sementara sekujur tubuh bugilku sudah basah kuyup bermandikan keringat. Adik ipar lelakiku itupun berusaha secepatnya untuk mendapatkan hasilnya. Aku digenjotnya dengan sangat cepat dan kuatnya sampai-sampai tubuh bugilku tergusur-gusur hingga ke dinding. Aku benar-benar dibuat hampir kelenger olehnya. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada aku mencoba terus bertahan, sementara suami adikku itu terus menggenjotku dengan kekuatan dan kecepatan yang gila sekali. Aku tak kuasa lagi bertahan namun untungnya Adipun….selesai bertepatan dengan ledakan klimaksku yang entah ke berapa puluh kalinya. Kami saling memeluk erat dan saling piting. Kurasakan semburan kuat dan banyak sekali cairan kenikmatannya di lubang kemaluanku dan terasa sampai meleleh keluar.

Tak ada percakapan sesaat. Hanya deru napas yang saling memburu seakan saling berpacu menjadi komunikasi kami bahwa aku dan dia sama-sama penuh kepuasan. Bersisian tubuh bugil kami tergolek di lantai tanpa tenaga. Adik ipar lelakiku itu memelukku erat sambil menciumi pipiku. Tangannya berada persis di kedua payudaraku, sementara aku hanya diam sambil tangan kiriku memegangi tangannya yang memeluk dadaku dan tangan kananku menggenggam batang kemaluannya yang menyusut seperti kelelahan. Kulihat jarum jam dinding. Pukul delapan lebih dua puluh menitan. Berarti aku sudah melakukan persenggamaan non stop selama….2 jam !!  Gila !

Selama beberapa menit kami tak mampu berbuat apa-apa, bahkan untuk berbicarapun seperti kesulitan. Pertarungan yang baru saja kami lakukan benar-benar habis-habisan dan semua itu nampaknya terjadi karena baik aku maupun Adi sama-sama sangat dahaga akan kepuasan birahi dan tentu saja sama-sama menumpahkannya dengan sangat bergelora. Kami seakan tak perduli lagi dengan situasi. Yang ada hanyalah gairah, gairah dan gairah untuk dipuaskan. Dan kami benar-benar mendapatkannya.

“Bukan main, mbak hebat sekali” Adi akhirnya mengawali. Aku tersenyum.

“Justru kamu yang luar biasa Di” balasku.

“Khok bisa sih selama itu ?” lanjutku lagi sambil membelai batang kemaluannya yang masih terkulai itu sementara dia sendiri juga terus membelai-belai payudaraku.

“Nggak tahu mbak. Mungkin karena sangat bergairah melihat kemolekan tubuh mbak dan juga… udah lama kepengen sih. Jadinya kesetanan dah” ujarnya.

“Mbak sendiri, khok kuat banget” balasnya. Aku senyum tersipu.

“Mungkin….sama ama kamu Di. Aku kan….sudah sangat lama nggak melakukan ini” ujarku memberi jawaban. Sesaat kami tak melanjutkan percakapan, hanya pandangan mata, belaian tangan dan senyuman yang menjadi alat komunikasi kami.

“Ih, Di. Punyamu….udah bangun lagi tuh” ujarku saat menyadari batang kemaluannya kembali mengembang. Bersamaan aku dan dia memandang sejenak ke pangkal pahanya lalu kembali saling pandang dan tertawa.

“Berarti dia minta lagi mbak. Gimana, punya mbak udah siap belom ?” ujarnya. Percakapan yang “nakal” namun penuh daya rangsang birahi itu terus berlangsung.

“Kalau punyaku sih….siap aja. Kapanpun siap” balasku tak kalah nakalnya. Kami saling pandang mesra.

“Mbak, memek mbak enak banget lho” ujarnya kemudian membuatku kaget dengan bahasa vulgar dan agak kasar itu.

“Sama. Kon…tol kamu juga….enak banget Di” balasku mulai terpancing.

“Jadi, kita ngentot lagi yuk ?” Ukh, gila. Kenapa kami jadi seperti ini ?  Seperti orang tak berpendidikan dan tak mengenal etika.

Etika ?  Apa perlunya lagi dalam keadaan seperti ini ?  Aku dan dia dalam keadaan sama-sama tak berpakaian sedikitpun dan sama-sama melakukan tindakan yang seharusnya hanya dilakukan oleh sepasang suami istri. Apa ini etika namanya ?  Tak perlulah etika dan segala macam aturan yang bisa membatasi segala sesuatunya. Saat ini aku dan suami adikku ini tengah melakukan dan menjalani sesuatu yang menyenangkan dan penuh dengan kenikmatan. Kesenangan dan kenikmatan yang dapat diraih secara maksimal bila tak dibatasi segala macam aturan dan etika. Lakukan apa yang ingin dilakukan sepanjang itu menyenangkan bagi kami berdua.

“Ya Di, entot aku lagi seperti tadi. Kita ngentot sampai pagi” balasku sudah semakin terbakar.

“Mbak seneng ku entot ?” lanjutnya.

“Iya, aku senang. Aku pengen terus di entot sama kamu Di” ujarku sambil mengocok batang kemaluannya yang kini sudah kembali siap tempur.

“Di, kontol kamu….gede dan panjang banget” ujarku sambil memandang ke arah batang kemaluannya dan terus mengocok-ngocoknya dengan tanganku.

“Mbak suka ?” tanyanya.

“Iya. Aku…suka banget. Ayo Di, kita mulai lagi” ajakku. Tanpa menjawab adik ipar lelakiku itu langsung memagut bibirku, sementara jari-jari tangannya yang tadi hanya membelai-belai payudaraku, kini mulai meremas-remas payudaraku itu dengan lembut.

Untuk sesaat aku dan suaminya Lastri ini tenggelam dalam buaian percumbuan. Saling kulum dan saling lumat bibir pasangannya, sementara tangan kami terus “bergerilya” di tubuh bugil pasangannya.

Perlahan namun pasti, kami berdua mulai memuncak gairahnya. Apalagi saat Adi mulai melancarkan serangan dengan lidah dan bibirnya. Dimulai di kedua payudaraku, lalu ke selangkanganku. Kuminta dia mengambil posisi berlawanan agar aku juga dapat “memakan” alat kelaminnya. Akhirnya aku dan dia saling “menyantap” alat kelamin pasangannya sampai kemudian kami sama-sama siap untuk ke puncak permainan.

Dimulailah babak kedua. Aku lebih dahulu mengambil peran aktif. Kududuki selangkangannya dan kubenamkan batang kemaluannya ke dalam lubang kemaluanku. Kembali aki mengerang, merintih dan akhirnya memekik kenikmatan. Kugerakkan tubuh bugilku dengan penuh gairah diatas selangkangannya sampai akhirnya gerakan tubuh bugilku benar-benar puncak. Bergerak naik turun dengan cepat sambil berputar-putar liar membangkitkan rasa nikmat yang semakin kuat dan setelah hampir lima menit lamanya aku “bermain-main” diatas selangkangannya, akupun menjerit panjang disusul tubuh bugilku ambruk menindih tubuh bugilnya lalu mengejang dan bergetar hebat saat mendapatkan klimaks pertamaku di babak kedua ini.

Dengan cepat Adi mengambil alih, memutar tubuhku dan menempatkannya di bawah tindihannya lalu diapun mulai menggenjotku membuatku kembali mengerang, merintih dan memekik kenikmatan.

Persenggamaan di babak kedua ini lebih banyak dilakukan dengan lembut dan perlahan sambil bercumbu membuat sebuah permainan yang berkesan mendalam. Baru saat aku mulai memuncak, Adipun mempercepat gerakannya sampai aku kembali mendapatkan klimaksnya.

Kami kembali bergulingan di lantai. Saling bergantian menindih tubuh pasangannya. Sesekali posisi diganti. Doggy, duduk berhadapan atau berdiri tegak berhadapan, atau berdiri dengan posisi aku membelakanginya dan Adi menusuk dari belakang. Atau juga posisi gendong yang sangat membuatku kewalahan menahan kenikmatannya.

Di babak kedua ini Adi sempat menggendongku cukup lama. Aku diajaknya berjalan-jalan di seluruh bagian rumah, dari mulai ruang tamu, ruang tengah, kamar tidur, dapur bahkan sampai ke halaman belakang. Aku dibuatnya meledak berkali-kali sampai tenagaku terkuras cukup banyak. Maka persenggamaanpun kuminta kembali ke posisi lain karena aku tak akan kuat bertahan bila dilakukan dalam posisi ini lebih lama lagi.

Dan di babak kedua ini memang kami bertekad untuk melakukannya lebih lama lagi. Karenanya kami tak terlalu ngotot dan aku sendiri tak terlalu tergesa-gesa mendapatkan klimaks-klimaksku berikutnya. Bahkan dalam satu kesempatan, kami melakukannya sambil menonton TV sementara aku duduk di pangkuannya dan batang kemaluan Adipun membenam dalam lubang kemaluanku.

Ternyata asik dan punya kesan tersendiri melakukan persenggamaan santai ini. Terasa lebih intim. Lucunya, Adi mengusulkan juga untuk menyelinginya dengan makan karena memang kami juga merasa cukup lapar setelah menguras tenaga. Dan saat makanpun, kami menginginkan alat kelamin kami terus saling bertaut seakan tak ingin dilepaskan.

Karena di babak kedua ini persenggamaan kami lakukan dengan sedikit santai, maka tentu saja waktu yang dibutuhkan lebih lama. Kami baru selesai melakukan persenggama an setelah jam menunjukkan pukul satu lewat lima belas menit. Isirahat sejenak lalu aku dan Adi bersepakat melanjutkan babak ketiga dengan persenggamaan yang….panas dan liar !

Di babak ketiga ini, dari awal dia menghujamkan batang kemaluannya, dia lakukan dengan sangat cepat dan kuatnya sampai aku terpekik keras menahan rasanya. Dan Adi langsung menggenjotkan dengan “ganas” akupun mengimbangi dengan tak kalah ganasnya pula. Permainan jari tangan Adi di payudarakupun tak lagi lembut dan perlahan, namun sangat keras dan terasa cukup menyakitkan, namun aku menyenanginya juga. Ada sensasi yang sulit kulukiskan.

Dan saat aku berada di ataspun, aku melakukannya dengan cukup keras dan kuat. Berkali-kali Adi menjambakku agak keras sementara aku juga berkali-kali mencakarnya hingga meninggalkan goresan merah di beberapa bagian tubuhnya.

Babak ketiga ini benar-benar dilakukan dengan ganas dan cukup liar namun hasilnya pun sangat maksimal karena aku mendapatkan ledakan puncak kenikmatanku demikian hebatnya. Bahkan di tengah permainan Adi memintaku melakukan anal seks dan aku terpancing ingin juga mencobanya. Cukup lumayan walau tak senikmat persenggamaan vaginal tentunya. Sekedar untuk selingan, bolehlah.

Dan diakhir babak, Adi benar-benar “menghabisiku,”  Aku digenjotnya habis-habisan dengan sangat kuat dan cepatnya. Bahkan saat aku klimaks, dia tak menghentikannya, terus menggenjotku sampai aku kehabisan napas dan hampir saja hilang kesadaran.

Jam lima pagi kami baru menyerah setelah seluruh tenaga terkuras habis. Untuk kali pertamanya aku tidur berdua dengan adik ipar lelakiku itu, benar-benar menggantikan posisi Lastri adikku. Kami tidur dalam keadaan masih sama-sama telanjang bulat.

Dan Adi hari itu tak tak masuk kantor sedangkan dua hari berikutnya memang libur. Maka selama tiga hari tiga malam, aku dan suami adikku ini seperti tengah berbulan madu. Selama tiga hari tiga malam, tak sedetik pun pakaian kami pakai lagi, walau hanya selembar benang. Kami sama-sama dalam keadaan telanjang bulat dalam melakukan segala aktivitas kami di rumah. Dan rasanya di segala waktu, tempat dan kesempatan, aku menginginkan Adi memasukkan batang kemaluannya ke dalam lubang kemaluanku, walau hanya sekedar diam di dalamnya saja. Aku benar-benar ketagihan sekali akan ganjalan batang kemaluannya di lubang vaginaku.

Dihari ketiga, atau tepatnya di malam ketiga, kembali aku dan Adi melakukan persenggamaan yang keras dan ganas. Bahkan aku sampai digendongnya hampir setangah jam lamanya membuatku sampai memekik keras, klimaks berkali-kali. Dan akhirnya persenggamaanpun diakhiri dengan model “menghabisiku” lagi. Anehnya, justru aku menikmatinya.

Hari senin pagi, Lastri dan anak-anakpun datang. Tentunya aku dan Adi tak lagi bisa melakukannya dengan bebas. Hanya pada malam hari Adi pamit ke Lastri untuk datang ke kamarku yang berada di rumah sebelah. Dan tentu saja kami melakukannya lagi walau tak seliar sebelumnya karena takut terdengar oleh anak-anak.

Kini Adi tak lagi pulang larut malam. Dia selalu pulang sesore mungkin karena di rumah sudah ada yang menunggunya, yakni Lastri istrinya dan…aku. Aku layaknya istri kedua bagi suami adikku itu.

Dimalam ke tiga di minggu ke empat, aku sempat terkejut juga saat aku dan Adi seperti biasa sedang melakukan persenggamaan, Lastri muncul. Persenggamaan sempat dihentikan namun Lastri menyusuh kami melanjutkan saja. Mulanya risih dan canggung juga namun akhirnya….enjoy lagi. Bahkan Lastri ikut bergabung, walau hanya melakukan seks oral. Sambil aku naik turun diatas selangkangan suaminya, Lastri yang juga telanjang bulat dengan perut membuncit itu mengangkangi wajah suaminya. Adi menjilati vagina Lastri sementara aku terus naik turun diatas selangkangannya. Dan malam itu kami bertiga sama-sama puas. Adi senang sekali karena dapat menikmati dua tubuh bugil wanita sekaligus, istri dan kakak iparnya.

Sejak itulah, kami tak canggung lagi melakukan three-some. Dan sampai sejauh ini Lastri hanya cukup meminta seks oral saja dari suaminya sampai akhirnya dia melahirkan seorang bayi yang sehat dan lucu. Aku senang walau agak ngiri. Karena dengan Adipun aku tak hamil. Padahal selama melakukan persenggamaan dengannya selama hampir lima bulan ini, Adi selalu menumpahkan spermanya ke dalam lubang kemaluanku, namun aku tetap saja tak hamil. Satu sisi aku merasa beruntung karena dengan keadaanku itu aku bebas terus menjalankan peranku sebagai istri “kedua” Adi tanpa diketahui orang.

Dan setelah Lastri pulih dari keadaannya setelah melahirkan, persenggamaan lebih seru lagi. Adi benar-benar lelaki perkasa karena sanggup membuat aku dan Lastri terkapar penuh kepuasan. Adipun seorang pejantan tangguh. Karena hampir setiap malam dia menyenggamai aku ataupun Lastri, atau sekaligus kami berdua. Hanya bedanya aku dan Lastri adalah, saat Adi menyenggamai Lastri dan akan orgasme, dia langsung memintaku menampung spermanya. Dia masukkan batang kemaluannya ke dalam lubang kemaluanku, bergerak sesaat lalu…..tumpahlah spermanya di dalam lubang kemaluanku semuanya.

Tak terasa hampir satu tahun lamanya hubungan ini berjalan. Suatu ketika Adi mengusulkan padaku untuk memulai sebuah permainan baru.

“Mbak, akukan sudah merasakan three-some dengan mbak dan Lastri. Gimana kalau kita coba three-some yang berbeda” ujarnya padaku setelah melakukan persenggamaan seperti biasanya, sementara Lastri tidak ikut karena sedang “halangan.”

“Maksud kamu ?” ujarku bingung. Dia tersenyum sejenak.

“Jangan marah ya dan jangan salah sangka dulu. Permainan ini sekedar mencari kesenangan saja. Jadi mbak jangan berprasangka buruk dulu. Lagi pula, itupun kalau mbak setuju” Adi coba mengawali.

“Ya tapi, apa maksudnya ?” aku penasaran. Dia kembali senyum sambil membelai-belai payudaraku.

“Gimana kalau kita coba….satu cewek dua cowok. MMF istilahnya. Male-Male-Female” dia coba menjelaskan. Aku diam, coba menerka-nerka arah pembicaraannya walau sebenarnya aku dapat memperkirakan arahnya, dan hal itu membuatku tegang.

“Sa..tu cewek…dua cowok ?  Ceweknya siapa ? Dan cowoknya ?” aku memancing penasaran.

“Cowoknya yang pasti satunya aku dan lainnya….nanti kucari” ujarnya tak menuntas kan.

“Lantas, ceweknya ?” aku sudah sangat penasaran. Adi kembali senyum.

“Ceweknya….ya mbak ?” aku tertegun sekaligus terkejut walau sudah kuperkirakan.

“Gila, ak…ku…”

“Mbak, jangan salah sangka dulu. Ini sekedar usul. Kalau mbak keberatan….ya….” dia menghentikan ucapannya dan memandangku lekat-lekat.

“Gimana mbak, mau nggak ?” desaknya. Aku masih diam. Jujur kuakui sebenarnya aku merasa tertantang sekaligus….penasaran juga. Tapi tentunya aku malu mengutarakan nya.

“Tapi Di…”

“Jawab aja, mbak keberatan atau nggak ?” desaknya lagi. Aku tertunduk diam.

“Kalau diam….berarti mbak setuju” dipojokkannya aku.

“Tapi Di…”

“Sudahlah. Kita coba aja dulu. Nanti kalau mbak mau batalin juga nggak apa-apa khok” aku hanya diam. Batinku bergemuruh membayangkan diriku berada dalam cumbuan dua lelaki sekaligus. Ukh, bagaimana rasanya yah…?

Dan Adi tak lagi mendesakku, justru dia mengajakku kembali main. Akupun menerimanya dengan gairah yang sedikit lebih tinggi akibat membayangkan diriku dalam cumbuan dua lelaki. Dan aku merasakan kenikmatan yang berbeda di babak kedua itu akibat pengaruh fantasi seksualku yang dibangkitkan oleh usul Adi itu.

“Aku setuju dengan usulmu Di, asal kamu bisa meng-KO-ku malam ini. Buat aku sampai “kelenger” sekarang” ujarku benar-benar sangat bergairah. Aku rindu dengan permainan liarnya yang hampir satu tahun lamanya tak pernah lagi kami lakukan. Dan Adi membuktikan nya. Aku digempurnya habis-habisan sampai kelojotan dan dia benar-benar membuatku hampir semaput dengan “serangannya” kalau saja aku tak meminta dia segera menyudahinya.

“Jadi, setuju dong usulku karena aku hampir membuat mbak kelenger” ujarnya bangga setelah “menghabisiku” selama lebih dua jam.

“Ya, ak..ku setuju” akhirnya aku menjawab. Dia senang, aku lebih-lebih lagi sebenar nya. Dan malam itu Adi tidur di kamarku masih sama-sama dalam keadaan telanjang bulat.

Satu minggu berlalu, tak ada berita lanjut. Aku tak mau menanyakannya karena selain malu, juga kuanggap Adi hanya bercanda saja walau sempat juga aku tertarik. Begitupun dua tiga hari berikutnya, tak ada khabar dan aku mulai melupakannya sampai Adi datang menemuiku selepas anak-anak tidur. Biasanya dia bila datang ke kamarku, pasti menagih jatah atau akan menggilirku dan akupun senang-senang saja. Setelah ngobrol sejenak, kamipun langsung bergumul dan langsung sama-sama bugil.

“Mbak, aku ada sesuatu untuk mbak malam ini” ujarnya sambil menghentikan cumbuannya. Aku yang sedang memuncak, terpaksa harus bersabar dulu untuk menyelesaikannya.

“Sesuatu apaan ?” tanyaku sambil mengocok batang kemaluannya agar dia juga memuncak.

“Sebentar” ujarnya lalu bangkit menuju ke sudut ruangan dimana ada satu meja kecil dan dua buah kursi santai. Dia ambil HP-nya lalu kembali melangkah ke arahku. Mataku menatap ke arah pangkal pahanya. Terlihat batang kemaluannya terayun-ayun dan terombang-ambing ke sana kemari saat dia berjalan. Terlihat lucu sekaligus “menggemas kan.” Adi seperti hendak menelpon, namun dia batalkan.

“Ngapain kamu ?” tanyaku bingung. Dia hanya senyum saja sambil meletakkan HP-nya di dekatku.

“Sebentar” jawabnya sambil naik ke tempat tidur. Aku benar-benar bingung dengan tindakannya, namun dia tenang saja sambil membelai-belai payudaraku dan aku sendiri langsung menyambar dan menggenggam batang kemaluannya.

Tiba-tiba pintu kamarku terbuka. Aku agak kaget, namun kuyakin itu pasti Lastri. Biasa dia menyusul kami. Namun….

“Aw!” aku terpekik kaget saat yang muncul bukan Lastri, tapi seorang lelaki dan dia… sudah dalam keadaan telanjang bulat sama seperti aku dan Adi. Segera kupalingkan wajahku dari lelaki itu sambil menutupi sebisanya tubuh polosku dan menatap Adi dengan pandangan minta penjelasan. Namun walau aku sudah menghadapkan wajahku ke Adi, tidak lagi ke lelaki itu, terlintas di pikiranku sosok jantan lelaki itu. Dan walau sesaat juga aku sempat melihat alat kelaminnya yang menggantung di pangkal pahanya itu. Belum tegang sepenuhnya namun aku dapat memperkirakan pada saat tegang nanti pasti ukurannya tak kalah dengan alat kelamin Adi.

“Kenalkan, ini temanku, Heru” ujar Adi tenang-tenang. Aku belum memalingkan wajahku, masih menatap lekat ke wajah suami adikku itu.

“Ya tapi….mm..mau ap..pa dia ke…mari ?” tanyaku gugup.

“Lho, mbak ingat kan pembicaraan kita sekitar dua minggu lalu ?  Dan mbak kan sudah setuju, makanya….”

“Ya tapi Di, khok kamu nggak kasih tahu aku sebelumnya ?” aku coba protes.

“Aku sengaja mau kasih surprise buat mbak” jawabnya enteng. Aku merasa terpojok.

“Tapi Di ?  Masak…di sini ?  Nanti kalau…Lastri tahu…” aku masih coba menghindar.

“Tenang, Lastri aku yang tanggung jawab. Lagian, dia sudah tidur sama si kecil. Mbak tahu kan, kalau Lastri sudah tidur ?” ujarnya. Aku kembali terpojok dan tak mampu berkelit lagi. Ya, memang adikku itu gila banget, kalau sudah tidur, kayak orang pingsan dan tak akan bangun sampai pagi.

“Tapi kan ada si kecil, ntar kalau….”

“Kalau si kecil bangun, Lastri cuma nyodorin nenennya sambil merem kan ?”  Akh, apalagi yang mesti kuutarakan untuk menghindari keadaan ini, paling tidak saat ini. Rasanya sangat mendadak dan aku….belum siap. Setidaknya….masih risih dan canggung.

“Tapi Di…”

“Sudahlah. Paling tidak, ayo sambut dulu perkenalan ini. Her, sini. Kenalkan ini Utari” ujar Adi yang nampak santai saja. Antara malu, risih dan tak enak hati kupalingkan wajahku ke arah lelaki itu. Kuarahkan pandanganku ke wajahnya, dia mendekat sambil senyum ramah. Dia nampak santai, lalu mengulurkan tangannya saat sudah berada di dekatku.

“Heru” ucapnya memperkenalkan diri. Kusambut uluran tangannya, sementara tanganku yang lain menutupi bagian dadaku.

“Tari” balasku sambil berjabatan tangan tentu dengan perasaan tak menentu. Malu, canggung dan juga berdebar-debar. Bagaimana tidak ?  Untuk pertama kalinya aku berada di situasi seperti ini. Dua orang lelaki sekaligus, sementara keadaanku dan kedua lelaki itu dalam keadaan yang tak biasa. Sama-sama telanjang bulat.

“Duduk sini Her” ajak Adi. Lelaki itu segera duduk di tepi tempat tidur, persis di sampingku. Spontan akupun agak menggeser tubuhku lebih ke tengah, selain memberinya tempat, juga…masih agak risih berdekatan dengannya dalam keadaan seperti ini.

“Heru ini teman bisnisku. Kami sudah saling mengenal hampir…”

“Lima tahun” Heru menyambung pembicaraan Adi.

“Ya, lima tahun. Sampai lupa aku” sahut Adi, sementara aku hanya bisa diam sambil agak tertunduk. Namun anehnya, mataku melirik diam-diam ke samping ke arah lelaki itu dan…tubuhku terasa semakin bergetar saat kulihat alat kelaminnya. Kini alat kelaminnya sudah hampir menegang penuh, mungkin dia mulai terangsang karena memandangi tubuh polosku. Perasaanku semakin tak menentu saat menyadari arti semua itu. Arti bahwa dia disini, dalam keadaan seperti ini.

“Mbak, khok diam saja sih ?” ucapan Adi mengejutkanku.

“Oh-eh. Nggak. Aku…ndengerin aja deh” ucapku coba menguasai diri dan bersikap biasa.

“Nggak apa-apa. Aku ngerti khok” sambung Heru lagi membuatku merasa kurang enak hati juga, seakan tak menyenangi kehadirannya.

“Maaf Her, aku….agak kikuk” ujarku mencoba meminta pengertiannya. Kulirik dia, dia balas sambil senyum ramah.

“Sebenarnya, aku nggak akrab-akrab banget khok sama Adi. Aku cuma sekedar teman biasa” ujar Heru.

“Maksudmu Her ?” Adi seperti protes dikatakan hanya teman biasa.

“Ya…teman biasa. Biasa nolongin kamu dan juga biasa minta tolong sama kamu Di” ujar Heru.

“Akh sialan, aku kira apa” keduanya ngakak membuatku jadi senyum mendengar mereka saling meledek.

“Tahu nggak, ee…aku panggil apa yah ?” ujar Heru padaku.

“Panggil…Tari saja” jawabku tak enak juga kalau dia harus ikut-ikutan memanggilku dengan sebutan “mbak.”

“Oke…..Tari” jawabnya cepat.

“Tahu nggak, Adi itu waktu ketemu pertama dengan aku, tampangnya memelas lho…” Heru kembali melanjutkan ucapannya yang tadi terhenti. Aku yang ditanya, diam saja, tapi teratrik juga dengan ucapannya itu.

“Me…memelas gimana ?” ucapku tanpa sadar, terpancing pertanyaannya.

“Bohong mbak, dia mengada-ada” sambung Adi yang merasa menjadi objek penderita pembicaraan ini.

“Ha…ha…ha” Heru terbahak sesaat.

“Waktu itu, pengajuan tendernya hampir ke tolak di perusahaanku. Dia sampe mau nangis tahu”

“Akh ngaco !  Wah fitnah nih” semakin sewot adik ipar lelakiku itu.

“Pas ketemu aku, dia seperti petinju yang kena KO. Dia….”

“Udah deh Her, jangan ngebuka kartu”

“Nah bener khan ?  Dia ngaku”

“Ya tapi, nggak seperti yang kamu gambarin itu. Itu sih berlebihan” protes Adi setengah sewot.

“Tahu nggak Tar, dia sampe megangin tangan aku seperti ini. Coba tangan kamu sini” Heru mengambil kedua tanganku. Tanpa sadar akupun sampai melepaskan tutupan tangan kananku di bagian dadaku lalu mengikuti apa yang diminta Heru. Dia memperaga kan adegan bersalaman sambil terus bercerita. Aku selain tak sadar dengan tindakanku, juga jadi senyum menahan geli akan ceritanya itu. Terbayang bagaimana adegan yang lucu menurutku, namun menyebalkan menurut orang yang menjadi obyek ceritanya, yaitu Adi.

“Wah kaco nih. Fitnah besar !” protes Adi yang seakan tak digubris oleh Heru.

“Terus, waktu aku bilang kalau aku bisa bantu supaya pengajuan tendernya masuk, dia bilang apa ?”

“Her udah Her. Jangan diterusin” Adi seperti menghiba.

“Nah nah, seperti itu tuh raut mukanya waktu menghiba padaku” ujar Heru sambil menunjuk ke arah Adi, mau tak mau akupun menoleh ke arah adik iparku itu. Tampangnya memang….memelah. Aku jadi tertawa geli walau berusaha kutahan.

“Lantas, dia bilang apa waktu itu ?” kejarku penasaran karena Heru tak melanjutkan ceritanya.

“Oh ya, dia bilang….”

“Her Her, please… jangan buka kartuku dong” aku semakin tertawa geli, betapa suami adikku itu seperti benar-benar menghiba sekali. Namun Heru merasa sudah tanggung bercerita, apalagi aku mendesaknya agar dia buka saja ceritanya, akhirnya diapun melanjutkan ceritanya dan membuatku benar-benar tertawa geli membayangkan betapa culunnya Adi saat itu. Tanpa sadar, aku tak lagi memperdulikan keadaanku. Aku tak lagi menutupi kepolosan tubuhku. Heru dengan pandainya mengarahkan suasana yang tadinya kaku menjadi akrab dan penuh canda sampai akhirnya….

“Oke, selesai sudah ceritanya. Sekarang, kita bobok yuk…” Seerr, walau dia mengucapkannya dengan nada canda, tapi itu menyadarkanku akan keberadaannya disini. Aku seakan kembali tersadar kalau kami berkumpul itu akan melakukan hal apa. Dan aku juga seakan kembali sadar kalau saat ini kami bertiga dalam keadaan yang tak lazim secara umum, karena kami bertiga…telanjang bulat !

Dan aku semakin berdebar saat Heru meletakkan tangannya di atas paha kiriku tanpa permisi lagi. Desiran kuat mengalir dalam diriku. Aku bingung harus berbuat apa, namun keadaan ini semakin memojokkanku karena Adi langsung menyambar payudara kananku. Dia hisapi puting payudara kananku itu sambil tangannya juga membelai paha kananku. Kurasakan geli menjalari bagian-bagian tubuhku yang tersentuh itu. Aku benar-benar bingung sekaligus merinding bulu kudukku karena mendapat sentuhan yang tak kuduga sebelumnya. Aku hanya bisa diam tak tahu apa yang harus kuperbuat sampai akhirnya aku hanya bisa memejamkan mataku sendiri. Dan itu justru memberi angin pada Heru, lelaki yang baru kukenal itu. Kurasakan payudara kiriku disentuh. Kubuka mataku sedikit untuk mengetahui siapa yang menyentuh payudara kiriku itu dan ternyata….benar, Heru.

Kupejamkan mataku kembali rapat-rapat sambil berusaha sedikit menenangkan diri. Terus terang, perasaanku benar-benar tegang, namun juga kurasakan sesuatu yang lain. Aku merasa asing. Untuk pertama kalinya aku dicumbu oleh dua lelaki sekaligus dan itu benar-benar membuatku “terbakar.” Ketegangan dan keterasingan membuahkan sensasi luar biasa yang membuat seluruh syaraf di tubuhku jadi sangat sensitif. Setiap sentuhan di tubuhku terasa nikmat sekali, bahkan sentuhan Adipun jadi ikut terasa asing dan sangat nikmat bagiku. Aku hanya berusaha menahan semuanya dan tak ingin terlihat sangat menikmati semua ini. Sementara sentuhan dan rabaan kini kurasakan tak hanya di kedua bagian tubuh polosku itu saja, tapi juga kurasakan di punggungku dan di pinggang serta bongkahan pantatku. Aku hanya bisa diam sambil menahan segala rasanya.

Aku semakin tenggelam dalam kenikmatanku. Tanpa sadar, tubuhku bergerak menggelinjang. Akh, apakah aku mulai menerima keadaan ini ? Apakah aku sudah siap melayani kedua lelaki ini ? Ataukah justru aku memang sudah….menginginkannya !

Menginginkan kedua lelaki ini menggumuliku, mencumbuku dan memberiku kenikmatan ? Menginginkan kedua lelaki ini mengantarkan aku ke puncak kenikmatan ? Jauh lebih nikmat dibandingkan saat kudapatkan hanya dari satu lelaki saja ?

Uuukhhh….rasanya memang demikian. Tak sadar tubuhku terus menggelinjang, merasakan semua rasa geli, nikmat dan sensasi yang luar biasa. Sensasi dan kenikmatan yang pada akhirnya menggerakkan kedua pahaku untuk membuka, tanpa perduli akan kehadiran lelaki yang baru kukenal itu ? Apalagi kurasakan gerakan tangan yang mengarah ke pangkal pahaku, entah tangan siapa, Heru atau Adi aku tak perduli. Sementara di kedua payudaraku kini kurasakan rasa geli, hangat dan juga nikmat. Aku tahu pasti kalau kedua payudaraku itu terutama kedua puting payudaranya, tengah dinikmati mulut dua orang yang tak lain tentunya, Adi dan Heru. Aku benar-benar tenggelam dalam sensasi dan nuansa yang berbeda. Sensasi dan nuansa yang cepat sekali membakar libido dan gairah seksualku. Aku merasakan buaian yang jauh lebih hebat demi untuk pertama kalinya dicumbu dua lelaki sekaligus !

Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s